Arsip

Arsip Penulis

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL
LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA
KELAS V, VI SD KALISIDI 03 UNGARAN
TAHUN PELAJARAN 2004/2005
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
Nama : JUMIYATUN
NIM : 6301903029
Program Studi : S1/ Transfer PKLO
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI
JUMIYATUN (2005). Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
Apakah ada perbedaan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun 2004/2005.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pola M-S. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel penelitan ini terdiri dari variabel bebas yaitu latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki, serta variabel terikat yaitu kemampuan lompat jauh gaya jongkok. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes lompat jauh gaya jongkok. Analisis data menggunakan t-test.
Analisis statistik menunjukkan hasil t-hitung yang diperoleh lebih besar daripada t-tabel yaitu 2,250 > 2,201 , dengan taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (db) 11 yang berarti ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Dari perhitungan mean, menunjukkan bahwa mean kelompok eksperimen 2 lebih besar dari mean kelompok eksperimen 1 (354,166 > 341,666), dengan demikian latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih dari latihan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki.
Dari hasil penelitian disarankan untuk meningkatkan hasil lompat jauh gaya jongkok dapat dilatih dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian maupun naik turun bangku tumpuan dua kaki, dan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dapat melakukan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah disetujui dan diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Semarang, 2005
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A Dr. Khomsin, M.Pd
NIP. 130189315 Nip. 131469639
Menyetujui
Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Universitas Negeri Semarang
Drs. Wahadi, M. Pd
NIP. 131571551
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 14 Juli 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, MS Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 130525506 NIP. 131571551
Penguji :
1. Kumbul S. Budiyanto, S.Pd. M.Kes.
NIP. 132205932
2. Dr. Husein Argasasmita, M.A.
NIP. 130189315
3. Dr. Khomsin, M.Pd.
NIP. 131469639
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
“ Bekerjalah untuk dirimu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok (HR: Ibnu Asakir)
Persembahan :
Skripsi ini dipersembahkan kepada:
1. Ayah, Ibu, Suami tercinta,
2. Almamater PKLO 2005 FIK Universitas Negeri Semarang,
3. Keluarga besar SD N Kalisidi 03 Ungaran
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya, sehingga atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak mendapatkan dorongan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung yang tak ternilai harganya, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan persetujuan dalam penelitian ini.
3. Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A dan Dr. Khomsin, M.Pd yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran yang telah memberikan ijin penggunaan siswa putra kelas V dan VI sebagai sampel penelitian.
5. Para Dosen FIK UNNES yang telah ikut serta memberikan petunjuk
6. Guru-guru SD Negeri Kalisidi 03 yang telah banyak membantu dalam penelitian ini
7. Suami dan Orangtua terkasih yang selalu memberikan dorongan moral dalam penyelesaian kripsi ini.
8. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir selama penelitian
9. Siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung dalam peneletian skripsi ini.
Atas bantuan dan pengorbanannya yang telah diberikan, semoga mendapat imbalan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembinaan dunia olahraga atletik khususnya lompat jauh dimasa yang akan datang.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………….i
SARI …………………………………………………………………………………………….ii
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………………………….iii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………..iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….vi
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….viii
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………..x
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………….1
1.2 Permasalahan……………………………………………………………………4
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………………………5
1.4 Penegasan Istilah………………………………………………………………5
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian…………………………………………………8
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori……………………………………………………………………9
2.1.1 Atletik………………………………………………………………………..9
2.1.2 Lompat Jauh……………………………………………………………….10
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-Prinsip Latihan…………………………18
2.1.4 Faktor Kondisi Fisik…………………………………………………….21
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku………………………………………….21
2.1.6 Analisis Gerakan…………………………………………………………25
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….26
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi Penelitian……………………………………………………………27
3.2 Sampel Penelitian dan Tehnik Pengambilan Sampel……………..28
3.3 Variabel Penelitian……………………………………………………………29
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian………………………………………29
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………….31
3.6 Tehnik Pengambilan Data………………………………………………….32
3.6.1 Waktu Penelitian………………………………………………………33
3.6.2 Tempat Penelitian……………………………………………………..33
3.6.3 Obyek Penelitian ……………………………………………………..33
3.6.4 Alat Penelitian …………………………………………………………33
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian ……………………………………..33
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian ……………………………………………..33
3.7 Tehnik Analisa Data………………………………………………………….36
3.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penelitian………………………37
3.8.1 Faktor Kesungguhan Anak…………………………………………37
3.8.2 Faktor Cuaca …………………………………………………………..37
3.8.3 Faktor Kegiatan Anak……………………………………………….37
3.8.4 Faktor Pemberian Materi……………………………………………37
3.8.5 Faktor Kehadiran ……………………………………………………..38
3.8.6 Faktor Psikologi ………………………………………………………38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil Penelitian………………………………………………………………….39
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………..40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan………………………………………………………………………….42
5.2 Saran……………………………………………………………………………….41
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..43
LAMPIRAN – LAMPIRAN………………………………………………………………….45
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Rancangan Penelitian………………………………………………………………..31
2. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik………………………………………39
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok…………………………….11
2. Cara Melakukan Gerakan Tumpuan…………………………………………15
3. Sikap Badan Pada Saat Diudara………………………………………………16
4. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian……..24
5. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki………………………25
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. SK Pembimbing………………………………………………………………..45
2. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas……………………………………….46
3. Surat Ijin Penelitian dari SD ………………………………………………47
4. Populasi dan Sampel …………………………………………………………48
5. Hasil Tes Awal ………………………………………………………………..49
6. Program Latihan ………………………………………………………………53
7. Tes Akhir ………………………………………………………………………..61
8. Analisa Data ……………………………………………………………………62
9. Tabel Nilai – nilai t……………………………………………………………64
10. Foto-Foto…………………………………………………………………………65
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang olahraga, dalam upaya mengembangkan prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Berbagai disiplin ilmu yang terkait banyak menunjang program latihan olahraga. Disiplin ilmu tersebut antara lain : ilmu biomekanika, sport medicine, fisiologi, anatomi, massage, kinesiology, ilmu coaching khusus, psikologi olahraga, psikologi kepelatihan serta banyak lagi disiplin ilmu yang lainnya.
Masalah peningkatan prestasi dibidang olahraga sebagai sasaran yang ingin dicapai dalam pembinaan dan pengembangan di Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama. Latihan dimulai diusia dini dan harus dilakukan secara berkesinambungan sampai mencapai puncak prestasi pada cabang olahraga yang ditekuninya, selanjutnya pembinaan prestasi ditingkatkan. Dengan demikian pembinaan olahraga sejak dini sangatlah penting, supaya kelak atlet mampu mencapai kesuksesan.
Untuk mengikuti perkembangan itu, maka segala usaha kearah pembinaan terus dipacu dan ditumbuh kembangkan oleh semua pihak yang terkait. Pihak-pihak yang terkait antara lain : pemerintah, KONI, pelatih, masyarakat, atlet, pihak swasta dan orang tua. Pola pembinaan kearah yang lebih professional, sistematis, berkualitas dan terprogram dengan baik inilah yang akan melahirkan atlet yang tengguh dimasa yang akan datang.
Menurut M. Sajoto (1988 : 15) faktor kelengkapan yang harus dimiliki atlet bila ingin mencapai prestasi yang optimal, yaitu : 1) Pengembangan fisik, 2) Pengembangan teknik, 3) Pengembangan mental, 4) Kematangan juara.
Dengan demikian untuk mencapai suatu prestasi yang optimal di dunia olah raga, keempat aspek pendukung tersebut harus dilakukan dengan baik, sesuai dengan cabang olahraga yang ditekuninya.
Dari keempat aspek diatas yang merupakan faktor utama adalah kondisi fisik seperti pendapat Depdikbud (2000 : 10) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan teknik, taktik dan kemampuan mental. Komponen kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari konponen kesegaran jasmani, kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi.
Komponen kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelenturan, keseimbangan, koordinasi, kelincahan, ketepatan reaksi (M. Sajoto 1988 : 16). Untuk mencapai prestasi yang baik perlu dilakukan upaya-upaya seperti peningkatan sarana, memperbarui metode latihan, penggunaan sarana yang baik, perbaikan gizi, dokter olahraga dan ahli gizi (M. Sajoto : 10)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas Suharno H.P. (1986 : 4-7) mengemukakan bahwa secara umum ada dua faktor penentu pencapaian prestasi maksimal yaitu faktor indogen dan faktor exogen.
1. Faktor indogen, diantaranya adalah: a) Kesehatan fisik dan mental yang baik, terutama tidak berpenyakit jantung, paru-paru, saraf dan jiwa; b) Bentuk dan proporsi tubuh yang sesuai dengan cabang olah raga yang dipilihnya; c) Kondisi fisik dan kemampuan fisik yang baik; d) Penguasaan tehnik yang sempurna; e) Penguasaan taktik; f) Aspek kejiwaan dan kepribadian yang baik; g) Memiliki kematangan juara yang mantap.
2. Faktor exogen, diantaranya adalah: a) Hubungan yang baik dan harmonis antar pelatih, asisten pelatih dan atlet; b) Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana olahraga yang tersedia; c) Kepengurusan dan organisasi cabang olahraga yang jujur dan bertanggung jawab; d) Lingkungan hudup atlet haru menunjang; e) Dukungan moril dan material dari pemerintah daerah atau pusat; f) Metode-metode latihan yang efektif dsn efisien.
Salah satu faktor untuk mencapai prestasi dalam olahraga khususnya lompat jauh adalah kekuatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin dan Muhadi 1992/1993 : 73). Latihan untuk meningkatkan hasil lompat jauh banyak ragamnya, yaitu lompat naik turun bangku, latihan jongkok berdiri, latihan naik turun tumit, latihan squat jump, naik turun tangga dan lain-lain (Engkos Kosasih 1993 : 89). Dari bermacam-macam metode latihan tersebut belum diketahui dengan pasti metode mana yang paling efektif dan baik hasilnya untuk meningkatkan hasil lompat jauh.
Untuk mengetahui hasil latihan yang baik dan efektif tersebut akan diberikan eksperimen lompat naik turun bangku yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil lompat jauh yang maksimal. Adapun metode latihan yang
diberikan adalah metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian sedangkan yang satunya diberikan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Dalam melakukan kedua jenis latihan merupakan latihan kekuatan otot kaki. Lingkup yang dilatih dalam kedua latihan ini adalah daya ledak otot tungkai dan kekuatan otot tungkai, sehingga dengan latihan tersebut diharapkan akan memberikan perbedaan pada peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok.
Dengan memperhatikan uraian di atas maka penulis ingin penelitian berjudul :” Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005”.
Adapun alasan lain pemilihan judul tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1.1.1. Lompat jauh merupakan materi kurikulum Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar
1.1.2. Pekan Olah Raga Pelajar Daerah Sekolah Dasar
1.1.3. Metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki dapat meningkatkan hasil lompat jauh
1.2. Permasalahan
Di dalam setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari adanya permasalahan yang dihadapi, yang segera perlu diteliti, dikaji, dianalisis serta selanjutnya diusahakan solusi pemecahannya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku satu kaki
bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2004 – 2005?.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang berarti antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
1.3.2. Apabila ditemukan ada perbedaan akan diuji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana antara naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.
1.4. Penegasan Istilah / Batasan Operasional
Untuk menghindari adanya salah penafsiran atau kesalahan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka istilah-istilah tersebut perlu adanya ketegasan sebagai berikut :
1.4.1. Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang,benda dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan (Poerwadarminta, 1985 : 731).
1.4.2. Latihan
Latihan adalah suatu proses penyesuaian tubuh terhadap kerja yang lebih berat dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang lebih berat dan meningkatkan ketrampilan.
Menurut Harsono (1982 : 27) latihan adalah proses yang sistematis dari pada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya atau pekerjaannya.
Jadi latihan dalam penelitian ini adalah cara melakukan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki secara berulang-ulang, makin lama makin bertambah bebannya dengan tujuan untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Pengaruh latihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh antara dua latihan, yaitu antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan metode lompat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap lompat jauh gaya jongkok.
1.4.3. Daya ledak
Kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M.Sajoto, 1995 : 8).
Sedangkan daya ledak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya ledak dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
1.4.4. Metode
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud tertentu (Poerwodarminto, 1995 : 649).
Dalam penelitian ini metode diartikan sebagai cara untuk melatih lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
1.4.5. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian yang dimaksud garakan ini adalah melompat ke atas bangku tumpuan satu kaki kiri di atas bangku, kaki kanan di atas lantai. Kemudian melompat bersama-sama kaki kanan membentuk sudut 900, kemudian kaki kiri mendarat di atas bangku, kaki kanan mendarat di atas lantai.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang dimaksud gerakan ini adalah sikap kaki rapat menghadap bangku kemudian meloncat ke atas bangku bersama-sama, kemudian turun lagi bersama-sama.
1.4.6. Lompat jauh gaya jongkok
Lompat jauh gaya jongkok adalah salah satu tehnik melompat dalam lompat jauh. Adapun gerakan dari tehnik lompat jauh gaya jongkok adalah sebagai berikut : pada saat lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok. Dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk dan kedua lengan di depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan lalu mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu dan kedua tangan ke depan ( Aip Syarifuddin, 1992 : 93).
1.5. Kegunaan Hasil Penelitian
Setelah mengetahui perbedaan dari kedua metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki penelitian ini, maka manfaat yang dapat diambil adalah :
1.5.1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru dan pelatih atlet lompat jauh untuk meningkatkan prestasi lompat jauh
1.5.2. Sebagai perbandingan bagi yang berminat mengadakan penelitian dicabang lompat jauh.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Atletik
Di dalam aktivitas dunia olahraga dikenal berbagai macam cabang olahraga, yaitu : atletik, renang, senam, sepak bola, bola basket, bola volley, tinju dan lain-lain. Antara cabang olahraga tersebut yang ada kaitannya dengan penelitian ini adalah atletik.
Atletik berasal dari bahasa Yunani athlon artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan atau perjuangan, sedangkan orang yang melakukannya dinamakan athleta (atlet). Atletik adalah satu cabang olahraga yang diperlombakan yang meliputi nomor-nomor jalan, lari, lempar, lompat (Aip Syarifuddin, 1992 : 2).
Sejak manusia ada di bumi mereka telah melakukan gerakan berjalan, berlari, melompat, dan melempar yang semuanya itu merupakan gerakan alami yang dilakukan sehari-hari baik dalam usahanya mempertahankan hidup ataupun untuk menyelamatkan diri dari gangguan alam sekitarnya (Yoyo Bahagia, Ucup Yusup, Adang Suherman, 2000 : 3).
Atletik adalah salah satu cabang olahraga yang terdiri dari nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik menjadi intisari atau ibu dari seluruh cabang olahraga (Aip Syarifuddin 1992 : 1). Nomor lompat jauh tersebut dapat digolongkan ke dalam nomor lompat cabang olahraga atletik.
2.1.2. Lompat jauh
2.1.2.1. Pengertian lompat jauh
Lompat jauh termasuk bagian nomor lompat dalam cabang olahraga atletik, yang secara teknis maupun pelaksanaannya berbeda dengan nomor lompat yang lain seperti lompat tinggi dan lompat jangkit.
Menurut pendapat Aip Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat mangangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara atau melayang di udara yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Sudarminto (1993 : 349) menyatakan bahwa unsur utama lompat jauh dengan awalan adalah lari awalan, bertolak, melayang di udara dan mendarat. Masing-masing bagian itu memiliki gaya gerakannya sendiri yang menyumbangkan pencapaian jarak lompatan. Namun syarat utamanya adalah pengembangan jarak daya. Daya ini dikembangkan dari latihan awalan yang cepat dan lompatan ke atas yang kuat dari tolakan.
Jadi pada hakekatnya lompat jauh adalah gerakan menolak satu kaki yang dipengaruhi oleh kecepatan horizontal dan vertical serta gaya tarik bumi untuk menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dibawah ini gambar lompat jauh gaya jongkok dari tumpuan sampai mendarat.
Gambar 1.
Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Tamsir Riyadi, 1985 : 97)
2.1.1.2. Tehnik lompat jauh
Nomor lompat ada tiga gaya, yaitu gaya jongkok, gaya lenting atau menggantung dan gaya jalan di udara (Yusuf Adisasmita : 68). Salah satu gaya dari ketiga gaya tersebut yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah lompat jauh gaya jongkok, karena gaya ini banyak dilakukan anak-anak sekolah karena gaya ini dianggap paling mudah untuk dipelajari (Kurikulum SD, 1994).
Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) secara tehnik lompat jauh gaya jongkok ada empat unsur yang terdiri dari : awalan (approach run), tolakan (take off), sikap badan di uadara (action in the air) serta mendarat (landing).
Pada dasarnya keempat unsur tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu persatu, karena gerakannya adalah gerakan yang membentuk rangkaian gerakan lompat jauh yang tidak terputus. Disamping itu dipengaruhi oleh kecepatan lari awalan, kekuatan tungkai tumpu,koordinasi sewaktu melayang di udara dan mendarat (Yusuf Adisasmita : 65).
Tujuan utama dari seorang pelompat ketika akan melompat adalah adanya keinginan untuk melakukan lompatan yang sejauh-jauhnya. Supaya dapat melakukan suatu lompatan yang diinginkan untuk meningkatkan hasil yang optimal maka terlebih dahulu harus memahami dan menguasai tehnik gerakan dalam lompat jauh.
Berikut ini akan diuraikan satu persatu tehnik lompat jauh gaya jongkok yaitu:
1. Awalan
Awalan adalah gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan atau lompatan. Kecepatan yang diperoleh dari hasil awalan disebut dengan kecepatan horizontal, yang sangat berguna untuk membantu kekuatan pada waktu melakukan tolakan ke atas depan. Supaya dapat menghasilkan daya tolakan yang besar maka langkah lari awalan harus dilakukan dengan mantap serta menghentak-hentak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90). Awalan itu harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan mengubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan biasanya 30 – 40 meter (Engkos Kosasih, 1993 : 83).
Pendapat Yusuf Adisasmita kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi hasil lompatan. Ini berarti bahwa kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pelompat tanpa kecepatan sama sekali tidak mempunyai suatu harapan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya (Yusup Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Yusuf Adisasmita (1992, 67) untuk dapat melakukan lari awalan dengan baik, perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Jarak lari awalan tergantung pada tiap-tiap pelompat.
b. Jarak lari awalan harus cukup jauh untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Panjang awalan 30 – 40 meter, untuk usia SD antara 15 – 20 meter.
c. Kecepatan lari awalan dan irama langkah harus rata.
d. Pada langkah akhir, pikiran dipusatkan untuk melompat setinggi-tingginya ke arah depan.
e. Langkah terakhir diperkecil agar dapat menolak ke atas dengan lebih sempurna.
f. Sikap lari seperti pada lari jarak pendek.
Pada penelitian ini siswa mempergunakan awalan dengan panjang antara 15-20 meter, sesuai dengan kemampuan usia anak SD.
2. Tolakan atau tumpuan (take off)
Tolakan atau tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara lari, awalan dan melayang. Beberapa langkah sebelum menumpu, pelompat harus sudah siap untuk bertumpu. Seluruh tenaga dan pikirannya, harus ditujukan terhadap ketepatan betumpu. Pada saat itu pelompat berpindah dari keadaan lari ke melayang. Agar dapat melayang lebih jauh, selain dari kecepatan lari awalan dibutuhkan pada tambahan tenaga dari kekuatan tumpuan, yaitu daya dari tungkai kaki yang disertai dengan lengan dan tungkai ayun.
Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong ke depan, titik berat badan harus terletak tegak dimuka titik sumber tenaga, yaitu tungkai menumpu pada saat pelompat menumpu (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Sudarminto (1998 : 241), mengatakan bahwa dari kecepatan maju yang penuh pelompat harus menggerakan gerakannya dari tolakan ke atas dengan sudut yang terbaik, yaitu 450. Untuk mengubah arah gerakannya, maka harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir.
