Arsip

Arsip Penulis



JENIS-JENIS PENELITIAN PENDIDIKAN SAINS

  1. A.     PENDAHULUAN

Ketika mendengar kata penelitian, orang sering membayangkan suatu kesibukan di laboratorium. Penilitian adalah Sesuatu yang dilakukan oleh seseorang yang secara tampilan sudah tua dengan baju khusus. Memang apa yang dibayangkan orang-orang seperti disebutkan itu ada betulnya, tetapi tidak seluruhnya betul. Aktivitas di laboratorium memang mengindikasikan bahwa sedang terjadi penelitian. Akan tetapi apakah penelitian harus dilakukan di laboratorium?

Penelitian tidak hanya dimonopoli oleh ilmu pengetahuan alam. Ilmu pengetahuan lain memungkinkan untuk dilakukan penelitian. Artinya penelitian tergantung pada objek apa yang akan diteliti. Jika objeknya adalah pendidikan maka penelitian pendidikan adalah penelitian tentang hal-hal apa saja yang berhubungan dengan pendidikan.

Peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Metode yang dipilih harus berhubungan erat dengan prosedur, alat serta desain penelitian yang dipilih. Begitu juga dengan prosedur dan alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan.

  1. B.     PEMBAHASAN

Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Dalam penelitian ilmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasoning). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu diperoleh melalui kerja mata (pengamatan) dengan menggunakan dengan menggunakan persepsi (sense of perception). Nalar adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul, sebegitu jauh diterapkan sebagai pengetahuan.

Secara umum penelitian mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktik. Pemahaman tentang bagaimana penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktik pendidikan dikaitkan dengan perbedaan jenis penelitian berkenaan dengan fungsinya. Secara umum dan mendasar dapat dibedakan ke dalam tiga macam penelitian, yaitu penelitian dasar (basic research), penelitian terapan (applied research) dan penelitian evaluatif (evaluative research).

Selain berdasarkan pendekatan dan fungsinya, penelitian juga dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Berdasarkan tujuan, penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian deskriptif, prediktif, improftif, dan eksplanatif.

Dalam suatu penelitian, memilih metode yang akan digunakan adalah hal yang sangat penting. Pemilihan metode atau pendekatan penelitian dapat ditentukan melalui permasalahannya. Menurut M. Nazir secara umum, metode penelitian dapat dikelompokkan menjadi enam bagian, antara lain:.

  1. Metode Sejarah

Metode sejarah merupakan metode dalam penelitian yang menyelidiki secara kritis tentang keadaan-keadaan, perkembangan, dan pengalaman-pengalaman di masa lampau dengan jalan menimbang cukup teliti dan hati-hati validitas dari sumber sejarah serta interprestasinya, sehingga dapat dibuat rekontruksi masa lampau secara objektif, sistematis dan benar. Misalnya saja meneliti tentang kurikulum KBK, dicari kelemahan-kelemahannya untuk kemudian dikembangkan dalam kurikulum baru yang lebih baik.

  1. Metode Deskriptif

Metode deskriptif yaitu suatu metode dalam penelitian yang menelaah tentang status kelompok manusia, objek, kondisi, sisitem pemikiran dan peristiwa-peristiwa masa sekarang sehingga dapat dibuat suatu gambaran yang sistematif, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. Penelitian deskriptif mempunyai ciri-ciri (1) berhubungan dengan keadaan yang terjadi saat itu, (2) menguraikan satu variabel saja atau beberapa variabel namun diuraikan satu persatu, dan (3) variabel yang diteliti tidak dimanipulasi atau tidak ada perlakuan. Tujuan utama digunakannya metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan untuk memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Metode ini terdiri dari beberapa bagian:

  • metode survei adalah meode yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dll. Melalui suvei, peneliti akan dapat menentukan, mengumpulkan data dan mendapatkan informasi yang berkaitan erat dengan permasalahan yang ditelitii secara luas.
  • metode deskriptif berkesinambuangan (continuity descriptif research) adalah metode penelitian secara deskriptif yang dilakukan terus-menerus atas suatu objek penelitian terutama dalam penelitian masalah-masalah pendidikan.
  • metode studi kasus yaitu metode penelitian tentang subjek penelitian berupa individu, kelompok, lembaga atau masyarakat, yang berkenaan dengan suatu fase, sehingga dapat memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat dan karakter yang khas dari suatu kasus.
  • metode analisis pekerjaan dan aktivitas, metode penelitian ini digunakan untuk menyelidiki secara terperinci tentang aktivitas dan pekerjaan manusia, sehingga dapat memberikan rekomendasi untuk keperluan yang akan datang.
  • studi komparatif , metode penelitian ini digunakan untuk mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya suatu fenomena di masa sekarang.
  • metode studi waktu dan gerakan, metode ini merupakan metode yang berusaha untuk meneliti tentang efisiensi produksi dengan melakukan studi yang mendetail mengenai pemanfaatan waktu serta perilaku pekerjaan proses produksi.
  1. Metode Eksperimental

Metode penelitian ini sering digunakan dalam penelitian bidang eksakta (ilmu alam), yaitu dengan cara melakukan manipulasi terhadap subjek penelitian serta adanya kontrol. Manipulasi disini maksudnya adalah suatu tindakan untuk mnegerjakan sesuatu dengan tangan atau alat mekanis secara terampil. Namun, penggunaan metode eksperimental ini dapat pula diterpkan pula pada ilmu-ilmu sosial dengan sistematika tertentu.

  1. Metode Grounded Research

Merupakan suatu metode penelitian yang berdasarkan pada fakta dengan menggunakan analisi perbandingan, yang bertujuan untuk melakukan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan dan mengembangkan teori. Pengumpulan dan analisis data berjalan pada waktu yang bersamaan.

  1. Metode Penelitian Tindakan (action research)

Metode penelitian ini dikembangkan antara si peneliti dengan pembuat keputusan (decision maker) tentang variabel-variabel yang bisa dimanipulasikan, sehingga diperoleh penemuan-penemuan yang signifikan secara operasional dan dapat diterapkan dalam pelaksanaan kebijakan.

  1. Penelitian Expost Facto

Penelitian expost facto merupakan penyelidikan secara empiris yang sistematik dimana peneliti tidak mempunyai kontrol langsung terhadap variabel-variabel bebas (independent variable) karena menifestasi fenomena telah terjadi atau karena fenomena sukar dimanipulasikan. Pada expost facto, kontrol langsung tidak mungkin dikerjakan, baik secara manipulasi atau randomisasi. Akibatnya, hubungan hipotetikal yang dibentuk atau dipikirkan ada pada penelitian ini tidak dapat diuji dengan confidence (Nazir, 1985).

Penelitian expost facto disebut demikian karena sesuai dengan arti expost facto, yaitu “dari apa dikerjakan setelah kenyataan”, maka penelitian ini disebut sebagai penelitian sesudah kejadian. Penelitian ini juga sering disebut after the fact, retrospective study (studi penelusuran kembali). Penelitian expost facto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel terikat dalam suatu penelitian(Sukardi, 2003).

Selain beberapa metode yang telah disebutkan di atas, sesuai dengan perkembangan zaman, berdasarkan tujuannya kita mengenala istilah penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan (research and development) merupakan metode untuk mengembangkan dan menguji suatu produk. Dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan dapat digunakan untuk mengembangkan buku, modul, media pembelajaran, instrumen evaluasi, model-model kurikulum, pembelajaran, evaluasi, bimbingan, manajemen, dll.

Banyak sekali ragam penelitian yang dapat kita lakukan. Hal ini tergantung dari tujuan, pendekatan, bidang ilmu, tempat, dan sebagainya. Hal ini dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. a.      Menurut Fungsi / Kedudukan
    1. Penelitian Akademik (Mahasiswa S1, S2, S3), ciri/penekanan :
  • Merupakan sarana edukasi
  • Mengutamakan validitas internal (cara yang harus benar)
  • Variabel penelitian terbatas
  • Kecanggihan analisis disesuaikan dengan jenjang (S1, S2, S3)
  • Bertujuan mendapatkan pengetahuan baru yang berkenaan dan ilmu, teknologi dan seni.
  • Variabel penelitian lengkap
  • Kecanggihan analisis disesuaikan kepentingan masyarakat ilmiah
  • Validitas internal (cara yang benar) dan validitas eksternal (kegunaan dan generalisasi) diutamakan
  • Bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengembangan kelembagaan
  • Mengutamakan validitas eksternal (kegunaan)
  • Variabel penelitian lengkap (kelengkapan informasi)
  • Kecanggihan analisis disesuaikan untuk pengambilan keputusan.
    1. Penelitian Profesional (pengembangan ilmu, teknologi dan seni), ciri/ penekanan :
    1. Penelitian Institusional (perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan), ciri/penekanan :
  1. b.      Menurut Kegunaan
    1. 1.       Penelitian Murni (Pure Research) / Penelitian Dasar

Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

  1. 2.      Penelitian Terapan (Applied Research)

Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis.

  1. c.      Menurut Tujuan
    1. 1.       Penelitian Eksploratif

Bertujuan untuk mengungkap secara luas dan mendalam tentang sebab-sebab dan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.

  1. 2.      Penelitian Pengembangan

Bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan suatu prototipe baru atau yang sudah ada dalam rangka penyempurnaan dan pengembangan sehingga diperoleh hasil yang lebih produktif, efektif dan efisien.

  1. 3.      Penelitian Verifikatif

Bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian yang dilakukan terdahulu/ sebelumnya.

  1. 4.      Penelitian Kebijakan

Penelitian yang dilakukan suatu institusi/lembaga dengan tujuan untuk membuat langkah-langkah antisipatif guna mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di kemudian hari.

  1. d.      Menurut Pendekatan
    1. 1.       Penelitian Longitudinal (Bujur)

Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses dan waktu yang lama terhadap sekelompok subjek penelitian tertentu (tetap) dan diamati/diukur terus menerus mengikuti masa perkembangannya (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama).

  1. 2.      Penelitian Cross-Sectional (Silang)

Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses kompromi (silang) terhadap beberapa kelompok subjek penelitian dan diamati/diukur satu kali untuk tiap kelompok subjek penelitian tersebut sebagai wakil perkembangan dari tiap tahapan perkembangan subjek (menembak satu kali terhadap satu kasus).

  1. e.      Menurut Tempat
    1. 1.       Penelitian Laboratorium

Eksperimen, tindakan, dll

  1. 2.      Penelitian Perpustakaan

Studi dokumentasi (analisis isi buku, penelitian historis, dll).

  1. 3.      Penelitian Kancah / Lapangan

Survei, dll.

  1. f.        Menurut Kehadiran Variabel
    1. 1.       Penelitian Deskriptif

Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya sudah ada tanpa proses manipulasi (data masa lalu dan sekarang).

  1. 2.      Penelitian Eksperimen

Penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/diukur dampaknya (data yang akan datang).

  1. g.      Menurut Tingkat Eksplanasi
    1. 1.       Penelitian Deskriptif

Penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan suatu variabel secara mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan variabel dengan variabel lainnya.

  1. 2.      Penelitian Komparatif

Penelitian yang dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda.

  1. 3.      Penelitian Asosiatif

Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel atau lebih.

Penelitian asosiatif merupakan penelitian dengan tingkatan tertinggi dibanding penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian asosiatif dapat dibangun suatu teori yang berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala/fenomena.

  1. h.      Menurut Caranya
    1. 1.       Penelitian Operasional

Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung tanpa mengubah sistem pelaksanaannya.

  1. 2.      Penelitian Tindakan

Penelitian yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada suatu bidang tertentu terhadap proses kegiatannya yang sedang berlangsung dengan cara memberikan tindakan/action tertentu dan diamati terus menerus dilihat plus-minusnya, kemudian diadakan pengubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tepat.

  1. 3.      Penelitian Eksperimen (dari caranya)

Penelitian yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya.

Penelitian ini merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/perbandingan antara :

  1. Kelompok eksperimen (diberi perlakuan) dengan kelompok kontrol (tanpa perlakukan); atau ;
  2. Kondisi subjek sebelum perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan.
  3. i.        Menurut Metodenya (Jenis-jenis Penelitian
    1. 1.       Metode Survei
    2. 2.      Metode Eksperimen
    3. 3.      Metode Expose Facto
    4. 4.      Metode Naturalistik/Alamiah
    5. 5.      Metode Tindakan
    6. 6.      Metode Evaluasi
    7. 7.      Metode Kebijakan
    8. 8.      Metode Sejarah/Historis
      1. C.     PENUTUP

Penelitian adalah sebagai proses mencari kebenaran yang didasari oleh metode ilmiah. Hal ini tercermin pada sikap peneliti yang serius dan sungguh-sunggu untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapi. Untuk mencapai sebuah jawaban kebenaran dari pertanyaan yang muncul, maka peneliti tidak dengan mudah menarik kesimpulan. Proses penelitian harus menggunakan metode yang tepat sehingga pada akhirnya menemukan jawaban yang tepat pula.

Penentuan metode penelitian adalah hal yang sangat penting karena terkait pada apa yang akan diteliti. Karakteristik objek penelitian menentukan metode apa yang tepat untuk mencari kebenaran. Objek penelitian yang dapat dijelaskan secara jelas dari sudut ontology, epistemology, dan aksiologi.

Pendidikan sains sebagai objek kajian penelitian adalah sesuatu hal yang unik dan memiliki karakteristik tersendiri sehingga membutuhkan pendekatan yang khusus pula. Pendidikan sains adalah objek kajian yang sangat kompleks sehingga harus di-breakdown ke dalam bagian yang lebih kecil.

Pada akhirnya, temukan terlebih dahulu objek kajian penelitian yang lebih spesifik kemudian tentukan metode penelitian yang tepat.

  1. D.    DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu pendekatan Praktik. Cet. 13. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Mardalis. 2004. Metode Penelitian (suatu pendekatan proposal). Ed. 1, Cet. 7. Jakarta: Bumi Aksara.

Narbuko, Kholid. 2005. Metodologi Penelitian: memberikan bekal teoritis pada mahasiswa tentang metodologi penelitian serta diharapkan dapat melaksanakan penelitian serta diharapkan dapat melaksanakan penelitian dengan langkah-langkah yang benar. Cet. 7. Jakarta: Bumi Aksara.

Nazir, Muhammad. 1988. Metode Penelitian. Cet. 3. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Cet. 3. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Cet. 1. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tiindakan Kelas. Cet. 1. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Kategori:Uncategorized