Untuk melakukan ini ia membungkuk sedikit dan langkahnya diperlambat dalam usahanya mencapai ketinggian. Pada saat bertolak dari balok tolakan, telapak kaki depan ada titik berat badan. Telapak kaki menyentuh balok ketika titik beratnya bergerak ke depan 3,5 kaki. Di sini ada sedikit perlambatan pada saat bertolak. Pendapat Soedarminto (1998 : 241) menyatakan bahwa perlambatan itu tidak akan mempengaruhi lompatan yang dicapai asalkan sudut yang ideal 450 dapat dicapai.
Dari pendapat trsebut di atas dapat disimpulkan tujuan pelompat jauh melakukan tumpuan atau tolakan ini adalah mengubah gerak lari menjadi suatu lompatan dengan menggunakan kaki tumpu terkuat, pelompat harus mengerahkan gerakannya dari balok tolakan ke atas dengan sudut terbaik, yaitu 450, untuk merubah arah gerakannya ia harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :
Gambar 2
Cara melakukan gerakan tumpuan (take off)
(Carr. 2000 : 46)
Keterangan :
a. Saat kaki akan menumpu pada balok lompatan
b. Saat kaki menumpu pada balok lompat
c. Saat kaki tumpu akan lepas dari balok lompat
Untuk dapat melakukan tolakan atau tumpuan yang sangat kuat ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu : kecepatan horizontal yang diperoleh dari lari awalan dan kecepatan vertical yang diperoleh dari kekuatan tolakan atau tumpuan. Dari kedua kecepatan ini, akan diperoleh kecepatan paduan yang menentukan gerak titik berat badan (Yusuf Adisasmita, 1992 : 65).
3. Sikap badan di udara
Dalam tehnik lompat jauh, setelah pelompat menumpu pada balok lompat maka melayanglah pelompat itu. Naiknya badan setelah tumpuan (melayang) adalah salah satu faktor yang sering dilalaikan oleh para pelompat. Setelah menumpu dengan kaki tumpu, pelompat sering tidak memberi waktu lagi untuk lebih lama di udara. Biasanya tungkai tumpuannya dengan tergesa-gesa didaratkan pada bak pasir. Dalam hal ini penting sekali meluruskan tungkai itu dengan secepatnya untuk memperoleh ketinggian sehingga kita dapat
melayang lebih tinggi. Pada waktu naik badan harus ditahan dalam keadaan sikap tidak kaku (rileks).
Kemudian melakukan gerakan-gerakan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan yang lebih sempurna. Gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang) yang biasanya disebut gaya lompatan dalam lompat jauh (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Gerakan sikap badan di udara atau gaya lompatan harus benar untuk menjaga keseimbangan badan dan meningkatkan pendaratan yang lebih baik. Kesalahan gerak di udara menyebabkan seorang atlit mendarat lebih awal. Untuk lebih jelas lihat gambar 3 yaitu sikap badan pada saat melayang diudara:
Gambar 3.
Sikap Badan Pada Saat Di Udara
(Soegito dkk, 1994 : 147)
Menurut Soedarminto dan Soeparman (1993 : 360) menyatakan bahwa untuk membantu tolakan ke atas, lengan harus diayunkan setinggi mungkin atau prinsipnya adalah momentum dari bagian dipindahkan kepada
keseluruhan. Ayunan kaki ke atas mengunci sendi karena kerjanya Ligamenta iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk.
Menurut beberapa pendapat di atas bahwa melayang adalah pada saat pelompat memutuskan hubungan dengan papan, gerak seperti lintasan peluru dari kurva pusat gaya yang telah dilakukan tak bisa dirubah. Bagaimanapun gerakan di udara membantu pelompat mengatur keseimbangan dan menyiapkan posisi mendarat yang efektif.
4. Pendaratan
Pada waktu mendarat pelompat harus dapat mengusahakan menjulurkan lengannya sejauh-jauhnya ke muka dengan tidak kehilangan keseimbangan badan. Pada saat ini timbul perasaan badan akan jatuh ke belakang. Untuk mencegahnya titik berat badan harus dibawa ke muka dengan jalan membungkukkan badan, sehingga badan dan lutut hampir merapat dibantu pula dengan juluran tangan ke muka. Pada waktu pendaratan, lutut debengkokkan sehingga dapat memungkinkan suatu momentum membawa badan ke depan di atas kaki. Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Pada saat pelompat menginjak tanah lengan diayunkan ke depan, lutut ditekuk dan badan membungkuk ke depan. Gerakan ini membawa titik berat badan jatuh di bawah garis melayang, memberikan momentum pada badan serta mencegah jauh ke belakang pada tumit yang berakibat mengurangi jarak lompatan (Soedarminto dan Soeparman, 1993 : 360).
Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat, yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan. Mendarat yang baik adalah ketika mendarat atau jatuhnya dengan kedua kaki dan tangan ke depan, jadi misalkan jatuhnya ke depan tidak akan merugikan (Engkos Kosasih, 1993 : 84).
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-prinsip latihan
2.1.3.1 Pengertian Plyometrics
Menurut KONI (2000 : 27) plyometrics adalah metode latihan untuk meningkatkan kekuatan dan power otot tertentu. Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada otot tertentu ialah dengan meregangkan (memanjangkan) dahulu otot-otot tersebut. Sebelum mengkontraksikan (memendekkan) otot-otot secara eksplosif (meledak-ledak). Dengan kata lain, kita dapat mengerahkan lebih banyak tenaga pada suatu kelompok otot, apabila kita terlebih dahulu menggerakkan otot tersebut kearah yang berlawanan. Untuk melatih power otot tungkai, mula-mula gerakkan tungkai kearah yang berlawanan (jongkok), merupakan apa yang disebut sebagai fase pra-regang (pre-streching phase). Kemudian melompat dengan sekuat tenaga keatas. Setelah mendarat, tanpa adanya masa berhenti, kemudian secepatnya melompat lagi sekuat tenaga keatas, sehingga seakan-akan mendarat pada bara api.
Plyometrics merupakan bentuk latihan untuk mendapatkan eksplosive power (KONI, 2000 : 27).
2.1.3.2 Prinsip – Prinsip Latihan
a. Prinsip – Prinsip Penambahan Beban Bertambah ( Overload )
Prinsip latihan yang paling dasar adalah prinsip overload, oleh karena tanpa penerapan prinsip tersebut tidak mungkin berprestasi atlit akan meningkat. Penerapan sitem overload apabila atlit sudah merasa ringan dengan beban yang diberikan maka beban latihan harus ditingkatkan (M. Sajoto, 1988 :42). Dengan latihan beban bertambah penyesuaian fisiologis dalam tubuh yang mendorong meningkatkan kekuatan otot.
b. Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus
Otot yang menerima beban latihan berlebih kekuatanya akan bertambah. Apabila kekuatan bertambah maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak lagi dapat menambah kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit pada set atau jumlah repetisi tertentu, otot belum merasa lelah penambahan demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif (M. Sajoto, 1988).
c. Prinsip Pengaturan Suatu Latihan
Latihan berbeban hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga kelompok otot-otot dulu yang dilatih sebelum otot yang lebih kecil. Hal ini dilakukan agar kelompok otot kecil tidak mengalami kelelahan lebih dahulu.
d. Prinsip Kekhususan Program Latihan
Menurut O’shea dalam bukunya M. Sajoto (1988 : 42) menyatakan bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID” yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya
bersifat khusus, sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Bila akan meningkatkan kekuatan, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus. Namun perlu memperhatikan pula gerak yang dihasilkan, oleh karena itu latihan berbeban hendaknya dikaitkan dengan latihan peningkatan ketrampilan motorik khusus. Dengan kata lain latihan beban menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Seperti diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh dalam lompat jauh perlu adanya bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai, latihan tersebut dapat dilakukan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Menggunakan alat dalam hal ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki.
Selain keempat prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian. Volume menurut Depdikbud (1997 : 31) ialah kuantitas beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, jumlah beberapa elemen jenis latihan, total waktu latihan, berat beban yang diangkat, jumlah set dalam latihan interval dan sirkuit sebagai ukuran rangsangan motorik dalam satu unit latihan. Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat
pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan jumlah repetisi dan set. Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemilihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen berikutnya. Menurut O’Shea yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48) mengatakan bila latihan lebih dari satu rangkaian, maka masa istirahat dalam rangkaian adalah antara 1-2 menit. Menurut Bompa yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 33) mengatakan bahwa tes untuk mengevaluasi hasil latihan kekuatan dapat dilaksanakan setelah antara 4-6 minggu dari suatu masa siklus latihan makro. Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kaki atlit harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.
Dalam penelitian ini frekuensi latihan yang dipakai adalah tiga kali per minggu selama enam minggu. Sehingga tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu tersebut.
2.1.4. Faktor kondisi fisik yang mempengaruhi kemampuan lompat jauh
Dalam melakukan suatu latihan harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi atau memberi peran bagi tercapainya prestasi yang maksimal dalam cabang olahraga atletik khususnya lompat jauh. Pada lompat jauh gaya
jongkok ini akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan, daya ledak, ketepatan, kelentukan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90).
Kondisi fisik yang akan dibatas dalam penelitian ini adalah:
1. Kecepatan
Kecepatan menurut Suharno H.P.(1986 : 43) adalah kemampuan organisme atlit dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Sedangkan Sajoto (1995 : 9) menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan disini adalah kecepatan lari dalam lompat jauh gaya jongkok yang mana kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari langkah yang dilakukan secara cepat dan tepat. Secara cepat maksudnya setelah lari awalan lompat jauh itu untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh, secara tepat maksudnya setelah lari awalan dengan kecepatan tadi diupayakan kaki tumpu dapat jatuh dibalok tumpuan.
2. Kekuatan
Kekuatan merupakan unsur yang penting dan perlu mendapatkan perhatian khususnya dalam melaksanakan program latihan. Latihan kekuatan mendapat porsi lebih banyak dibandingkan unsur yang lainnya.
Kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam melatih ketrampilan gerak. Menurut Sajoto (1995 : 8) komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi kekuatan merupakan otot dalam menahan beban dari kerja dalam
waktu tertentu secara maksimal. Dalam lompat jauh unsur kekuatan sangatlah penting untuk mendapatkan hasil tolakan yang kuat dan benar sehingga dapat pula melakukan tolakan yang tinggi.
3. Daya ledak
Kekuatan daya ledak adalah kekuatan sebuah otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam gerakan yang utuh (Suharno H.P., 1998 : 36). Daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum dalam waktu yang singkat dan kontraksi yang cepat. Untuk mendapatkan tolakan yang kuat dan kecepatan yang tinggi harus memiliki daya ledak yang besar. Jadi daya ledak otot tungkai sebagai tenaga lompat pada saat melakukan tolakan pada papan tolak setelah melakukan awalan untuk memperoleh kecepatan vertical sehingga memperjauh hasil lompatan.
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dan Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus sesuai dengan cabang olahraga yang bersangkutan. Bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai menggunakan alat, yaitu naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
2.1.5.1. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah bentuk latihan plyometrics. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku kemudian kaki kiri diletakkan di atas bangku, kedua lengan berada disamping badan, kaki kiri yang berada di atas bangku ditekuk
membentuk sudut ± 900. Dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak kaki yang berada di atas bangku dan di lantai bersama-sama secara bergantian. Pada waktu mendarat dilakukan secepat mungkin kembali seperti pada saat posisi awal, untuk dilanjutkan dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada hitungan satu kaki kiri ke atas bangku, pada waktu hitungan dua melompat kaki kiri diikuti kaki kanan diayun setinggi mungkin dengan lutut ditekuk, hitungan tiga kaki kanan mendarat dilantai diiringi dengan kaki kiri pada hitungan keempat. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 4 dibawah ini.
Gambar 4.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian
(Yusuf Adisasmita, 1992:70)
2.1.5.2. Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki adalah bentuk latihan plyometrics dengan menggunakan dua tungkai secara bersamaan. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku sedikit menekuk sendi lutut ± 1350, kedua lengan berada disamping badan dengan kedua sendi siku ditekuk ± 900 dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak, kedua kaki bersama-sama melompat ke atas bengku ke tempat semula. Pendaratan dilakukan secepat mungkin pada posisi awal, untuk dilanjutkan
dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada waktu hitungan satu loncat di atas bangku, hitungan turun bangku dilanjutkan hitungan ganjil loncat di atas bangku, kalau hitungan genap turun bangku. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 5 dibawah ini.
Gambar 5.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki
(Donal A Chu, 1992:48)
2.1.6 Analisa Gerak
Kedua bentuk latihan di atas bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan tenaga lompat, yaitu unsur daya ledak dan kekuatan otot tungkai seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P.(1993 : 27-28) bahwa latihan-latihan otot mempunyai pengaruh terhadap hasil yang dicapai pada kemampuan jarak seperti dalam pengembangan daya lompat pada kaki dan juga terhadap fleksibilitas pada otot dan persendian.
Latihan loncat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian, lompatan lebih diarahkan pada ketepatan tolakan (tumpuan). Latihan yang diarahkan pada ketepatan tolakan diharapkan pelompat dengan tolakan yang tepat dan kuat akan menghasilkan lompatan horizontal yang tinggi, dengan demikian akan mempengaruhi hasil lompatan yang jauh dalm lompat jauh gaya jongkok.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lompatannya lebih banyak kearah vertikal, sehingga akan menghasilkan ketinggian yang optimal. Dengan latihan ini diharapkan pelompat setelah bertumpu akan menghasilkan kekuatan horizontal dan vertikal hingga menghasilkan lompatan yang jauh dalam lompat jauh gaya jongkok.
Prediksi awal dalam latihan naik turun bangku ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian diharapkan lebih baik dari pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki karena lompat jauh dipengaruhi oleh tolakan yang tepat dan kuat.
2.2. Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kebenarannya ( Sutrisno Hadi, 1988 : 257). Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 20) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Suatu hipotesis akan diterima kalau bahan-bahan penyelidikan membenarkan pernyataan itu dan akan ditolak bilamana kenyataan menolaknya. Dari kedua jenis latihan, yaitu lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten semarang tahun 2004-2005.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penggunaan metode penelitian dalam suatu research harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sutrisno Hadi (1988 : 4) berpendapat bahwa “Metodologi Research” sebagaimana kita kenal sekarang memberikan garis-garis yang sangat cermat dan mengajukan syarat-syarat yang sangat keras. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu research dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya.
Dalam penelitian ini akan diuraikan beberapa hal yang berkenaan engan metode penelitian, adalah sebagai berikut :
3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki. Populasi dibatasi sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 1988 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 155) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan objek penelitian dan dari seluruh individu tersebut paling sedikit harus mempunyai satu sifat yang sama.
Dalam penelitian ini populasi yang dipergunakan adalah siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.. Adapun yang mendasari pengambilan populasi ini adalah :
1. Semua siswa sama dalam satu naungan sekolah, yaitu SD Negeri Kalisidi 03 Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Semua siswa berjenis kelamin sama, yaitu putra
3. Masing-masing siswa pernah mendapatkan pelajaran atletik cabang lompat jauh gaya jongkok.
Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Sutrisno Hadi (1988 : 221) bahwa sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diselidiki. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah wakil atau sebagian dari suatu populasi yang akan diteliti. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
Sebagai pedoman untuk mendapatkan sampel adalah jika subjek yang digunakan kurang dari 100 dapat dipilih semua, sehingga merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar dapat dipilih antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Suharsimi Arikunto, 1998 : 120). Siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang berjumlah 24 siswa maka peneliti menggunakan total sampling.
Sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 sesudah diadakan pengambilan tes awal lompat jauh gaya jongkok kemudian dirangking dan dipasangkan dengan menggunakan rumus A-B-B-A. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Sedangkan kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel
Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998 : 99). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat.
Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan latihan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil lompat jauh gaya jongkok.
Metode dan Rancangan Penelitian
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian ini maka dipergunakan eksperimen, yaitu dengan memberikan perlakuan pada siswa berupa kegiatan tes awal, treatment atau latihan-latihan dan tes akhir. Dengan kegiatan
tersebut akan terlihat hubungan sebab akibat pengaruh dari pelaksanaan kegiatan atau latihan.
Penelitian ini mempergunakan metode eksperimen didasarkan pada :
1. Metode eksperimen merupakan salah satu metode paling tepat untuk menyelidiki sebab akibat (Sutrisno Hadi, 1988 : 127).
2. Metode eksperimen merupakan salah satu cara untuk mencari hubngan sebab akibat atau hubungan dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor lain yang bisa mengganggu (Suharsimi Arikunto, 1998 : 4)
Memperhatikan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dasar mempergunakan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang meliputi tes awal dan tes akhir yaitu lompat jauh gaya jongkok untuk menguji kebenarannya.
Metode eksperimen ini mempergunakan pola Macthing by Subject Design yang sering disebut pola M-S. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno Hadi (2000 : 484) yang menyatakan bahwa subject matching sudah tentu sekaligus berarti juga group matching, karena hakekat subject matching adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subjek (pair of subject) masing-masing kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 secara otomatis akan menseimbangkan kedua group itu. Adapun pairing of subject yang setingkat atau seimbang dijalankan atas dasar pengukuran pre eksperimen atau atas dasar penyelidikan-penyelidikan pendahuluan.
Tiap-tiap eksperimen akhirnya membandingkan sedikitnya dua kelompok dalam segi-segi yang dieksperimankan. Pendeknya mencari perbedaan antara sifat
keadaaan atau tingkah laku dua kelompok (atau lebih) menjadi kegiatan utama dalam kebanyakan penyelidik-penyelidik ilmiah (Sutrisno Hadi, 1988 : 260).
Peneliti dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ordinal pairing yang didapat dari hasil pre test atau tes awal , yaitu lompat jauh gaya jongkok. Hasil tes awal dipasangkan (diseimbangkan) dengan pola A-B-B-A dan setiap pasang dipisahkan menjadi dua kelompok, dari kedua kelompok tersebut diundi untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2, sehingga masing-masing kelompok berangkat dari titik tolak yang sama. Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok
Tes Awal (pre-test)
Treatmen
Tes Akhir (Post-Test)
Kelompok 1
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Lompat jauh gaya jongkok
Kelompok 2
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun tumpuan dua kaki
Lompat jauh gaya jongkok
Instrumen Penelitian
3.5.1 Instrumen Test
Instrument yang dipergunakan dalam penelitian ini adalahtes lompat jauh gaya jongkok. Tes ini bertujuan untuk mengukur hasil lompatan, baik pada tes awal maupun tes akhir.
3.5.2 Program Latihan
Program latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki dilaksanakan 16 kali pertemuan (6 minggu) yang setiap minggunya 3 kali pertemuan. Minggu
pertama 3 set 6 repetisi, minggu kedua 4 set 6 repetisi, minggu ketiga 4 set 8 repetisi, minggu keempat 4 set 10 repetisi, minggu kelima 4 set 12 repetisi dan minggu keenam 4 set 14 repetisi. Pertemuan pertama dan terakhir untuk pengambilan data.
Tehnik Pengambilan Data
Sebelum penelitian dimulai, peneliti mencari objek penelitian, setelah mendapatkan objek penelitian peneliti mengajukan surat permohonan untuk mengadakan penelitian kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Setelah mendapatkan persetujuan peneliti mengawali dengan menentukan populasi dan memilih sampel dengan tehnik total sampel, yaitu semua populasi diikutkan sebagai sampel.
Langkah berikutnya menentukan judul skripsi bersama pembimbing yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk rancangan skripsi guna mendapatkan surat persetujuan penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES berupa Permohonan Ijin Penelitian Kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03.
Kemudian peneliti mengadakan tes awal lompat jauh gaya jongkok, hasil tes dimasukkan dengan rumus A-B-B-A, sehingga terbentuk dua kelompok yang mempunyai kemampuan yang sama atau hampir sama., untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
3.6.1 Waktu Peneletian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, yaitu mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005. Penelitian ini diawali dengan tes awal pada tanggal 25 Januari 2005 dan hari-hari berikutnya merupakan latihan,
serta tes akhir dilaksanakan pada 5 Maret 2005.. Penelitian ini dilaksanakan tiga kali seminggu tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dengan pelaksanaan tiap sore pukul 15.00 WIB sampai selesai.
3.6.2 Tempat Penelitian
Tempat Penelitian yang dipergunakan adalah lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
3.6.3 Obyek Penelitian
Siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebagai obyek penelitian yang berjumlah 24 siswa.
3.6.4 Alat Penelitian
Alat perlengkapan dalam penelitian adalah : bangku setinggi 36 cm, bendera, roll metter, cangkul, bak pasir.
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian
Demi kelancaran penelitian peneliti dibantu oleh beberapa rekan guru Penjas Kecamatan Ungaran, serta beberapa rekan mahasiswa yang membantu dalam pelaksanaan tes awal dan tes akhir
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian
Secara keseluruhan penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu yang dimulai sejak tanggal 25 Januari 2005 sampai dengan tanggal 5 Maret 2005 yang terbagi dalam 3 kegiatan yaitu : 1) tes awal, 2) perlakuan, dan 3) tes akhir.
1. Tes awal
Tes awal dilaksanakan dilapangan olahraga SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah lompat jauh yang disesuaikan dengan buku peraturan perlombaan atletik dari PASI. Sebelum tes awal dimulai, siswa diberi penjelasan mengenai pelaksanaan tes lompat jauh. Sesudah diberi penjelasan baru penjelasan baru dilaksanakan tes awal. Tes awal dilaksanakan tanggal 25 Januari 2005 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai dilapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
2. Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005 dengan demikian penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan. Sedangkan setiap pertemuan dilaksanakan selama ± 90 menit, dengan pengaturan waktu yaitu 10 menit untuk pemanasan, 70 menit latihan inti dan 10 menit untuk penenangan.
Waktu kegiatan latihan dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dimulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Materi latihan pada kelompok eksperimen 1 adalah naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan kelompok eksperimen 2 adalah latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Untuk penyajian materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Sedangkan mengenai pengaturan waktu latihan adalah sebagai berikut:
a) Pemanasan
Pemanasan diberikan pada siswa dengan tujuan untuk persiapan fisik siswa sebelum melakukan latihan inti. Latihan ini sangat penting untuk mengadakan perubahan dalam fungsi organ tubuh guna menghadapi fisik yang lebih berat (Tohar, 2004 : 4).
b) Latihan Inti
Latihan inti dilaksanakan sesuai dengan program latihan materi diberikan sesuai dengan jadwal latihan. Jadwal latihan terlampir pada lampiran 6. Setelah melakukan latihan sesuai dengan kelompoknya masing-masing kemudian latihan lompat jauh gaya jongkok
c) Penenangan
Penenangan dilaksanakan selama 10 menit dan hal ini bertujuan untukm memulihkan kembali kondisi badan sesudah menerima materi latihan, dengan demikian keadaan tubuh akan pulih secara sempurna seperti semula. Adapun gerakan yang digunakan untuk penenangan bisa melakukan gerakan-gerakan stretching kembali. Selanjutnya bisa diberi penjelasan atau koreksi secara keseluruhan selama jalannya latihan, kesan dan pesan untuk membangkitkan motivasi latihan berdoa dan dibubarkan.
3. Tes akhir
Setelah program latihan dilaksanakan selama 16 kali pertemuan pada hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2005 dilakukan tes akhir yang pelaksanaannya sama dengan tes awal. Adapun tujuan dilaksanakannya tes akhir adalah untuk
mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa baik dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 setelah mengikuti program latihan.
Teknik Analisa Data
Karena dalam penelitian ini merupakan nilai suatu tes dari dua kelompok eksperimen yang sudah di-macth-kan pada masing-masing individunya, maka untuk pengetesan signifikan menggunakkan t-test dengan rumus pendek (short methode). Sesuai dengan pendapat Sutrisno hadi (1973 : 453).
Analisis terhadap hasil-hasil eksperimen yang didasarkan atas subject matching selalu menggunakan t-test pada correlated sample. Mengenai penggunaan rumus t-test peneliti menggunakan rumus pendek adalah rumus yang serba guna dan efisien. Rumus ini dipersiapkan untuk menyelesaikan eksperimen yang mennggunakan matched subject design (Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
3.7.1. Uji Beda
Untuk menghitung perbedaan peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok dengan rumus t-test. Rumus t-test digunakan dalam eksperimen-eksperimen yang menggunakan sampel-sampel yang berkorelasi, yaitu sampel-sampel yang sudah disamakan salah satu variabel t-test yang digunakan adalah sebagai berikut :
t = )1(2−ΣNNdMd
(Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
Keterangan :
t = Nilai perbedaan
N = Jumlah subjek
Md = Rata-rata selisih antara X1 dan X2
D = Penyimpangan (selisih) antara X1 dan X2 dan Md
Adapun uji perbedaan menggunakan derajat kebebasan N-1 pada taraf signifikansi 5%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian
Faktor kesungguhan anak
Kesungguhan anak dalam melakukan latihan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil penelitian. Peneliti memberikan motivasi selama latihan sehingga anak mempergunakan tenaganya secara maksimal.
Faktor cuaca
Latihan dilakukan pada sore hari, turunnya hujan dapat mengganggu jalannya latihan.apabila terjadi hujan saat latihan, latihan diganti dengan hari lain sehingga tidak mengurangi jadwal latihan. Jadi tidak mengurangi jumlah pertemuan yang sudah dijadwalkan.
3.8.3. Faktor kegiatan anak
Kegiatan anak diluar sulit diawasi peneliti, sebab tinggal peneliti jauh dari anak. Untuk mengontrol kegiatan anak peneliti memberikan pengertian-pengertian agar di luar penelitian tidak melakukan aktivitas yang sama dengan treatmen penelitian.
3.8.4. Faktor pemberian materi
Melihat kemampuan anak yang berbeda-beda peneliti selalu memberikan materi dengan jelas disertai dengan contoh-contoh sebelum pelaksanaan latihan dan sesudah latihan diberikan evaluasi secara menyeluruh.
3.8.5. Faktor kehadiran
Tempat penelitian dan rumah anak hanya berlingkup satu warga, maka anak dengan rajin mengikuti latihan, biarpun demikian peneliti selalu menyiapkan daftar hadir.
3.8.6. Faktor psikologi
Kehadiran peneliti pada waktu latihan membuat anak mempunyai rasa persaingan dalam melakukan kegiatan latihan. Anak selalu berlatih dengan sekuat tenaga dan menginginkan hasil lompatan sejauh mungkin apabila tes akhir nanti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Untuk mencari perbedaan pengaruh hasil latihan dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 dapat dilihat pada pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Tabel Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik
Kelompok
N
M
t-hitung
t-tabel
Keterangan
Eksperimen 1
12
341,67
Eksperimen 2
12
354,167
2,250
2,201
Signifikan
Dari hasil perhitungan statistik diperoleh t-hitung 2,250 kemudian t-tabel dengan db 11 dan taraf signifikan 5% diperoleh hasil 2,201 dengan demikian berarti setelah diberi perlakuan ternyata ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran diterima.
Untuk mengetahui mana yang lebih baik antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok dilakukan uji mean. Mean kelompok 1= 341,367 dan mean kelompok 2 = 354,167 , berarti M K1 < M K2 maka latihan naik turun tumpuan dua kaki lebih baik daripada latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005.
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok terdapat pengaruh. Siswa yang selama ini belum pernah menerima atau melakukan program latihan yang berkesinambungan setelah diberi latihan secara teratur dan terprogram sangat mempengaruhi hasil lompatan. Latihan naik turun bangku selain untuk memperkuat otot tungkai juga menimbulkan daya ledak yang optimal sehingga sangat menunjang dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki, terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok menunjukkan ada perbedaan yang berarti. Secara analisis gerakan kedua bentuk latihan dalam penelitian ini adalah ketinggian lompatan yang di hasilkan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih tinggi dibandingkan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Perbedaan pengaruh latihan ini terutama pada lompatan yang tinggi akan menghasilkan jarak yang lebih jauh.
Pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki mempunyai suatu kelebihan, yaitu adanya irama yang cepat pada waktu melakukan latihan, yaitu hitungan 1 dan 2 jadi mempengaruhi daya ledak yang tinggi dan kekuatan otot kaki secara maksimum. Gerakan meloncat ke atas pada posisi badan dan kaki membentuk sudut. Sesuai dengan gerakan melayang pada waktu melakukan lompat jauh gaya jongkok, dengan demikian latihan loncat naik turun bangku tumpuan dan kaki merupakan latihan yang berdaya guna (efektif) dan hasil guna
(efisien) di dalam pemakaian ruang gerak, waktu dan tenaga yang dihasilkan untuk memperoleh hsil yang baik dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok. Kekurangan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah gerakan terfokus pada lompatan yang tinggi dengan satu kaki yang bertujuan untuk ketepatan dan kekuatan tolakan saja, dengan irama yang lambat pada waktu latihan (hitungan 1-4) membuat daya ledak dan kekuatan otot kaki kurang maksimum.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, ternyata hipotesis yang diajukan dapat diterima, dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan loncat naik turun banku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompatan jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Tahun Pelajaran 2004/2005.
5.2. Saran
Dengan kesimpulan yang telah diambil, maka para guru atau pelatih atlit khususnya cabang lompat jauh disarankan hal-hal sebagai berikut :
1. Melatih lompat jauh gaya jongkok hendaknya menggunakan latihan yang tepat.
2. Meningkatkan hasil prestasi lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
DAFTAR PUSTAKA
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Aip Syarifuddin & Muhadi. 1992 / 1993. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Benhard, G. 1993. Atletik Prinsip Dasar Latihan Loncat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Loncat Galah. Terjemahan dari String Trainning Voor. Djengd. Semarang. Dahara Prize.
Carr, Gary. 2000. Atletik (edisi terjemahan). Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 1997. Kondisi Fisik Anak-Anak Sekolah Dasar. Jakarta. Depdikbud.
2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi SD dan MI. Jakarta: Dharma Bhakti.
Donald A. Chu. 1992. Plyometrics.
Engkos Kosasih. 1985. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo.
KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta: KONI
Harsono. 1988. Ilmu Coaching. Jakarta: KONI pusat
M. Sajoto. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta: Depdikbud.
Soegito dkk. 1994. Pendidikan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rinika Cipto.
Sutrisno Hadi. 1973. Metodologi Research. Yogyakarta: UGM
. 2000. Statistik II. Jakarta: Andi
Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta. FPOK IKIP Yogyakarta.
Tohar. 2004. Ilmu Kepelatihan Lanjut. Semarang. FIK UNNES.
Yoyo Bahagia dkk. 1999. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Yusuf Adisasmita. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
KALENDER PENELITIAN
BULAN JANUARI 2005
Minggu 2 9 16 23 30
Senin 3 10 17 24 31
Selasa 4 11 18 25
Rabu 5 12 19 26
Kamis 6 13 20 27
Jumat 7 14 21 28
Sabtu 1 8 15 22 29
BULAN PEBRUARI 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22
Rabu 2 9 16 23
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
BULAN MARET 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22 29
Rabu 2 9 16 23 30
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
Keterangan :
: Tes awal (Pre Test)
: Treatment (Latihan)
: Tes akhir (Post Test)
Hari latihan : Selasa, kamis dan jumat
Jam 14.00-16.00
Tempat : halaman SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran
SD NEGERI KALISIDI 03
KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG
SURAT KETERANGAN
NO : 00864/25B/2005
Yang bertandatangan di bawah ini, Kepala Sekolah Dasar Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang menerangkan dengan sesungguhnya bahwa :
Nama : Jumiyatun
NIM : 6301903029
Program/ Jurusan : FIK / PLKD UNNES
Semester : IV
Telah melakukan riset/ penelitian guna menyusun skripsi untuk melengkapi tugas-tugas studi tingkat sarjana dengan judul “Perbedaaan Latihan Lompat Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Lompat Naik Turun Bangku
Tumpuan Dua Kaki terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran”
Pelaksanaan riset / penelitian : dari tanggal 14 Februari 2005 sampai dengan 26 Maret 2005 di lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang kemudian harap menjadikan maklum bagi yang bersangkutan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Ungaran, 27 Maret 2005
Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Budiyono, Amd.Pd
NIP.130 567 680
DAFTAR PESERTA
LATIHAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI
BERGANTIAN DENGAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN DUA KAKI
SD NEGERI KALISIDI 03 ECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Induk
Nama Siswa
Jenis Kelamin
Kelas
Ket.
1.
Arif Ahrori
L
VI
2.
Dian Pamungkas
L
VI
3.
M. Shokibi
L
VI
4.
Sunarso
L
VI
5.
Agung Binarso
L
VI
6.
Luhur Adi D.
L
VI
7.
Nurhadi
L
VI
8.
Ardi Pradita
L
VI
9.
Edi Sunarso
L
VI
10.
Galuh
L
V
11.
Jumeri
L
V
12.
M. Nursyarifudin
L
V
13.
Zuli Setiyadi
L
V
14.
Hendro Suharno
L
V
15.
M. Ali
L
V
16.
Tri Sepdiyanto
L
V
17.
Taryono
L
V
18.
Zaenal
L
V
19.
Prasito
L
V
20.
Taufik
L
V
21.
R. Huda
L
V
22.
Fajar Sunarko
L
V
23.
Safii
L
V
24.
Nurkhafidin
L
V
HASIL TEST AWAL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
350
364
366
366
2.
Dian Pamungkas
308
334
343
343
3.
M. Shokibi
302
345
308
345
4.
Sunarso
307
300
300
307
5.
Agung Binarso
285
303
312
312
6.
Luhur Adi D.
270
309
253
309
7.
Nurhadi
290
291
297
297
8.
Ardi Pradita
260
223
242
260
9.
Edi Sunarso
351
340
329
351
10.
Galuh
335
310
342
342
11.
Jumeri
325
325
304
325
12.
M. Nursyarifudin
268
269
265
269
13.
Zuli Setiyadi
341
377
388
388
14.
Hendro Suharno
268
311
310
311
15.
M. Ali
286
276
256
286
16.
Tri Sepdiyanto
293
295
268
295
17.
Taryono
353
340
360
360
18.
Zaenal
311
309
321
321
19.
Prasito
296
335
333
335
20.
Taufik
278
289
284
289
21.
R. Huda
305
290
316
316
22.
Fajar Sunarko
248
251
209
251
23.
Safii
200
233
225
233
24.
Nurkhafidin
225
230
230
230
DAFTAR RANKING HASIL TEST DAN HASIL MATCHING YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBAGIAN KELOMPOK LOMPAT JAUH
SISWA PUTRA SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Dada
Nama
Hasil Awal
Pasangan no urut
Rumus MC
MC Pasang
Hasil Maching
1.
13
Zuli Setiyadi
388
1 2
A
13 1
388 366
2.
1
Arif Ahrori
366
B
3.
17
Taryono
360
4 3
B
9 17
351 360
4.
9
Edi Sunarso
351
A
5.
3
M. Shokibi
345
5 6
A
3 2
345 343
6.
2
Dian Pamungkas
343
B
7.
10
Galuh
342
8 7
B
19 10
335 342
8.
19
Prastio
335
A
9.
11
Jumeri
325
9 10
A
11 18
325 321
10.
18
Zaenal
321
B
11.
21
R. Huda
316
12 11
B
5 21
312 316
12.
5
Agung Binarso
312
A
13.
14
Hendro Suharno
311
13 14
A
14 6
311 309
14.
6
Luhur Adi D.
309
B
15.
4
Sunarso
307
16 15
B
7 4
297 307
16.
7
Nurhadi
297
A
17.
16
Tri Septiyanto
295
17 18
A
16 20
295 289
18.
20
Taufik
289
B
19.
15
M. Ali
286
20 19
B
12 15
269 286
20.
12
M. Nursyarifudin
269
A
21.
8
Ardi Pradita
260
21 22
A
8 22
260 251
22.
22
Fajar H.
251
B
23.
23
Safii
233
24 23
B
24 23
230 233
24.
24
Nurkhafidin
230
A
PEMASANGAN SAMPEL PENELITIAN HASIL TEST AWAL
LOMPAT JAUH
Kelompok Eksperimen I
Kelompok Eksperimen II
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
13
Zuli Setiyadi
388
1
1
Arif Ahrori
366
2
9
Edi Sunarno
351
4
17
Taryono
360
3
3
M. Shokibi
345
5
2
Dian Pamungkas
343
6
19
Prastio
355
8
10
Galuh
342
7
11
Jumeri
325
9
18
Zaenal
321
10
5
Agung Binarso
312
12
21
R. Huda
316
11
14
Hendro Suharno
311
13
6
Luhur Adi N.
309
14
7
Nurhadi
297
16
4
Sunarso
307
15
16
Tri Supriyadi
294
17
20
Taufik
289
18
12
M. Nursyarifudin
269
20
15
M. Ali
286
19
8
Aldi Pradita
260
21
22
Fajar Sunarko
251
22
24
Nur Khafidin
230
24
23
Safii
233
23
Keterangan :
1. Kelompok eksperimen I mendapat perlakuan latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
2. Kelompok eksperimen II mendapat perlakuan latihan lompat naik turun baangku tumpuan dua kaki
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TES AWAL HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 1 DAN EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
(x1)
K2
(x2)
D
x1 – x2
Md
D
(D – Md)
d2
(D-Md)
1 2
388
366
22
- 0,4166
22,4166
502,5039
4 3
351
360
- 9
- 0,4166
- 8,5834
73,6747
5 6
345
343
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
8 7
335
342
- 7
- 0,4166
- 6,5834
43,3411
9 10
325
321
4
- 0,4166
4,4166
19,5063
12 11
312
316
- 4
- 0,4166
- 3,5834
12,8407
13 14
311
309
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
16 15
297
307
-10
- 0,4166
- 9,5834
91,8415
17 18
295
289
6
- 0,4166
6,4166
41,1727
20 19
269
286
-17
- 0,4166
-16,5834
269,6689
21 22
260
251
9
- 0,4166
9,4166
88,6723
24 23
230
233
- 3
- 0,4166
- 2,5834
6,6739
Jumlah
3718
3723
- 5
- 0,002
1160,695
Mean
309,8333
310,25
- 0,4166
96,7245
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2
Md = NDΣ= 125−= – 0,4166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12695,11604166,0−−
= – 0,1405
Kesimpulan
Dengan db = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh – 0,1405, ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol diterima, yang berarti bahwa tidak trdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
HASIL TEST AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
410
400
445
445
2.
Dian Pamungkas
395
350
38
395
3.
M. Shokibi
345
365
365
365
4.
Sunarso
315
325
300
325
5.
Agung Binarso
335
350
345
350
6.
Luhur Adi D.
320
340
305
340
7.
Nurhadi
295
315
310
315
8.
Ardi Pradita
275
280
230
280
9.
Edi Sunarso
330
330
340
340
10.
Galuh
380
380
345
380
11.
Jumeri
365
350
355
365
12.
M. Nursyarifudin
295
305
305
305
13.
Zuli Setiyadi
410
405
390
410
14.
Hendro Suharno
280
320
360
360
15.
M. Ali
245
265
310
310
16.
Tri Sepdiyanto
280
250
305
305
17.
Taryono
370
390
380
390
18.
Zaenal
360
365
380
380
19.
Prasito
330
375
355
375
20.
Taufik
330
355
290
355
21.
R. Huda
330
260
330
330
22.
Fajar Sunarko
285
310
305
310
23.
Safii
355
220
295
355
24.
Nurkhafidin
250
270
300
300
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 1
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Zuli S.
388
410
22
2
Edi
351
370
21
3
M. Shokibi
345
365
20
4
Prastio
335
375
40
5
Jumeri
325
365
40
6
Agung B.
312
350
38
7
Hendro S.
311
360
49
8
Nurhadi
297
315
18
9
Tri Sepdiyanto
295
305
10
10
M. Nursyarifudin
269
305
36
11
Ardi P.D.
260
280
20
12
Nurkhafidin
230
300
70
3718
4100
382
Jumlah
Mean
309,8333
341,6666
31,8333
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 2
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Arif Ahrori
366
445
75
2
Taryono
360
390
30
3
Dian P.
343
395
52
4
Galuh
342
380
38
5
Zaenal
321
380
59
6
R. Huda
316
330
14
7
Luhur A.D.
309
340
31
8
Sunarso
307
325
18
9
Taufik
289
290
1
10
M. Ali
286
310
24
11
Fajar
251
310
59
12
Safii
233
355
122
3723
4250
527
Jumlah
Mean
310,25
354,1666
43,9166
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK 1
No Subjek
Test akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
410
388
22
- 9,8333
96,6937
2
370
351
19
-12,8333
164,6935
3
365
345
20
-11,8333
140,0367
4
375
335
40
8,1667
66,6945
5
365
325
40
8,1667
66,6745
6
350
312
38
6,1667
38,0282
7
360
311
49
17,1667
294,6955
8
315
297
18
-13,8333
191,3602
9
305
295
10
-21,8333
476,6930
10
305
269
36
4,1667
17,3614
11
280
260
20
-11,8333
140,0267
12
300
230
70
38,1667
1456,6969
4100
3718
384
0,0004
3149,6448
Jumlah
Mean
341,6666
309,8333
31,8333
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal dan tes akhir hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1
Md = NDΣ= 12384 = 31,8333
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(126448,31498333,31−
= 6,5169
Kesimpulan
Denagn db = N – 1 = 12 – 1= 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 6,517 ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil test awal dan test akhir pada kelompok eksperimen 1.
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 2
No
Test Akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
445
366
79
35,0834
1230,8449
2
390
360
30
-13,9166
193,6717
3
395
343
52
8,0834
65,3413
4
380
342
38
- 5,9166
35,0061
5
380
321
59
15,0834
227,5089
6
330
316
14
-29,9166
895,0029
7
340
309
31
-12,9166
166,8385
8
325
307
18
-25,9166
671,6701
9
290
289
1
-42,9166
1841,8345
10
310
286
24
-19,9166
396,6709
11
310
251
59
15,0834
227,5089
12
355
233
122
78,0834
6097,0173
4250
3723
527
0,0008
10891,916
Jumlah
Mean
354,1666
310,25
43,9166
Md = NDΣ = 12527= 43,9166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12916,108919166,43−
= 4,8346
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK EKSPERIMEN 1 DAN KELOMPOK EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
x1
K2
x2
D
(x1 – x2)
D
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1 2
410
445
-35
-22,5
506,25
4 3
370
390
-20
-7,5
56,25
5 6
365
395
-30
-17,5
306,25
8 7
375
380
-5
7,5
56,25
9 10
365
380
-15
-2,5
6,25
12 11
350
330
20
32,5
105,625
13 14
360
340
20
32,5
105,625
16 15
315
325
-10
2,5
6,25
17 18
305
290
15
27,5
756,25
20 19
305
310
-5
7,5
56,25
21 22
280
310
-30
-17,5
306,25
24 23
300
355
-55
-42,5
1806,25
4100
4250
-150
0
4073
Jumlah
Mean
341,3666
43,9166
-12,5
Md = NDΣ= 12150 = 12,5
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(1240735,12−−
= 2,2503
Kesimpulan
Denagn db galat = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan hipotesa nol adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 2,250 , ternyata lebih besar dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
TABEL NILAI-NILAI t
Taraf Signifikan
d.b
50%
40%
20%
10%
5%
2%
1%
0,20%
1
1,000
1,376
3,078
6,314
12,71
31,82
63,66
636,69
2
0,816
0,061
1,886
1,920
2,303
2,965
2,925
31,596
3
0,765
0,978
1,638
1,353
2,182
2,541
2,841
12,941
4
0,741
0,941
1,533
1,132
2,776
2,747
2,604
8,610
5
0,727
0,920
1,476
1,015
2,571
2,365
2,032
6,859
6
0,718
0,906
1,440
1,943
2,447
2,143
2,707
5,959
7
0,771
0,896
1,415
1,895
2,365
2,998
2,499
5,405
8
0,706
0,889
1,397
1,860
2,306
2,896
2,355
5,041
9
0,703
0,883
1,383
1,833
2,262
2,821
2,25
4,781
10
0,700
0,879
1,372
1,812
2,228
2,764
2,169
4,587
11
0,697
0,876
1,363
1,796
2,201
2,718
2,106
4,437
12
0,695
0,873
1,356
1,782
2,179
2,681
2.055
4,318
13
0,694
0,870
1,350
1,771
2,160
2,650
2,012
4,221
14
0,692
0,868
1,345
1,761
2,145
2,624
2,977
4,140
15
0,691
0,866
1,341
1,753
2,131
2,602
2,947
4,073
16
0,690
0,865
1,337
1,746
2,120
2,583
2,921
4,015
17
0,689
0,863
1,333
1,740
2,110
2,567
2,898
3,965
18
0,688
0,862
1,330
1,734
2,101
2,552
2,878
3,922
19
0,688
0,861
1,328
1,729
2,093
2,539
2,861
3,883
20
0,687
0,860
1,325
1,725
2,086
2,528
2,845
3,850
21
0,686
0,859
1,323
1,721
2,080
2,518
2,831
3,819
22
0,686
0,858
1,321
1,717
2,074
2,508
2,819
3,792
23
0,685
0,858
1,319
1,714
2,069
2,500
2,807
3,767
24
0,685
0,857
1,318
1,711
2,064
2,492
2,797
3,745
25
0,684
0,856
1,316
1,708
2,060
2,485
2,787
3,725
26
0,684
0,856
1,315
1,706
2,056
2,479
2,779
3,307
27
0,684
0,855
1,314
1,703
2,052
2,473
2,771
3,690
28
0,683
0,855
1,313
1,701
2,048
2,467
2,763
3,674
29
0,683
0,854
1,311
1,669
2,045
2,462
2,756
3,659
30
0,683
0,854
1,310
1,697
2,042
2,457
2,750
3,646
Sumber : (Sutrisno Hadi, 2001 : 358)