Mei 19, 2010 1 komentar

HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN DAN KELINCAHAN
TERHADAP KETRAMPILAN MENGGIRING BOLA DALAM
SEPAKBOLA PADA SISWA LEMBAGA PENDIDIKAN
SEPAKBOLAATLAS BINATAMA
SEMARANG
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata I
untuk memperoleh gelar Sarjana Sain
Oleh
Nama : Tirto Ponco Nugroho
NIM : 6104000048
Jurusan : Ilmu Keolahragaan
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
ii
SARI
Skripsi ini berjudul “Hubungan Antara Kecepatan dan Kelincahan terhadap
Ketrampilan Menggiring Bola dalam Sepak Bola pada Siswa Lembaga Pendidikan
Sepakbola Atlas Binatama Semarang”.
Permasalahan yang akan diungkapkan penelitian ini adalah : 1) Apakah ada
hubungan antara kecepatan dan kelincahan terhadap ketrampilan menggiring bola
dalam sepak bola pada siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola (LPSB) Atlas Binatma
Semarang. Tujuannya untuk mengetahui hubungan antara antara kecepatan dan
kelincahan terhadap ketrampilan menggiring bola dalam sepak bola pada siswa
Lembaga Pendidikan Sepak Bola (LPSB) Atlas Binatma Semarang.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa LPSB Atlas
Binatama Semarang U-16 sebanyak 26 siswa, sampel dalam penelitian diambil secara
total sampling yaitu 26 siswa. Variabel penelitian terdiri dari 2 variabel bebas yaitu
kecepatan dan kelincahan, serta 1 variabel terikat yaitu ketrampilan menggiring bola.
Instrumen tes dalam penelitian ini yaitu tes kecepatan, tes kelincahan dan tes
menggirng bola. Metode penelitiannya adalah metode survei dengan teknik tes dan
pengukuran. Analisis data menggunakan korelasi ganda.
Hasil analisis koefisien korelasi parsial untuk kecepatan sebesar 0.622 dengan
probabilitas 0.001 < 0.05, yang berarti hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan ada
hubungan secara signifikan antara kecepatan dengan menggiring bola pada permainan
sepak bola oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang. Hal ini berarti bahwa dengan
bertambahnya kecepatan akan diiikuti pula kecapatan dalam menggiring bola. Hasil
analisis koefisien korelasi parsial untuk kelincahan sebesar 0.518 dengan probabilitas
0.008 < 0.05, yang berarti hipotesis diterima, dengan demikian kelincahan
berhubungan secara signifikan dengan hasil menggiring bola pada permainan
sepakbola oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang. Hal ini berarti bahwa semakin
tinggi kelincahan seseorang akan diikuti naiknya kecepatan dalam menggiring bola.
Hasil analisis korelasi ganda sebesar 0.740 yang diuji keberartiannya menggunakan
uji F diperoleh Fhitung sebesar 13.953 dengan probabilitas 0.000 < 0.05, yang berarti
hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
kecepatan dan kelincahan dengan hasil menggiring bola pada permainan sepak bola
oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara kecepatan
dan kelincahan terhadap ketrampilan menggiring bola pada permainan sepak bola
pada siswa LPSB Atlas Binatama Semarang. Disarankan pada pihak pelatih sepak
bola di LPSB Atlas Binatma Semarang: 1) Dalam penyusunan program latihan fisik
untuk menggiring bola dalam sepakbola, hendaknya seorang pelatih memprioritaskan
kecepatan dan kelincahan. 2) Agar melakukan penelitian yang sejenis untuk mengkaji
lebih lanjut faktor-faktor lain yang termasuk dalam penelitian ini.
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Semarang, Desember 2004
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Drs. Djanu Ismanto, M.S Drs. Prapto Nugroho, M.Kes
NIP. 131571558 NIP. 131469635
Mengetahui,
Ketua Jurusan Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang
Drs. Djanu Ismanto, M.S
NIP 131571558
iv
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 24 Februari 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, M.S Drs. Taufiq Hidayah, M.Kes
NIP. 130523506 NIP 132050000
Anggota Penguji
Drs. Taufiq Hidayah, M.Kes
NIP 132050000
Drs. Djanu Ismanto, M.S
NIP. 131571558
Drs. Prapto Nugroho, M.Kes
NIP. 131469635
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
“ Mengadakan perbaikan berarti melakukan pekerjaan – pekerjaan yang baik
untuk menghilangkan akibat – akibat yang jelek dari kesalahan – kesalahan
yang dilakukan “ (QS Al Baqarah,160)
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan kepada :
1. Ayah, Ibu, Kakak dan Adikku tercinta.
2. Adik Rofin Fadilah tersayang.
3. Rekan–rekan mahasiswa Ilmu
Keolahragaan.
4. Almamater Universitas Negeri Semarang.
vi
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat
rahmat dan anugerahNya, skripsi yang berjudul “Hubungan Kecepatan dan
Kelincahan terhadap Ketrampilan Menggiring Bola dalam Sepakbola pada Siswa
Lembaga Pendidikan Sepakbola Atlas Binatama Semarang” dapat terwujud.
Sehubungan dengan hal tersebut perkenankanlah penulis menyampaikan
ucapan terima kasih dan hormat yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Drs. Sutardji, M.S, Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri
Semarang yang telah berkenan menyetujui peneliti untuk melaksanakan penelitian.
2. Bapak Drs. Djanu Ismanto, M.S, Ketua Jurusan Ilmu Keolahragaan sekaligus
Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan saran, bimbingan dan
pengarahan dalam menyusun maupun penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Drs. Prapto Nugroho, M.Kes, Dosen Pembimbing Pendamping yang telah
memberikan saran, bimbingan dan pengarahan dalam menyusun maupun
penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan bantuan hingga terselesainya
penelitian skripsi ini.
5. Bapak Daud, Kepala pelatih Lembaga Pendidikan Sepak Bola Atlas Binatama
Semarang yang telah memberikan ijin kepada peneliti sehingga dapat
vii
melaksanakan penelitian di Lembaga Pendidikan Sepak Bola Atlas Binatama
Semarang.
6. Rekan-rekan Mahasiswa Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang yang telah membantu pada penelitian skripsi ini.
7. Rekan-rekan Singgasana Cost yang telah membantu dan memberikan motivasi
hingga terselesainya skripsi ini.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu secara
langsung maupun tidak langsung dalam penelitian skripsi ini.
Selanjutnya peneliti mengakui bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu peneliti sangat mengharapkan saran maupun kritik
yang bersifat membangun.
Akhirnya peneliti berharap semoga skrisi ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan dapat dijadikan pedoman bagi pembuatan skripsi selanjutnya.
Semarang, Maret 2005
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………… ……. i
SARI …………………………………………………………………………………………………. …… ii
HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………………………… ….. iii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………………. ….. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………………………………………… …….v
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… ….. vi
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………… … viii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………………. …….x
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………………………….. ….. xi
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………………………….. …. xii
BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………………………… …….1
1.1 Alasan Pemilihan Judul ……………………………………………………….. …….1
1.2 Permasalahan …………………………………………………………………….. …….6
1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………………………….. …….7
1.4 Penegasan Istilah ………………………………………………………………… …….7
1.5 Kegunaan hasil Penelitian ……………………………………………………. …….9
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ………………………………….. …..10
2.1 Landasan Teori …………………………………………………………………… …..10
2.1.1 Kecepatan ………………………………………………………………………… …..11
2.1.2 Kelincahan ………………………………………………………………………. …..14
2.1.3 Ketrampilan Menggiring Bola ……………………………………………. …..21
2.1.4 Hubungan kecepatan dengan ketrampilan menggiring bola ……. …..28
2.1.5 Hubungan kelincahan dengan ketrampilan menggiring bola…… …..29
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….. …..30
BAB III. METODE PENELITIAN ………………………………………………………. …..31
3.1 Populasi……………………………………………………………………………… …..31
3.2 Sampel……………………………………………………………………………….. …..32
ix
3.3 Variabel Penelitian ……………………………………………………………… …..32
3.4 Metode Pengumpulan Data…………………………………………………… …..33
3.5 Pengambilan Data ………………………………………………………………. …..35
3.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian …………………………. …..38
3.7 Analisis Data ………………………………………………………………………. …..40
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………. …..45
4.1 Deskriptif Data Hasil Penelitian ……………………………………………. …..45
4.2 Hasil Uji Prasyarat ………………………………………………………………. …..46
4.2.1 Uji Kenormalan……………………………………………………………… …..46
4.2.2 Uji Kelinieran………………………………………………………………… …..47
4.3. Hasil Uji Hipotesis ……………………………………………………………………47
4.3.1 Persamaan Regresi ……………………………………………………………….47
4.3.2 Besarnya Hubungan Secara Parsial…………………………………………49
4.3.3 Uji Simultan ………………………………………………………………………..49
4.3.4 Koefisien Korelasi dan Determinasi Ganda……………………………..50
4.4. Pembahasan……………………………………………………………………………..50
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN …………………………………………………….. …..53
5.1 Simpulan …………………………………………………………………………… …..53
5.2 Saran …………………………………………………………………………………. …..54
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Deskriptif Data Hasil Pengukuran Kecepatan, Kelincahan dan Menggiring
Bola ………………………………………………………………………………………………….. 45
2. Hasil Uji Normalitas Data……………………………………………………………………. 46
3. Hasil uji Kelinieran …………………………………………………………………………….. 47
4. Persamaan Regresi ……………………………………………………………………………… 47
5. Uji Simultan ………………………………………………………………………………………. 49
6. Koefisien Korelasi dan Determinasi Ganda……………………………………………. 50
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman halaman
1. Perkenaan bola pada teknik menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian
dalam………………………………………………………………………………………………… 25
2. Perkenaan bola pada teknik menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian
luar …………………………………………………………………………………………………… 26
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Tabel daftar nama siswa yang dijadikan sampel…………………………………. …..57
2. Data hasil penelitian……………………………………………………………………….. …..58
3. Analisa Data………………………………………………………………………………….. ….59
4. Daftar nama petugas pengambil data ………………………………………………… …..63
5. Surat Keterangan Hasil Pengujian ……………………………………………………. …..64
6. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian……………………………………….. …..66
7. Usulan Penetapan Dosen Pembimbing ……………………………………………… …..67
8. Surat Keputusan Dosen Pembimbing………………………………………………… …..69
9. Surat Permohonan Ijin Penelitian……………………………………………………… …..70
10. Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan …………………………………………………. …..71
11. Surat Penunjukan Penguji Skripsi…………………………………………………….. …..73
12. Surat Undangan Penguji Skripsi ………………………………………………………. …..74
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul
Sepak bola merupakan cabang olahraga yang sudah memasyarakat, baik
sebagai hiburan, mulai dari latihan peningkatan kondisi tubuh atau sebagai prestasi
untuk membela desa, daerah dan negara. Sepak bola yang sudah memasyarakat itu
merupakan gambaran persepakbolaan di Indonesia khususnya negara maju pada
umumnya.
Permainan sepakbola adalah suatu permainan yang menuntut adanya
kerjasama yang baik dan rapi. Sepakbola merupakan permainan tim, oleh karena itu
kerja sama tim merupakan kebutuhan permainan sepakbola yang harus dipenuhi oleh
setiap kesebelasan yang menginginkan kemenangan. Kemenangan dalam permainan
sepakbola hanya akan diraih dengan melalui kerjasama dari tim tersebut.
Kemenangan tidak dapat diraih secara perseorangan dalam permainan tim, disamping
itu setiap individu atau pemain harus memiliki kondisi fisik yang bagus, teknik dasar
yang baik dan mental bertanding yang baik pula.
Tujuan olahraga bermacam-macam sesuai dengan olahraga yang dilakukan,
tetapi olahraga secara umum meliputi memelihara dan meningkatkan kesegaran
jasmani, memelihara dan meningkatkan kesehatan, meningkatkan kegemaran
manusia berolahraga sebagai rekreasi serta menjaga dan meningkatkan prestasi olah
raga setinggi-tingginya. Tujuan tersebut telah menjadi bagian yang terpenting untuk
2
dicapai secara umum, tetapi tujuan khusus yang lebih penting adalah memenangkan
pertandingan dalam permainan sepakbola. Keberhasilan akan diraih apabila latihan
yang dilakukan sesuai dan berdasarkan prinsip latihan yang terencana, terprogram
yang mempunyai tujuan tertentu.
Permainan sepakbola modern saat ini telah mengalami banyak kemajuan,
perubahan serta perkembangan yang pesat, baik dari segi kondisi fisik, teknik, taktik
permainan maupun mental pemain itu sendiri. Kemajuan dan perkembangan tersebut
dapat dilihat dalam siaran langsung pertandingan perebutan Piala Eropa, penyisihan
Pra Piala Dunia oleh tim-tim kesebelasan Eropa maupun Amerika Latin. Bagaimana
permainan cepat dan teknik yang baik yang didukung oleh kemampuan individu
menonjol serta seni gerak telah pula ditampilkan. Permainan yang cepat dan teknik
yang baik itulah yang perlu dicontoh oleh persepakbolaan Indonesia agar dapat maju
dan berkembang dengan baik.
Masalah peningkatan prestasi di bidang olahraga sebagai sasaran yang ingin
dicapai dalam pembinaan olahraga di Indonesia membutuhkan waktu yang lama
dalam proses pembinaannya. Pembinaan olahraga menuntut partisipasi dari semua
pihak demi peningkatan prestasi olahraga di Indonesia.
Manusia dapat mencapai prestasi pada berbagi usia, akan tetapi prestasi dalam
olahraga terutama dicapai oleh mereka yang masih muda usianya. Pencapaian prestasi
semua cabang olahraga khususnya sepakbola dapat ditingkatkan pula pada mereka
yang masih muda usianya.
3
Kondisi fisik pemain sepakbola menjadi sumber bahan untuk dibina oleh
pakar sepakbola selain teknik, taktik, mental dan kematangan bertanding. Kondisi
fisik yang baik dan prima serta siap untuk menghadapi lawan bertanding merupakan
unsur yang penting dalam permainan sepakbola. Seorang pemain sepakbola dalam
bertahan maupun menyerang kadang-kadang menghadapi benturan keras, ataupun
harus lari dengan kecepatan penuh ataupun berkelit menghindari lawan, berhenti
menguasai bola dengan tiba-tiba. Seorang pemain sepakbola dalam mengatasi hal
seperti itu haruslah dibina dan dilatih sejak awal.
Kondisi fisik yang baik serta penguasan teknik yang baik dapat memberikan
sumbangan yang cukup besar untuk memiliki kecakapan bermain sepakbola. Tetapi
hal itu perlu diselidiki lebih lanjut oleh pakar sepakbola di tanah air. Kondisi fisik
yang baik tanpa didukung dengan penguasaan teknik bermain, taktik yang yang baik
serta mental yang baik, maka prestasi yang akan dicapai tidak dapat berjalan
seimbang. Demikian pula sebaliknya memiliki kondisi yang jelek tetapi teknik, taktik
dan mental yang baik juga kurang mendukung untuk pencapaian prestasi.
Untuk itu perlu pembinaan yang baik pada cabang olahraga sepakbola ini
sedini mungkin untuk mencapai sasaran pada event tertentu agar prestasi puncak
dapat ditampilkan sebaik-baiknya.
Dalam proses latihan unsur-unsur kondisi fisik menempati posisi terdepan
untuk dilatih, yang berlanjut ke latihan teknik, taktik, mental dan kematangan
bertanding dalam pencapaian prestasi. Lebih lanjut Suharno HP (1985: 24),
menyatakan bahwa pembinaan fisik, teknik, taktik, mental dan kematangan
4
bertanding merupakan sasaran latihan secara keseluruhan, dimana aspek yang satu
tidak dapat ditinggalkan dalam program latihan yang berkesinambungan sepanjang
tahun.
Hocke dan Nasution (1956: 31) menyatakan manusia dapat mencapai prestasi
pada berbagai usia, akan tetapi prestasi dalam olahraga terutama dicapai oleh mereka
yang muda usianya. Hal ini menunjukan bahwa semua cabang olahraga khususnya
sepakbola dapat ditingkatkan pada usia muda untuk pencapaian prestasi tertinggi.
Latihan kondisi fisik secara teratur dan berkesinambungan dapat memberikan
sumbangan yang besar bagi peningkatan kemampuan pengembangan teknik dalam
pertandingan. Hal ini ditambahkan oleh Sardjono (1981: 1), bahwa peranan latihan
untuk mengembangkan unsur-unsur permainan sepak bola guna meningkatkan
kecakapan bermain sangat menentukan.
Unsur-unsur kondisi fisik yang perlu dilatih dan ditingkatkan sesuai dengan
cabang olahraga masing- masing sesuai dengan kebutuhannya dalam permainan
maupun pertandingan. Dalam peningkatan kondisi fisik maka perlu dilatih dengan
beberapa unsur fisik, sedangkan unsur fisik umum meliputi kekuatan, daya tahan,
kecepatan dan kelentukan. Sedangkan unsur fisik khususnya mencakup stamina, daya
ledak, reaksi, koordinasi, ketepatan dan keseimbangan.
Tiap-tiap cabang olahraga mempunyai sifat tertentu dan pesertanya harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Seseorang pemain sepak bola harus memiliki dan