Kategori:Uncategorized

1
PENGARUH LATIHAN LOMPAT DENGAN RINTANGAN DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN
LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA
KELAS V SD NEGERI SIDOMULYO 04 UNGARAN
TAHUN PELAJARAN 2004/2005
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
Nama : SUTRISWATI
NIM : 6301903028
Program Studi : S1/ Transfer PKLO
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
2
SARI
SUTRISWATI (2005). Pengaruh Latihan Lompat Dengan Rintangan dan Meraih Sasaran Di Atas Terhadap Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
Permasalahan penelitian ini adalah : Apakah ada perbedaan pengaruh latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran tahun 2004/2005?. Tujuan penelitian untuk menyatakan ada dan tidaknya perbedaan pengaruh latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas.
Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pola M-S. Populasi penelitian ini siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu dengan latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas, serta variable terikat yaitu kemampuan lompat jauh. Instrument penelitian yang digunakan adalah test lompat jauh gaya jongkok. Analisis data menggunakan t-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel atau 2,4620 > 2,201 dengan taraf signifikan 5% dengan db 11 berarti ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Dari perhitungan mean, menunjukkan bahwa mean kelompok eksperimen 1 lebih besar dari mean kelompok eksperimen 2 (318,67 > 308,17), dengan demikian latihan lompat dengan rintangan lebih baik hasilnya dibandingkan dengan latihan meraih sasaran di atas.
Melihat hasil penelitian, disarankan kepada guru Penjas dan pelatih untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh gaya jongkok dapat melakukan latihan lompat dengan rintangan.
3
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui dan disyahkan untuk diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Khomsin, M.Pd. Sri Haryono, S.Pd. M.Or. Nip. 131469639 Nip. 132205930
Mengetahui,
Ketua Jurusan PKLO
Drs. Wahadi, M.Pd.
Nip. 131571551
4
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 14 Juli 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, MS Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 130525506 NIP. 131571551
Penguji :
1. Kumbul S. Budiyanto, S.Pd. M.Kes.
NIP. 132205932
2. Dr. Khomsin, M.Pd.
NIP. 131469639
3. Sri Haryono, S.pd. M.Or
NIP. 132205930
5
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
- Kemarin penuh angan – angan
- Hari ini jadi kenyataan
- Esok penuh harapan
Skripsi Ini Saya Persembahkan Kepada :
1. Ibu dan Bapak saya ( almarhum )
2. Suami saya tercinta
3. Anak saya tersayang
4. Teman-teman Mahasiswa S1 Transfer PKLO FIK UNNES Semarang.
6
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya, sehingga atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak mendapatkan dorongan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung yang tak ternilai harganya, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan persetujuan dalam penelitian ini.
3. Dr. Khomsin, M.Pd dan Sri Haryono, S.Pd. M.Or, yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Kepala SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran yang telah memberikan ijin penggunaan siswa putra kelas V sebagai sampel penelitian.
5. Para Dosen FIK UNNES yang telah ikut serta memberikan petunjuk
6. Guru-guru SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran yang telah banyak membantu dalam penelitian ini.
7. Suami, anak dan Orangtua terkasih yang selalu memberikan dorongan moral dalam penyelesaian kripsi ini.
7
8. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir selama penelitian
9. Siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung dalam peneletian skripsi ini.
Atas bantuan dan pengorbanannya yang telah diberikan, semoga mendapat imbalan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembinaan dunia olahraga atletik khususnya lompat jauh dimasa yang akan datang.
Penulis
8
DAFTAR ISI
JUDUL……………………………………………………………………………………………….i
SARI…………………………………………………………………………………………………..ii
LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………………………….iii
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………..iv
MOTTO & PERSEMBAHAN……………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….vi
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….viii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………x
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………..xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul………………………………………………………..1
1.2 Permasalahan………………………………………………………………………7
1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………………………8
1.4 Penegasan Istilah…………………………………………………………………8
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian…………………………………………………….11
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori……………………………………………………………………12
2.1.1 Atletik………………………………………………………………………..12
2.1.2 Lompat Jauh……………………………………………………………….13
2.1.3 Tehnik Lompat Jauh…………………………………………………….14
2.1.4 Faktor Kondisi Fisik…………………………………………………….20
2.1.5 Latihan Lompat dan Prinsip-Prinsip Latihan…………………..22
2.1.6 Latihan Lompat Dengan Melompati Rintangan dan Latihan
Lompat Meraih Sasaran………………………………………………..26
2.1.7 Analisis Gerakan Latihan Lompat………………………………….31
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….33
9
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi…………………………………………………………………………..34
3.2 Sampel dan Tehnik Pengambilan Sampel…………………………….35
3.3 Variabel Penelitian……………………………………………………………36
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian………………………………………36
3.4.1 Metode Penelitian……………………………………………………..36
3.4.2 Rancangan Penelitian………………………………………………..36
3.4.3 Pelaksanaan Penelitian………………………………………………37
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………….40
3.6 Tehnik Pengambilan Data………………………………………………….41
3.7 Metode Analisis ………………………………………………………………41
3.8 Faktor yang Mempengaruhi Penelitian………………………………..42
3.8.1 Faktor Pengalaman Dalam Latihan……………………………..42
3.8.2 Faktor Kesungguhan Melakukan Latihan…………………….42
3.8.3 Faktor Tempat dan Cuaca………………………………………….43
3.8.4 Faktor Pemberian Materi……………………………………………43
3.8.5 Faktor Kondisi Sampel………………………………………………43
3.8.6 Faktor Kegiatan Anak……………………………………………….44
3.8.7 Faktor Alat……………………………………………………………….44
3.8.8 Faktor Peneliti………………………………………………………….44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian…………………………………………………………………45
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………..46
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan………………………………………………………………………….48
5.2 Saran……………………………………………………………………………….48
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………….49
LAMPIRAN………………………………………………………………………………………..51
10
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Cara Melakukan Gerak Tumpuan (Take-off)………………………………………..16
2. Sikap Melayang Diudara Pada Lompat Jauh Gaya Jongkok…………………..18
3. Serangkaian Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok………………………………..20
4. Gerakan Loncat-loncat Menyentuh Suatu Penentu………………………………..27
5. Latihan Melompati Rintangan dan di Modifikasi………………………………….29
6. Latihan Lompat Meraih Sasaran di atas……………………………………………….30
11
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Keuntungan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran diatas….32
2. Kerugian latihan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran…….33
3. Rancangan penelitian…………………………………………………………………..37
4. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik…………………………………………45
12
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. SK Pembimbing………………………………………………………………..51
2. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas……………………………………….52
3. Surat Ijin Penelitian dari SD ………………………………………………53
4. Populasi dan Sampel …………………………………………………………54
5. Hasil Tes Awal ………………………………………………………………..55
6. Program Latihan ………………………………………………………………61
7. Tes Akhir ………………………………………………………………………..69
8. Analisa Data ……………………………………………………………………71
9. Tabel Nilai – nilai t……………………………………………………………73
10. Foto-Foto…………………………………………………………………………74
13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Alasan Pemilihan Judul
Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Olahraga mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui olahraga dapat dibentuk manusia yang sehat jasmani, rohani serta mempunyai kepribadian, disiplin, sportifitas yang tinggi sehingga pada akhirnya akan terbentuk manusia yang berkualitas. Suatu kenyataan yang bisa diamati dalam dunia olahraga, menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan prestasi olahraga yang pesat dari waktu kewaktu baik ditingkat daerah, nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilihat dari pemecahan-pemecahan rekor yang terus dilakukan pada cabang olahraga tertentu, penampilan tehnik yang efektif dan efisien dengan ditunjang oleh kondisi fisik yang baik.
Dengan adanya kecendrungan prestasi yang meningkat, maka untuk berpartisipasi dan bersaing antar atlet dalam kegiatan olahraga prestasi harus dikembangkan kualitas fisik, tehnik, psikologi dan sosial yang dituntut oleh cabang olahraga tertentu. Oleh karena itu melalui pengembangan dan pembinaan di masyarakat, olahraga wajib diajarkan di sekolah-sekolah dari sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat pertama sampai dengan sekolah tingkat menengah.
Olahraga atletik merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan pada siswa di Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan materi kurikulum 2004 standar kompetensi Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Menurut Aip Syarifuddin dan Muhadi (1992/1993: 59) atletik adalah salah satu cabang olahraga yang tertua yang dilakukan oleh manusia sejak jaman Yunani Kuno sampai dewasa ini. Dalam mata pelajaran atletik yang dipelajari adalah gerakan dasar manusia di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu berjalan, berlari, melompat dan melempar. Selain itu dalam kejuaraan atletik ada beberapa nomor yang diperlombakan antaranya adalah nomor lari, jalan cepat, nomor lompat dan nomor lempar. Khusus untuk nomor lompat yang diperlombakan baik yang bersifat nasional maupun internasional terdiri dari nomor : lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit dan lompat tinggi galah.
Keempat nomor lompat tersebut yang akan dibahas lebih lanjut adalah pada nomor lompat jauh. Lompat jauh adalah salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik. Dalam perlombaan lompat jauh seorang pelompat akan bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya dan untuk mendarat di bak lompat sejauh-jauhnya. Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas, ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mancapai jarak yang sejauh-jauhnya. Karena lompat jauh termasuk nomor lompat yang diperlombakan, maka diperlukan metode latihan yang tepat untuk meningkatkan prestasi. Untuk mencapai prestasi yang baik di dalam lompat jauh menurut
ii
Aip Syarifuddin (1992 : 90), selain si pelompat harus memiliki kekuatan, daya ledak, kecepatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak, juga harus memahami dan menguasai tehnik untuk melakukan gerakan lompat jauh tersebut serta dapat melakukannya dengan cepat, tepat, luwes dan lancar. Tehnik untuk lompat jauh yang benar perlu memperhatikan unsur-unsur: awalan, tolakan, sikap badan di udara (melayang) dan mendarat. Menurut Yoyo Bahagia dkk (1999 / 2000 : 16) keempat unsur ini merupakan satu kesatuan, yaitu urutan gerakan lompat yang tidak terputus.
Dalam lompat jauh terdapat beberapa macam gaya atau sikap badan pada saat melayang di udara. Soegito dkk (1994 : 143) menyebutkan ada tiga cara sikap melayang yaitu: 1) gaya jongkok (waktu melayang bersikap jongkok), 2) gaya lenting (waktu di udara badan dilentingkan), dan 3) gaya jalan di udara (waktu melayang kaki bergerak seolah-olah berjalan di udara). Gaya lompat jauh yang paling sederhana untuk diajarkan pada pemula seperti siswa di SD adalah lompat jauh gaya jongkok. Tehnik lompat jauh gaya jongkok termasuk yang paling sederhana di banding dengan gaya yang lain.
Untuk mencapai prestasi yang baik di dalam lompat jauh perlu didukung dengan latihan yang baik melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dengan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan latihan untuk mencapai prestasi ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Unsur tersebut menurut M. Sajoto (1988 : 15) diantaranya adalah: 1) unsur fisik yang lebih popular dengan kondisi fisik, 2) unsur tehnik, 3) unsur mental, 4) unsur kematangan juara. Dari keempat unsur tersebut, ialah satu unsur yang merupakan
iii
faktor utama yaitu kondisi fisik, seperti pendapat dari Depdiknas (2000 : 101) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan tehnik, taktik dan kemampuan mental.
Kondisi fisik menurut M. Sajoto (1988 : 16) adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan, walaupun disana sini dilakukan dengan system prioritas sesuai keadaan atau status tiap komponen itu dan untuk keperluan apa keadaan atau status yang dibutuhkan tersebut. Komponen yang dimaksud menurut M. Sajoto (1988 : 16) adalah sebagai berikut : 1. Kekuatan; 2. Daya tahan; 3. Daya ledak; 4. Kecepatan; 5. Daya lentur; 6. Kelincahan; 7. Koordinasi; 8. Keseimbangan; 9. Ketepatan dan 10. Reaksi.
Dari beberapa komponen kondisi fisik tersebut, menurut Aip Syarifuddin (1992 : 93) komponen yang sangat besar pengaruhnya terhadap hasil lompatan pada lompat jauh adalah kekuatan otot tungkai yang meliputi : kecepatan yaitu pada awalan dan kekuatan yaitu pada tolakan. Perpaduan antara kecepatan dan kekuatan dinamakan power atau daya otot (M. Sajoto, 1988 : 12). Usaha untuk meningkatkan power dibutuhkan latihan yang disesuaikan dengan kemampuan atlet, sebab atlet dari masing-masing cabang baik dari cabang yang sama dan bahkan dari cabang yang berbeda yang memiliki kemampuan yang berlainan. Dengan demikian perlu dicari bentuk latihan yang tepat dan efektif untuk
iv
meningkatkan power ototnya terutama pada kemampuan melompat adalah kekuatan otot-otot pada tungkai.
Menurut Aip Syarifuddin dan Muhadi (1992/1993 : 49, 50) latihan pembentukan daya ledak anak usia SD dapat dilakukan dengan jalan latihan lompat jauh tanpa awalan, lompat setinggi-tingginya meraih sesuatu benda yang tergantung di atas, atau meraih pada dinding dan lompat berjongkok (squat jump). Dikatan oleh J. Matakupan (1996 : 56) bahwa aktivitas bermain pada anak yang dilakukan pada proses pendidikan jasmani akan sangat penting dalam masa pertumbuhan anak, dasar gerak akan menjadi lebih baik karena meningkatnya kekuatan otot, kelentukan, daya tahan otot setempat dan daya tahan cardiovaskuler yang semakin menjadi baik, selain itu akan menjadi panjang dan besarnya otot-otot, fungsi organ tubuh menjadi baik, sehingga dapat dikatakan bahwa terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik. Bentuk latihan lain yang dapat meningkatkan kekuatan otot kaki menurut Carr (2000 : 120) adalah dengan melompat rintangan rendah dan memyundul bola. Sedangkan menurut Gunter Bernhard (1993 : 86) bentuk-bentuk permainan dan latihan untuk melatih melompat pada lompat jauh yaitu loncatan- loncatan dengan menyentuh suatu penentu selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas yang tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan.
Untuk merangsang agar siswa melakukan lompatan yang cukup melambung, perlu dipasang tali atau batas melintang di atas tepi bak pasir, dengan ketinggian sekitar 75 cm, jarak antara balok tumpu dengan tali/bilah .sekitar 1-2 meter untuk disesuaikan dengan kemampuan (Tamsir Riyadi, 1985 : 103). Beberapa metode
v
latihan lompat menurut beberapa ahli dapat dilakukan dengan: 1) Melompat di atas serangkaian rintangan rendah, cara melakukannya masing-masing peserta melompat atau melambung di atas serangkaian rintangan yang rendah , tangan digerakkan di atas dan paha kaki yang memimpin digerakkan keatas pada setiap lompatan (Gerry A. Carr, 1997 : 141), dan 2) Meraih bola yang digantung atau meraih sasaran di atas, pelaksanaannya : gantungkan bola dengan tali, kira-kira setinggi 30 cm hingga 60 cm di atas kepala, peserta menggunakan run-up 3 hingga 5 langkah, masing-masing siswa melompat untuk menyentuh bola, dengan menggunakan take-off satu kaki. Jika mereka menyentuh bola dengan baik, mereka berpindah ke bola yang lain (Gunter Bernhard, 1993 : 86).
Latihan-latiahan tersebut diberikan pada anak dengan program latihan memakai beban berat badannya sendiri. Seperti yang dikatakan M. Sajoto (1988 : 42) beban yang digunakan dapat berupa berat badan sendiri, dengan berteman, bola karet, tali elastis, dumble, burble, latihan mendorong dan menahan alat permanen seperti latihan isometric. Dengan adanya berbagai macam bentuk-bentuk latihan lompat jauh yang tujuannya untuk memacu atau merangsang tolakan kaki agar kuat sehingga menghasilkan lompatan melambung tinggi.
Dalam penelitian ini dipilih dua jenis bentuk latihan yaitu latihan lompat dengan rintangan rendah dan lompat setinggi-tingginya meraih suatu benda. Latihan ini pada intinya bertujuan untuk memacu dan merangsang tolakan kaki agar kuat sehingga menghasilkan lompatan melambung tinggi. Kedua bentuk latihan tersebut belum diketahui dengan pasti, mana yang lebih efektif dalam
vi
meningkatkan prestasi lompat jauh. Untuk mengetahui bentuk latihan yang dapat memberikan pengaruh yang lebih baik, maka perlu dilakukan penelitian.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis akan melakukan penelitian eksperimen dengan judul : Pengaruh Latihan Lompat dengan Rintangan dan Meraih Sasaran Di atas Terhadap Kemampuan Lompat Jauh pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005, dengan alasan pemilihan judul adalah :
1. Latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas merupakan bentuk latihan yang sederhana, mudah, tidak membahayakan dan dapat digunakan sebagai metode pembelajaran pada anak SD.
2. Latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas dapat merangsang anak untuk melakukan lompatan yang cukup tinggi, lompatan yang melambung tinggi sangat dibutuhkan untuk melompat, sehingga mempengaruhi jauhnya lompatan.
1.2. Permasalahan
Permasalahan penelitian adalah : Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 ?
vii
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Apabila ditemukan ada perbedaan maka akan dicari bentuk latihan mana yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
1.4. Penegasan Istilah
Agar persoalan yang dibicarakan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan penelitian dan tidak terjadi salah penafsiran pada istilah-istilah yang digunakan, maka perlu adanya penegasan istilah sebagai berikut:
1. Pengaruh
Pengaruh menurut Poerwadarminto ( 1984 : 731) diartikan daya yang ada atau yang ditimbulkan dari sesuatu yang berkuasa atau yang berkekuatan. Pengaruh dalam penelitian ini adalah daya yang timbul dari latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh.
2. Latihan
Latihan menurut Harsono (1982 : 27) adalah proses yang sistematis daripada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian
viii
menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya. Dikatakan pula oleh Depdiknas (2000 : 103) latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih secara berulang-ulang dengan kian menambah jumlah beban atau pekerjaannya. Dan dua pendapat tersebut yang dimaksud latihan dalam penelitian ini adalah latihan melompati rintangan rendah dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh.
3. Lompat
Pengertian lompat menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) bahwa lompat adalah istilah yang digunakan dalam cabang olahraga atletik, yaitu melakukan tolakan dengan satu kaki. Maksud lompat dalam penelitian ini adalah melakukan gerakan melompati, melampaui rintangan dan melompat meraih sasaran di atas dengan tujuan untuk melatih kekuatan otot kaki.
4. Rintangan
Rintangan menurut Poerwadarminto (1984 : 827) adalah alangan ; apa-apa yang merintangi; gangguan. Dalam penelitian ini pengertian rintangan adalah serangkaian rintangan yang terbuat dari bilah bambu yang digunakan sebagai alat bantu dalam latihan dengan jumlah rintangan sebanyak 5 buah dengan ketinggian 30 cm dan kian hari kian meningkat.
5. Meraih Sasaran Di atas
Meraih sasaran di atas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melompat menggunakan run-up 3 langkah tangan diayun keatas untuk menyentuh atau memegang bola digantung, jika mereka menyentuh satu bola
ix
dengan baik mereka berpindah ke bola lain yang dilakukan secara berkesinambungan (Gunter Bernhards, 1993 : 86).
6. Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok
Kemampuan menurut Poerwadarminto (1984 : 682) adalah kesanggupan seseorang dalam melakukan sesuatu. Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat, mengangkat kaki keatas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin diudara (melayang diudara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya (Aip Syarifuddin, 1992 : 90), kemudian menurut Yusuf Adisasmita (1992 : 64) lompat jauh adalah salah satu lompat dalam cabang olahraga atletik yang meliputi cara malakukan awalan, tumpuan, malayang di udara dan cara melakukan pendaratan. Dalam perlombaan lompat jauh, seorang pelompat akan berusaha ke depan dengan bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya untuk mendarat di bak lompat sejauh- juahnya, yang mempunyai empat unsur gerakan yaitu awalan, tumpuan, melayang dan mendarat. Lompat jauh juga memiliki beberapa gaya dan gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang), inilah yang biasa disebut gaya lompatan dalam lompat jauh. Gaya lompat jauh yang dikenal adalah gaya jongkok, gaya lenting dan gaya berjalan di udara.
Lompat jauh gaya jongkok menurut Tamsir Riyadi (1985 : 98) disebut juga gaya duduk di udara. Setelah kaki kiri bertumpu, maka kaki ayun (kanan terutama bagian paha) diangkat cepat tinggi kedepan. Pada saat itu pula kedua lengan diangkat kedepan atas. Setelah kaki kiri lepas dari tanah (balok tumpu)
x
segera diayun kedepan sehingga sejajar dengan kaki kanan. Pada saat mencapai titik ketinggian sikap badan dan kaki seperti duduk / berjongkok. Selanjutnya setelah bergerak turun, kedua kaki diluruskan kedepan, kedua lengan juga dijulurkan kedepan, badan condong kedepan. Dalam penelitian ini yang dimaksud kemampuan lompat jauh gaya jongkok adalah jauhnya jarak lompatan yang di tempuh untuk meningkatkan prestasi dalam lompat jauh gaya jongkok.
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna :
1. Sebagai masukan bagi guru Penjaskes SD Negeri Sidomulyo Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang dan pembina maupun pelatih olahraga dalam upaya memberikan latihan fisik khususnya untuk meningkatkan kemampuan power dalam lompat jauh
2. Sebagai langkah awal bagi pengembangan dan peningkatan proses belajar untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh.
3. Sebagai bahan referensi pada penelitian lebih lanjut.
xi
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Atletik
Dalam dunia olahraga, dikenal banyak sekali cabang olahraga, antara lain adalah atletik, permainan, senam dan beladiri. Dari keempat cabang olahraga tersebut, atletik mempunyai peranan penting, karena gerakan-gerakannya merupakan gerakan dasar bagi cabang olahraga lainnya. Atletik menurut Aip Syarifuddin (1992 :2) berasal dari bahasa Yunani, yaitu Athlon yang artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan atau perjuangan, sedangkan orang yang melakukannya dinamakan Athleta (Atlet). Dengan demikian dapatlah dikemukakan, bahwa atetik adalah salah satu cabang yang dipertandingkan atau diperlombakan yang meliputi atas nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar.
Atletik merupakan dasar untuk melakukan bentuk-bentuk gerakan yang terdapat didalam cabang olahraga yang lainnya. Dengan mengikuti kegiatan latihan atletik, akan dapat diperoleh berbagai pengalaman yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan, karena didalam melakukan kegiatan atletik akan dilatih kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan, ketepatan, daya tekan, koordinasi gerak, keuletan, kedisiplinan dan percaya diri serta bertanggung jawab (Aip Syarifuddin dan Muhadi, 1992/1993 : 60).
xii
Dalam cabang olahraga atletik ada empat nomor lompat yaitu nomor lompat jauh, lompat jangkit, lompat tinggi dan lompat tinggi galah. Lompat jauh merupakan salah satu nomor atletik yang wajib diajarkan di SD.
2.1.2. Lompat jauh
Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik. Lompat jauh menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) didefinisikan sebagai suatu bentuk gerakan melompat, mengangkat kaki keatas kedepan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin diudara (melayang diudara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Lompat jauh merupakan suatu gerakan melompat menggunakan tumpuan satu kaki untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Sasaran dan tujuan lompat jauh adalah untuk mencapai jarak lompatan sejauh mungkin kesebuah letak pendaratan atau bak lompat. Jarak lompatan diukur dari papan tolakan sampai batas terdekat dari letak pendaratan yang dihasilkan oleh bagian tubuh. Menurut Engkos Kosasih (1985:67) bahwa yang menjadi tujuan lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya yang mempunyai empat unsur gerakan yaitu : awalan; tolakan; sikap badan di udara; sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat. Dalam hal yang sama Yusuf Adisasmita (1992:65) berpendapat bahwa keempat unsur ini merupakan suatu kesatuan, yaitu urutan gerakan lompat yang tidak terputus.
Dalam lompat jauh terdapat beberapa macam gaya yang umum dipergunakan oleh para pelompat, yaitu : gaya jongkok, gaya menggantung atau disebut juga
xiii