menguasai teknik bermain yang baik terutama teknik dengan bola, yang diperlukan
saat menyerang dan menguasai bola . Untuk teknik yang diperlukan adalah teknik
menggiring bola (dribbling). Yang perlu dilatih dengan posisi yang cukup, disamping
5
itu untuk menghindari dan melakukan gerak tipu untuk mengecoh lawan saat
menguasai bola perlu memiliki kecepatan dan kelincahan tubuh untuk menghindari
sergapan lawan.
Kecepatan dan kelincahan dibutuhkan oleh seseorang pemain sepak bola
dalam menghadapi situasi tertentu dan kondisi pertandingan yang menuntut unsur
kecepatan dan kelincahan dalam bergerak untuk menguasai bola maupun dalam
bertahan untuk menghindari benturan yang mungkin terjadi. Kecepatan dan
kelincahan dapat dilatih secara bersama-sama, baik dengan bola maupun tanpa bola.
Bagi seorang pemain sepakbola situasi yang berbeda-beda selalu dihadapi dalam
setiap pertandingan, juga seorang pemain sepak bola menghendaki gerakan yang
indah dan cepat sering dilakukan unsur kecepatan dan kelincahan.
Teknik dalam permainan sepak bola meliputi 2 macam teknik yaitu : teknik
dengan bola dan tanpa bola. Teknik dasar bermain sepakbola yang harus dikuasai
meliputi menendang bola, menghentikan bola, mengontrol bola , gerak tipu, tackling ,
lemparan kedalam dan teknik menjaga gawang. Mengontrol bola diantaranya adalah
menjaga dan melindungi bola dengan kai untuk terus dibawa kedepan disebut juga
menggiring (dribbling).
Menggiring bola tidak hanya membawa bola menyusuri tanah dan lurus ke
depan melainkan menghadapi lawan yang jaraknya cukup dekat dan rapat. Hal ini
menuntut seorang pemain untuk memiliki kemampuan menggiring bola dengan baik.
Menggiring bola adalah membawa bola dengan kaki dengan tujuan melewati lawan.
Dribling berguna untuk melewati lawan, mencari kesempatan memberi umpan
6
kepada kawan dan untuk menahan bola tetap ada dalam penguasaan . Dribling
memerlukan ketrampilan yang baik dan dukungan dari unsur-unsur kondisi fisik
yang baik pula seperti kecepatan dan kelincahan dapat memberikan kemampuan
gerak lebih cepat. Dengan metode ulangan yang banyak maka kemampuan dribbling
yang lincah dan cepat dapat dicapai dan ditampilkan dalam pertandingan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis ingin mengadakan penelitian yang
berjudul : Hubungan Antara Kecepatan Dan Kelincahan Terhadap Ketrampilan
Menggiring Bola Dalam Sepakbola Pada Siswa Lembaga Pendidikan Sepakbola
(LPSB) Atlas Binatama Semarang.
Adapun alasan pemilihan judul tersebut adalah :
1. Sepakbola merupakan olahraga yang sudah memasyarakat dan sangat digemari.
2. Menggiring bola merupakan salah satu teknik dasar dalam permainan sepakbola
yang harus dikuasai secara baik oleh pemain sepakbola.
3. Kecepatan dan kelincahan merupakan dua faktor penting yang berpengaruh besar
terhadp ketrampilan menggiring bola.
4. Sepengetahuan penulis belum pernah ada penelitian tentang hubungan antara
kecepatan dan kelincahan terhadap ketrampilan meggiring bola dalam sepakbola.
1.2 Permasalahan
Sesuai dengan judul diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian
ini adalah : Apakah terdapat hubungan antara kecepatan dan kelincahan terhadap
7
ketrampilan menggiring bola dalam sepak bola pada siswa Lembaga Pendidikan
Sepak Bola ( LPSB ) Atlas Binatama Semarang.
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penelitian mempunyai tujuan yaitu:
Untuk mengetahui hubungan antara kecepatan dan kelincahan terhadap ketrampilan
menggiring bola dalam sepak bola pada siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola
(LPSB) Atlas Binatama Semarang
1.4 Penegasan Istilah
Sehubungan dengan judul diatas untuk menghindari agar permasalahan yang
dibicarakan tidak menyimpang dari tujuan penelitian dan tidak terjadi salah
penafsiran istilah yang digunakan, peneliti mengadakan penegasan istilah yang
meliputi :
1.4.1 Korelasi
Di dalam kamus umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (1982:
562), mengartikan korelasi atau hubungan sebagai keadaan berhubungan atau
dihubungkan Sedangkan menurut Winarno Surahmad (1980 : 83) korelasi adalah
hubungan antara dua variabel atau lebih dinyatakan dengan angka atau grafis. Yang
dimaksud dengan korelasi dalam penelitian ini adalah hubungan antara kecepatan dan
kelincahan terhadap ketrampilan menggiring bola dalam sepakbola.
1.4.2 Kecepatan
Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan
kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M.
8
Sajoto 1995 : 9). Sedangkan menurut Dangsina Moeloek dan Arjadino Tjokro (1984 :
7), kecepatan didefinisikan sebagai laju gerak dapat berlaku untuk tubuh secara
keseluruhan atau bagian tubuh. Yang dimaksud kecepatan dalam penelitian ini adalah
kecepatan lari.
1.4.3 Kelincahan
Kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah posisi di arena
tertentu (M. Sajoto 1995 : 9). Sedang menurut Dangsina Moeloek dan Arjadino
Tjokro (1984 : 8), kelincahan adalah kemampuan mengubah cepat arah tubuh atau
bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan. Yang dimaksud kelincahan dalam
penelitian ini adalah kelincahan seseorang dalam bermain sepakbola.
1.4.4 Ketrampilan
Ketrampilan adalah kecekatan, kecakapan atau kemampuan untuk melakukan
sesuatu dengan baik dan cermat ( dengan keahlian ), (W.J.S Poerwadarminta 1982 :
1088). Yang dimaksud dengan ketrampilan dalam penelitian ini adalah kemampuan
seseorang dalam menggiring bola.
1.4.5 Menggiring bola
Menurut Csanadi Arpad (1972 : 145) menggiring bola adalah mengulirkan
bola terus menerus di tanah sambil lari Menurut Hughes Charles (1980 : 235),
menggiring bola adalah kemampuan seseorang pemain penyerang menguasai bola
untuk melewati lawan, dikatakan pula oleh Soedjono (1985 : 143) menggiring bola
adalah membawa bola dengan kaki untuk melewati lawan. Yang dimaksud
9
ketrampilan menggiring bola dalam penelitian ini adalah kecakapan atau kemampuan
siswa dalam menggiring bola.
1.4.6 Siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola
Lembaga Pendidikan Sepak Bola (LPSB) merupakan lembaga pendidikan
yang mempunyai tujuan untuk pengajaran dan latihan sepakbola. Siswa Lembaga
Pendidikan Sepak Bola adalah pemain yang mengikuti pendidikan sepakbola di
LPSB Atlas Binatama Semarang, pada umumnya berusia 16 tahun.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian bagi para pelatih yang terkait dengan hasil penelitian ini
diharapkan pelatih dapat memberikan latihan-latihan yang dapat meningkatkan aspek
kecepatan dan kelincahan.
Manfaat bagi siswa dengan melihat kajian ini diharapkan para siswa sadar
akan pentingnya kecepatan dan kelincahan dan berusaha meningkatkan latihan yang
berkenaan dengan unsur tersebut.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
Sepakbola merupakan olahraga yang paling terkenal di dunia. Lebih dari 200
juta orang di seluruh dunia memainkan lebih dari 20 juta permainan sepakbola setiap
tahunnya. Untuk memberikan bayangan tentang popularitas sepakbola, lebih dari 2
biliun pemirsa televisi menyaksikan kesebelasan brazil mengalahkan italia pada final
world cup 1994. Bandingkan jumlah tersebut dengan 750 juta pemirsa yang
menyaksikan NFL Super Bowl 1993, 350 juta menyaksikan final tenis Wimbeldon,
dan 490 juta pemirsa menyaksikan pendaratan manusia pertama di bulan.
Alasan dari daya tarik sepakbola terletak pada kealamian permainan tersebut.
sepakbola adalah permainan yang menantang secara fisik dan mental. Pemain harus
melakukan gerakan yang terampil di bawah kondisi permainan yang waktunya
terbatas, fisik dan mental yang lelah dan sambil menghadapi lawan. Pemain harus
mampu berlari beberapa mil dalam suatu pertandingan, hampir menyamai kecepatan
sprinter dan menanggapi berbagai perubahan situasi permainan dengan cepat. Dan,
pemain harus memahami taktik permainan individu, kelompok dan beregu.
Kemampuan pemain untuk memenuhi semua tantangan ini menentukan penampilan
pemain di lapangan sepakbola. Adapun unsur –unsur kondisi fisik diantaranya adalah
kecepatan dan kelincahan.
11
2.1.1 Kecepatan
Dalam cabang olahraga kecepatan merupakan komponen fisik yang mendasar,
sehingga kecepatan merupakan faktor penentu dalam cabang olahraga seperti nomor
lari jarak pendek, tinju, anggar, dan cabang olahraga permainan. Kecepatan adalah
kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan sejenis secara berturut-turut dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh suatu gerak
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Harsono 1988 : 216).
Kecepatan adalah kemampuan bergerak yang dilakukan dalam waktu yang
singkat. Kecepatan dapat juga berarti berpindahnya badan secepat-cepatnya ketempat
lain. Bompa, Tudor O. (1983: 249) mengatakan, kecepatan adalah kemampuan
memindahkan badan atau menggerakkan suatu benda atau objek secara sangat cepat.
Menurut Treadwell (1991) yang dikutip oleh Saifudin (1999: 1-11), kecepatan bukan
hanya melibatkan seluruh kecepatan tubuh, tetapi melibatkan waktu reaksi yang
dilakukan oleh seseorang pemain terhadap suatu stimulus. Kemampuan ini membuat
jarak yang lebih pendek untuk memindahkan tubuh.
Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat,
akan tetapi dapat pula menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya. Dalam lari sprint kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan
berturut-turut dari kaki yang dilakukan secara cepat, kecepatan menendang bola
ditentukan oleh singkat tidaknya tungkai dalam menempuh jarak gerak tendang.
Kecepatan anggota tubuh seperti lengan atau tungkai adalah penting pula guna
memberikan akselerasi kepada obyek-obyek eksternal seperti sepakbola, bola basket,
tenis lapangan, lempar cakram, bola voli, dan sebagainya. Kecepatan tergantung dari
12
beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu strength, waktu reaksi, dan fleksibilitas
(Harsono 1988 : 216). Untuk melakukan gerakan kecepatan adalah merupakan hasil
dari jarak per satuan waktu (m/dt), misalnya 100 km per jam atau 120 meter per detik.
Sedangkan menurut fisiologis kecepatan didefinisikan sebagai kemampuan
berdasarkan kemudahan gerak dalam suatu waktu tertentu (Jonath.U.E. Haag dan R.
Krembel, 1984 : 19). Kecepatan merupakan suatu keuntungan dalam bermain bila
dilakukan dengan benar terburu-buru atau tergesa-gesa berbeda dengan cecap.
Terburu-buru menandakan tiadanya emosi, keseimbangan fisik terkontrol. Kecepatan
mengacu pada kecepatan gerak di dalam menampilkan keahlian (bukan sekedar
berlari cepat).
Singer, Robert N. (1982: 208) mengemukakan secara garis besar kecepatan
dapat dibagi kedalam dua tipe : (1) waktu reaksi yaitu kecepatan waktu reaksi muncul
pada saat adanya stimulus hinggga mulai terjadi gerakan, dan (2) waktu gerakan
adalah waktu yang digunakan atau dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dari
permulaan hingga akhir. Dari beberapa pendapat diatas disimpulkan bahwa kecepatan
gerakan dapat dibagi menjadi tiga , yaitu : (1) waktu reaksi, (2) waktu gerakan , (3)
waktu respon yaitu merupakan kombinasi dari waktu reaksi dan waktu gerakan.
Kecepatan dalam hal ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : (1) kecepatan
sprint, (2) kecepatan reaksi, (3) kecepatan bergerak (Jonath.U.E. Haag dan R.
Krembel 1984 :19). Kecepatan sprint adalah kemampuan seseorang untuk bergerak
ke depan dengan kuat dan kecepatan maksimal untuk mencapai hasil yang sebaikbaiknya.
Dalam hal ini lari 40 yard adalah gerakan lari yang sepenuhnya masih
13
menggunakan glikogen dalam otot belum membutuhkan stamina untuk lari 40 yard
belum mengalami kelelahan dan jarak ini digunakan untuk melakukan fast break.
Kecepatan didefinisikan sebagai kemampuan organisme atlet melakukan
gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang
sebaik-baiknya (Suharno HP, 1978: 26). Kecepatan reaksi adalah kecepatan
seseorang antara pemberian rangsang atau stimulan dengan gerak pertama (Harsono
1988 : 217). Kecepatan gerak adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan
gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkatsingkatnya
(M. Sajoto 1995 : 9).
Kecepatan seseorang ditentukan oleh berbagai faktor, secara umum yaitu : (1)
macam fibril otot yang dibawa sejak lahir (pembawaan ), fibril berwarna putih baik
untuk gerakan kecepatan , (2) Pengaturan Nervous system, (3) Kekuatan otot, (4)
Kemampuan elastisitas dan relaksasi suatu otot, (5) Kemauan dan disiplin individu
(Suharno HP, 1978 :26).
Kecepatan mengacu pada kecepatan gerakan dalam melakukan suatu
ketrampilan bukan hanya sekedar kecepatan lari. Menggerakkan kaki dengan cepat
merupakan ketrampilan fisik terpenting bagi pemain bertahan dan harus ditingkatkan
kemampuan mengubah arah pada saat teakhir merupakan hal yang terpenting lainnya.
Kecepatan merupakan salah satu dari komponen kondisi fisik. Menurut M.Sajoto
(1995 : 9), kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan
kesinambungan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut Dangsina Moeloek
dan Arjadino Tjokro (1984 : 7), kecepatan didefinisikan sebagai laju gerak, dapat
berlaku untuk tubuh secara keseluruhan atau bagian tubuh.
14
Menurut Nurhasan (1994) yang dikutip oleh Saifudin (1999: 1-11), kecepatan
gerakan dan kecepatan reaksi sering dianggap sebagai ciri dari atlet berprestasi.,
yanag dapat diamati dalam cabang-cabang olahraga yang membutuhkan mobilitas
tinggi, seperti kecepatan lari seseorang pemain sepak bola mengejar atau menggiring
bola, kecepatan pemain softball berari dari satu base ke base berikutnya.
Kedua gerak tipe tersebut diatas sangat diperlukan dalam kegiatan olahraga
misalnya seorang pemain sepak bola pada saat menggiring bola lalu mengoper
kepada kawan dan sesaat kemudian dikembalikan lagi kedepannya dan bola harus
dikejar, artinya pemain tersebut sudah melakukan gerakan (movement) dengan
gerakan secara cepat, karena harus mendahului lawan yang menghadang. Dalam
permainan sepak bola, kedua tipe gerak didepan banyak digunakan mulai dari
menggiring bola, memberikan umpan, kepada kawan, saat menendang bola bahkan
saat melakukan gerakan tanpa bola pun seorang pemain harus sesering mungkin
melakukan gerakan (movement).
Bertolak dari teori yang telah dikemukakan didepan, maka dapat disimpulkan
bahwa kecepatan merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan reaksi, dengan
bergerak secepat-cepatnya ke arah sasaran yang telah ditetapkan adanya respon.
2.1.2 Kelincahan
Kelincahan merupakan salah satu komponen fisik yang banyak dipergunakan
dalam olahraga. Kelincahan pada umumnya didefinisikan sebagai kemampuan
mengubah arah secara efektif dan cepat, sambil berlari hampir dalam keadaan penuh.
Kelincahan terjadi karena gerakan tenaga yang ekplosif. Besarnya tenaga ditentukan
15
oleh kekuatan dari kontraksi serabut otot. Kecepatan otot tergantung dari kekuatan
dan kontraksi serabut otot. Kecepatan kontraksi otot tergantung dari daya rekat
serabut-serabut otot dan kecepatan transmisi impuls saraf. Kedua hal ini merupakan
pembawaan atau bersifat genetis, atlet tidak dapat merubahnya (Baley, James A.,
1986 :198).
M. Sajoto (1995 : 90) mendefinisikan kelincahan sebagai kemampuan untuk
mengubah arah dalam posisi di arena tertentu. Seseorang yang mampu mengubah
arah dari posisi ke posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi
gerak yang baik berarti kelincahannya cukup tinggi. Sedangkan menurut Dangsina
Moeloek dan Arjadino Tjokro (1984 : 8), kelincahan adalah kemampuan mengubah
secara cepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan.
Mengubah arah gerakan tubuh secara berulang-ulang seperti halnya lari bolakbalik
memerlukan kontraksi secara bergantian pada kelompok otot tertentu. Sebagai
contoh saat lari bolak-balik seorang atlet harus mengurangi kecepatan pada waktu
akan mengubah arah. Untuk itu otot perentang otot lutut pinggul (knee ekstensor and
hip ekstensor) mengalami kontraksi eksentris (penguluran), saat otot ini
memperlambat momentum tubuh yang bergerak ke depan. Kemudian dengan cepat
otot ini memacu tubuh ke arah posisi yang baru. Gerakan kelincahan menuntut
terjadinya pengurangan kecepatan dan pemacuan momentum secara bergantian.
Rumus momentum adalah massa dikalikan kecepatan. Massa tubuh seorang
atlet relatif konstan tetapi kecepatan dapat ditingkatkan melalui pada rogram latihan
dan pengembangan otot. Diantara atlet yang beratnya sama (massa sama), atlet yang
memiliki otot yang lebih kuat dalam kelincahan akan lebih unggul (Baley, James A.,
16
1986 : 199). Dari beberapa pendapat tersebut tentang kelincahan dapat ditarik
pengertian bahwa kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah arah
atau posisi tubuh secara cepat dan efektif di arena tertentu tanpa kehilangan
keseimbangan. Seseorang dapat meningkatkan kelincahan dengan meningkatkan
kekuatan otot-ototnya.
Kelincahan biasanya dapat dilihat dari kemampuan bergerak dengan cepat,
mengubah arah dan posisi, menghindari benturan antara pemain dan kemampuan
berkelit dari pemain di lapangan. Kemampuan bergerak mengubah arah dan posisi
tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi dalam waktu yang relatif singkat
dan cepat.
Kelincahan yang dilakukan oleh atlet atau pemain sepakbola saat berlatih
maupun bertanding tergantung pula oleh kemampuan mengkoordinasikan sistem
gerak tubuh dengan respon terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Kelincahan
ditentukan oleh faktor kecepatan bereaksi, kemampuan untuk menguasai situasi dan
mampu mengendalikan gerakan secara tiba-tiba.
Suharno HP (1985: 33) mengatakan kelincahan adalah kemampuan dari
seseorang untuk berubah arah dan posisi secepat mungkin sesuai dengan situasi yang
dihadapi dan dikehendaki. Nossek Jossef (1982 : 93) lebih lanjut menyebutkan bahwa
kelincahan diidentitaskan dengan kemampuan mengkoordinasikan dari gerakangerakan,
kemampuan keluwesan gerak, kemampuan memanuver sistem motorik atau
deksteritas. Harsono (1988 : 172) berpendapat kelincahan merupakan kemampuan
untuk mengubah arah dan posisi tubuh dengan tepat pada waktu sedang bergerak,
tanpa kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhnya.
17
Dari batasan di atas menunjukkan kesamaan konseptual sehingga dapat
diambil suatu pengertian untuk menjelaskan pengertian ini. Adapun yang
dimaksudkan dengan kelincahan adalah kemampuan untuk bergerak mengubah arah
dan posisi dengan cepat dan tepat sehingga memberikan kemungkinan seseorang
untuk melakukan gerakan ke arah yang berlawanan dan mengatasi situasi yang
dihadapi lebih cepat dan lebih efisien.
Kegunaan kelincahan sangat penting terutama olahraga beregu dan
memerlukan ketangkasan, khususnya sepakbola. Suharno HP (1985 :33) mengatakan
kegunaan kelincahan adalah untuk menkoordinasikan gerakan-gerakan berganda atau
stimulan, mempermudah penguasaan teknik-teknik tinggi, gerakan-gerakan efisien,
efektif dan ekonomis serta mempermudah orientasi terhadap lawan dan lingkungan.
2.1.2.1 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelincahan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelincahan menurut Dangsina
Moeloek dan Arjadino Tjokro (1984 : 8-9) adalah :
1. Tipe tubuh
Seperti telah dijelaskan dalam pengertian kelincahan bahwa gerakan-gerakan
kelincahan menuntut terjadinya pengurangan dan pemacuan tubuh secara bergantian.
Dimana momentum sama dengan massa dikalikan kecepatan. Dihubungkan dengan
tipe tubuh, maka orang yang tergolong mesomorfi dan mesoektomorfi lebih tangkas
dari sektomorf dan endomorf .
2. Usia
Kelincahan anak meningkat sampai kira-kira usia 12 tahun (memasuki
pertumbuhan cepat). Selama periode tersebut (3 tahun) kelincahan tidak meningkat,
18
bahkan menurun. Setelah masa pertumbuhan berlalu, kelincahan meningkat lagi
secara mantap sampai anak mencapai maturitas dan setelah itu menurun kembali.
3. Jenis kelamin
Anak laki-laki menunjukkan kelincahan sedikit lebih baik dari pada anak
wanita sebelum mencapai usia pubertas. Setelah pubertas perbedaan tampak lebih
mencolok.
4. Berat badan
Berat badan yang berlebihan secara langsung mengurangi kelincahan.
5. Kelelahan
Kelelahan mengurangi ketangkasan terutama karena menurunnya koordinasi.
Sehubungan dengan hal itu penting untuk memelihara daya tahan kardiovaskuler dan
otot agar kelelahan tidak mudah timbul.
2.1.2.2 Latihan Kelincahan
Adapun macam-macam bentuk latihan kelincahan yaitu :
1. Lari bolak-balik (Shuttle Run).
Atlet lari bolak balik secepatnya dari titik yang satu ke titik yang lain
sebanyak kira-kira 10 kali. Setiap kali sampai pada suatu titik dia harus berusaha
untuk secepatnya membalikkan badan untuk lari menuju titik yang lain. Yang perlu
diperhatikan bahwa : a) jarak antara kedua titik jangan terlalu jauh, misalnya 10 m
atau lebih, maka ada kemungkinan bahwa setelah lari beberapa kali bolak balik dia
tidak mampu lagi untuk melanjutkan larinya., dan atau membalikkan badannya
dengan cepat disebabkan karena faktor keletihan. Dan kalau kelelahan mempengaruhi
19
kecepatan larinya, maka latihan tersebut sudah tidak sahih (valid) lagi untuk
digunakan sebagai latihan kelincahan. b). Jumlah ulangan lari bolak balik jangan
terlalu banyak sehingga menyebabkan atlet lelah. Kalau ulangan larinya terlalu
banyak maka menyebabkan seperti diatas. Faktor kelelahan akan mempengaruhi apa
yang sebetulnya ingin dilatih yaitu kelincahan ( Harsono, 1988 :172).
2. Lari zig-zag (zig-zag run).
Latihan hampir sama dengan lari bolak-balik, kecuali atlet lari melintasi
beberapa titik, misalnya 10 titik ( Harsono, 1988 :172)
3. Squart trust dan modifikasinya
Atlet berdiri tegak, jongkok, tangan di lantai , lempar kaki ke belakang
sehingga tubuh lurus dalam posisi push up, dengan kedua tangan bersandar dilantai.
Lemparan kedua kaki kedepan di antara kedua lengan, luruskan seluruh tubuh
menghadap ke atas, satu tangan lepas dari lantai dan segera balikkan badan sehingga
berada dalam posisi push up kembali, kembali berdiri tegak. Seluruh rangkaian gerak
dilakukan secepat mungkin ( Harsono, 1988 :173).
4. Lari Rintangan
Di suatu ruangan atau lapangan ditempatkan beberapa rintangan. Tugas atlet
adalah untuk secepatnya melalui rintangan tersebut. Baik dengan cara melompatinya,
memanjat atau menerobos ( Harsono, 1988 :173).
Latihan kelincahan dapat juga dilakukan dengan latihan yang bersifat
anaerobic seperti :
20
1. Dot drill
Dilantai atau dilapangan dibuat 4 titik yang membentuk persegi berjarak
masing-masing 24 inci ( kira-kira 60 cm, dan titik ditengah-tengah persegi). Atlet
bersiap dengan kedua kaki pada 2 titik, dan pada aba-aba “ya” atlet melompat-lompat
ke titik-titik yang lain secepatnya dalam waktu 30 detik atau lebih. Lompatannya
adalah maju, mundur, kesamping, berbalik dan sebagainya. Dengan demikian
kelincahan kaki terlatih.
2. Tree Corner drill
Ada 3 titik yang membentuk huruf L berjarak kira-kira 4 m. Atlet secepatnya
berlari melingkari ketiga titik dalam waktu yang telah ditentukan. Latihan ini mirip
dengan latihan boomerang run yang titiknya adalah 5 buah.
3. Down the-line drill
Di lapangan ada beberapa garis yang berjarak masing-masing kira- kiira
sampai 4-5 m. atlet lari menuju garis tersebut dan setiap tiba disuatu garis dia harus
mengubah cara larinya dengan mundur, maju atau menyamping sesuai dengan
instruksi pelatih. ( Harsono, 1988 : 173).
Dari contoh di atas kita lihat bahwa bermacam-macam latihan kelincahan
dapat diciptakan. Imajinasi pelatih adalah penting untuk menciptakan latihan-latihan
yang sesuai dengan gerakan-gerakan yang dilakukan dalam cabang olahraganya.
21
2.1.3 Ketrampilan menggiring bola
Ketrampilan menuirut Lutan, Rusli (1988: 94), adalah ketrampilan dipandang
sebagai satu perbuatan atau tugas yang merupakan indikator dari tingkat kemahiran
seseorang dalam melaksanakan suatu tugas.
Teknik dasar bermain sepakbola adalah semua cara pelaksanaan gerakangerakan
yang diperlukan untuk bermain sepakbola, terlepas sama sekali dari
permainannya. Artinya memerintah badan sendiri dan memerintah bola dengan
kakinya, dengan tungkainya, dengan kepalanya, dengan badannya, kecuali dengan
lengannya. Jadi setiap pemain harus dapat memerintah bola, bukan bola memerintah
pemain. Kualitas teknik dasar pemain lepas dari fak tor-faktor taktik dan fisik akan
menentukan tingkat permainan suatu kesebelasan sepakbola. Makin baik tingkat
ketrampilan teknik pemain dalam memainkan dan menguasai bola makin cepat dan
cermat kerjasama kolektif akan tercapai. Dengan demikian kesebelasan akan lebih
lama menguasai bola atau menguasai permainan, akan tetapi mendapatkan
keuntungan secara fisik, moril dan taktik. Oleh karena itu sering pemain pertamatama
atau permulaan harus menguasai macam-macam teknik dasar bermain yang
merupakan faktor untuk bermain. Melihat kenyataan yang sebenarnya maka
ketrampilan teknik dasar perlu dilakukan dengan latihan-latihan yang berulang-ulang
sehingga akhirnya merupakan gerakan yang otomatis. Jadi seorang pemain sepakbola
yang tidak menguasai ketrampilan teknik dasar bermain tidaklah mungkin akan
menjadi pemain yang baik dan terkemuka. Adapun teknik dasar yang sering
digunakan dalam permainan sepakbola diantaranya adalah teknik dasar menggiring
bola.
22
Menggiring bola merupakan salah satu teknik dasar yang cukup memiliki
peranan penting dalam permainan sepak bola, tidak heran jika para pengamat sepak
bola khususnya mengatakan bahwa mahirnya seorang pamain dapat dilihat pada
bagaimana seorang pemain tersebut menggiring bola. Untuk meningkatkan
ketrampilan menggiring bola, teknik harus dilatih, seperti : kekuatan, kecepatan,
kelentukan, kelincahan dan sebaginya. Kini banyak para pelatih mengabaikan atau
menganggap tidak penting hal itu.
Ada tiga unsur kondisi fisik yang cukup besar peranannya dalam menggiring
bola, yaitu kecepatan, kelentukan dan kelincahan, yang menurut Bompa, Tudor O.
(1983: 249) dikatakan sebagai komponen biomotor. Kecepatan hubungannya dengan
cepat tidaknya seorang pemain membawa bola kearah depan, sedangkan kelentukan
hubungannya dengan bagaimana keluwesan seorang pemain mengolah bola dengan
kakinya dan bagaimana keluwesan dalam melalui rintangan, serta kelincahan
hubungannya dengan kecepatan mengubah arah untuk menghindari rintangan.
Dribbling dapat diartikan sebagai suatu teknik menggiring bola. Hal itu
dikatakan oleh Csanadi Arpad (1972 : 145) bahwa menggiring bola adalah
mengulirkan bola terus menerus di tanah sambil lari. Menurut Hughes Charles (1980 :
235) menggiring bola adalah kemampuan seseorang pemain penyerang menguasai
bola untuk melewati lawan, dikatakan pula oleh Soedjono (1985 : 143) menggiring
bola adalah membawa bola dengan kaki untuk melewati lawan.
Dari batasan yang diberikan oleh para ahli di atas tidak menunjukkan adanya
perbedaan pengertian, sehingga dapat diambil suatu pengertian bahwa dribbling atau
23
menggiring bola adalah suatu kemampuan menguasai bola dengan kaki oleh pemain
sambil lari untuk melewati lawan ataui membuka daerah pertahanan lawan.
Kegunaan kemampuan menggiring bola sangat besar untuk membantu
penyerangan untuk menembus pertahanan lawan. Dribbling berguna untuk
mengontrol bola dan menguasainya sampai seorang rekan satu tim bebas dan
memberikannya dalam posisi yang lebih baik. Sedang menurut Engkos Kosasih
(1985:56) tujuan menggiring bola adalah :
1. Melewati lawan
2. Menerobos benteng pertahanan lawan
3. Mempermudah rekan kesebelasan atau diri sendiri untuk membuat serangan atau
mengukur strategi
4. Menguasai permainan
Berorientasi dari tujuan menggiring bola, maka dapat dibedakan beberapa cara
menggiring bola :
1. Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian dalam
2. Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian luar
3. Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian atas atau punggung kaki
Dari ketiga cara menggiring bola tersebut, penulis memilih menggiring bola
menggunakan kura-kura bagian dalam dan kura-kura kaki bagian luar dalam
penelitian.
Hal ini dikarenakan untuk melakukan teknik menggiring bola berputar ke arah
kiri digunakan kura-kura kaki sebelah dalam kaki kanan, sedangkan untuk melakukan
24
teknik menggiring ke arah kanan digunakan kura-kura kaki sebelah luar kaki kanan
(Sukatamsi 1988 : 161).
Adapun cara menggiring bola menurut Sukatamsi (1988 : 159) dengan kurakura
kaki bagian dalam adalah sebagai berikut :
1. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi kaki dalam menendang bola
dengan kura-kura kaki sebelah kanan.
2. Kaki yang digunakan untuk menggiring bola tidak diayunkan seperti taknik
menendang, akan tetapi tiap langkah secara teratur menyentuh atau mendorong
bola bergulir ke depan dan bola harus selalu dekat dengan kaki. Dengan demikian
bola mudah dikuasai dan tidak mudah direbut oleh lawan.
3. Pada saat menggiring bola lutut kedua kaki harus selalu sedikit ditekuk, dan pada
waktu kaki menyentuh bola, mata melihat bola, selanjutnya melihat situasi
lapangan.
Dengan menggunakan kura-kura kaki bagian dalam berarti posisi dari bola
selalu berada dalam penguasaan pemain. Hal ini akan menyebabkan lawan menemui
kesukaran untuk merampas bola. Selain itu pemain yang menggiring bola tersebut
dengan mudah merubah arah andaikan pemain lawan berusaha merebut bola. Jadi hal
seperti ini dapat diartikan jika pemain yang menggiring bola selalu diikuti atau bola
selalu berada diantara kedua kaki dengan lain perkataan bola selalu dapat dilindungi.
Disamping itu kalau menggiring bola menggunakan kura-kura kaki bagian dalam
pemain dapat merubah-rubah kecepatan sewaktu menggiring bola (A. Sarumpaet,
1992 : 25).
25
Gambar 1
Perkenaan bola pada teknik menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian dalam
(Sukatamsi, Teknik Dasar Bermain Sepakbola, 1988 : 159)
Sedang menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian luar menurut
Sukatamsi (1988 : 161) adalah :
1. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi kaki dalam menendang bola
dengan kura-kura kaki bagian luar.
2. Setiap langkah secara teratur dengan kura-kura kaki bagian luar kaki kanan atau
kaki kiri mendorong bola bergulir ke depan, dan bola selalu dekat dengan kaki.
3. Pada saat menggiring bola lutut kedua kaki harus selalu sedikit ditekuk, dan pada
waktu kaki menyentuh bola, mata melihat bola, selanjutnya melihat situasi
lapangan.
26
Menggiring bola dengan menggunakan kura-kura kaki bagian luar memberi
kesempatan pada pemain untuk merubah-rubah arah serta dapat menghindari lawan
yang berusaha merampas bola. Merubah arah dan membelok ke kiri maupun ke kanan
berarti menghindarkan bola dari lawan karena dengan cara demikian tubuh pemain
yang sedang menggiring bola dapat menutup atau membatasi lawan dengan bola (A.
Sarumpaet, 1992 : 25).
Gambar 2
Perkenaan bola pada teknik menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian luar
(Sukatamsi, Teknik Dasar Bermain Sepakbola, 1988 : 162)
Menggiring bola atau dribbling tidak hanya dilatih dengan satu kaki saja,
melainkan dengan kedua-duanya kiri dan kanan. Hal itu dilatihkan sepanjang latihan
dan terus menerus untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bola yang baik dan
secara bergantian akan memberikan tambahan keseimbangan antara kaki kiri dan
kanan.
27
Dalam pelaksanaan menggiring bola zig-zag melewati pancang atau lawan
dapat dilakukan dengan menggunakan kedua kaki bergantian, kaki kanan saja, atau
menggunakan kaki kiri saja. Adapun cara pelaksanaannya menurut Sukatamsi (1988 :
169) adalah sebagai berikut :
1. Menggirng bola zig-zag melewati tiang pancang dengan menggunakan kaki kanan
dan kiri bergantian, bola didorong dengan kura-kura kaki bagian dalam, waktu
melampaui di sebelah kanan tiang pancang digunakan kura-kura kaki bagian
dalam sedangkan pada waktu melampaui sebelah kiri tiang pancang digunakan
kura-kura kaki bagian dalam kaki kiri.
2. Menggiring bola zig-zag melampaui tiang pancang dengan menggunakan kaki
sebelah kanan saja yaitu dengan cara : waktu melampaui sebelah kanan tiang
pancang digunakan kura-kura kaki bagian dalam dan waktu melampaui sebelah
kiri tiang pancang digunakan kura-kura kaki sebelah luar.
3. Menggiring bola zig-zag melampaui tiang pancang dengan manggunakan kaki
sebelah kiri saja yaitu dengan cara : pada waktu melampaui di sebelah kanan tiang
pancang digunakan kura-kura kaki bagian luar dan waktu melampaui sebelah kiri
tiang pancang digunakan kaki bagian dalam.
Menurut A Sarumpaet, (1992 : 24) untuk dapat menggiring bola dengan baik
perlu diketahui prinsip-prinsip menggiring bola diantaranya adalah :
1. Bola harus dikuasai sepenuhnya berarti tidak dapat dirampas lawan.
2. Dapat menggunakan seluruh bagian kaki sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
3. Dapat mengawasi situasi pemain pada waktu menggiring bola.
28
Bola merupakan bagian yang penting dalam setiap permainan. Setiap pemain
atau tim berusaha untuk dapat menguasai bola, karena hanya dengan menguasai bola
gol dapat terjadi. Setelah bola dapat dikuasai, pemain atau tim akan berusaha supaya
bola tidak mudah hilang atau direbut oleh lawan. Oleh karena itu pemain harus
dituntut untuk memiliki penguasaan bola. Sedangkan untuk memiliki kesempatan
memasuki daerah lawan dan kesempatan memasukkan bola dibutuhkan kecepatan
dalam menggiring bola.
Dari pendapat di atas kita menarik kesimpulan bahwa dalam melakukan
dribble atau menggiring bola seorang pemain harus dapat mengubah-ubah arah dan
dapat menghindari lawan dengan cepat serta harus dapat menggunakan seluruh
bagian kakinya sesuai dengan yang ingin dicapai. Untuk dapat melakukan semua itu