gaya lenting dan gaya jalan di udara. Perbedaan antara gaya lompatan yang satu dengan yang lainnya, ditandai oleh keadaan sikap badan si pelompat pada waktu melayang di udara (Aip Syarifuddin, 1992 : 93). Jadi mengenai awalan tumpuan / tolakan dan cara melakukan pendaratan dari ketiga gaya tersebut pada prinsipnya sama. Salah satu gaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya jongkok. Disebut gaya jongkok karena gerak dan sikap sewaktu badan berada diudara seperti orang jongkok ( Tamsir Riyadi, 1985: 98).
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam lompat jauh selain pelompat harus memiliki kondisi fisik yang baik, juga harus memahami dan mengusai tehnik untuk melakukan gerakan lompat jauh tersebut. Bernhard (1993 : 45) menyatakan bahwa unsur-unsur dalam mencapai prestasi lompat jauh yang maksimal adalah: 1) faktor kondisi fisik terutama kecepatan tenaga lompatan dan tujuan yang diarahkan pada ketrampilan, 2) faktor tehnik ancang-ancang, persiapan dan perpindahan fase melayang dan pendaratan.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam lompat jauh terkandung unsur-unsur kondisi fisik yang meliputi : kecepatan, tenaga ledak otot tungkai yang mengarah pada ketrampilan.
2.1.3 Tehnik Lompat Jauh
Lompat jauh mempunyai empat fase gerakan, yaitu awalan, tolakan, melayang dan mendarat serta terdapat tiga macam gaya yang membedakan antara gaya yang satu dengan gaya yang lainnya pada saat melayang diudara. Uraian mengenai keempat fase gerakan dalam lompat jauh adalah sebagai berikut:
xiv
2.1.3.1. Awalan
Awalan adalah langkah utama yang diperlukan oleh pelompat untuk memperoleh kecepatan pada waktu akan melompat. Seperti dikatakan Aip Syarifuddin (1992 : 90) awalan merupakan gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan (lompatan). Jarak awalan yang biasa dan umum digunakan oleh para pelompat (atlet) dalam perlombaan lompat jauh adalah : 1) untuk putra antara 40 m sampai 50 m; 2) untuk putri antara 30 m sampai dengan 45 m. Akan tetapi di dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, terutama di SD hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak-anak SD. Misalnya antara 15 m sampai 20 m atau antara 15 m sampai 25 m. Menurut Engkos kosasih (1985 : 67) awalan harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan merubah langkah pada saat melompat.
Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 91) agar dapat menghasilkan daya tolakan yang besar, maka langkah dan awalan harus dilakukan dengan mantap dan menghentak-hentak (dinamis step). Untuk itu dalam melakukan lari awalan, bukan hanya kecepatan lari saja yang dibutuhkan, akan tetapi ketepatan langkah juga sangat dibutuhkan sebelum melakukan tolakan.
2.1.3.2. Tumpuan atau tolakan
Tumpuan atau tolakan adalah gerakan menolak sekuat-kuatnya dengan kaki yang terkuat, yaitu meneruskan kecepatan horizontal ke kekuatan vertical yang dilakukan secara cepat. Menurut Engkos Kosasih (1985 : 67) tolakan yaitu menolak sekuat-kuatnya pada papan tolakan dengan kaki terkuat ke atas (tinggi
xv
dan ke depan). Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa melakukan tolakan berarti jarak merubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertical.
Mengenai tolakan, Soedarminto dan Soeparman (1993 : 360) mengemukakan sebagai berikut : untuk membantu tolakan ke atas, lengan harus diayun ke atas dan kaki yang melangkah diayunkan setinggi mungkin (prinsipnya adalah bahwa momentum dari bagian dipindahkan kepada keseluruhan). Ayunan kaki ke atas mengunci sendi panggul karena kerjanya Ligamenta iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk, seperti pada gambar 1.
Gambar 1
Cara melakukan gerak tumpuan (take off)
(Carr. 2000 : 146)
Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong kedepan, titik berat badan harus terletak agak dimuka titik sumber tenaga, yaitu kaki tumpu pada saat pelompat menumpu, letak titik berat badan ditentukan oleh panjang langkah terakhir sebelum melompat (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67-68).
Dikatakan pula oleh Soegito dkk (1994 : 146) cara bertumpu pada balok tumpuan harus dengan kuat, tumit bertumpu lebih dahulu diteruskan dengan seluruh telapak kaki, pandangan mata tetap lurus kedepan agak ke atas.
xvi
2.1.3.3. Melayang di udara
Sikap melayang adalah sikap setelah gerakan lompatan dilakukan dan badan sudah terangkat tinggi keatas. Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 92/93) sikap dan gerakan badan di udara sangat erat hubungannya dengan kecepatan awalan dan kekuatan tolakan. Karena pada waktu pelompat lepas dari papan tolakan badan si pelompat akan dipengaruhi oleh suatu kekuatan yaitu gaya gravitasi (gaya penarik bumi). Untuk itu, kecepatan lari awalan dan kekuatan pada waktu menolak harus dilakukan oleh pelompat untuk mengetahui daya tarik bumi tersebut. Dengan demikian jelas bahwa pada nomor lompat jauh kecepatan dan kekuatan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil tolakan. Tetapi, dengan mengadakan suatu perbaikan bentuk dan cara-cara melompat serta mendarat, maka akan memperbaiki hasil lompatan. Perubahan dan perbaikan bentuk tersebut dinamakan “gaya lompatan” yang sifatnya individual. Pada nomor lompat (khususnya lompat jauh) perubahan bentuk akan gaya-gaya lompatan itu tidak akan mempengaruhi parabola dari titik berat badan, tetapi berguna untuk menjaga keseimbangan serta pandaratan yang lebih baik.
Menurut Engkos Kosasih (1985 : 67) sikap badan di udara adalah badan harus diusahakan melayang selama mungkin di udara serta dalam keadaan seimbang. Dalam hal yang sama Yusuf Adisasmita (1992 : 68) berpendapat bahwa pada waktu naik, badan harus dapat ditahan dalam keadaan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan lebih sempurna. Kalaupun mengadakan gerak yang lain harus dijaga agar gerak selama melayang itu tidak menimbulkan perlambatan. Pada lompat jauh, waktu melayang di udara berprinsip
xvii
pada 3 hal sebagai berikut : 1) bergerak ke depan semakin cepat semakin baik: 2) menolak secara tepat dan kuat; 3) adapun gerakan yang dilakukan selama melayang di udara tidak akan menambah kecepatan gerak selama melayang dan hanya berperan untuk menjaga keseimbangan saja.
Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok menurut Aip Syarifuddin (1992 : 93) pada waktu lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk, kedua tangan ke depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan kemudian mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu, kedua tangan ke depan. Untuk lebih jelasnya, sikap badan di udara seperti terlihat pada gambar 2. berikut ini.
Gambar 2
Sikap Melayang diudara Pada Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Soegito dkk, 1994 : 147)
Pada prinsipnya sikap badan diudara bertujuan untuk berada selama mungkin diudara menjaga keseimbangan tubuh dan untuk mempersiapkan pendaratan. Sehubungan dengan itu diusahakan jangan sampai menimbulkan perlambatan dari kecepatan yang telah dicapai. Dengan demikian tubuh akan melayang lebih lama.
xviii
2.1.3.4. Mendarat
Mendarat adalah sikap jatuh dengan posisi kedua kaki menyentuh tanah secara bersama-sama dengan lutut dibengkokkan dan mengeper sehingga memungkinkan jatuhnya badan kearah depan. Seperti dikatakan Yusuf Adisasmita (1992 : 68) pada saat mendarat titik berat badan harus dibawa kemuka dengan jalan membungkukkan badan hingga lutut hampir merapat, dibantu pula dengan juluran tangan kemuka. Pada waktu mendarat ini lutut dibengkokkan sehingga memungkinkan suatu momentum membawa badan ke depan di atas kaki.
Mendarat merupakan suatu gerakan terakhir dari rangkaian gerakan lompat jauh. Sikap mendarat pada lompat jauh baik untuk lompat jauh gaya jongkok, gaya menggantung maupun gaya jalan di udara adalah sama, yaitu : pada waktu akan mendarat kedua kaki dibawa ke depan lurus dengan cara mengangkat paha ke atas, badan dibungkukkan ke depan, kedua tangan ke depan, kemudian mendarat dengan kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut ditekuk, berat badan dibawa kedepan supaya tidak jatuh dibelakang, kepala ditundukkan, kedua tangan ke depan (Aip Syarifuddin, 1992 : 95).
Gerakan mendarat dapat disimpulkan sebagai berikut : sebelum kaki menyentuh pasir dengan kedua tumit, kedua kaki dalam keadaan lurus ke depan, maka segara diikuti ayunan kedua lengan ke depan. Gerakan tersebut dimaksudkan supaya secepat mungkin terjadi perpindahan posisi titik berat badan yang semula berada di belakang kedua kaki berpindah ke depan, sehingga terjadi gerakan yang arahnya sesuai dengan arah lompatan dengan demikian tubuh akan terdorong ke depan setelah menginjak pasir. Untuk lebih jelasnya, gambar
xix
dibawah ini menunjukkan serangkaian gerakan lompat jauh gaya jongkok dari take-off sampai sikap mendarat.
Gambar 3
Serangkaian Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Tamsir Riyadi, 1985 : 97)
Keterangan gambar:
1-2-3 : bertumpu / menolak dengan kaki kiri
4-5 : kaki tumpu kiri diayun kedepan menyusul kaki kanan (sikap jongkok)
6-7 : kedua kaki diluruskan kedepan, kedua lengan diayun kebelakang (dapat pula sikap kedua lengan ini tetap lurus kedepan)
8 : mendarat dipasir dengan bagian tumit terlebih dahulu, kedua kaki lurus
9-10 : kedua kaki segera ditekuk, terus menjatuhkan diri kedepan
2.1.4. Faktor Kondisi Fisik
Kondisi fisik adalah suatu kesatuan utuh, dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan, walaupun di sana-sini terutama dilakukan dengan sistem prioritas sesuai keadaan atau status komponen itu dan untuk keperluan apa keadaan atau status yang dibutuhkan tersebut (M. Sajoto, 1988 : 57).
Kondisi fisik akan baik apabila komponen-komponen yang ada terpelihara dengan baik. Komponen kondisi fisik menurut M. Sajoto (1988 : 57) meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, daya lentur, kelincahan, koordinasi,
xx
keseimbangan dan reaksi. Pada lompat jauh gaya jongkok akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan dan daya ledak. 1) Kecepatan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan keseimbangan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya (Depdikbud, 1997 : 6). Sedangkan menurut Suharno HP (1986 : 43) kecepatan adalah kemampuan organisme atlit dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Kecepatan disini adalah kecepatan lari dalam lompat jauh gaya jongkok yang mana kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari langkah yang dilakukan secara cepat dan tepat. Secara cepat maksudnya setelah lari awalan dalam lompat jauh, bisa mendapatkan lompatan yang jauh, secara tepat maksudnya setelah lari dengan kecepatan tinggi diupayakan lari tumpu dapat jatuh di balok tumpuan. Untuk menghasilkan tolakan yang kuat dan melambung tinggi perlu adanya kekuatan otot tungkai. Kekuatan merupakan unsur penting dan perlu mendapatkan perhatian kekuasaannya dalam melaksanakan program latihan. Maksudnya latihan kekuatan ini hendaknya dilakukan dan mendapatkan porsi latihan yang latihan yang banyak dibanding unsur latihannya. 2) Kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam melatih ketrampilan gerak. Menurut M. Sajoto (1988 : 58) kekuatan diartikan komponen kondisi fisik yang menyangkut masalah kemampuan seorang pada saat menggunakan otot-ototnya, menerima beban waktu bekerja. Jadi kekuatan merupakan otot dalam menahan beban dari bekerja motorik dalam waktu tertentu secara maksimal. Dalam lompat jauh unsur kekuatan sangat penting untuk mendapatkan hasil tolakan yang kuat dan benar. 3) Daya ledak menurut M. Sajoto
xxi
(1988:58) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum dengan usahanya dikeluarkan dalam waktu sependek-pendeknya. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa daya otot = kekuatan (force) x kecepatan (velocity). Berdasarkan pendapat para ahli dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan daya ledak otot adalah kombinasi gerakan ini bila dilakukan secara intensif dalam waktu yang singkat akan dapat menimbulkan daya ledak otot yang cukup besar atau kuat dan dapat dikatakan bahwa daya ledak otot tungkai adalah merupakan suatu kemampuan seseorang untuk menggerakkan kekuatan dengan cepat dalam waktu yang singkat dengan gerakan naik turun (vertikal) dan menggunakan anggota gerak bawah (otot tungkai). Daya ledak ini sangat dibutuhkan dalam lompat jauh terutama pada fase awalan dan tolakan pada rangkaian lompat jauh.
2.1.5 Latihan Lompat dan Prinsip-Prinsip Latihan
2.1.5.1 Pegertian Latihan Lompat
Latihan adalah proses yang sistematis daripada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya (Harsono, 1982 : 27). Lompat adalah istilah yang digunakan dalam cabang olahraga atletik, yaitu melakukan tolakan dengan satu kaki, Aip Syarifuddin (1992 : 90). Pengertian latihan lompat dari pendapat tersebut dapat disimpulkan yaitu melakukan gerakan melompat dengan tumpuan satu kaki yang dilakukan secara berulang-ulang dan setiap hari jumlah beban latihan ditambah. Latihan lompat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah latihan lompat dengan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran di atas.
xxii
Latihan lompat adalah metode yang terbaik untuk meningkatkan power maksimal pada otot tertentu. Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada kelompok otot tertentu, ialah dengan merenggangkan (memanjangkan) dahulu otot-otot tersebut secara eksplosif atau meledak-ledak. Untuk melatih power otot tungkai dimulai dengan gerakan tungkai kearah yang berlawanan (jongkok) yang disebut sebagai fase pre-regang (pre-stretching phase), kemudian melompat dengan kuat keatas. Setelah mendarat, tanpa adanya masa berhenti, kemudian secepatnya melompat lagi sekuat tenaga keatas, sehingga seakan-akan mendarat pada bara api (KONI, 2000: 27).
2.1.5.2 Prinsip-Prinsip Latihan
1) Prinsip Penambahan Beban Bertambah (overload)
Untuk meningkatkan prestasi atlit prinsip overload harus digunakan. Apabila atlet sudah merasa ringan pada beban yang diberikan maka beban harus ditambah. Menurut M. Sajoto (1988 : 42) dengan berprinsip pada overload, maka kelompok-kelompok otot akan bergabung kekuatannya secara efektif dan akan merangsang penyesuaian fisiologis dalam tubuh yang mendorong meningkatkan kekuatan otot. Prinsip overload ini akan menjamin agar system di dalam tubuh yang menjalankan latihan, mendapat tekanan beban yang besarnya makin meningkat, serta diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Apabila tidak diberikan secara bertahap, maka komponen kekuatan tidak akan dapat mencapai tahap potensi sesuai fungsi kekuatan secara maksimal.
xxiii
2) Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus
Otot yang menerima beban latihan lebih atau overload kekuatannya akan bertambah dan apabila kekuatan bertambah, maka program latihan berikutnya bila tidak ada penambahan beban, tidak lagi dapat menambah kekuatan. Penambahan beban dalam jumlah repetisi tertentu, otot belum merasakan lelah. Prinsip penambahan beban demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif. (M. Sajoto, 1988 : 115)
3) Prinsip Urutan Pengaturan Suatu Latihan
Latihan berbeban hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga kelompok otot besar mendapat giliran latihan lebih dulu sebelum latihan otot kecil. Hal ini perlu agar kelompok otot kecil tidak mengalami kelelahan terlebih dahuu, sebelum kelompok otot mendapat giliran latihan pengaturan latihan hendaknya diprogramkan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi dua bagian otot dalam tubuh yang sama mendapat dua giliran latihan secara berurutan (M. Sajoto, 1988 : 115)
4) Prinsip Kekhususan Program Latihan
Menurut O’shea dalam bukunya M. Sajoto (1988 : 42) menyatakan bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID” yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya bersifat khusus, sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Bila akan meningkatkan kekuatan, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.
xxiv
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus. Namun perlu memperhatikan pula gerak yang dihasilkan, oleh karena itu latihan berbeban hendaknya dikaitkan dengan latihan peningkatan ketrampilan motorik khusus. Dengan kata lain latihan beban menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Seperti diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh dalam lompat jauh perlu adanya bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai, latihan tersebut dapat dilakukan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Menggunakan alat dalam hal ini adalah latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas.
Selain keempat prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian. Volume menurut Depdikbud (1997 : 31) ialah kuantitas beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, jumlah beberapa elemen jenis latihan, total waktu latihan, berat beban yang diangkat, jumlah set dalam latihan interval dan sirkuit sebagai ukuran rangsangan motorik dalam satu unit latihan. Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan ketinggian
xxv
rintangan-rintangan (bilah) untuk depth jump atau dengan memperlebar jarak dalam longitudinal jump. Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemulihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen berikutnya. Menurut O’Shea yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48) mengatakan bila latihan lebih dari satu rangkaian, maka masa istirahat dalam rangkaian adalah antara 1-2 menit. Menurut Bompa yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 33) mengatakan bahwa tes untuk mengevaluasi hasil latihan kekuatan dapat dilaksanakan setelah antara 4-6 minggu dari suatu masa siklus latihan makro. Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kali atlet harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.
Dalam penelitian ini frekuensi latihan yang dipakai adalah tiga kali per minggu selama enam minggu. Sehingga tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu tersebut.
2.1.6.Latihan Lompat dengan Melompati Rintangan dan Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
Untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai menurut Gerry A. Carr (1997 : 141) dilatih dengan melompati rintangan dan menyundul bola yang digantung dan dikatakan oleh Aip Syarifuddin (1992 : 10) untuk mendapatkan lompatan yang tinggi dapat diberi rintangan kira-kira 25 cm sampai 30 cm. Anak-anak melompati rintangan tersebut. Dengan jalan demikian anak-anak akan dapat melompat lebih
xxvi
tinggi kedua kaki diangkat dan kedua lutut ditekuk. Disamping itu juga bisa dengan jalan lain, untuk menolong ketinggian lompatan , dapat dibantu dengan menggantungkan sebuah benda. Tinggi benda kira-kira tidak akan terjangkau bila anak itu melompat.
Menurut Aip Syarifuddin (1992/1993 : 62) bahwa dalam membentuk gerakan-gerakan dasar melompat dapat dilakukan dengan latihan diantaranya lompat meraih suatu benda di atas dan lompat melewati temannya yang merangkak. Gunter Bernhard (1993 : 86) berpendapat bahwa untuk melatih lompat pada lompat jauh dengan melakukan bentuk-bentuk permainan dalam latihan yaitu melakukan loncatan-loncatan dengan menyentuh suatu penentu selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas yang tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 4. Gambar 4.
Gerakan Loncat-Loncat Menyentuh Suatu Penentu
(Gunter Bernhard, 1993 : 86)
xxvii
Dari pendapat beberapa ahli di atas, latihan lompat yang peneliti maksud adalah latihan lompat dengan rintangan yang tingginya semakin meningkat dan latihan lompat meraih serangkaian sasaran atau serangkaian bola yang digantung dimana ketinggian bola gantungnya semakin ditingkatkan. Adapun uraian latihan tersebut adalah sebagai berikut :
2.1.6.1. Latihan Lompat dengan melompati rintangan
a. Pelaksanaan
Sikap awal : berdiri kira-kira 3 meter disisi depan rintangan, sikap badan tegak. Gerakkannya : dari sikap awal ancang-ancang (run up) 3 langkah dilanjutkan menolak dengan kaki satu sebagai kaki tumpu (kiri) melompat di atas rintangan mendarat dengan dua kaki kemudian langsung melompat kerintangan kedua dan seterusnya. Gerakan melompat dilakukan terus berkesinambungan antar rintangan dengan tetap memperhatikan ancang-ancang (run up) 3 langkah, jarak tolakan kaki dengan rintangan 1 meter dengan ditandai garis batas tumpuan. Sikap badan saat melompat di atas rintangan, tangan digerakkan ke atas dan paha kaki digerakkan hingga horizontal. Pendaratan : mendarat dengan kedua kaki bersama-sama, posisi kaki renggang selebar bahu dan sedikit jongkok kepala tegak kedua lengan disamping badan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5.
xxviii
Gambar 5
Latihan Melompati Rintangan dan Dimodifikasi
(Garry A. Carr, 1997 : 141)
Keterangan :
1. Gerakan saat menolak
2. Gerakan di atas rintangan
3. Gerakan saat mendarat
b. Perlengkapan
Perlengkapan yang diperlukan dalam latihan lompat dengan rintangan adalah bilah sebagai rintangan yang tingginya semakin meningkat dari 30 cm, 35 cm, 40 cm, 50 cm dan 55 cm. Adapun jarak antara rintangan 4 meter dan jarak tumpuan dengan rintangan 1 meter.
2.1.6.2. Latihan Lompat meraih sasaran di atas
a. Pelaksanaan
Sikap awal : berdiri tegak di depan sasaran di atas (bola digantung), jarak kira-kira 3 meter. Selanjutnya melakukan ancang-ancang (run up) 3 langkah kemudian melompat kedua lengan naik ke atas meraih bola di gantung dengan
xxix
bertumpu pada satu kaki (kiri), begitu mendarat ancang-ancang dan melompat lagi untuk meraih bola digantung yang kedua dan seterusnya yang dilakukan sebanyak 5 kali secara berkesinambungan. Sikap setelah menumpu mengayunkan lengan dan kaki yang mengayun ke atas untuk membantu menambah ketinggian. Waktu melakukan tolakan tetap memperhatikan ancang-ancang 3 langkah dan menumpu dengan satu kaki, jarak tumpuan dengan garis vertical bola digantung 1 meter yang ditandai pada garis batas tumpuan setiap bola digantung.
Pendaratan : mendarat dengan kedua kaki bersama-sama posisi badan agak jongkok, lutut agak ditekuk dan tangan disamping badan. Lebih jelasnya lihat Gambar 6.
Gambar 6
Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
(Gunter Bernhard, 1993 : 86)
Keterangan :
1. Gerakan saat ancang-ancang
2. Gerakan saat menumpu
3. Gerakan saat melayang / saat meraih
4. Gerakan saat mendarat
xxx
b. Perlengkapan
Perlengkapan yang diperlukan untuk latihan lompat meraih sasaran di atas adalah bola digantung dengan ketinggian semakin meningkat dari 175 cm, 180 cm, 185 cm, 190 cm, 195 cm dan 200 cm, adapun jarak antar bola digantung 4 meter dan jarak tumpuan melompat dengan garis vertical bola digantung 1 meter.
2.1.7. Analisis Gerakan Latihan Lompat
2.1.7.1 Latihan Lompat Dengan Rintangan
Secara anatomi gerakan dan otot-otot utama yang terlibat secara langsung dalam latihan lompat dengan rintangan yaitu dari otot tungkai atas sampai otot tungkai bawah. Dengan kekuatan otot tungkai yang dilimiliki akan menambah kecepatan waktu berlari untuk awalan dan tolakan pada waktu menolak, demikian pula waktu pendaratan. Sedangkan ketinggian lompatan yang dihasilkan lebih tinggi, karena siswa terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin melompat setinggi-tingginya di atas rintangan sehingga rintangan tidak jatuh.
Hasil lompatan yang diperoleh pada latihan ini lebih jauh karena ada ayunan tangan dan gerakan kaki yang memimpin keatas dan kemudian lurus kedepan, selanjutnya mendarat. Kecepatan dan gerak lebih cepat, karena tidak ada usaha mempertahankan badan di atas rintangan. Untuk keseimbangan badan saat mendarat lebih seimbang dan terarah.
2.1.7.2 Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
Ketinggian lompatan yang dihasilkan pada latihan lompat meraih sasaran di atas tinggi karena siswa juga terpacu untuk bisa sampai meraih bola digantung,
xxxi
akan tetapi posisi bola jauh di atas kepala maka ayunan tangan untuk meraih sasaran tidak sampai.
Hasil lompatan yang diperoleh kurang jauh karena siswa terkonsentrasi untuk meraih bola setelah meraih mendarat tidak jauh dari garis vertical bola digantung.
Kecepatan gerak waktu yang dibutuhkan saat melayang diudara lebih lama, karena ada usaha mempertahankan sikap tegak saat meraih bola.
Dari hasil analisis kedua latihan yang dilakukan menunjukkan adanya beberapa perbedaan pengaruh terhadap kemampuan lompat jauh. Masing-masing bentuk latihan memiliki keuntungan dan kerugian yang dapat dirangkum seperti pada tabel 1 dan 2 berikut ini.
Tabel 1: keuntungan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran di atas.
No
Melompati Rintangan
No
Meraih Bola digantung
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Adanya irama gerakan melambung keatas
Adanya daya tarik bumi
Akan memperoleh tenaga lompatan yang kuat
Bentuk gerakan cukup efektif dan efisien dalam pemakaian ruang gerak pada lompat jauh
Melatih otot kaki tolak lebih baik.
Keseimbangan saat mendarat lebih baik
1.
2.
3.
4.
5.
Adanya irama gerakan melambung keatas
Adanya daya tarik bumi
Semakin kecil sudut lutut, semakin tinggi gerakan keatas
Waktu melayang di udara lebih lama
Melatih otot kaki tolak lebih baik.
xxxii
Tabel 2 : kerugian latihan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran
No
Melompati Rintangan
No
Meraih Bola digantung
1.
2.
Menimbulkan rasa ragu-ragu dalam melakukan gerakan melompati rintangan
Pendaratan terlalu cepat
1.
2.
Anak cepat lelah
Mendarat kurang seimbang karena konsentrasi terpusat pada bola
2.2. Hipotesis
Hipoteisis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti malalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1998 : 67). Penolakan atau penerimaan suatu hipotesis sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap data-data yang terkumpul.
Berdasarkan hasil analisis dari latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas, maka dapat dikemukakan rumusan hipotesis peneliti sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
xxxiii
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan syarat mutlak dalam suatu penelitian. Penggunaan metode penelitian dalam suatu penelitian harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian, serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu penelitian memberikan arah yang tepat guna tercapainya tujuan penelitian.