sangat dibutuhkan unsur fisik berupa kelincahan.
2.1.4 Hubungan kecepatan dengan ketrampilan menggiring bola
Kecepatan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi gerak.
Kecepatan merupakan unsur keampuan gerak yang harus dimiliki seorang pemain
sepakbola sebab dengan kecepatan yang tinggi, pemain yang menggiring bola dapat
menerobos dan melemahkan daerah pertahanan lawan. Kecepatan didukung dengan
tenaga eksplosif berguna untuk fastbreak, dribble dan passing. Kecepatan bukan
hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi dapat pula
terbatas pada menggerakkan seluruh tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan anggota tubuh seperti tungkai adalah penting pula guna memberikan
akselerasi obyek-obyek eksternal seperti sepakbola, bola basket, tenis, lempar
29
cakram, bola voli, dan sebagainya. Kecepatan melibatkan koordinasi otot-otot besar
pada tubuh dengan cepat dan tepat dalam suatu aktifitas tertentu. Kecepatan dapat
dilihat dari sejumlah besar kegiatan dalam olahraga meliputi kerja kaki (footwork)
yang efisien dan perubahan posisi tubuh dengan cepat. Seseorang yang mampu
bergerak dengan koordinasi seperti tersebut diatas yang cepat dan tepat berarti
memiliki kecepatan yang baik.
2.1.5 Hubungan kelincahan dengan ketrampilan menggiring bola
Kelincahan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi gerak.
Kelincahan merupakan unsur kemampuan gerak yang harus dimiliki seorang pemain
sepakbola sebab dengan kelincahan yang tinggi pemain dapat menghemat tenaga
dalam suatu permainan. Kelincahan juga diperlukan dalam membebaskan diri dari
kawalan lawan dengan menggiring bola melewati lawan dengan menyerang untuk
menciptakan suatu gol yang akan membawa pada kemenangan. Seorang pemain yang
kurang lincah dalam melakukan suatu gerakan akan sulit untuk menghindari
sentuhan-sentuhan perseorangan yang dapat mengakibatkan kesalahan perseorangan.
Kelincahan melibatkan koordinasi otot-otot besar pada tubuh dengan cepat
dan tepat dalam suatu aktifitas tertentu. Kelincahan dapat dilihat dari sejumlah besar
kegiatan dalam olahraga meliputi kerja kaki (footwork) yang efisien dan perubahan
posisi tubuh dengan cepat. Seseorang yang mampu merubah posisi yang berbeda
dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup
baik.
Individu yang mampu merubah posisi yang satu ke posisi yang lain dengan
koordinasi dan kecepatan yang tinggi memiliki kesegaran yang baik dalam komponen
30
kelincahan. Dalam beberapa hal, kelincahan menyatu dengan tenaga daya tahan.
Kelincahan diperlukan sekali dalam melakukan gerak tipu pada saat menggiring bola.
Gerak tipu dapat kita kerjakan dengan mengendalikan ketepatan, kecepatan, dan
kecermatan.
2.2 Hipotesis
Untuk dapat dipakai sebagai pegangan dalam penelitian ini, maka perlu
menentukan suatu penafsiran sebelumnya tentang hipotesis yang akan dibuktikan
kebenarannya. Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar atau salah.
Hipotesis akan menolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-fakta
membenarkan (Sutrisno Hadi 1996 : 63). Sesuai dengan permasalahan dan landasan
teori yang ada maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah :
Terdapat hubungan antara kecepatan dan kelincahan terhadap ketrampilan
menggiring bola dalam sepak bola pada siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola
(LPSB) Atlas Binatama Semarang U-16 Tahun 2004.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Salah satu kegiatan yang penting dalam penelitian adalah menetapkan metode
penelitian. Banyak metode penelitian yang digunakan dalam penelitian seperti
metode observasi, metode angket, metode interview, metode tes maupun metodemetode
lainnya, sangat membutuhkan ketelitian dalam memilih metode yang
bersangkutan, sehingga akan memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
Baik buruknya suatu penelitian sebagian tergantung kepada teknik-teknik
pemgambilan datanya. Pengumpulan data dalam suatu penelitian ilmiah bermaksud
memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan reliabel. Untuk memperoleh yang
dimaksud itu suatu penelitian harus menggunakan teknik-teknik, alat-alat, prosedurprosedur
serta kegiatan-kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan serta dapat
diandalkan. Dalam penelitian ini, akan diuraikan beberapa hal tentang metodologi
penelitian yang digunakan yaitu :
3.1 Populasi
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki. Populasi
dibatasi dengan jumlah penduduk atau individu paling sedikit memiliki satu sifat
yang sama ( Sutrisno Hadi, 1996 : 220). Menurut Suharsimi Arikunto (1996: 102)
populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola (LPSB) Atlas Binatama Semarang
32
U-16, tahun 2004 yang berjumlah 26 anak. Sifat populasi, maka populasi yang
diambil dalam peneitian ini juga telah memenuhi syarat sebagai berikut : (1) Populasi
adalah siswa LPSB Atlas Binatama Semarang, (2) Populasi mendapatkan materi
latihan dari pelatih yang sama, (3) Populasi telah menguasai teknik dasar bermain
sepakbola.
3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1996 :
221). Dari pengertian tersebut yang dimaksud sampel dalam penelitian ini adalah
sebagian individu yang mempunyai sifat sama untuk diselidiki dan dapat mewakili
seluruh populasi. Sampel yang jumlahnya sebesar populasi seringkali disebut sampel
total (Winarno Surahmad 1980 : 70). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan teknik total sampling. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah siswa Lembaga Pendidikan Sepak Bola ( LPSB ) ATLAS
BINATAMA SEMARANG U-16 tahun 2004 dengan jumlah 26 siswa dari populasi
yang ada.
3.3 Variabel Penelitian
Setiap penelitian mempunyai obyek yang dijadikan sasaran dalam penelitian.
Obyek tersebut sering disebut sebagai gejala. “Gejala-gejala yang menunjukkan
variasi baik dalam jenisnya maupun tingkatannya disebut variabel”. (Sutrisno Hadi
33
1996 : 71). Variabel adalah segala yang bervariasi dan menjadi objek penelitian
(Suharsimi Arikunto, 1989 : 99). Dalam penelitian ini variabelnya terdiri dari:
1. Variabel bebas
a. Hasil tes kecepatan ( X1)
b. Hasil tes kelincahan ( X2)
2. Variabel terikat yaitu hasil tes ketrampilan menggiring bola ( Y).
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan suatu faktor penting dalam penelitian
karena hubungan dengan data yang diperoleh dalam penelitian . Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan
teknik tes .Sumardjono (1986 : 5) mengatakan bahwa survei adalah suatu koleksi,
analisa, interprestasi, dan laporan yang disusun secara sistematis dan teratur tentang
fakta-fakta penting yang berhubungan dengan aspek- aspek tertentu.
Menurut Winarno Suharmad ( 1980 : 141), survei pada umumnya merupakan
cara pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam jangka waktu
bersamaan.
Dari kedua pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan survei adalah suatu
cara pengumpulan data untuk dianalisis, ditafsirkan dan meluruskan keadaan daripada
sekelompok tertentu dalam waktu bersamaan Sedangkan tes adalah percobaan,
pengujian sesuatu untuk mengetahui mutunya, nilainya, kekuatannya, susunannya dan
sebaginya (WJS. Poerwodarminto, 1982 :1058). Alat yang digunakan untuk
34
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lari 40 yard untuk tes kecepatan. Lari
bolak-balik untuk kelincahan dan menggiring bola untuk tes ketrampilan menggiring
bola.
3.4.1 Tahap Persiapan Penelitian
Sebelum data diperoleh, terlebih dahulu mempersiapkan faktor-faktor yang
menunjang untuk memperoleh data. Sebelum mendapatkan sampel penulis
mengadakan observasi dan minta informasi dari pelatih mengenai jumlah siswa dan
fasilitas olahraga yang ada. Setelah mendapatkan informasi dan melakukan observasi
kemudian menulis konsultasi dengan Dosen Pembimbing dan minta surat pengantar
untuk ijin penelitian yang ditujukan kepada Kepala LPSB Atlas Binatama Semarang
dan diijinkan untuk mengadakan penelitian.
3.4.2 Tempat Penelitian
Tempat tes dan penelitian ini adalah di lapangan sepakbola LPSB Atlas
Binatama Semarang yang berada di Jalan Ngemplak Simongan Semarang.
3.4.3 Obyek Penelitian
Sebagai obyek penelitian adalah siswa LPSB Atlas Binatama Semarang U-16
tahun 2004.
3.4.4 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 12 Desember 2004, pukul
07.00-10.00 WIB.
3.4.5 Persiapan Alat-alat dan Perlengkapan
Alat-alat yang diperlukan dalam penelitian adalah :
35
1. stopwatch
2. meteran
3. bola tendang
4. marka atau skoon
5. peluit
6. bendera start
7. kapur penanda
8. tiang pancang
9. formulir data dan alat tulis
3.5 Pengambilan Data
Dalam penelitian ini, peneliti memerlukan tenaga pembantu yang berasal dari
rekan-rekan mahasiswa FIK UNNES Semarang. Sebelum dialaksanakan pengambilan
data terlebih dahulu diadakan pengarahan kepada siswa mengenai tata laksana
pengambilan data. Tahap pelaksanaan pengambilan data adalah sebagai berikut :
3.5.1 Pengambilan Data Untuk Tes Kecepatan (Lari 40 yard)
Tujuan : untuk mengukur kecepatan seseorang
Alat :
1. Stop watch menurut keperluan
2. Bendera start 1 buah
3. Formulir dan alat –alat tulis
4. Lintasan lurus dan rata dengan jarak 40 yard
36
Pengetes:
1. Starter 1 orang
2. Pengambil waktu menurut keperluan
3. Pengawas dan pencatat 1 orang
Pelaksanaan tes:
1. Start dilakukan dengan start berdiri
2. Pada satu ujung kakinya sedekat mungkin dengan garis start
3. Pada aba-aba “siap ‘ teste siap berlari
4. Pada aba-aba “ya” teste berlari secepat-cepatnya menempuh jarak 40 yard sampai
melewati garis finish
5. Bersamaan aba-aba “ya” stop watch dijalankan dan dihentikan pada saat testee
mencapai garis finish.
Pencatat Hasil :
1. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai untuk menempuh jarak tersebut
2. Waktu dihitung sampai sepersepuluh detik (Depdikbud, 1977, 5-6).
3.5.2 Pengambilan Data Untuk Tes kelincahan ( Tes lari bolak-balik/ shuttle Run )
Tujuan : untuk mengukur kelincahan seseorang
Alat dan perlengkapan :
1. Stop watch
2. Skoon / marka
37
3. Formulir dan alat tulis
4. Lapangan
Pelaksanaan tes :
1. Start berdiri
2. Pada aba-aba “ bersedia” testee berdiri dengan salah satu ujung kakinya sedekat
mungkin dengan garis start.
3. Pada aba-aba “ Ya” testee segera mengambil dan memindahkan balik satu demi
satu yang berada digaris start hingga selesai.
Pencatat hasil :
1. Bersamaan dengan ba-aba “ ya” stop watch dijalankan dan pada saat balok
terakhir diletakkan stop watch dimatikan
2. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh testee untuk menempuh jarak 4
x 10 m
3.5.3 Pengambilan data Untuk Tes ketrampilan menggiring bola
Tujuan : untuk mengukur kemampuan menggiring bola .
Alat dan perlengkapan :
1. Lapangan
2. 10 buah pancang ukuran 2 meter
3. stop watch
4. bola
5. tali panjang 20 meter
38
6. meteran
7. kapur
8. formulir dan alat tulis
Pelaksanaan tes
1. Aba-aba “siap” testee berdiri dibelakan garis strart dengan bola siap untuk
digiring.
2. Pada aba-aba “ya” testee mulai menggiring bola dengan membeliti setiap pancang
secara urut.
3. Kalau terjadi kesalahan, maka harus diulang dimana kesalahan terjadi.
4. Diperkenankan menggiring bola dengan salah satu kaki atau dengan kedua kaki
bergantian.
5. Pada aba-aba “ya’ stop watch dihidupkan dan diamati pada saat testee atau
bolanya yang terakhir melewati garis finish
6. Setiap testee diberi 2 kali kesempatan
Penilaian Hasil tes :
Diambil nilai tes yang tercepat dari 2 kali kesempatan menggiring bola, yang dicatat
sampai persepuluh detik.
3.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi penelitian
Dalam suatu penelitian banyak faktor yang mempengaruhi hasil penelitian.
Demikian pula halnya dengan penelitian ini faktor-faktor itu adalah :
39
3.6.1 Faktor alat
Alat yang dipergunakan dalam penelitian ini harus dipertanggungijawabkan
kebenarannya. Sedangkan alat-alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
bersumber dari peminjaman dari FIK UNNES Semarang dan dalam keadaan baru
atau sempurna, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya untuk
digunakan dalam penelitian.
3.6.2 Faktor Pengukur
Faktor pengukur sangat mempengaruhi hasil penelitian yang dilakukan, dan
untuk mengurangi masalah-masalah yang timbul dari hasil pengambilan data maka
disarankan untuk petugas pengambilan data agar teliti dalam membaca dan mencatat
hasil-hasil dari melakukan tes. Dan dalam pelaksanaan penelitian ini petugas yang
ditunjuk adalah rekan mahasiswa FIK UNNES Semarang sehingga dianggap mampu
dan mengerti dan terlatih dalam tata cara pengambilan data untuk masing-masing tes.
3.6.3 Faktor tempat
Faktor tempat kadangkala dapat mempengaruhi hasil penelitian karena dapat
mempengaruhi lancar atau tidaknya testee dalam melakukan tes. Untuk itu dipilih
lapangan yang memenuhi persyaratan.
3.6.4 Faktor Kesungguhan Hati
Faktor kesungguhan hati sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian dari
testee yang diteliti. Maka untuk mengatasi hambatan ini peneliti membuat motivasi
para testee untuk melakukan tes dengan sungguh-sungguh
40
3.7 Analisis Data
Analisa data merupakan satu langkah yang penting dalam suatu penelitian.
Data yang terkumpul tidak berarti apabila tidak diolah. Suatu kesimpulan diambil
dari hasil analisa data tersebut. Untuk menganalisa data diperlukan suatu teknik
analisa data yang sesuai dengan data yang dianalisa. Dalam suatu penelitian seorang
peneliti dapat menggunakan dua jenis analisa data yaitu analisa statistik dan analisa
non satatistik. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa
statistik . menurut Sutrisno Hadi (1996 :21), analisa statistik adalah cara-cara ilmiah
yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan menganalisa
data-data penyelidikan yang terwujud angka-angka.
Dalam mempergunakan analisis statistik ini, ada pertimbangan sebagai
berikut:
1. Dengan analisa statistik, maka objektivitas dari hasil penelitian lebih terjamin.
2. Analisa statistik dapat memberikan efisiensi dan efektifitas kerja, karena data
lebih sederhana.
3. Teknik analisa data yang dipergunakan adalah dengan teknik analisa regresi dua
prediktor.
Dalam analisis data ini terdiri dari dua tahap yaitu:
1. Uji prasyarat analisis regresi dua prediktor
Uji prasyarat analisis regresi dua prediktor meliputi uji normalitas, uji
homogenitas dan uji linieritas.
41
a. Uji normalitas data
Uji normalitas digunakan untuk menguji data yang diperoleh terdistribusi
normal atau tidak. Apabila data terdistribusi normal, maka statistik yang digunakan
untuk pengujian hipotesis digunakan statistik parametrik yaitu analisis regresi ganda
atau dua prediktor, sebaliknya apabila tidak terdistribusi normal maka digunakan
statsitik non parametrik. Dalam pengujian normalitas ini digunakan uji Liliefors atau
Kolmogorov Smirnov (Singgih Santoso, 2001: 94). Apabila diperoleh nilai
probabilitas melebihi batas kesalahan yang digunakan yaitu α = 0.05, maka dapat
disimpulkan bahwa data berdistribusi normal (Singgih Santoso, 2001: 97)
b. Uji Linieritas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas
dnegan variabel terikat bersifat linier atau tidak. Dalam pengujian ini digunakan
regresi tunggal. Apabila diperoleh nilai F hitung dengan probabilitas kurang dari α =
0.05, dapat disimpulkan bahwa hubungannya bersifat linier.
2. Analisis Regresi Dua Prediktor
Dalam analisis regresi dua prediktor ada beberapa tahap analisis yaitu:
a. Menentukan persamaan regresi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan variabel-variabel (X)
terhadap variabel-variabel dependen (Y). Adapun persamaan yang digunakan model
matematis probabilistik atau probabilistic mathematical mode (Algifari,1997) adalah:
Y= a + b1X1 + b2X2
42
Dimana :
Y = Penafsiran variabel dependen ( menggirng bola)
X1 = Variabel independen 1 (kecepatan )
X2 = Variabel independen 2 (kelincahan )
a = Nilai konstanta
b1 = Koefisien regresi varibel independen 1
b2 = Koefisien regresi varibel independen 2
b. Uji parsial
Uji parsial digunakan t-test merupakan pengujian koefisien regresi parsial
yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen kecepatan dan
kelincahan secara individual mempunyai hubungan dengan variabel dependen (Y)
yaitu menggiring bola. Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut.
1) Perumusan hipotesis
Ho : bi = 0, dengan i = 1, 2, berarti tidak ada pengaruh masing-masing variabel
bebas terhadap variabel terikat.
Ha : bi > 0, dengan i = 1, 2, berarti ada pengaruh masing-masing variabel bebas
terhadap variabel terikat.
2) Penentuan nilai kritis
Tingkat signifikansi (α) = 5%
Degree of fredom (df) = n – k –1
Dimana
n : jumlah sampel
k : Jumlah variabel dependent
43
3) Kriteria pengujian
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus.
1 2
1
R
t r n k