3.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 2000 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 115), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan subjek penelitian dan keseluruhan individu itu paling sedikit harus memiliki suatu sifat yang sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 24 orang siswa putra. Adapun alasan pengambilan populasi adalah :
1. Mereka sama-sama dalam satu sekolah, yaitu siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
2. Mempunyai jenis kelamin yang sama , yaitu laki-laki
xxxiv
Berdasarkan uraian di atas, maka populasi yang diambil telah memenuhi syarat, dimana suatu populasi harus memiliki minimal satu sifat yang sama, berarti populasi ini dapat diterima.
3.2 Sampel dan Tehnik Pengambilan Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 1998 : 117). Pendapat lain, Sutrisno Hadi (2000 : 221), menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki.
Pedoman dalam pengambilan jumlah sampel ini, penulis mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto (1998 : 120) yaitu hanya untuk sekedar ancer-ancer apabila subyek kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyek besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, dana, dan tenaga.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun pelajaran 2004/2005, yang berjumlah 24 anak. Subyek yang diteliti sejumlah 24 orang siswa maka ditetapkan sebagai sampel semua karena jumlah sampel atau subyeknya kurang dari 100 orang. Oleh sebab itu dalam penentuan atau pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling, yaitu mengikutkan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian. Daftar nama sampel penelitian dapat dilihat dalam lampiran 4 halaman 54.
xxxv
3.3 Variabel Penelitian
Variabel adalah gejala yang bervariasi dan menjadi objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998 : 99). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variable bebas dalam penelitian ini yaitu latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas. Sedangkan variable terikatnya adalah kemampuan lompat jauh.
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian
3.4.1 Metode Penelitian
Agar penelitian ini dapat memperoleh hasil yang baik dan sesuai dengan harapan, maka metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Dasar penggunaan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang diawali dengan memberikan perlakuan terhadap subjek dan diakhiri dengan tes untuk menguji seberapa jauh akibat dari perlakuan yang diberikan. Jadi metode eksperimen merupakan metode yang paling tepat untuk menyelidiki hubungan sebab akibat.
3.4.2 Rancangan Penelitian
Pola eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Matchced by Subject Design atau disingkat dengan Pola M-S, yang mengandung suatu pengertian seperti dikatakan oleh Sutrisno Hadi (1973 : 453) bahwa pola M-S matching dilakukan terhadap subjek demi subjek. Hakekat Subjek Macthing adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subjek masing-
xxxvi
masing kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 secara otomatis akan menseimbangkan kedua kelompok itu. Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel 3 berikut ini.
Tabel 3: Rancangan penelitian
Kelompok
Pre-test (tes awal)
Treatmen
Post-test (test akhir)
Eksperimen 1
Eksperimen 2
Lompat jauh gaya jongkok (X1)
Lompat jauh gaya jongkok (X1)
Latihan lompat dengan rintangan
Latihan lompat meraih sasaran diatas
Lompat jauh gaya jongkok (X2)
Lompat jauh gaya jongkok(X2)
3.4.2.1 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, yaitu mulai tanggal 13 Januari 2005 sampai dengan 24 Pebruari 2005. Penelitian ini diawali dengan pre test pada tanggal 13 Januari 2005 dan hari latihan mulai tanggal 18 Januari 2005 sampai dengan 22 Pebruari 2005. Post test dilaksanakan pada tanggal 24 Pebruari 2005. Penelitian ini dilaksanakan tiga kali seminggu tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dengan pelaksanaan tiap sore pukul 15.00-16.30 WIB. Tes tersebut terbagi dalam tiga kegiatan: 1) Tes awal, 2) Perlakuan, 3) Tes akhir
1. Pre Test atau Tes Awal
Tes awal dilaksanakan dilapangan / halaman olahraga SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah lompat jauh yang disesuaikan dengan buku peraturan perlombaan atletik dari PASI. Sebelum tes awal dimulai, siswa diberi penjelasan mengenai pelaksanaan tes lompat jauh. Sesudah diberi penjelasan baru dilaksanakan tes awal. Tes awal dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2005 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai
xxxvii
dilapangan / halaman SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
2. Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan mulai tanggal 18 Januari 2005 sampai 22 Pebruari 2005 dengan demikian penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan. Sedangkan setiap pertemuan dilaksanakan selama ± 90 menit, dengan pengaturan waktu yaitu 10 menit untuk pemanasan, 70 menit latihan inti dan 10 menit untuk penenangan.
Waktu kegiatan latihan dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dimulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Materi latihan pada kelompok eksperimen 1 adalah latihan lompat dengan rintangan dan kelompok eksperimen 2 adalah latihan lompat meraih sasaran. Untuk penyajian materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Sedangkan mengenai pengaturan waktu latihan adalah sebagai berikut.
a) Pemanasan
Pemanasan diberikan pada siswa secukupnya dengan tujuan untuk persiapan fisik siswa sebelum melakukan latihan inti. Latihan ini sangat penting untuk tubuh dan menghindari resiko terjadinya cedera otot maupun sendi, mengadakan perubahan dalam fungsi organ tubuh guna menghadapi fisik yang lebih berat (Tohar, 2004 : 4). Latihan yang merupakan kegiatan pemanasan dalam penelitian ini meliputi keliling lapangan, senam kelentukan dan senam khusus yang bertujuan untuk menyiapkan siswa pada materi latihan yang akan dilakukan.
xxxviii
b) Latihan Inti
Latihan inti dilaksanakan sesuai dengan program latihan materi diberikan sesuai dengan jadwal latihan. Setiap kelompok berlatih lompat sesuai dengan kelompoknya. Kelompok eksperimen 1 berlatih lompat dengan rintangan, sedangkan kelompok eksperimen 2 berlatih lompat meraih sasaran diatas. Setelah melakukan latihan sesuai dengan kelompoknya masing-masing kemudian latihan lompat jauh gaya jongkok
c) Penenangan
Penenangan dilaksanakan selama 10 menit dan hal ini bertujuan untukm memulihkan kembali kondisi badan sesudah menerima materi latihan, dengan demikian keadaan tubuh akan pulih secara sempurna seperti semula. Adapun gerakan yang digunakan untuk penenangan bisa melakukan gerakan-gerakan stretching kembali. Selanjutnya bisa diberi penjelasan atau koreksi secara keseluruhan selama jalannya latihan, kesan dan pesan untuk membangkitkan motivasi latihan berdoa dan dibubarkan.
3. Post Test atau Tes Akhir
Setelah program latihan dilaksanakan selama 16 kali pertemuan, pada tanggal 24 Pebruari 2005 dilaksanakan tes akhir yang pelaksanaannya sama dengan tes awal. Adapun tujuan dilaksanakannya tes akhir adalah untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa baik dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 setelah mengikuti program latihan.
3.4.2.2 Tempat Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan adalah lapangan olahraga SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
xxxix
3.4.2.3 Alat dan Perlengkapan Penelitian
Alat dan perlengkapan penelitian adalah faktor penting yang sangat membantu kelancaran pelaksanaan penelitian dan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Alat dan perlengkapan tersebut terdiri dari : 1) Bak lompat jauh, 2) Roll meter, 3) Bendera kecil, 4) Cangkul, 5) Alat Tulis / blangko penilaian.
3.4.2.4 Tenaga Pembantu
Demi kelancaran jalannya penelitian ini, peneliti dibantu oleh beberapa tenaga guru Pendidikan Jasmani Kecamatan Ungaran dan rekan-rekan mahasiswa yang bertugas menyiapkan sarana latihan dan sebagai pembantu dalam pelaksanaan tes awal dan tes akhir. Daftar petugas dapat dilihat pada lampiran 6.
3.5 Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode (Suharsimi Arikunto, 1998 : 137). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah instrumen tes. Tes yang diperlukan dalam penelitian ini adalah tes lompat jauh. Tujuan tes lompat jauh ini adalah untuk mengetahui hasil lompatan (petunjuk pelaksanaan tes pada lampiran 6 halaman 68.
2. Program Latihan
Program latihan adalah jumlah pertemuan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung. Program latihan ini berlangsung 16 kali pertemuan perlakuan (treatment) ditambah dua pertemuan untuk tes awal dan tes akhir.
xl
Jumlah pertemuan latihan tiga kali dalam seminggu, sehingga waktu yang dipergunakan ada enam minggu. Hal ini menurut De Lorme dan Watkin yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48), program latihan yang dilakukan empat kali seminggu selama enam minggu cukup efektif, namun rupanya pelatih cenderung melaksanakan latihan setiap minggu tiga kali agar tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu atau lebih.
3.6 Tehnik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data dilaksanakan dengan tes dan pengukuran. Nurhasan (2001 : 24 dan 25) menjelaskan tes adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang obyektif tentang hasil belajar siswa. Sedangkan pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi dari suatu obyek tertentu dan dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Cirri khas dari hasil pengukuran yakni dinyatakan dalam skor kuantitatif yang dapat diolah secara statistik. Melalui pengukuran kita akan memperoleh informasi yang obyektif sehingga kita dapat menentukan kemampuan atau prestasi seseorang pada saat tertentu.
Tes dan pengukuran dalam penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang hasil lompat jauh gaya jongkok yang dilaksanakan dua kali yaitu pre-test dan post-test. Hasil tes dicatat dalam satuan centimeter.
3.7 Metode Analisis
Menurut Sutrisno Hadi (1973 : 455) analisis terhadap hasil-hasil eksperimen yang didasarkan atas subject matching selalu menggunkan t-test pada correlated
xli
sampel. Dengan demikian untuk pengetesan signifikansi dengan menggunakan t-test dengan rumus pendek (short methode). Rumus ini banyak digunakan dalam penelitian eksperimen karena efektif dan efisien seperti yang dikemukakan Sutrisno Hadi (1973 : 458), rumus pendek adalah rumus yang serba guna dan efisien, rumus ini dapat dipersiapkam untuk penyelidikan eksperimen yang menggunakan matching subjek. Untuk analisa data diperlukan suatu rumus t-test, sebagai berikut : t = )1(2−ΣNNdmd
Keterangan :
T : nilai perbedaan
N : jumlah subjek
Md : rata-rata selisih antara X1 dan X2
d : penyimpangan (selisih) antara X1 dan X2
3.8 Faktor Yang Mempengaruhi Penelitian
Variabel-variabel yang tidak masuk dalam eksperimen tetapi berpengaruh perlu dikendalikan, antara lain :
3.8.1. Faktor pengalaman dalam latihan
Faktor lompat jauh sampel siswa SD kelas V sudah mendapat pelajaran lompat jauh (kurikulum 1994), tetapi belum pernah berlatih melompati rintangan dan meraih sasaran di atas untuk menambah kemampuan lompat jauh yang lebih baik prestasinya.
3.8.2. Faktor kesungguhan melakukan latihan
Kesungguhan dalam mengikuti latihan mempengaruhi hasil latihan yang dicapai oleh sampel. Atas dasar tersebut peneliti mengambil satu langkah awal
xlii
untuk menghindari adanya penyimpangan dalam mengikuti latihan serta usaha agar sampel mempunyai kesungguhan dalam latihan. Adapun usaha tersebut antara lain :
1. Peneliti memberikan pengarahan dan penjelasan tentang penelitian
2. Peneliti memberikan penugasan dan mengontrol jalannya penelitian
3. Peneliti memberikan motivasi
3.8.3 Faktor tempat dan cuaca
Tempat yang digunakan peneliti berada di lapangan terbuka sehingga apabila hujan latihan ditunda dan latihan diganti di hari yang lain.
Faktor pemberian materi
Pemberian materi latihan mempunyai peranan penting dalam usaha untuk memperoleh hasil yang baik. Usaha yang dapat ditempuh supaya penyampaian materi dapat diterima dengan baik, maka sebelum memberikan materi latihan sampel dijelaskan mengenai bentuk latihan yang akan diterima secara lisan kemudian didemonstrasikan gerakan latihan tersebut agar sampel dapat menirukannya. Koreksi selalu dilakukan baik secara individu maupun klasikal.
3.8.5 Faktor kondisi sampel
Kondisi masing-masing sampel berbeda baik mengenai kondisi keluarga, lingkungan maupun kesehatannya. Untuk itu selalu diberikan penjelasan agar sampel selalu menjaga kondisinya dengan baik.
xliii
3.8.6 Faktor kegiatan anak (sampel)
Kegiatan sampel yang dilakukan di luar penelitan sangat sulit diawasi, hal ini karena kondisi tempat tinggal sampel tidak satu tempat. Untuk itu peneliti menekankan dan memberikan penjelasan agar sampel tidak melakukan kegiatan latihan yang sama di luar latihan, sebab dapat mempengaruhi hasil penelitian.
3.8.7 Faktor alat
Dalam penelitian ini menggunakan alat bantu yang dapat menentukan keberhasilan latihan. Kondisi alat yang kurang baik atau kurang layak akan mempengaruhi latihan. Maka untuk menutup kekuranglayakan alat dalam penelitian, peneliti melakukan :
1. Pada latihan lompat dengan rintangan untuk mendapatkan ketinggian lompatan yang apabila bilah rintangan jatuh maka segera dipasangkan kembali dan apabila bilah melengkung maka diganti dengan bilah yang lurus, sehingga ketinggian rintangan yang dikehendaki dapat tercapai.
2. Pada latihan lompat meraih sasaran di atas, bola digantung dengan tali dan ketinggiannya diukur dengan papan ukur dan apabila waktu digunakan bola bergoyang atau bola berputar maka bola segera ditenangkan atau dibenahi seperti posisi semula sehingga tidak merubah ketinggian bola saat digantung.
3.8.8 Faktor peneliti
Kemampuan peneliti dalam memberikan materi latihan dapat mempengaruhi hasil latihan, maka berusaha semaksimal mungkin untuk tetap konsisten pada program latihan dan persiapan latiahan yang tidak ditetapkan dan direncanakan.
xliv
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Untuk mencari hasil perbedaan latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas dapat dilihat pada hasil analisis t-test seperti tercantum pada Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik
Kelompok
Mean
t-hitung
t-tabel
Keterangan
Eksperimen 1
318,67
Eksperimen 2
308,17
2,462
2,201
Signifikan
Dari hasil perhitungan statistik diperoleh nilai t-hitung 2,462 kemudian t-tabel dengan db 11 dan taraf signifikan 5% diperoleh hasil 2,201, dengan demikian t-hitung lebih besar dari pada t-tabel yaitu 2,462 > 2,201, maka hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran diterima.
Dari hasil analisis data ditemukan adanya perbedaan yang signifikan, maka dilakukan uji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana yang lebih baik pengaruhnya antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh dilakukan uji perbandingan mean. Diketahui mean kelompok eksperimen 1 = 318,67 dan mean kelompok eksperimen 2 = 308,17, berarti MXe1 > MXe2, maka latihan lompat dengan
xlv
rintangan lebih baik pengaruhnya dari pada latihan lompat dengan meraih sasaran di atas pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian antara latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok menunjukkan adanmya pengaruh yang berarti. Ternyata meskipun menurut teori masing-masing mempunyai kelebihan, secara analisis gerakan kedua bentuk latihan dalam penelitian ini adalah ketinggian lompatan yang dihasilkan pada latihan lompat dengan rintangan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan latihan lompat meraih sasaran diatas perbedaan hasil latihan ini terutama pada lompatan yang melambung sehingga jarak yang dihasilkan lebih baik.
Hasil perbandingan antara latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas terhadap kemampuan daya ledak otot tungkai yang digunakan untuk melakukan tolakan lompat jauh menunjukkan sama-sama menghasilkan lompatan yang tinggi, akan tetapi pada latihan lompat dengan rintangan, lompatan yang dihasilkan melambung tinggi dan dilakukan dengan cepat sehingga hasil lompatannya lebih jauh, sedangkan pada lompat meraih sasaran diatas lompatan yang dihasilkan kurang melambung tinggi dan dilakukan lebih lambat sehingga jarak yang dihasilkan kurang jauh.
Pada latihan lompat dengan rintangan punya satu kelebihan yaitu adanya irama gerakan melambung tinggi keatas. Gerakan pada waktu melayang dipengaruhi oleh suatu kekuatan tarikan yang disebut daya tarik bumi
xlvi
(Aip Syarifuddin : 1992). Daya tarik bumi tersebut bertitik tolak pada suatu titik yang disebut titik berat badan. Titik berat badan letaknya kira-kira pada pinggang sedikit dibawah pusar. Hal ini sesuai dengan gerakan melayang pada latihan lompat dengan rintangan. Sehingga pada latihan ini dapat membentuk gerakan cukup efektif dan efisien didalam hal pemakaian ruang gerak, waktu dan tenaga yang dihasilkan serta perbaikan kemampuan gerakan pada lompat jauh gaya jongkok. Sedangkan latihan melompat meraih sasaran diatas irama gerakan tercurahkan pada konsentrasi gerakan meraih sasaran, sehingga gerakan yang dihasilkan berupa lompatan keatas saja (vertikal) tanpa ada dorongan usaha melompat kedepan sejauh-jauhnya, sehingga hasil lompatan kurang maksimal. Pemberian latihan selama 16 kali pertemuan berdasarkan hasil penelitian di atas berarti hipotesis penelitian ini dapat diterima dan terbukti kebenarannya. Dengan demikian apa yang telah dilakukan dalam penelitian ini mulai dari penelitian populasi, pengambilan sampel, variabel, tes awal, program latihan, tes akhir dan metodologi penelitian sudah benar dan terbukti.
xlvii
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasakan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa :
1. Ada perbedaan pengaruh antara latihan melompati rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Latihan lompat dengan rintangan lebih baik pengaruhnya dari pada latihan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
5.2. Saran
Berdasarkan pada hasil akhir dari penelitian ini maka dapat diberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Guru Penjaskes dan pelatih untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam latihan daya ledak otot tungkai disarankan menggunakan bentuk latihan lompat dengan rintangan, karena sudah diuji bahwa latihan lompat dengan rintangan mempunyai pengaruh lebih baik dari pada latihan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok.
2. Untuk Peneliti yang berminat dapat meneliti ulang dan hasil penelitian bisa digunakan sebagai pembanding.
xlviii
DAFTAR PUSTAKA
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta : Depdikbud.
Aip Syarifuddin dan Muhadi. 1992/1993. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta : Depdikbud.
Bernhard, G. 1993. Atletik Prinsip Dasar Latihan Loncat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Loncat Galah. Terjemahan dari String Trainning voor. Djeugd. Semarang : Dahara Prize.
Carr, Gerry. 2000. Atletik (Edisi Terjemahan). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi SD dan MI. Jakarta: Dharma Bhakti.
————–. 1997. Kondisi Fisik Anak-anak Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Depdiknas. 2000. Pedoman dan Modal Pelatihan Kesehatan Olah Raga Bagi Pelatih Olahragawan Pelajar. Jakarta.
Engkos, Kosasih. 1985. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta. Akademika Pressindo.
Harsono. 1982. Ilmu Coaching. Jakarta: KONI Pusat.
J. Matakupan. 1996. Teori Bermain. Jakarta: Depdikbud
KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta: KONI.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Semarang : Dahara Prize.
Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas.
Poerwodarminto. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.
Rubianto Hadi. 2003. Ilmu Kepelatihan Dasar. Semarang : FIK UNNES.
Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta.
Sugito dkk. 1994. Pendidikan Atletik. Jakarta : Depdikbud.
xlix
Suharno. HP. 1986. Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta.
Suharsimi, A. 1998. Prosedur Penelitian. Yogyakarta : Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi. 2000. Statistik II. Yogyakarta : Andi.
—————. 1973. Metodologi Research. Yogyakarta : UGM.
Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta
Tohar. 2004. Ilmu Kepelatihan Lanjut. Semarang: FIK UNNES
Yusuf, Adisasmita. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta : Dekdikbud.
l
INSTRUMEN TES LOMPAT JAUH
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes lompat jauh, sesuai dengan petunjuk PASI. Tujuan tes lompat jauh ini untuk mengetahui hasil lompatan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan pada saat pelaksanaan tes lompat jauh adalah sebagai berikut:
a. Alat dan Perlengkapan:
1. Lapangan lompat jauh
2. Rol meter
3. Bendera kecil
4. Cangkul
5. Alat tulis
b. Petugas:
Dalam penelitian ini dibantu oleh 5 orang yang sebelumnya telah diberi penjelasan tentang jalannya penelitian baik dalam pelaksanaan tes maupun dalam latihan. Kelima orang tersebut bertugas sebagai pemanggil sampel, pengukur hasil lompatan, pencatat hasil lompatan dan pengambil gambar. Adapun petugasnya sebagai berikut:
1. Sri Wulan Oktina Hartati (Mahasiswa Transfer PKLO UNNES)
2. Jumiyatun (Guru SD Kalisidi 03)
3. Ahmadi (Guru SD Bandarjo 02)
4. Supardi (Guru SD Ungaran 03)
5. Hadi Astuti (Guru SD Ungaran 02 )
li
c. Pelaksanaan Tes:
1. Siswa dipersiapkan terlebih dahulu pada daerah lintasan awalan
2. Siswa dipanggil sesuai dengan nomor urut.
3. Tiap peserta diberi kesempatan tiga kali melompat secara bergiliran
4. Pengukuran dimulai dari bekas pendaratan yang terdekat dengan balok tumpuan.
5. Hasil tiap lompatan yang sah diukur oleh petugas
6. Hasil akhir diambil dari lompatan yang terjauh.
lii
PROGRAM LATIHAN DAN TES
LOMPAT JAUH SISWA PUTRA KELAS V
SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Kelompok Eksperimen 1 : Latihan dengan Rintangan
Kelompok Eksperimen 2 : Latihan Meraih Sasaran Di atas
Frekuensi Latihan : 3 x 1 Minggu (Selasa, Kamis & Sabtu)
Pkl. 15.00 – 16.30 WIB
Jumlah Pertemuan : 18 Pertemuan
(Termasuk Pre-Test dan Post-Test)
Cara melakukan:
1. Latihan Lompat dengan Rintangan
Berdiri tegak kira – kira 3 m di depan rintangan pertama, dilanjutkan ancang-ancang 3 langkah menolak dengan kaki satu sebagai kaki tumpu, melompati rintangan pertama kemudian langsung melompat ke rintangan ke dua dan seterusnya sampai pada rintangan ke lima. Gerakan dilakukan terus berkesinambungan antar rintangan dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah. Jarak kaki tolak dengan rintangan 1 meter dengan ditandai garis batas tumpuan.
2. Latihan Lompat Meraih Sasaran Di atas
Berdiri tegak jarak kira-kira 3 m di depan sasaran di atas, selanjutnya ancang-ancang 3 langkah kemudian melompat meraih sasaran di atas dengan bertumpu pada satu kaki, begitu mendarat langsung ancang-ancang dan melompati lagi dan seterusnya yang dilakukan sebanyak 5 kali secara berkesinambungan. Jarak tumpuan dengan garis vertical bola digantung 1 meter yang ditandai garis batas tumpuan setiap sasaran benda yang digantung di atas.
liii
Kegiatan
No
Perte-
muan
Mgg
Eksperimen 1
Eksperimen 2
Alokasi
Waktu
Ket.
1
1
I
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan Pre-test
- Pemanasan :
1. Jogging
2. Senam peng -
uluran, penguatan
dan pelepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian, dibubar -
kan
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan Pre-test
- Pemanasan
1. Jogging
2. Senam penguluran,
penguatan dan pe-
lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang pe-
nelitian, dibubarkan
5’
15’
40’
15’
Pre-test
2
2,3,4
I
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 30 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x lompatan
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (175 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
15’
30’
liv
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit tiap set
- Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
1. Repetisi : 5x lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
20’
10’
Test parameter pada pert 4
3
4.
5,6,7
8,9,10
II
III
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B Latihan inti
Latihan melompati rintangan (tingginya 35 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan 2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (180 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
15’
40’
20’
10’
15’
Test parameter pada pert 7
lv
5.
11,12,13
IV
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 40 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan 2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (180 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi :5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran,
45’
20’
10’
15’
50’
20’
15’
Test parameter pada pert 10
Test parameter pada pert
lvi
6.
7.
14,15,16
17
V
VI
garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (190 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (195 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
15’
55’
20’
15’
15’
60’
13
lvii
8.
18
VI
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan post test
- pemanasan
1. Jogging
2. Senam peng-
uluran, peng-
uatan dan pe- lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan :
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian dibubarkan
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (195 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 4 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan post test
- Pemanasan
1. Jogging
2. Senam penguluran,
penguatan dan pe-
lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat
20’
10’
5’
40’
15’
Pos-test
lviii
jauh
C. Penenangan :
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian dibubarkan

Kategori:Uncategorized

ATLETIK

RINGKASAN MATERI

Cabang olahraga atletik merupakan cabang olahraga yang paling tua dibandingkan dengan cabang olaharaga yang lainnya. Oleh karena itu, atletik juga disebut Mother of the sport atau induk dari segala cabang olahraga. Induk organisasi atletik di Indonesia yaitu PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia). Cabang olahraga atletik meliputi jalan, lari, lompat dan lempar.

Keempatnya itu merupakan gerakan – gerakan manusia sehari – hari. Gerakan – gerakan itu sangat penting bagi kehidupan manusia agar sehat, gerakan – gerakan atletik diperlukan dalam cabang – cabang olahraga lainnya.

  1. LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK
  1. 1. Tehnik dasar

Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Tehnik dasar awalan

Jarak awalan :    1)     bisa + 30 m dari papan tumpu

2)     bisa + 60 m dari papan tumpu

untuk memperoleh jarak awalan bagi pemula, bisa dilakukan dengan langkah mundur ke belakang.

1)    Berdiri pada papan tumpu,

2)    Tarik kaki kiri ke belakang sejauh mungkin, untuk tahap pertama bisa empat langkah, kanan dan kiri

3)    Ambil sikap melangkah dengan kaki kiri di depan

4)    Melangkah ke depan, sehingga kaki kanan tepat menumpu papan tumpu

Setelah dilakukan dengan tehnik di atas secara berulang – ulang maka kita bisa melakukan awalan lompat jauh gaya jongkok yaitu lari cepat dari titik yang telah dilatih tadi tanpa menambah langkah sampaio pada papan tolak / tumpu dan melakukan tolakan

  1. Tehnik tolakan

1)    Pada saat menumpu badan lebih ditegakkan dari sikap lari (boleh dikatakan badan condong ke belakang)

2)    Urutan tumpuan telapak kaki :

-          tumit

-          telapak kaki

-          ujung kaki

3)    Dorongkan kaki dengan menggunakan ujung kaki ke depan ke atas dibantu gerakan tangan

Posisi gerakan saat melakukan tolakan

  1. Sikap badan di udara

1)    Kedua kaki ditekuk

2)    Kedua tangan di depan, disamping kepala

3)    Pada saat akan mendarat kedua kaki lurus ke depan merapat, kedua tangan lurus ke depan serta berat badan di bawa ke depan

  1. Sikap mendarat

1)    Mendarat dengan kedua kaki agak merapat

2)    Berat badan di bawa ke depan

3)    Lutut ditekuk dalam posisi jongkok

4)    Tangan di depan menyentuh bak lompat

5)    Pandangan ke depan

  1. 2. Peraturan perlombaan
    1. Gaya – gaya lompat jauh

-          Gaya jongkok (tuck style / sit down in the air)

-          Gaya melayang / melenting (rang style / schenepper)

-          Gaya jalan di udara (walking / running in the air)

  1. Lapangan / bak lompat

Ukuran :

-          Panjang : 11 m

-          Lebar : 2,75 m

Jarak balok tumpu dengan bak lompat : 2 m

Lebar balok tumpu : 1,22 m

Panjang awalan : 30 – 40 m

Lebar awalan  : 2,22 m

2. LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG

Dalam penggunaan teknik lompat jauh yang sebenarnya, perbedaannya terletak pada teknik saat di udara, baik lompat jauh gaya jongkok maupun gaya menggantung.

  1. 1. TEKNIK DASAR AWALAN
    1. Dilakukan dengan lari secepat-cepatnya
    2. Tidak mengubah kecepatan dan langkah saat akan bertumpu pada papan tumpuan
  1. 2. TEKNIK DASAR TOLAKAN
    1. Saat kaki tumpu menolak pada papan tumpuan, posisi badan lebih ditegakkan
    2. Urutan tumpuan kaki menolak pada papan tumpuan, mulai dari tumit, telapak kaki diteruskan pada ujung telapak kaki
    3. Gerak mengayun kaki belakang ke depan atas bersamaan dengan kedua lengan .
  1. 3. TEKNIK DASAR SIKAP DI UDARA
    1. Badan melenting ke belakang
    2. Kedua lengan lurus ke atas di samping telinga
    3. Kedua kaki hampir rapat di belakang badan
  1. 4. TEKNIK DASAR MENDARAT
    1. Dari sikap di udara, kedua lengan diluruskan ke depan
    2. Kedua lutut dan badan dibawa ke depan
    3. Saat kedua kaki mendarat kedua lutut mengeper dan berat badan di bawa ke depan
  1. 5. MODEL PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG
    1. Model Pembelajaran Untuk Teknik Dasar Awalan
  • Model I melangkah mudur 4,6,8 atau 10 langkah dan melanmgkah ke depan kearah papan tumpuan, hingga kaki tumpu tumpu tepat menginjak papan tumpuan.

Cara melakukan :

-       Berdiri menginjak papan tumpuan / garis dan mundur beberapa langkah

-       Bila langkah terakhir kaki kanan (dibelakang) maka untuk pertama melangkah kembali ke depan menggunakan kaki kanan

  • Model II melakukan awalan lari melalui tanda yang dibuat pada lintasan, untuk mengatur irama lari dan melangkah, hingga kaki tumpuan tepat mendarat pada papan tumpuan.

Cara melakukan :

-       Berdiri menghadap arah lompatan

-       Lakukan lari cepat melalui tanda, diawali kaki kanan melangkah

-       Langkah terakhir kaki kanan tepat bertumpu pada papan tumpuan

  • Model III melakukan lomba lari dan ketepatan kaki tumpu mendarat pada papan tumpuan

Cara melakukan :

-       Jarak lari 30 – 40 m dan garis start ke garis tumpuan, tentukan kaki tumpuan  menggunakan kaki kanan / kiri

-       Pelari dianggap menang bila pemain menginjak garis tumpu yang benar.

  1. Model Pembelajaran Untuk Teknik Dasar Tolakan
  • Model I Menolak dengan dua kaki ke depan atas dan mendarat pada bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Berdiri menghadap bak lompat / matras

-       Rendahnya kedua lutut bersamaan kedua lengan bawa ke belakang

-       Tolakan kedua kaki ke depan atas bersamaan kedua lengan diayun ke atas.

-       Mendarat pada bak lompat / matras sikap jongkok

  • Model II Menolak dengan satu kaki kearah bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Tentukan kaki yang akan digunakan menolak kanan atau kiri

-       Berdiri sikap melangkah

-       Ayunkan kaki belakang ke depan atas bersamaan kaki depan menolak dan kedua dengan diayun ke depan.

  • Model III Menolak dengan satu kaki kearah bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Tentukan kaki yang digunakan menolak kanan / kiri

-       Lakukan gerak melangkah lari dari jarak 3 – 4 meter, setelah kaki menginjak papan tumpuan / garis lakukan gerak menolak ke depan atas melewati box.

  • Model IV Menolak melalui atas bangku – bangku panjang yang dipasang melintang.

Cara melakukan :

-       Lakukan gerak melangkah di antara bangku (2-3 langkah) dan langkah terakhir dilanjutkan dengan gerak menolak melalui atas bangku.

  1. Model Pembelajaran untuk teknik dasar sikap di udara dan mendarat
  • Model I Melenting di udara dan alas box senam dan mendarat pada matras / bak lompat

Cara melakukan :

-       Berdiri diatas box, kedua lutut direndahkan dan kedua lengan ke belakang badan

-       Tolakkan kedua kaki pada box bersamaan kedua lengan ke belakang badan

-       Tolakkan kedua kaki pada box bersamaan kedua lengan diayunkan ke depan atas hingga pinggang melenting dan perut menyentuh benda didepannya

-       Mendarat pada matras dengan kedua kaki

  • Model II melenting di udara dan awalan 3 – 4 langkah dan mendarat pada matras / bak lompat.

Cara melakukan :

-       Lakukan gerak melangkah dan menolak ke depan atas, hingga saat diudara badan melenting dan perut menyentuh dada di depannya

-       Mendarat pada matras / bak lompat dengan kedua kaki

  1. 6. GERAK RANGKAI TEKNIK DASAR LOMPAT JAUH GAYA MELENTING DI UDARA, DENGAN CARA :
  • Lakukan awalan lari dengan cepat ke arah  tempat bertumpu dan saat kaki tumpu menginjak tempat bertumpu tolakan ke depan atas.
  • Lentingkan pinggang ke belakang lalu mendarat pada tempat pendaratan.

A T L E T I K

RINGKASAN MATERI

  1. A. Lompat Jauh Gaya Berjalan di Udara

Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara pada dasarnya sama dengan tehnik lompat jauh gaya menggantung dan lompat jauh gaya jongkok. Ciri khas dari lompat jauh gaya berjalan di udara adalah gerakan lompatannya dilakukan seperti orang berjalan.

  1. Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara.

a)    Awalan

Awalan dilakukan pada jarak 30 – 40 meter dan dilakukan dengan secepat-cepatnya dan jangan mengubah langkah pada saat akan melompat.

b)    Tolakan

Tolakan dilakukan dengen menggunakan kaki sekuat-kuatnya ke atas dan ke depan tepat pada balok tolakan yang terkuat.

c)    Sikap Badan di Udara

Cara melakukannya adalah pada saat kaki ditolakkan pada balok tolakan, kaki ayun diangkat ke depan atas untuk membantu titik berat badan. Kemudian kaki ayun diturunkan, bersamaan dengan itu kaki satunya ditarik ke depan dan dirapatkan, sehingga mendarat dengan ke dua kaki lurus ke depan.

d)    Mendarat

Pada waktu akan mendarat, berat badan bagian bawah ke depan, demikian juga kedua tangan. Mendarat dengan kedua kaki rapat dan jongkok.

  1. Latihan Lompat Jauh Gaya berjalan di Udara

Untuk menghasilkan gerakan lompatan yang baik maka harus dilakukan latihan-latihan yang benar.

Ada beberapa bentuk latihan untuk dapat melakukan lompat jauh gaya berjalan di udara, antara lain :

  1. a. Latihan mengayunkan tangan.

Gerakan ayunan tangan memerlukan latihan dengan sungguh-sungguh, dengan tujuan untuk melatih gerak reflek ayunan tangan ketika akan melakukan ancang-ancang. Cara melakukan latihan tangan dapat diperhatikan pada gambar disamping.

  1. b. Latihan berjalan sambil melompat

Untuk menghasilkan lompatan secara maksimal, maka harus dilakukan latihan melompat dengan benar, latihan ini dapat dilakukan dengan cara berjalan lalu melompat dengan benar, latihan ini dapat dilakukan dengan cara berjalan lalu melompat secara kontinyu sampai dirasakan kita bisa melakukan dengan baik. Perhatikan gambar berikut, dan lakukan dengan sungguh-sungguh dan benar.

  1. c. Latihan berjalan di udara

Gerakan berjalan di udara waktu melayang sangat penting sebab hal ini menentukan benar tidaknya gaya ini dilakukan. Latihan ini bertujuan untuk melatih gaya berjalan sat di udara dengan benar. Latihan ini menggunakan sebuah alat bantu yaitu balok rintangan untuk memudahkan dalam melakukan latihan. Perhatikan gambar dibawah ini lalu praktikkan berulang-ulang sampai anda menguasainya.

  1. d. Latihan mendarat

Sikap badan saat mendarat yang benar dalam lompat jauh gaya berjalan di udara kaki lurus ke depan bersamaan, badan condong ke depan, dengan tujuan supaya tidak jatuh ke belakang.

Apabila tahap-tahap latihan sudah dilakukan dengan baik dan benar, selanjutnya lakukan dengan menggunakan awalan secepat-cepatnya pada jarak 15 m, sampai 25 m. Agar mendapatkan hasil yang baik dalam lompat jauh, yang harus diperhatikan oleh pelompat, yaitu :

1)    Pelihara kecepatan sampai saat menolak.

2)    Capailah dorongan yang cepat dan dinamis dari balik tumpuan.

3)    Ubahlah sedikit posisi lari, untuk mencapai posisi lebih tegak.

4)    Gunakan gerakan kompensasi lengan yang baik.

5)    Capailah jangkauan gerakan yang baik.

6)    Latihlah gerakan pendaratan.

7)            Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruskan dan membengkokkannya

Kategori:Uncategorized

lompat jauh dan lain lain

• Atletik merupakan induk cabang olahraga yang diperlombakan, yang dilakukan secara luas dan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang tidak sekolah, siswa, mahasiswa, junior dan senior. Atletik bisa dilakukan secara perorangan maupun beregu. Yang termasuk dalam olahraga atletik adalah lari, lompat/loncat, tolak dan lempar.
Menurut AP Panjaitan  menyatakan bahwa “Atletik mempunyai semboyan “ citius, altius, fortius yang dalam bahasa Inggrisnya faster, higner, dan stronger, yaitu lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Atletik terdiri dari jalan, lari, lempar, lompat. Setiap penyelenggaraan pesta olahraga baik tingkat nasional maupun tingkat dunia atletik selalu ikut dipertandingkan dan merupakan pokok acara pada setiap peristiwa. Keadaan ini membuat orang menjuluki atletik sebagai induk (ibu) dari segala cabang olah raga (Mother of Sport).
Berlatih atletik bisa dilakukan di hutan, di alam bebas, di bangsal, di lapangan olahraga, di stadion. Di Indonesia perserikatannya adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), yang kini telah tersebar keseluruh pelosok tanah air. Untuk dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga diperlukan berbagai usaha dan melalui pendekatan ilmiah. Prestasi olahraga yang dicapai sebenarnya merupakan hasil perpaduan dari berbagai usaha. Karena di dalamnya akan dilibatkan banyak pihak seperti pelatih, fasilitas, program latihan, teori-teori yang mendukung dalam kepelatihan dan sebagainya.
Dalam hal latihan salah satu faktor yang paling esensial adalah dilakukannya dengan berulang-ulang. Jadi latihan merupakan suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berkesinambungan dengan beban semakin meningkat. Sedangkan tujuan dari latihan fisik adalah mengembangkan dan meningkatkan kondisi fisik atlet yang meliputi kekuatan kelentukan daya tahan dan daya gerak.
1. Pengertian
Latihan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang pencapaian suatu kemampuan atau prestasi. Latihan berarti menyesuaikan pada kerja yang lebih berat yaitu kita membuat tubuh selangkah demi selangkah pada keadaan efisien yang kita inginkan, kepada produktifitas yang terbesar kepada keserasian yang dipertinggi untuk melakukan pekerjaan.
Latihan adalah suatu proses kerja yang harus dilakukan secara sistematis, berulang-ulang dengan jumlah beban yang diberikan semakin-hari semakin bertambah. Tujuan serta sasarannya dari berlatih adalah untuk membantu atlet meningkatkan suatru kemampuan atau prestasi semaksimal mungkin
Untuk mendapatkan suatu kemampuan prestasi yang maksimal perlu pelatihan dengan melakukan latihan secara intensif, terprogram dan kontinyu melalui program pembinaan latihan yang disusun oleh pelatih. Selanjutnya program latihan yang proporsional akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan atlet baik secara fisiologis, psikologis maupun sosiologis, tentunya hal ini harus ditunjang oleh sistem yang profesional.
Pembinaan latihan secara profesional merupakan sesuatu yang dapat memberikan simulasi dan pelatihan terhadap karakter setiap individu atlet yang bersifat kompetitif yaitu meliputi disiplin, sportif, pantang menyerah, rasa tanggung jawab, mampu bekerjasama dengan tim, dan bangkit dari kekalahan, yang sekaligus merupakan mata rantai yang diperlukan untuk meningkatkan prestasi atlet baik ditingkat nasional maupun internasional yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Dengan demikian seorang pelatih merupakan penentu dalam keberhasilan atlet untuk mengantarkan potensinya mencapai puncak penampilan (feak performance). Seorang pelatih yang profesional tentunya dalam pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan atlet secara individual. Sehingga pelatih benar-benar dapat mengemas program pelatihan secara proporsional. Sehingga pelatih benar-benar dapat megemas program pelatihan secara profesional, dilakukan secara sistematis, kontinyu dan sesuai dengan target yang ingin dicapai. Ini penting karena dalam cabang olahraga atletik khususnya pada nomor-nomor individual, sehingga program pelatihannyapun harus diarahkan secara individual.
Program pelatihan merupakan upaya yang sistematis dalam meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan daya tahan. Namun semua itu tidak terlepas dari program yang disusun oleh pelatih untuk meningkatkan kemampuan atlet, disamping metode-metode pelatihan yang diarahkan secara individu guna dipadukan dengan cara saling melengkapi sehingga dapat memperoleh hasil secara optimal, oleh karena itu peran pelatih sangat menentukan dalam mengoptimalkan kemampuan atlet.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa untuk menyusun program latihan fisik yang tepat, salah satu hal yang harus dipertimbangkan adalah :
Penentuan tinggi rendahnya intensitas suatu latihan, frekuensi latihan dan beban latihan dengan tidak meninggalkan pertimbangan kemampuan fisik secara mendasar untuk masing-masing atlet. Intensitas latihan merupakan fungsi dari kekuatan rangsangan yang diberikan pada saat latihan
Tentunya himbauan pendapat tersebut harus terprogram dan disusun secara sistematis serta dijalankan secara terpadu. Hal ini sesuai dengan dimana seorang pelatih harus benar-benar mempertimbangkan kemampuan dasar masing-masing atlet yakni kemampuan secara fisiologis, khususnya pada latihan berbeban.
pelatihan
1) Untuk mengetahui sejauh mana kontribusi penggunaan metode latihan berbeban yang dimiliki oleh atlet lompat jauh.
2) Untuk mengetahui taktik/teknik yang benar dari lompat jauh gaya jongkok
3) Untuk meningkatkan kemampuan prestasi atlet
2. Pengaruh Pelatihan
Menurut U. Jonath/E.Haag/R.Krempel menyatakan bahwa :
a. Latihan adalah penerangan rangsangan fungsional secara sistematis dalam ukuran makin meninggi dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Latihan menimbulkan perubahan penyesuaian organ terhadap persyaratan prestasi yang dipertinggi.
b. Rangsangan latihan harus paling sedikit mencapai 30 sampai 50 persen prestasi maksimal untuk dapat menbimbulkan peningkatan prestasi.
c. Pada umumnya otot-otot menjadi lebih besar dan lebih dekat, pembuluh-pembuluh kapiler makin besar jumlahnya. Pertukaran zat dalam otot dipengaruhi secara baik, dan kemampuannya untuk mengikat oksigen menjadi lebih baik pula.
d. Dengan latihan secara terus-menerus, jantung menjadi lebih besar. Jumlah denyutnya pada waktu istirahat menjadilebih rendah, dan pernafasan menjadi efisien. Jumlah oksigen (O2) lebih banyak dapat dihirup dan jumlah karbondioksida (CO2) lebih banyak dapat dikeluarkan. Daya maksimal pemasukan oksigen menjadi lebih besar hingga kemampuan berprestasi terus-menerus dapat ditingkatkan dalam waktu yang lama. Juga jumlah darah dan butir-butir darah merah meningkat.
e. Pendayagunaan zat-zat makanan yang dimasukkan pun menjadi dipertinggi.
Selanjutnya pengaruh latihan terhadap organisme menurut U Jonath juga menyatakan bahwa : pengaruh latihan badan yang dapat ditunjukkan terhadap organisme, dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pengaruh terhasp sistem otot dan kerangka
Otot yang terlatih pada umumnya menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada yang tidak terlatih. Ukuran, penampang lintang, maupun volumenya menjadi lebih besar. Dalam perbandingan yang kira-kira sama, juga tenaga ototnya meningkat. Otot terlatih, dengan pertumbuhan (hipertrofi) masing-masing serat otot karena peningkatan putih telur (protein) di dalamnya, menjadi lebih besar. Jadi kemampuan untuk memenuhi persyaratan pada prestasi gerak, karenanya juga meningkat.
b. Pengaruh terhadap organ dalam dan darah
Latihan secara terus-menerus mempunyai pengaruh yangterlihat pada perkembangan organ tubuh dalam, terutama otok, darah, paru-paru maupun kelenjar-kelenjar hormon tertentu. “Kemampuan jantung terlatih” pada olah ragawan stamina dibandingkan jantung biasa, juga dalam hal berat maupun isinya dapat berlipat dua. Sehubungan sengan organ dalam dan darah merupakan kriteria yang menentukan bagi penilaian kemampuan prestasi stamina seorang olah ragawan.
c. Pengaruh terhadap pertukaran zat
Dalam pengertian pertukaran zat, termasuk semua proses yang mengakibatkan pembentukan, perubahan, dan pembongkaran zat di dalam tubuh. Setiap fungsi hidup hanya terjadi dengan pembongkaran zat. Pada pembongkaran zat yang terjadi menurut proses biokimia yang asangat rumit itu, dikeluarkan energi dalam bentuk panas atau sebagai energi mekanis proses perubahan kimia itu dapat berlangsung dengan penambahan oksigen (aerob) atau tanpa oksigen atau tanpa oksigen (anaerob). Yang menentukan untuk itu ialah lamnya waktu dan intensitas kerja yang harus dilakukan, maka selama diadakan latihan secara teratur dengan olah ragawan yang terlatih supaya dapat diperoleh penyesuaian yang baik. Dengan demikian juga kebutuhan sebesar mungkin akan oksigen yang disampaikan kepada otot-otot di bawah pengaruh latihan itu, menjadi lebih besar.
Sebagai dasar bagi latihan dapat disusun aturan sebagai berikut melalui tiga tahap :
Tahap pertama : latihan dasar (beberapa tahun sekitar lima tahun) dengan menerapkan latihan olahraga secara sistematis. Akan tercapai dasar umum yang luas tentang sifat-sifat utama mengenai tenaga-stamina-kecepatan.
Tahap kedua : latihan pembentukan (kira-kira dua sampai tiga tahun) yang menuju kepada kemampuan prestasi dalam cabang olah raga khusus. Pembentukan ini berdasarkan kemampuan dan kesiapan umum yang diperoleh pada latihan dasar.
Tahap ketiga : latihan prestasi. Di sini diusahakan sebaik-baiknya agar dapat tercapai prestasi pribadi secara maksimal dalam suatu cabang olah raga khusus.