− −
=
Ketentuan yang berlaku dalam uji t ini adalah :
Apabila t-test ≥ t-tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak atau apabila probabilitas
(ρ value) < 0.05.
c. Uji Simultan (Uji F)
Uji simultan ini digunakan untuk menguji pengaruh varibel bebas terhadap
variabel terikat secara bersama-sama (simultan) dengan tingkat signifikansi yang
digunakan sebesar α = 5% dan df (k: n-k-1). Langkah-langkah pengujiannya adalah
sebagai berikut.
1) Perumusan hipotesis
Ho : b1 = b2 = 0, tidak ada pengaruh secara bersama-sama variabel bebas
terhadap variabel terikat.
Ha : b1 = b2 > 0 ada pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap
variabel terikat
2) Penentuan nilai kritis
Tingkat signifikansi (α) = 5%
Degree of fredom (df) = k : n – k –1
Dimana
n : jumlah sampel
k : Jumlah variabel dependent
44
3) Kriteria pengujian
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus.
(1 ) /( 1)
/
2
2
− − −
=
R n k
F R k
Ketentuan yang berlaku dalam uji F ini adalah :
Apabila Freg ≥ F-tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak atau apabila
probabilitas (ρ value) < 0.05.
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskriptif Data Hasil Penelitian
Hasil pengukuran kecepatan, kelincahan dan menggiring bola dapat dilihat
dari hasil pengukuran menggunakan satuan detik seperti pada lampiran 1. Semakin
tinggi waktu yang dibutuhkan maka kecepatan, kelincahan dan menggiring bola dari
pemain sepak bola tersebut semakin kurang baik. Tabel 1 berikut memperlihatkan
rata-rata hasil pengukuran dari ketiga pengukuran tersebut.
Tabel 1.
Deskriptif Data Hasil Pengukuran Kecepatan, Kelincahan dan Menggiring Bola
26 26 26
5.16 9.47 17.77
7.21 12.37 27.46
5.8615 10.9473 22.5631
.5215 .7238 2.6758
.272 .524 7.160
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
Variance
Kecepatan Kelincahan Menggiring bola
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata kecepatan pemain sepak
bola LPSB Atlas Binatama Semarang 5.86 detik, waktu tempuh yang paling sedikit
5.16 detik, sedangkan waktu terbesar 7.21 detik. Dari hasil tes kelincahan diperoleh
rata-rata sebesar 10.95 detik, dengan waktu terbesar 12.37 detik dan terendah 9.47
detik. Hasil tes menggiring bola diperoleh rata-rata 22.56 detik dengan waktu
tertinggi 27.46 dan terendah 17.77 detik.
46
Untuk mengetahui lebih lanjut ada tidaknya hubungan kecepatan, kelincahan
dengan menggiring bola dapat dilihat dari hasil analisis regresi ganda. Pada penelitian
ini analisis regresi dihitung menggunakan program komputer yaitu SPSS release 10,
yang sebelumnya diuji kenormalan dan kelinieran garis regresi.
4.2 Hasil Uji Prasyarat
4.2.1 Uji Kenormalan
Uji kenormalan data merupakan salah satu statistik yang digunakan untuk
menguji data yang diperoleh dari hasil penelitian terdistribusi normal atau tidak.
Apabila berditribusi normal, maka untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dapat
digunakan statistik parametrik (dalam hal ini adalah analisis regresi). Berkaitan
dengan pengujian kenormalan data ini digunakan uji Liliefors atau Kolmogorov
Smirnov, apabila diperoleh probabilitas lebih besar dari taraf kesalahan yang
digunakan, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Hasil uji
normalitas data dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 4.2
Hasil Uji Normalitas Data
Variabel Lo Probabilitas Kriteria
Kecepatan 0.165 0.068 > 0.05 Normal
Kelincahan 0.123 0.200 > 0.05 Normal
Menggiring bola 0.105 0.200 > 0.05 Normal
Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa probabilitas dari hasil uji normalitas
lebih besar dari 0.05, yang berarti bahwa data berdistribusi normal.
47
4.2.2 Uji Kelinieran
Untuk menguji kelinieran garis regresi antara kecepatan dengan menggiring
bola dan kelincahan dengan menggiring bola dapat dilihat dari hasil uji F seperti pada
tabel 4.4. Dari hasil analisis ini apabila diperoleh nilai F dengan probabilitas kurang
dari taraf kesalahan (0.05) dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang linier antara
kecepatan dengan menggiring bola dan kelincahan dengan menggiring bola.
Tabel 4
Hasil Uji Kelinieran
Hubungan F Probabilitas Kriteria
Kecepatan dengan menggiring bola 14.859 0.001 < 0.05 Linier
Kelincahan dengan menggiring bola 8.538 0.007 < 0.05 Linier
4.3 Hasil Uji Hipotesis
4.3.1 Persamaan Regresi
Model persamaan regresi untuk menyatakan hubungan antara kecepatan dan
kelincahan dengan menggiring bola pada siswa LPSB Atlas Binatama Semarang
dapat dilihat dari hasil output SPSS berikut.
Tabel 5.
Persamaan Regresi
-10.540 2.789 1.531
6.545 .731 .527
.544 .414
-1.611 3.814 2.905
.121 .001 .008
.618 .512
.622 .518
.535 .407
B
Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients Beta
t
Sig.
Zero-order
Partial
Part
Correlations
(Constant) Kecepatan Kelincahan
1
Model
48
Berdasarkan hasil analisis regresi tersebut diperoleh koefisien regresi untuk
variabel kecepatan sebesar 2.789, variabel untuk kelincahan sebesar 1.531 dan
konstanta sebesar –10.540. Terlihat pula bahwa koefisien-koefisien regresi tersebut
diuji keberartiannya menggunakan uji t dan diperoleh thitung untuk variabel kecapatan
(X1) sebesar 3.814 dengan probabilitas 0.001 < α = 0.05, yang berarti bahwa variabel
tersebut signfikan. Hal ini berarti bahwa kecapatan mempunyai hubungan dengan
menggiring bola. Dengan kata lain, siswa yang mempunyai kecepatan yang lambat
atau waktu yang besar dalam lari akan diikuti pula tingginya waktu dalam menggiring
bola, sebaliknya dengan kecepatan yang tinggi akan dikuti sedikitnya waktu dalam
menggiring bola. Hasil uji keberartian variabel kelincahan, diperoleh thitung sebesar
2.905 dengan probabilitas 0.008 < α = 0.05, yang berarti variabel tersebut signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang berarti antara kelincahan dengan
mengging bola. Secara umum hubungan variabel-variabel tersebut dapat dinyatakan
dengan persamaan regresi yaitu:
^Y
= 2.789X1 + 1.531X2 –10.540.
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi peningkatan 1 detik
pada hasil pengukuran kecepatan akan dikuti peningkatan waktu dalam menggiring
bola 2.789 detik dan setiap terjadi peningkatan waktu 1 detik pada hasil pengukuran
kelincahan akan diikuti peningkatan waktu dalam menggiring bola sebesar 1.531
detik. Secara bersama-sama apabila seorang pemain mengalami peningkatan 1 detik
hasil pengukuran kecepatan dan kelincahan akan diikuti peningkatan waktu
menggiring bola sebesar 2.789 + 1.531 = 4.320 detik.
49
4.3.2 Besarnya Hubungan Secara Parsial
Besarnya hubungan antara kecepatan dengan menggiring bola dan kelincahan
dengan menggiring bola dapat dilihat dari koefisien korelasi parsial, seperti pada
tabel 4.5. Tampak bahwa koefisien korelasi parsial antara kecepatan dengan
menggiring bola sebesar 0.622 sedangkan antara kelincahan dengan menggiring bola
sebesar 0.518. Tampak bahwa hubungan antara kecapatan dengan hasil menggiring
bola lebih tinggi daripada antara kelincahan dengan hasil menggiring bola.
4.3.3 Uji Simultan
Secara simultan, hubungan kecepatan dan kelincahan dengan menggiring bola
dapat dilihat dari hasil uji anava untuk regresi.
Tabel 6.
Uji Simultan
ANOVAb
98.120 2 49.060 13.953 .000a
80.871 23 3.516
178.991 25
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df
Mean
Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Kelincahan, Kecepatan
b. Dependent Variable: Menggiring bola
Berdasarkan hasil uji anava tersebut, diperoleh F hitung sebesar 13.953
dengan probabilitas 0.000 < α = 0.05, yang berarti signifikan. Hal ini berarti bahwa
secara simultan kecepatan dan kelincahan mempunyai hubungan dengan menggiring
bola pada permainan sepak bola bagi siswa LPSB Atlas Binatama Semarang, dan
50
secara parsial menunjukkan bahwa kecepatan memupunyai hubungan yang lebih
besar daripada kelincahan.
4.3.4 Koefisien Korelasi dan Determinasi Ganda
Hubungan antara kecepatan dan kelincahan dengan menggiring bola dapat
dilihat dari koefisien korelasi ganda, seperti pada hasil output SPSS berikut.
Tabel 7.
Koefisien Korelasi dan Determinasi Ganda
Model Summary
.740a .548 .509 1.8751
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), Kelincahan, Kecepatan
Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa besar hubungannya 0.740,
sedangkan besar sumbangan kecepatan dan kelincahan terhadap hasil menggiring
bola dapat dilihat dari nilai R square yaitu sebesar 0.548 atau 54.8%. Hal ini berarti
bahwa hasil menggiring bola dipengaruhi oleh kecepatan dan kelincahan sebesar
54.8%, sisanya 55.2% dari faktor lain di luar penelitian ini seperti teknik menggiring
bola dan kelenturan kaki.
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara kecepatan dengan hasil menggiring bola pada permainan sepak bola.
Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis regresi secara parsial yang diperoleh koefisien
untuk kecepatan sebesar 2.789 yang diuji keberartiannya menggunakan uji t
diperoleh thitung 3.814 dengan probabilitas 0.001 < α = 0.05, yang berarti signifikan.
51
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecepatan mempengaruhi hasil
menggiring bola. Semakin besar kecepatan seseorang, maka hasil menggiring bola
akan semakin cepat, sebaliknya semakin lambata kecepatannya, maka hasil
menggiring bola semakin lambat pula. Kecepatan merupakan salah satu faktor
penting yang mempengaruhi gerak. Kecepatan merupakan unsur keampuan gerak
yang harus dimiliki seorang pemain sepakbola sebab dengan kecepatan yang tinggi,
pemain yang menggiring bola dapat menerobos dan melemahkan daerah pertahanan
lawan. Kecepatan didukung dengan tenaga eksplosif berguna untuk fastbreak, dribble
dan passing. Kecepatan bukan hanya berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan
cepat, akan tetapi dapat pula terbatas pada menggerakkan seluruh tubuh dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan anggota tubuh seperti tungkai adalah penting
pula guna memberikan akselerasi obyek-obyek eksternal dalam menggiring bola.
Kecepatan melibatkan koordinasi otot-otot besar pada tubuh dengan cepat dan tepat
dalam suatu aktifitas tertentu. Kecepatan dapat dilihat dari sejumlah besar kegiatan
dalam olahraga meliputi kerja kaki (footwork) yang efisien dan perubahan posisi
tubuh dengan cepat. Seseorang yang mampu bergerak dengan koordinasi seperti
tersebut di atas yang cepat dan tepat berarti memiliki kecepatan yang baik yang
berpengaruh terhadap hasil menggiring bola.
Pada variabel kelincahan diperoleh koefisien regresi sebesar 1.531 yang diuji
keberartiannya menggunakan uji t dan diperoleh thitung 2.905 dengan probabilitas
0.008 < α = 0.05, yang berarti signifikan. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa
dengan bertambahnya kelincahan pemain sepak bola, maka akan diikuti kecepatan
dalam menggiring bola. Kelincahan merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi gerak. Kelincahan merupakan unsur kemampuan gerak yang harus
52
dimiliki seorang pemain sepakbola sebab dengan kelincahan yang tinggi pemain
dapat menghemat tenaga dalam suatu permainan. Kelincahan juga diperlukan dalam
membebaskan diri dari kawalan lawan dengan menggiring bola melewati lawan
dengan menyerang untuk menciptakan suatu gol yang akan membawa pada
kemenangan. Seorang pemain yang kurang lincah dalam melakukan suatu gerakan
akan sulit untuk menghindari sentuhan-sentuhan perseorangan yang dapat
mengakibatkan kesalahan perseorangan.
Kelincahan melibatkan koordinasi otot-otot besar pada tubuh dengan cepat
dan tepat dalam suatu aktifitas tertentu. Kelincahan dapat dilihat dari sejumlah besar
kegiatan dalam olahraga meliputi kerja kaki (footwork) yang efisien dan perubahan
posisi tubuh dengan cepat. Seseorang yang mampu merubah posisi yang berbeda
dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup
baik.
Individu yang mampu merubah posisi yang satu ke posisi yang lain dengan
koordinasi dan kecepatan yang tinggi memiliki kesegaran yang baik dalam komponen
kelincahan. Dalam beberapa hal, kelincahan menyatu dengan tenaga daya tahan.
Kelincahan diperlukan sekali dalam melakukan gerak tipu pada saat menggiring bola.
Gerak tipu dapat kita kerjakan dengan mengendalikan ketepatan, kecepatan, dan
kecermatan.
53
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan hasil penelitian dapat diambil beberapa
simpulan antara lain:
1. Hasil analisis koefisien korelasi parsial untuk kecepatan sebesar 0.622 dengan
probabilitas 0.001 < 0.05, yang berarti hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan
ada hubungan secara signifikan antara kecepatan dengan menggiring bola pada
permainan sepak bola oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang. Hal ini berarti
bahwa dengan bertambahnya kecepatan akan diiikuti pula ketrampilan dalam
menggiring bola.
2. Hasil analisis koefisien korelasi parsial untuk kelincahan sebesar 0.518 dengan
probabilitas 0.008 < 0.05, yang berarti hipotesis diterima, dengan demikian
kelincahan berhubungan secara signifikan dengan hasil menggiring bola pada
permainan sepakbola oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang. Hal ini berarti
bahwa semakin tinggi kelincahan seseorang akan diikuti naiknya ketrampilan
dalam menggiring bola.
3. Hasil analisis korelasi ganda sebesar 0.740 yang diuji keberartiannya
menggunakan uji F diperoleh Fhitung sebesar 13.953 dengan probabilitas 0.000 <
53
54
0.05, yang berarti hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara kecepatan dan kelincahan dengan hasil menggiring bola
pada permainan sepak bola oleh siswa LPSB Atlas Binatama Semarang.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti mengajukan saran-saran sebagai
berikut :
1. Dalam penyusunan program latihan fisik untuk menggiring bola dalam sepakbola,
hendaknya seorang pelatih memprioritaskan kecepatan dan kelincahan.
2. Bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan istrumen tes
yang lebih tepat.
3. Agar melakukan penelitian yang sejenis untuk mengkaji lebih lanjut faktor-faktor
lain yang termasuk dalam penelitian ini.
55
DAFTAR PUSTAKA
Algifari. 2000. Analisis Regresi. Yogyakarta. BPFE.
A. Sarumpaet. 1992. Permainan Besar. Padang : Depdikbud
Baley, James A. 1986. Pedoman Atlet Teknik Peningkatan Ketangkasan dan Stamina.
Semarang : Bahasa Prise
Bompa, Tudor O. 1983. Theory and Methodology of Training. Dubuge : Kendall/
Hunt Publishing Company
Csanadi Arpad. 1972. Soccer. Budapest : Corvina press
Dangsina Moeloek dan Arjadino Tjokro. 1984. Kesehatan dan Olahraga. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Depdikbud. 1977. Pembinaan Kesegaran Jasmani dengan Tes A.C.S.P.F.T Untuk
Siswa SLTA Putra. Jakarta : Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi
Engkos Kosasih. 1985. Olahraga Teknik dan Program Latihan. Jakarta: Akademika
Presindo.
Harsono. 1988. Coaching dan Aspek-aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta : PT.
Dirjen Dikti P2LPT
Hocke dan Nasution. 1956. Olahraga dan Prestasi. Bandung : Penerbit Ternate
Hughes charles. 1980. Soccer Tactics and Skill. London:British Broadcasting
Coporation
Jonath.U.E. Haag dan R. Krembel. 1984. Atletik II. Jakarta : PT. Rosda Jayaputra
Lutan, Rusli. 1988. Belajar Ketrampilan Motorik Pengatar Teori dan Metode. Jakarta
: P2LPTK Dirjen Dikti Depdikbud
M. Sajoto. 1995. Pembinaan Kondisi Fisik Olahraga. Jakarta : Depdikbud Dirjen
Dikti PPLPTK
Nossek Jossef. 1982. General Theory of Training. Lagos : Pan African Press ltd
56
Saifudin. 1999. Ketrampilan Bermain Sepakbola. Jurnal IPTEK Olahraga. Volume 3
no 1. Januari 2001. Halaman 1-11.
Sardjono. 1981. Pengaruh Latihan Kondisi Fisik Terhadap Kecakapan Bermain
Sepakbola
Singer, Robert N. 1982. Motor Learning and Human Performance. New York : Mc
Millan Publishing Company
Singgih Santoso. 2001. Buku Latihan SPSS Statistik Non Parametrik. Jakarta : PT.
Elex Media Komputindo
Soejono. 1985. Sepakbola: Taktik dan Kerjasama. Yogyakarta: PT. Badan Penerbit
Kedaulatan Rakyat.
Suharno HP.1985. Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta
________.1978. Ilmu Coaching Umum. Yogyakarta :Yayasan STO
Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
PT. Rineka Cipta
Sukatamsi. 1988. Teknik Dasar Bermain Sepakbola. Surabaya :Tiga Serangkai
Sumardjono. 1986. Alat-alat dan Pengukuran. Semarang :IKIP Semarang
Sutrisno Hadi. 1996. Metodologi Research Jilid I. Yogyakarta :Yayasan Fakultas
UGM
W.J.S Poerwadarminta . 1982. Kamus Ilmu Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud
Winarno Surahmad. 1980. Metodologi Penelitian. Bandung : Badan Penerbit IKIP
Bandung