engkoskosasih
Mei 2, 2010 pukul 4:12 pm | #2
Balas | Kutip | Sunting
Organisasi latihan berbeban
Pelaksanaan latihan tenaga secara praktis, sebagian besar bergantung pada alat-alat yang tersedia. Di bawah ini terdapat kumpulan yang dipilih dari alat-alat yang paling banyak digunakan atau cara lain dalam pembebanan.
Yang menjadi tujuan dari lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya dengan memperhatikan atau memahami unsur atau teknik-teknik pokok pada lompat jauh. Adapun teknik-teknik atau unsur-unsur pokok dalam lompat jauh menurut pendapat adalah :
a. Awalan, yaitu untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan menolak. Awalan ini harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan merubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan  30 meter – 4 meter
b. Tolakan, yaitu menolak sekuat-kuatnya pada papan tolakan dengan kaki yang terkuat ke atas (tinggi dan ke depan)
c. Sikap badan di udara, yaitu badan harus diusahakan melayang selama mungkin di udara serta dalam keadaan seimbang.
d. Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya, jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan.
Selanjutanya menurut AD Pandjaitan (1990) mengatakan bahwa :
Suatu lompatan mempunyai hubungan atau pengaruh dengan lari kareana lari merupakan awalan bagi pelompat jauh dan harus memperhatikan. Awalan yang cepat dan tepat, tumpuan yang baik dan pendaratan yang menguntungkan.
Sedangkan U Jonath/E Haag/R Krempel menyebutkan bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelompat jauh yang baik adalah :
Teknik lompat jauh menurut pendapat Muhajir (1994) yaitu :
a. Awalan atau ancang-ancang
Guna awalan atau ancang-ancang pada lompat jauh adalah untuk mendapatkan kecepatan yang setinggi-tingginya sebelum mencapai balok tolakan. Adapun panjang lintasan untuk melaksanakan awalan lompatan jauh adalah tidak kurang dari 45 meter. Untuk memperoleh hasil lompatan yang maksimal, setiap melakukan awalan harus selalu dapat bertumpu pada balok.
Cara melakukan awalan atau ancang-ancang sebagai berikut :
1) Lari ancang-ancang tergantung pada kemampuan masing-masing siswa
2) Tambah kecepatan lari ancang-ancang sedikit demi sedikit sebelum bertumpu/bertolak. Kecepatan ancang-ancang dipertahankan tetap maksimum sampai mencapai papan tolak.
3) Punggang turun sedikit pada langkah akhir ancang-ancan
Tumpuan atau tolakan kaki harus kuat agar tercapai tinggi lompatan yang cukup, tanpa kehilangan kecepatan maju. Karena ini tidak mungkin, maka diusahakan agar kehilangan kecepatan maju diusahakan semaksimal mungkin. Kaki ayun digerakkan secara aktif untuk membantu menaikkan badan dan menjaga keseimbangan berat badan sedikit di depan titik tumpuan. Gerakan tangan membantu menambah ketinggian, pandangan mata yang naik ke depan sebagai kemudi.
Cara melakukan tumpuan atau tolakan sebagai berikut :
1) Ayunkan paha kaki-bebas cepat ke posisi horizontal dan dipertahankan
2) Luruskan sendi mata-kaki, lutut dan pinggang pada waktu melakukan tolakan
3) Bertolak ke depan dan ke atas
Melayang di udara dapat dilakukan beberapa cara, ada tiga cara yang lazim digunakan :
1) Sikap tengadah/bergantung atau the hang style (seperti gambar A)
2) Sikap mengambang/jongkok atau float sit down (seperti gambar B)
3) Sikap berjalan di udara atau stride in the air (seperti gambar C)
Yang penting pada saat melayang di udara ini bukan cara melayangnya yang diutamakan, tetapi tetap terpeliharanya keseimbangan badan dan mengusahakan tahanan udara sekecil mungkin, mengusahakan melayang di udara selama mungkin dan menyiapkan letak kaki dalam posisi yang menguntungkan pada waktu mendarat dengan kaki yang diacungkan ke depan lemas-lemas.
Mendarat harus sedemikian rupa sehingga kaki yang diacungkan ke depan tidak menyebabkan bahwa pelompat akan mendarat pada pantatnya, keadaan ini sangat merugikan. Untuk menghindarkan pendaratan pada pantat ini, kepala ditundukkan dan lengan diayunkan ke depan sewaktu kaki menyentuh pasir. Titik berat badan akan melampaui titik pendaratan kaki di pasir kalau kaki tidak kaku tegang, melainkan lemas-lentuk. maka sendi lutut harus siap menekuk pada saat yang tepat. Gerakan ini memerlukan timing (waktu) yang tepat.
Cara melakukan pendaratan sebagai berikut :
1) Tariklah lengan dan tubuh ke depan-bawah. Tariklah kaki mendekat badan
2) Luruskan kaki dan tekuk lagi sedikit sesaat sebelum menyentuh tanah
3) Bila kedua kaki telah mendarat di pasir, duduklah atas kedua kaki
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan pada lompat jauh yang tujuannya untuk mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya maka yang perlu diperhatikan yaitu masalah kondisi fisik pelompat dan teknik-teknik yang baik.
Untuk meningkatkan suatu kemampuan selain masalah kondisi fisik pelompat menurut pendapat Yanto Kusyanto (1994 : 122) mengatakan bahwa yang harus diperhatikan atau dilakukan oleh atlet lompat jauh adalah :
1) Pelihara kecepatan sampai saat bertolak
2) Capailah dorongan yang cepat dan dinamis dari balok tumpuan
3) Gunakan gerakan kompetensi lengan yang baik
4) Capailah jangkauan gerak yang baik
5) Gerak akhir agar dibuat lebih kuat dengan menggunakan lebih besar daya kepadanya
6) Latihlah gerak pendaratan
7) Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruskan dan membengkokkannya
Kesalahan-kesalahan umum
1) Memperpendek atau memperpanjang langkah terakhir sebelum bertolak
2) Bertolak dari tumit dengan kecepatan yang tak memadai
3) Badan miring jauh ke depan atau ke belakang
4) Fase melayang tak seimbang
5) Gerak kaki yang prematur
6) Tak cukup angkatan kaki pada pendaratan
7) Satu kaki turun mendahului kaki lain pada pendaratan
2. Latihan Lompat Jauh gaya jongkok tanpa awalan
Cara melakukan latihan :
a. Berlatih gerakan bertolak (take off) dengan melompat beberapa kali berturut-turut dengan menggunakan kaki tolakan secara aktif.
b. Belajarlah melakukan dorongan kaki yang baik dan jangkauan gerak pada saat bertolak dan pertahanan posisi sampai mendarat di bak pasir.
c. Perbaiki tolakan dan posisi sewaktu mendarat. Bertolak dengan keras dan mengangkat kaki tinggi dan mendorong yang kuat, pertahankan posisi sebelum menjulurkan kaki-kai ke luar untuk mendarat pada saat terakhir
d. Latihan jangkauan gerak yang luas pada pinggang, langkah bertolak dengan dorongan yang baik dari yang bebas, pertukarkan posisi kaki sebelum mendarat mendarat. Kaki bebas diayun lurus ke belakang sedangkan kaki tolak ditekuk dalam-dalam sebelum mengayun terus.
3. Latihan Lompat Jauh Gaya Jongkok Dengan Awalan
Pada hakekatnya latihannya sama seperti lompat jauh tanpa awalan, perbedaannya terletak pada awalan saat melakukan tolakan untuk melompat.
Cara melakukan latihan :
a. Lari dengan awalan antara 30 – 45 m. Lari awalan semakin dipercepat dan pada langkah akhir ada sedikit penurunan titik pusat gravitasi dalam persiapan untuk bertolak. Ketepatan mengukur jarak awalan adalah penting.
b. Hentakkan kaki pada saat bertolak, harus terjadi pada sol kaki dengan tumit menyentuh tanah. Sedikit pinggang ke depan dan dengan kaki penolak sedikit bengkok. Hal ini diluruskan dengan cepat dan kuat sesaat titik pusat grafitiasi melewati di atas kaki tumpu.
c. Berbagai teknik boleh dipakai yang ditunjukkan dalam urutan gerak adalah 2 ½ langkah hitch kick. Langkah pertama berakhir dengan kaki ayun dalam posisi depan dan kaki penolak sesaat meninggalkan/lepas dari tanah. Langkah kedua berakhir dengan posisi berlawanan dan pada langkah ½ berakhir, kaki ayun bergabung dengan kaki tolak untuk mendarat.
Selajutnya menurut pendapat Yanto Kusyanto (!994 : 125) selain latihan-latihan di atas ada bebarapa skema latihan singkat lompat jauh adalah :
a. Latihan dasar
1) 10% : Conditioning umum (latihan keseluruhan, beberapa variasi lompatan, lari tanjakan dan lain-lain)
2) 30% : Latihan teknik (memahirkan dengan 5-7 langkah awalan) dengan banyak sekali
3) 20% : Latihan kekuatan (power training) dengan beban (beban maksimum 5-6 latihan, 8-10 kali dilakukan dengan cepat)
4) 20% : Latihan conditioning dalam ruang senam (latihan penguatan dan penguluran dan lain-lain)
5) 20% : Latihan speed (20-90 m) latihan lari gawang untuk 10-12 kali
b. Latihan khusus
1) 20% : Berbagai lompatan (pakai jaket atau tanpa jaket beban) dan latihan ketangkasan
2) 30% : Latihan Teknik, melompat dengan lari awalan penuh 10-12 kali
3) 20% : Latihan power dalam ruang senam (latihan penguatan tanpa beban atau memakai beban selama ½ jam)
4) 20% : Latihan kecepatan (60-120 meter pada lintasan lurus atau pada lintasan tikungan) atau lari gawang 5 buah 6-8 kali.
5) 20% : Latihan teknik membetulkan atau mengoreksi kesalahan-kesalahan dengan awalan pendek) 10 atau 20 kali.
c. Kompetisi/Perlombaan
1) 20% : Latihan ketangkasan (latihan penguluran dan latihan rileks) dan lari gawang rendah tanpa ketegangan
2) 40% : Latihan teknik (menyempurnakan dan mensinkronisasikan lari awalan dengan lompatan) 10-20 kali
3) 10% : Melakukan berbagai cara lompatan (secara intensif dengan interval istirahat secukupnya)
4) 30% : Latihan speed (latihan start pada lintasan lurus dan tikungan) 10-15 kali
5) Berlomba (sekali seminggu dan kadang-kadang istirahat dan mencoba event (lagi)
4. Peraturan perlombaan lompat jauh dan posisi pelompat saat melakukan lompatan
a. Awalan/lintasan awalan lebar minimum 1,22 m dan panjang 45 m
b. Panjang papan tolakan 1,22, lebar 20 cm dan tebal 10 cm
c. Pada sisi dekat dengan tempat mendarat harus diletakkan papan plastisin untuk mencatat bekas kaki pelompat bila ia berbuat salah tolak. Papan tolakan harus dicatat putih dan harus datar dengan tanah awalan dan harus ditanam sekurang-kurangnya 1 meter dari tepi depan bak pasir pencatatan
d. Lebar tempat pendaratan minimum 2,75 m jarak antara garis tolakan sampai akhir tempat lompatan minimal 10 m.
e. Permukaan pasir di dalam tempat pendaratan harus sama tinggi/datar dengan sisi atas papan tolakan
f. Bila peserta lebih dari 8 orang, tiap peserta diperbolehkan melompat 3 kali (giliran) dan 8 pelompat dengan lompatan terbaik, boleh melompat 3 kali lagi
Bila perseta hanya 8 orang kurang, semua peserta harus melompat 6 kali (giliran). Semua lompatan diukur dari titik bekas terdekat di bak pasir/pendaratan yang dibuat oleh setiap bagian badan ke garis tolakan dalam posisi siku-siku terhadap garis tolakan tersebut.
Peserta diberi waktu (1 giliran) lompat hanya selama 1,5 menit. Lompatan yang sama (tie) ditentukan dengan melihat hasil lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik ketiga dan seterusnya
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan yang maksimal bagi atlet lompat jauh khususnya lompat jauh gaya jongkok maka latihan yang mendukung atau yang harus dilakukan yaitu menggunakan metode latihan berbeban dengan alat pembebanan yaitu jaket atau rompi pemberat, seperti yang diungkapkan Yanto Kusyanto (1994 : 125) menyatakan ada beberapa skema latihan singkat tentang lompat jauh antara lain :
a. Latihan dasar
b. Latihan khusus, yaitu si pelompat melakukan berbagai lompatan dengan menggunakan jaket atau rompi pemberat
c. Kompetisi atau perlombaan
Dengan demikian berdasarkan pendapat di atas, maka jelas bahwa peranan metode latihan berbeban sangat berpengaruh besar dalam meningkatkan suatu kemampuan cabang olahraga khususnya cabang olah raga atletik nomor lompat jauh gaya jongkok.
Metode latihan berbeban merupakan suatu latihan yang memperhitungkan baik dari segi situasi, faktor atau unsur biomotorik dan juga faktor pembebanan, baik pembebanan lebih atau di bawah normal yang berfungsi untuk mengembangkan tenaga secara spesifik dengan menggunakan berbagai macam alat-alat atau cara lain dalam pembebanan.
Menurut  menyatakan bahwa : Metode latihan bebeban atau weight training yaitu metode latihan yang sistematis dimana beban hanya digunakan untuk menambah tahanan terhadap kontraksi otot dengan tujuan tertentu.
Selanjutnya Jess Jarver (2005) menyatakan bahwa metode latihan berbeban yaitu :
Suatu metode latihan yang membedakan antara peningkatan kekuatan (strength) dan tenaga (power), gerakan berkekuatan adalah gerakan yang lambat, terkendali melawan suatu gaya berat dari luar. Sedangkan gerakan bertenaga meliputi kecepatan gerak dan kemampuan memberikan reaksi cepat terhadap beban yang ringan, sedang dan berat dalam waktu yang sangat singkat.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa latihan berbeban dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah upaya maksimal untuk mengembangkan atau meningkatkan tenaga secara spesifik baik dengan beban yang lebih atau di bawah normal dalam cabang olahraga atletik khususnya cabang lompat jauh gaya jongkok
Aturan dasar metode latihan berbeban menurut U. Jonath  menyatakan bahwa :
a. Pemanasan sebagai persiapan latihan dan perlombaan
Sebelum latihan dan perlombaan dengan cara pemanasan atlet harus menyiapkan diri bagi kesediaan organismenya untuk berprestasi tinggi. Pemanasan ini dapat dilakukan secara aktif (misalnya dengan lari-lari awal, senam) atau juga secara pasif (misalnya pijat atau masase). Dengan pemanasan dapat dicapai kesediaan berprestasi yang lebih tinggi karena :
1) Peredaran darah yang lebih baik dalam otot-ototnya
2) Pengaruhnya yang baik terhadap pertukaran zat
3) Penyesuaian yang lebih baik pada sistem saraf
4) Peningkatan elastisitas pada sistem otot dan sehubungan dengan itu menjadi kurangnya bahaya untuk mendapat cedera
b. Prinsip peningkatan beban dalam latihan
Peningkatan prestasi terus menerus hanya dapat dicapai dengan peningkatan beban latihan. Perubahan progresif (pembebanan progresif) itu menyangkut peningkatan seringnya berlatih maupun penambahan volume dan intensitas latihan. Pada olah ragawan tingkat tinggi soalnya terutama mengenai peningkatan intensitas pada yang baru mulai dan yang lebih lanjut mengenai perluasan volume latihan umum.
Menurut Matwejew menunjukkan peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan.
Tahun/Bulan 1 2 3 4
Ketinggian
Relatif
Beban
Latihan PPs PPI PPr
PPs PPI PPr PPs PPI PPr PPs PPI PPr
Pembebanan latihan
PPS = Periode persiapan
PPI = Periode perlombaan
PPr = Periode peralihan
= Perubahan beban latihan dalam makrosiklus
= Perbedaan ketinggian beban
Gambar 1
Peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan
c. Jedah (istirahat) dalam latihan
Jedah atau istirahat antara masing-masing rangsangan latihan gunanya untuk memulihkan organisme dari beban yang dikenakan sebelumnya.
Dalam praktek latihan dibedakan dua jenis istirahat :
1) Istirahat penuh setelah pembebanan tinggi sampai tinggi
2) Istirahat tak penuh setelah pembebanan ringan sampai di bawah maksimal
d. Prinsip superkompensasi
Tiap rangsangan gerak mengabaikan suatu pembongkaran zat (cadangan energi) namun mengandung rangsangan untuk pembangunan baru. Ini tidak menghentikan keadaan jaringan semula, tetapi berkembang lanjut melebihi keadaan pada waktu itu. Itulah yang merupakan ciri khas sesuatu yang hidup, yaitu menyesuaikan diri pada persyaratan prestasi yang diertinggi.
e. Peningkatan latihan hingga optimal melalui perencanaan dan kontrol
Latihan olahraga hanya dapat memberikan hasil optimal bila diartikan sebagai proses pendidikan atlet secara luas. Perencanaan latihan, kontrol hasil latihan dan perlombaan secara teratur, maupun pengorganisasian yang berarti tentang prestasi yang diinginkan, semuanya itu merupakan dasar untuk mengoptimalkan proses latihan. Diantara berbagai upaya itu di sini hanya diambil yang penting-penting saja.
a. Pembebanan progresif
Dengan latihan tenaga dua kali seminggu, setelah enam sampai delapan minggu terlihat tambahan tenaga kira-kira 20 persen. Otot telah menyesuaikan diri pada rangsangan beban dan bereaksi dengan membesarnya penampang lintang seperti yang diinginkan. Akibatnya ialah bahwa ulangan yang lebih banyak dapat dilakukan atau bahwa penambahan tenaga itu memungkinkan diberikannya beban yang lebih tinggi 20 persen. Tinggi pembebanan optimal (misalnya 70% pada latihan tenaga dinamis) juga bukan besaran yang mutlak dan harus selalu ditetapkan lagi. Bagi praktek-praktek latihan itu berarti dalam waktu kira-kira dua sampai tiga minggu, berat bebannya terus ditambah. Sebaliknya akan keliru bila pada ketinggian beban yang sama, jumlah ulangannya dikurangi. Prinsip pembebanan progresif tidak dapat diabaikan dalam latihan tenaga optimal. Sayangnya, persyaratan tersebut, karena alasan organisatoris dan teknis, jarang dipenuhi karena pembebanan perorangan pada latihan dalam kelompok bukanlah soal yang sederhana.
b. Prinsip pembebanan yang cocok
Menurut U Jonath/E Haag/R Krempel menyatakan bahwa persyaratan metodis menurut pembebanan yang cocok (sesuai dengan keadaan prestasi yang berlatih) yang telah diketahui secara umum dalam latihan tenaga perlu diberi tekanan sebaik-baiknya.
1) Dari kebiasaan menjadi ketakbiasaan
Pada mulnya perlu didahulukan latihan tenaga yang biasa serta sederhana; ini tidak boleh menunjukkan tingkat kesulitan apa pun. Baru setelah beberapa waktu latihan dapat bersifat teknis terinci. Sekarang misalnya dipelajari teknik angkat dengan halter kepingan.
2) Dari yang sedikit sampai yang banyak
Peningkatan sedikit demi sedikit secara lambat laun, dalam takaran latihan selanjutnya (ulangan dalam latihan dan seri) akhirnya memuncak sampai volume latihan yang besar lebih banyak ulangan dan lebih banyak seri
3) Dari yang ringan sampai yang berat
Selanjutnya hanya boleh digunakan pembebanan yang ringan. Baru setalah latihannya dikuasai dan terjadi perbaikan dalam tenaga dasar pada yang berlatih pembebanan dapat di tingkatkan sampai ketinggian 70 persen yang dipersyaratkan bagi latihan tenaga.
4) Dari penguatan umum sampai penguatan khusus
Terutama dalam usia anak sekolah dan remaja, penguatan tubuh secara umum dalam tahap pertama latihan tenaga sangat diperlukan. Itu karena mereka belum disiapkan untuk menghasilkan prestasi dan dapat menderita dan dapat menderita kerugian dalam sikap badan dan kemungkinan bergerak (tulang, otot, bungkus otot, serta uratnya). Maka itu mula-mula kelompok-kelompok otot besar dalam badan dikuatkan dulu, sebab ini merupakan dasar bagi gerak tubuh dan ini pun memerlukan penanganan secara sistematis

Kategori:Uncategorized

Tulisan Sebelumnya

bintang

Kategori:Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.