Kategori:Uncategorized

Hubungan Antara Kecepatan Reaksi Dan Daya Ledak Otot Tungkai Terhadap Ketepatan Smash Kedeng Pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta
Oleh :
Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, Drs. Nur Ali, M.Pd. dan
Andriyanto
ABSTRAK
Penelitian ini diajukan untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai dengan ketepatan smash kedeng, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Penelitian ini dilakukan di Universitas negeri Jakarta. Pada tanggal 3 Juli 2006 hari Senin di Hall A Fakultas Ilmu Keolahragaan pada jam 14.00 sampai selesai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey korelasi, sampel yang digunakan yaitu mahasiswa sepaktakraw sebanyak 30 orang dari 34 orang, pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purpove random sampling.
Tes kecepatan reaksi (X1) diukur dengan menggunakan layar reaction timer senoh dengan satuan detik. Tes daya ledak otot tungkai (X2) diukur dengan menggunakan alat ukur vertikal jump. Tes ketepatan smash kedeng (Y) diukur dengan tes smash sepaktakraw.
Teknik pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis statistika korelasi sederhana dan korelasi ganda yang dilanjutkan dengan uji-t pada taraf signifikansi α = 0,05.
Hasil penelitian menunjukan : pertama, terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi terhadap ketepatan smash kedeng, dengan persamaan garis regresi linear Ŷ = 28,26 + 0,43 X1 , koefisien korelasi (ry1 ) = 0,44 dan koefisien determinasi (ry12) = 0,1936, yang berarti variabel kecepatan reaksi memberikan sumbangan terhadap ketepatan smash kedeng otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng, dengan persamaan garis regresi linear Ŷ = 28,59 + 0,43 X2, koefisien korelasi ry2 = 0,43 dan koefisien determinasi (ry22) = 0,1849, yang berarti variabel daya ledak otot tungkai memberikan sumbangan terhadap ketepatan smash kedeng sebesar 18,49%. Ketiga, terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai secara bersama-sama dengan ketepatan smash kedeng, dengan persamaan garis regresi linear ganda Ŷ = 21 + 0,30 X1 + 0,28 X2 koefisien korelasi ganda (Ry 1-2) = 0,5 dan koefisien determinasi (RY 1-22) = 0,25 yang berarti bahwa variabel kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai secara bersama-sama memberikan sumbangan terhadap ketepatan smash kedeng sebesar 25%
A. Latar Belakang Masalah
Sepaktakraw merupakan cabang olahraga permainan asli dari Asia. Permainan ini dilakukan oleh dua regu yang berlawanan, setiap regu terdiri dari tiga orang pemain, yang dipisahkan oleh sebuah net yang memiliki ukuran dan ketinggian sama dengan bulu tangkis, yaitu 1,44 m. Permainan ini dimulai dengan melakukan servis, yang dilakukan oleh tekong ke daerah lapangan lawan. Kemudian pemain regu lawan mencoba memainkan bola dengan menggunakan kaki dan kepala dan anggota badan selain tangan, sebanyak tiga kali sentuhan.
Sebagai olahraga cabang beregu, sepaktakraw dimainkan di atas lapangan empat persegi panjang dengan permukaan yang rata baik ditempat terbuka (outdoor) maupun di ruangan tertutup (indoor), yang bebas dari rintangan. Sepaktakraw dimainkan oleh dua regu, yang pada tiap regu terdiri dari tiga orang pemain, yaitu tekong, apit kiri dan apit kanan dengan seorang pemain cadangan. Sepaktakraw sebagai cabang olahraga beregu, maka kemenangan satu regu ditentukan oleh banyak faktor, dua faktor diantaranya adalah : (1) penguasaan teknik bermain sepaktakraw secara individual dan (2) kerjasama tim (team work) yang baik antara pemain dalam sebuah tim atau regu. Makin sempurna penguasaan teknik setiap pemain dan kerjasama tiap regu, maka kualitas permainan akan makin baik.
Seorang atlet akan mampu mengembangkan potensinya secara optimal apabila memenuhi faktor-faktor sebagai berikut; karakteristik fisik, merupakan komponen penting yang harus disajikan sebagai penunjang penampilan (kapasitas fisik), penguasaan teknik secara benar yang diperlukan cabang olahraga tertentu dapat dikembangkan (biomekanik), tingkat kebugaran secara spesifik untuk aktivitas olahraga tertentu harus dicapai (kapasitas fisiologi), faktor-faktor psikologis yang memungkinkan atlet berhasil dalam suatu kompetisi perlu dikembangkan dan dipertahankan (menaikkan kondisi psikologis), etika kerja termasuk sikap yang tepat dalam latihan harus disajikan dan kesempatan untuk berkompetisi dengan atlet lain yang setara atau tingkat yang lebih tinggi harus tersedia.
Dalam kaitannya dengan permainan sepaktakraw, teknik dasar bermain sepaktakraw meliputi teknik : (1) servis yang dilakukan oleh tekong, (2) menimang, (3) smash, (4) heading dan (5) block. Berkaitan dengan sentuhan bola dengan anggota badan, sepakan yang harus dikuasai oleh pemain sepaktakraw meliputi : sepakan; sepak sila, sepak kuda, sepak cungkil, sepak menapa dengan telapak kaki, sepak badek atau sepak samping dan dengan punggung kaki, menggunakan kepala bagian depan (dahi), bagian samping dan bagian belakang, menggunakan dada, menggunakan paha dan menggunakan bahu.
Penguasaan keterampilan sepaktakraw diperlukan, agar pemainan dapat berjalan dengan baik, keterampilan tersebut dapat berupa keterampilan individual dan keterampilan penguasaan pertandingan, keterampilan individual meliputi : sepak sila, sepak kuda, sepak badek, menggunakan paha dan menyundul bola, sedangkan keterampilan penguasaan pertandingan meliputi : servis (sepak mula) menerima bola atau servis pertama, memberikan umpan atau hantaran, melakukan smash dan block.
Smash dalam sepaktakraw dibagi menjadi dua, yaitu : smash gulung dan smash kedeng. Smash atau rejam (istilah Malaysia) adalah gerak kerja yang terpenting dan merupakan gerak akhir dari gerak kerja serangan yang penting untuk mendapatkan point atau angka bagi regu yang melakukannya. Kesalahan atau kegagalan dalam melakukan smash berarti bukan hilangnya kesempatan untuk regu itu untuk mendapatkan angka tetapi juga menambah angka bagi lawan. Disini jelaslah bahwa kedua apit itu perlu mempunyai kemampuan yang
baik tentang smash sehingga dapat mencari sasaran yang lemah dan sulit untuk diterima atau dikontrol oleh lawan.
Seperti telah dijelaskan terdahulu, bahwa peranan smash sangat penting dan memiliki kesulitan tersendiri serta terbukanya kesempatan untuk memperoleh angka, maka diharapkan kedua apit itu mampu melakukan smash dengan cepat dan tepat, dimana dibutuhkan pula kecepatan mereaksi (sejauh mana jangkauan kakinya terhadap bola yang dilambungkan di udara) yang baik ketika bola datang.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti memandang perlu untuk mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai dengan ketepatan smash kedeng pada mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di pedahuluan, dapat di identifikasikan beberapa masalah sebagai berikut
1. Apakah terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dengan kemampuan smash kedeng ?
2. Apakah terdapat hubungan yang berarti antara daya ledak otot tungkai dengan kemampuan smash kedeng ?
3. Apakah terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai secara bersama-sama dengan kemampuan ketepatan smash kedeng ?
4. Manakah diantara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap ketepatan smash kedeng.
5. Apakah jika salah satu unsur kondisi fisik tidak baik akan mempengaruhi dalam melakukan smash kedeng pada permainan sepak takraw.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari agar tidak meluasnya pembahasan, maka penelitian ini dibatasi dengan pada : “Hubungan antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng pada mahasiswa kop sepak takraw Universitas Negeri Jakarta”.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka permasalahan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah terdapat hubungan antara kecepatan reaksi terhadap ketepatan smash kedeng pada mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta ?
2. Apakah terdapat hubungan antara daya ledak otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng pada mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta ?
3. Apakah terdapat hubungan antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai dengan ketepatan smash kedeng pada mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta ?
E. Kegunaan Penelitian
Melalui penelitian ini, peneliti mengharapkan manfaat yang akan diperoleh diantaranya :
1. Menambah wawasan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, khususnya dan masyarakat pencinta sepak takraw pada umumnya, guna meningkatkan pengetahuan dalam rangka mengembangkan potensi dan kemampuan melatih disekolah maupun di klub-klub dimasa mendatang.
2. Memberikan masukan bagi pelatih, dalam hal ini adalah penyusunan metode latihan guna peningkatan kemampuan smash, khususnya yang mengarah kepada taktik dan strategi bertanding.
A. Kerangka Teoritis
1. Hakikat Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi berasal dari kata “kecepatan” dan “reaksi”. Kecepatan merupakan sejumlah gerakan per waktu1. Reaksi berarti kegiatan (aksi) yang timbul karena satu perintah atau suatu peristiwa2. Dari penjabaran tersebut, maka kecepatan reaksi adalah gerakan yang dilakukan tubuh untuk menjawab secepat mungkin sesaat setelah mendapat suatu respons atau peristiwa dalam satuan waktu.
Dalam banyak cabang olahraga, kecepatan merupakan komponen fisik yang sangat penting. Kecepatan menjadi faktor penentu di cabang-cabang olahraga, kecepatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam suatu pertandingan. Dalam olahraga sepaktakraw, kecepatan adalah hal yang mutlak diperlukan terutama dalam melakukan servis, smash dan block, seperti yang dikemukakan oleh Frank W. Dick, kecepatan dalam teori kepelatihan berarti kemampuan menggerakkan anggota badan, kaki atau lengan atau bagian statis pengumpil tubuh bahkan keseluruhan tubuh dengan kecepatan terbesar yang mampu dilakukan3.
Dalam aktivitas gerakan sepaktakraw seperti smash kedeng, kecepatan tendangan merupakan hal yang sangat diperlukan agar dengan segera bola yang ditendang mengarah ke daerah tersulit pertahanan lawan. Kecepatan menurut Harsono, ialah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-
1 M. Muslim, Tes dan Pengukuran dalam Olahraga, (Yogyakarta, STO Yogyakarta, 1986), h. 7
2 W.J.S. Poerwandarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1991), h. 721
3 Frank W. Dick, Sport Training Principles, (London : A and C Black Publisher, 1989), h. 191.
singkatnya4. Secara kinesiologis, Dadang M. Mengemukakan bahwa kecepatan sebagai perubahan posisi benda pada arahnya dalam satu satuan waktu5. Menurut M. Sajoto, kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya6.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa kecepatan adalah kemampuan untuk memindahkan atau merubah posisi tubuh atau anggota tubuh dalam menempuh suatu jarak tertentu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan satuan waktu. Agar seseorang bereaksi dengan cepat, kecepatan harus dirangsang gerak secepat mungkin.
Kecepatan reaksi dikemukakan oleh Claude Bouchard yang dalam terjemahan oleh Moeh. Soebroto bahwa : kecepatan reaksi adalah kualitas yang memungkinkan memulai suatu jawaban kinetis secepat mungkin setelah menerima suatu rangsang7. Kecepatan reaksi merupakan kualitas yang sangat spesifik yang terlihat melalui berbagai jalan keanekaragaman manifestasi tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 tingkatan :
1. Pada tingkat rangsang, dalam suatu persepsi tanda bersifat penglihatan, pendengaran dan perubahan.
2. Pada tingkat pengambilan keputusan, kerap kali perlu dipilih perpektif dalam kepenuhan aneka ragam tanda agar hanya mereaksi pada rangsang yang tepat.
3. Pada tingkat pengorganisasian reaksi kinetis, diskriminasi atau pilihan perpektif biasanya disertai perlunya penetapan pilihan diantara berbagai respons kinetis yang dibuat setelah itu.
Hal yang sama dikemukakan oleh Suharno H.P bahwa faktor-faktor penentu khusus kecepatan reaksi yaitu : tergantung iritabilita dari susunan syaraf, daya orientasi situasi yang dihadapi oleh atlet, ketajaman panca indera dalam menerima rangsangan, kecepatan gerak dan daya ledak otot8.
Kecepatan reaksi atau daya reaksi adalah kemampuan merespons sesaat setelah stimulus yang diterima syaraf yang berupa bunyi atau tanda lampu menyala.
Beberapa prinsip yang perlu ditaati dalam usaha meningkatkan pengembangan kecepatan reaksi yaitu meningkatkan pengenalan terhadap situasi persepsi khusus dan mengotomatisasikan semaksimal mungkin jawaban motoris yang perlu dibuat atau sikap kinetis yang perlu dipilih dalam situasi nyata. Oleh karena itu sangat perlu adanya metode latihan
4 Harsono. Coaching dan aspek-aspek psikologi dalam coaching (Jakarta: P2LPTK Ditjen Dikti Depdikbud, 1988) h. 126
5 Dadang M., Kinesiologi, (Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1987), h. 10
6 M. Sajoto, Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga, (Jakarta : Depdikbud, 1988) h. 9
7 Claude Bouchard et.al., Masalah-masalah dalam Kedokteran Olahraga, Latihan Olahraga dan Coaching, terjemahan Drs. Moeh. Soebroto (Jakarta : Ditjen dikluspora Depdikbud RI, 1977-1978) h. 39
8 Suharno H.P., Metode Penelitian (Jakarta : KONI Pusat, 1993) h. 33
yang mengkondisikan atlet pada situasi pertandingan yang sesungguhnya, di mana atlet dituntut melakukan gerakan secepat-cepatnya dalam waktu yang singkat.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kecepatan reaksi adalah kemampuan individu dalam melakukan gerakan dari mulai adanya stimulus hingga berakhirnya respons dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Maka, kedua apit itu dituntut untuk memiliki kecepatan reaksi yang baik dalam melakukan smash kedeng agar lawan tidak sempat mengantisipasi ke mana bola akan diarahkan. Dengan memiliki kecepatan teknik yang baik didukung dengan kecepatan reaksi yang tinggi akan mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan smash kedeng dengan bagian luar samping kanan.
2. Hakikat Daya Ledak Otot Tungkai
Kekuatan kerja fisik dalam olahraga prestasi merupakan komponen yang sangat penting, demikian halnya dengan sepaktakraw. Kondisi fisik yang baik merupakan salah satu unsur pendukung dalam pencapaian prestasi yang optimal, oleh karenanya peningkatan maupun pemeliharaanya merupakan dua aspek yang penting yang dilakukan secara continue dan berkesinambungan meskipun dilakukan dengan sistem prioritas sesuai dengan kekhususan masing-masing cabang olahraga. Kekuatan kondisi fisik merupakan modal utama dalam pencapaian prestasi olahraga, Sajoto mengungkapkan unsur kondisi fisik dalam olahraga yaitu : (1) kekuatan, (2) daya tahan, (3) daya ledak, (4) kecepatan, (5) kelenturan, (6) kelincahan, (7) koordinasi, (8) keseimbangan (9) ketepatan dan (10) reaksi9.
Salah satu unsur kondisi fisik yang memiliki peranan penting dalam kegiatan olahraga, baik sebagai unsur pendukung dalam suatu gerak tertentu maupun unsur utama dalam upaya pencapaian teknik gerak yang sempurna adalah daya ledak. Daya ledak atau sering disebut dengan istilah muscular power adalah kekuatan untuk mempergunakan kekuatan maksimal yang digunakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya10.
Menurut Harsono daya ledak adalah kekuatan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat11. Sedangkan Don R. Kirkendall mengemukakan bahwa daya ledak adalah hasil usaha dalam satuan unit waktu yang disebabkan ketika kontraksi otot memindahkan benda pada ruang atau jarak tertentu12. 9 M. Sajoto, Op. Cit, h. 16.
10 M. Sajoto, Op. Cit., h. 58
11 Harsono, Loc. Cit, (Jakarta : P2LPTK, 1980), h. 200. 12 Don R. Kirkendall, Measurement and Evaluation for Physical Education diterjemahkan oleh ME. Winarno, dkk. (Jakarta : ASWIN, 1997), h. 240.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh M. Soebroto bahwa tenaga ledak otot (power) adalah kualitas yang memungkinkan otot atau sekelompok otot untuk menghasilkan kerja fisik secara eksplosive13.
Berdasarkan pendapat di atas menyebutkan dua unsur penting dalam daya ledak yaitu : (a) kekuatan otot dan (b) kecepatan, dalam mengerahkan tenaga maksimal untuk mengatasi tahanan. Seperti yang diungkapkan Harsono bahwa dalam power atau daya ledak, selain unsur kekuatan terdapat unsur kecepatan14. Pendapat lain yang menguatkan pendapat di atas adalah pendapat Sajoto yang mengatakan daya ledak atau power adalah suatu kekuatan yang dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan15.
Dengan demikian, jelas daya ledak merupakan satu komponen kondisi fisik yang dapat menentukan hasil prestasi seseorang dalam keterampilan gerak.
Sedangkan besar kecilnya daya ledak dipengaruhi oleh otot yang melekat dan membungkus tungkai tersebut. Tungkai adalah bagian bawah tubuh manusia yang berfungsi untuk menggerakkan tubuh, seperti berjalan, berlari dan melompat. Terjadinya gerakan pada tungkai tersebut disebabkan adanya otot-otot dan tulang, otot sebagai alat gerak aktif dan tulang alat gerak pasif.
Dasar (basic) untuk pembentukan daya ledak (power) adalah kekuatan. Menurut Russel R. Pace, mengatakan kekuatan sebagai tenaga yang dikerahkan sekelompok otot pada usaha tunggal yang maksimal16. Dengan demikian, jelaslah bahwa kekuatan menggabungkan kekuatan otot untuk mengatasi beban atau tahanan. Woeryanto menjelaskan tentang kekuatan sebagai berikut :
Kekuatan adalah kekuatan atau potensi otot untuk menghasilkan suatu tensi yang dinamis yaitu gerakan terhadap tahanan (resistant) atau menjadi suatu beban yang statis yaitu menghasilkan suatu tensi tanpa gerakan juga kekuatan otot dapat dideskripsikan sebagai potensi dari otot yang mampu untuk melakukan kontraksi yang maksimal17.
Kekuatan otot tungkai merupakan salah satu unsur membentuk daya ledak otot tungkai, dalam peningkatan kekuatan untuk menghasilkan lompatan yang baik, diperlukan kualitas otot tungkai yang baik pula.
Kekuatan otot tungkai dapat dikembangkan dan ditingkatkan melalui latihan-latihan yang mengarah pada hasil lompatan. Bentuk latihan untuk meningkatkan otot tungkai, daya ledak dan daya tahan otot adalah latihan-latihan yang membentuk kontraksi isotonik, kontraksi isometrik dan kontraksi isokinetis. Selain itu ada beberapa prinsip latihan yang
13 M. Soebroto, Op. Cit, h. 34.
14 Harsono, Ilmu Melatih, (Jakarta : Pusat Ilmu Olahraga, 1986), h. 47.
15 M. Sajoto, Op. Cit. H. 22.
16 Russel R. Pace, dkk. Dasar-dasar Ilmu Kepelatihan, diterjemahkan oleh Kasiyo Purjowinato, (Semarang : IKIP Semarang, 1993), h. 299.
17 Woeryanto,Latihan Penguatan Otot,(Jakarta :FPOK IKIPJakarta,1988),h.1.
meningkatkan otot tungkai, seperti berjalan dan berlari sedangkan daya ledak dan daya tahan otot yaitu penambahan beban, berulang-ulang, frekuensi latihan dan lama latihan.
Daya ledak yang dimiliki seorang pemain dapat menentukan tingkat keterampilannya didalam olahraga. Pada teknik smash, daya ledak terhadap otot tungkai ikut memberikan hubungan yang positif terhadap keberhasilan melakukan gerakan smash kedeng dalam upaya memberikan tekanan pada pihak lawan. Di mana pada tehnik smash kedeng dilakukan dengan kekuatan melakukan lompatan secara eksplosive dengan melakukan tolakan satu kaki disertai dengan ketepatan waktu (timing) serta power dari kaki tumpu untuk memukul bola saat berada pada titik tertinggi serta penempatan bola ke daerah kosong sehingga teknik smash kedeng dikatakan berhasil.
3. Hakikat Ketepatan
Ketepatan dapat diartikan kemampuan seseorang melakukan gerakan-gerakan volunter untuk suatu tujuan, misalnya dalam pelaksanaan shooting (menembak) bola basket, menendang bola kearah gawang, memanah dan menembak18.
Tepat atau ketepatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “Mengenai tepat pada sasaran, misalnya melempar bola dengan sasaran”19.
Mengenai tepat pada sasaran yang dimaksud adalah bagaimana seseorang smasher mampu melempar atau melontarkan sesuatu mengarah pada sasaran yang ditentukan dalam permainan sepaktakraw.
Jadi, ketepatan adalah gerakan lanjutan yang dilakukan seorang pemain sepaktakraw dalam mengendalikan gerakan-gerakan bebas untuk suatu tujuan.
Selain gerakan-gerakan yang dilakukan untuk mencapai sasaran, ketepatan juga diartikan sebagai ketepatan jalannya suatu gerakan atau rangkaian gerak untuk mencapai hasil yang dicapai.
Kemudian, J. Matakupan meninjau ketepatan dari suatu gerakan, terbagi menjadi dua bagian :
1. Ketepatan dalam arti proses adalah ketepatan jalannya suatu gerakan atau rangkaian gerak dilihat dari struktur gerakan dan sistemastis gerakan.
2. Ketepatan dalam arti produk adalah hasil yang dicapai20.
Selanjutnya J. Matakupan berpendapat bahwa :
“Ketepatan gerakan secara optimal dipengaruhi oleh beberapa aspek, aspek tersebut adalah : “kemampuan mengantisipasi, kelancaran gerakan dan hubungan gerakan, ini dapat dikuasai melalui pendidikan
18 Muslim, Tes dan Pengukuran Kepelatihan, (Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1995)., h. 65
19 Poerwadarmita, Op. Cit, h. 1055
20 J. Matakupan, Teori Bermain (Jakarta : Depdikbud, UT, 1992/1993), h. 22
jasmani yang benar dalam perbaikan gerakan-gerakan dasar dan dilakukan dengan berulang-ulang”21.
4. Hakikat Smash Kedeng
Kemampuan penguasaan teknik yang prima merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu tim dalam pertandingan, keterampilan dasar (basic skill) perlu dikuasai oleh setiap pemain sepaktakraw untuk memberikan permainan yang baik dalam serangan maupun dalam bertahan.
Smash dalam sepaktakraw merupakan salah satu faktor yang penting dalam pola serangan, dimana mencakup semua untuk keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh pemain. Beberapa macam jenis smash sepaktakraw antara lain :
1. Smash Gulung
2. Smash Kedeng
3. Smash Gunting
4. Smash Lurus
5. Smash Telapak Kaki (Sepak Kuda)22
Smash atau rejam (istilah Malaysia) adalah gerak kerja yang terpenting dan merupakan gerak akhir dari gerak kerja serangan23. Agar dapat menghasilkan smash yang akurat dan tajam, awalan, tolakan, sikap posisi badan saat melayang di atas dan sikap badan saat mendarat sangat penting untuk diperhatikan pada saat melatih24.
Dalam permainan sepaktakraw ada berbagai macam jenis smash, smash dapat dilakukan dengan menggunakan :
1. Kepala
a. Dahi/kening
b. Samping kanan kepala
c. Samping kiri kepala
d. Bagian belakang kepala
2. Kaki
a. Kaki bagian dalam
b. Bagian kura-kura
c. Bagian samping luar kaki
d. Telapak kaki25
21 Ibid, h. 21 22 Charsian Anwar, Mari Bermain Sepaktakraw, (Jakarta : PB. Persetasi, 1999), h.h. 25-28
23 Ratinus Darwis, Olahraga Pilihan Sepaktakraw, (Jakarta : Dep. P & K, Direktirat Jenderal Pergurun Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Pendidikan, 1992), h.h. 69-70.
24 Ibid, h.69
25 Ibid, h. 69
Smash kedeng merupakan jenis smash yang sering dilakukan pada pemain sepaktakraw guna memberikan serangan pada pihak lawan. Smash kedeng merupakan smash yang biasanya bola dipukul dengan punggung kaki atau kaki bagian luar.
Dalam melakukan smash kedeng dapat dibagi menjadi 3 tahapan gerakan smash, yaitu :
Tahap I : Tolakan
Tolakan harus dimulai dengan tumpuan salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agak dalam ke bawah, kemudian tolakan kaki tumpu ke atas bagian dalam secara eksplosif dengan bantuan kedua tangan.
Tahap II : Sikap badan di atas (saat Smash bola di atas)
Setelah melakukan tolakan dengan tumpuan salah satu kaki secara eksplosif, luruskan tungkai serta putar badan (pinggul, punggung, bahu) kearah dalam. Kemudian lakukan smash dengan punggung kaki bagian luar, dibantu dengan putaran pinggul dan punggung.
Tahap III : Saat Mendarat
Gerak ikutan dimulai dari tungkai, bahu dan lengan secara bersamaan berputar ke arah luar, kemudian tungkai ditarik ke bawah dan mendarat dengan dua kaki dalam posisi siap.
Gambar 1 Gerakan Smash Kedeng
Sumber : Ucup Yusuf, Sudrajat Prawirasaputra, Lingling Usli, Pembelajaran Permainan Sepaktakraw. (Jakarta : Direktorat Jenderal Olahraga, 2001), h. 41
Dalam pemainan sepaktakraw, smash merupakan teknik gerakan yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, oleh karenanya kekuatan teknik smash perlu dilatih secara serius dan berkelanjutan.
Ratinus mengungkapkan beberapa teknik smash yang perlu diperhatikan guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam melakukan smash, yaitu :
1. Perhatian dipusatkan kepada bola
2. Jangan ragu-ragu untuk melakukan smash, ambillah keputusan yang tepat
3. Tentukan ke mana smash akan di arahkan
4. Melompat dengan ketinggian secukupnya sesuai dengan keperluannya, bila perlu lebih tinggi lagi agar smash-nya sempurna
5. Untuk smash net/jaring jangan sampai tersentuh
6. Mata di arahkan ke bola26
Apabila ditinjau dari tinjauan mekanika umum, lompatan smash dalam sepaktakraw temasuk dalam kualifikasi melontarkan objek atau tubuh sendiri untuk mencapai gerak vertikal maksimal27.
Kekuatan kontraksi otot tungkai untuk memberikan tekanan pada lantai pada saat menolak merupakan titik tolak yang menentukan tinggi lompatan sesuai dengan hukum Newton III tentang hukum interaksi (low of interaction) bahwa setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sama besar dan arahnya berlawanan.28
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan yuang dimaksud dengan smash kedeng adalah suatu pola gerak dalam permainan sepaktakraw yang bertujuan untuk memberikan tekanan terhadap lawan, melalui pukulan dengan punggung kaki bagian luar ke arah daerah pertahanan lawan.
B. Kerangka Berpikir
1. Hubungan antara Kecepatan Reaksi dengan Ketepatan Smash Kedeng
Penguasaan dasar teknik permainan sepaktakraw merupakan salah satu unsur yang ikut menentukan menang atau tidaknya suatu tim dalam suatu pertandingan di samping unsur-unsur lain yaitu kondisi fisik, taktik dan mental.
Teknik dasar dalam permainan sepaktakraw harus dikuasai oleh seorang pemain, di antaranya teknik smash. Teknik smash merupakan teknik serangan yang utama untuk memberikan tekanan terhadap lawan, di mana teknik smash mencakup seluruh unsur keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh pemain. Untuk dapat melakukan smash, ada beberapa faktor kondisi fisik yang mendukung di antaranya kecepatan reaksi.
Kecepatan reaksi adalah salah satu bagian dari komponen kondisi fisik yang dimiliki seseorang. Kecepatan reaksi memberikan pengaruh besar terhadap penampilan, keterampilan serta prestasi yang akan didapat oleh seorang atlet, terutama smash.
26 Ratinus Darwis, Loc.Cit., h.h. 69-70
27 Dadang Masnun,Biomekanika Dasar(Jakartra:FPOK IKIP Jakarta,1998)h.8 28 Dadan Masnun, Biomekanika Teknik Olahraga, Penggalan 3 (Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1997)h. 2
Kecepatan reaksi berbeda dengan refleks, karena kecepatan reaksi seseorang dapat dilatih hingga akhirnya membentuk otomatisasi gerakan, sedangkan refleks tidak.
Smash kedeng merupakan satu dari sekian banyak smash dalam permainan sepaktakraw. Di mana keberhasilannya perlu didukung pula oleh kemampuan kondisi fisik yang optimal, salah satunya adalah kecepatan reaksi. Dengan kecepatan reaksi yang baik, dimungkinkan tercapainya hasil yang diharapkan. Karena kecepatan reaksi adalah kemampuan organisme atlit untuk menjawab rangsangan secepat mungkin dalam mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Untuk peningkatan/pengembangan kecepatan reaksi dalam melakukan smash, ada tahap-tahap yang dilalui oleh smasher untuk dapat melakukan smash dengan baik, di antaranya tahap tolakan, sikap badan di atas (saat smash bola di atas) dan saat mendarat (landing). Selain itu harus dapat mengantisipasi pemain lawan, khususnya blocker.
Berdasarkan uraian di atas, diduga terdapat hubungan antara kecepatan reaksi dengan ketepatan smash.
2. Hubungan antara Daya Ledak dengan Ketepatan Smash Kedeng
Pencapaian prestasi yang maksimal tidak dapat diraih tanpa adanya kekuatan yang prima dari seorang atlet dari penguasaan teknik gerakan cabang olahraga yang ditekuni. Selain itu pula unsur kondisi fisik merupakan faktor penentu sejauh mana seorang atlet dapat bertahan dalam suatu pertandingan. Unsur kondisi fisik bukan hanya sebagai unsur pendukung, terkadang juga merupakan unsur utama dalam penguasaan teknik gerak, salah satunya ialah daya ledak.
Daya ledak adalah kekuatan kerja otot untuk mengarahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat. Dalam permainan sepaktakraw, lompatan tegak lurus diperlukan dalam melakukan teknik smash guna memberikan tekanan pada pihak lawan. Daya ledak yang baik sangat berperan baik dalam upaya mengantarkan tubuh ke udara dan pada saat menendang bola dengan kaki agar tercapai smash yang keras dan akurat maupun pada saat take off dengan kedua kaki.
Bagi pemain, kekuatan tolakan dan tendangan merupakan modal utama untuk melakukan smash yang baik serta mematikan. Oleh karenanya kekuatan lompatan yang tinggi serta kekuatan pada saat menendang bola merupakan modal utama untuk mencapai hal tersebut. Untuk mendapatkan lompatan yang baik, gerakan lompatan harus didukung sejumlah otot serta sistem kerja anatomi tubuh yang digerakan dalam melompat. Selain itu, kekuatan lompatan ini dapat dikembangkan dan ditingkatkan melalui latihan-latihan yang menunjang dan mengarah pada hasil lompatan. Contoh bentuk latihan untuk meningkatkan kekuatan otot tungkai, daya ledak dan daya tahan otot adalah latihan-latihan yang berbentuk kontraksi isotonik adalah suatu kontraksi otot yang tegangan ototnya selalu konstan pada saat terjadi perpendekan contohnya seperti melakukan latihan berjalan, isometrik adalah kontraksi yang terjadi tanpa
terjadi perubahan panjang seperti contohnya latihan mendorong beban atau sesuatu, dan isokinetis adalah kontraksi dimana kecepatan bergeraknya sendi relatif tetap contohnya seperti menahan suatu beban yang berat seperti burble.
Berdasarkan uraian di atas, diduga terdapat hubungan positif antara daya ledak terhadap ketepatan smash kedeng dari bergerak menuju posisi smash, melompat (take-off), kontak dengan bola sampai pada tahap akhir yaitu mendarat sehingga teknik smash dengan kesempurnaan dan keefektifan.
3. Hubungan antara Kecepatan Reaksi dan Daya Ledak dengan Ketepatan Smash Kedeng
Kecepatan reaksi adalah kemampuan beban dengan kecepatan yang tinggi pada suatu gerakan yang sempurna. Sedangkan daya ledak adalah kemampuan otot untuk mengatasi tahanan. Serta ketepatan (accuracy) adalah seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran. Organisme atlit untuk menjawab rangsangan secepat mungkin dalam mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Pada saat mengantarkan tubuh ke udara dan diteruskan dengan menendang bola diperlukan adanya perpaduan gerak yang saling mendukung untuk menghasilkan teknik smash yang baik, baik perpaduan antara kecepatan gerakan dan didukung oleh kekuatan otot tungkai untuk melompat yang tinggi serta ketepatan menendang bola diperlukan kemampuan berpikir dengan cepat untuk dapat memutuskan bermacam-macam pola gerak dari teknik awalan sampai mendarat. Sehingga perpaduan gerak tersebut sesuai dengan irama maupun ritmenya serta tercapai sesuai dengan tujuan dalam melakukan smash itu sendiri.
Secara singkat dapat digambarkan hubungan dari komponen daya ledak dan kecepatan reaksi dengan kekuatan smash kedeng. Daya ledak berfungsi untuk meningkatkan kemampuan lompatan serta menentukan kerasnya dan tepatnya tendangan pada saat bola berada pada titik tertinggi secara cepat dan eksplosif dengan salah satu kaki tolakan, pada saat tubuh berada di udara guna keberhasilan teknik smash.
Diduga bahwa kedua unsur komponen fisik daya ledak dan kecepatan reaksi memberikan hubungan yang terhadap kekuatan smash kedeng.
C. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berpikir yang dikemukakan di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dengan ketepatan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
2. Terdapat hubungan yang berarti antara daya ledak otot tungkai dengan ketepatan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
3. Terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai dengan ketepatan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui :
1. Hubungan antara kecepatan reaksi dengan ketepatan melakukan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
2. Hubungan antara daya ledak otot tungkai dengan ketepatan melakukan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
3. Hubungan antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai dengan ketepatan melakukan smash kedeng pada Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Jakarta, Jl. Pemuda No. 10, dan bertempat di Hall A Fakultas Ilmu Keolahragaan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada 3 Juli 2006.
Hari : Senin
Tanggal : 3 Juli 2006
Pukul : 14.00 s/d selesai.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan tehnik survey korelasi, yaitu suatu penelitian untuk mengumpulkan data yang diperoleh dengan cara mengukur dan mencatat hasil dari pengukuran yang terdiri dari kecepatan reaksi, daya ledak otot tungkai dan tes ketepatan smash kedeng.
Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai serta variabel terikatnya adalah ketepatan melakukan smash kedeng. Disain penelitian yang digunakan yaitu : X1 X2 Y
Keterangan :
X1 = Kecepatan reaksi
X2 = Daya ledak otot tungkai
Y = Ketepatan smash kedeng
D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Kop Sepaktakraw Universitas Negeri Jakarta yang berjumlah 34 orang.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 30 orang yang diambil dari populasi dengan menggunakan teknik purposive random sampling, yaitu Mahasiswa Kop Sepaktakraw yang memiliki ketepatan melakukan smash kedeng dengan baik diambil secara acak. Dengan cara menggunakan kupon sebanyak 34, namun 4 di antaranya tidak bernomor dan 30 yang bernomor menjadi sampel dalam penelitian ini.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pengukuran terhadap variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini, adapun instrumen yang digunakan adalah :
a. Kecepatan reaksi dapat dilihat langsung pada layar reaction timer senoh dengan satuan detik29.
b. Tes daya ledak otot tungkai dengan menggunakan alat ukur vertikal jump.
c. Tes ketepatan smash kedeng diukur dengan tes smash sepaktakraw.
F. Teknik Pengumpulan Data
Data diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa data kecepatan reaksi, daya ledak otot tungkai, dan ketepatan smash kedeng.
G. Teknik Analisa Data
Pengelolaan data guna dianalisis diambil dari hasil tes kecepatan reaksi (X1), hasil tes daya ledak otot tungkai (X2) dan hasil tes ketepatan smash kedeng (Y), dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi sederhana, menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
29 Don Kirkendall, Pengukuran Evaluasi untuk Guru Pendidikan Jasmani, diterjemahkan oleh Winarno, dkk. (Jakarta : PPS IKIP Jakarta, 1997), h. 263.
1. Mencari persamaan regresi
Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan hubungan antara variabel X dengan variabel Y dengan bentuk persamaan sebagai berikut :
bXaY+=^
dimana
^Y = Variabel respons yang diperoleh dari persamaan regresi
a = Konstanta regresi untuk X = 0
b = Koefisien arah regresi yang menentukan bagaimana arah regresi terletak.
Koefisien arah a dan b untuk persamaan regresi diatas dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
()()()(()21211121XnYXXXYaΣ−ΣΣΣ−ΣΣ=
()(()212111Σ−ΣΣΣ−Σ=nYXYXnb
2. Mencari Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi antara variabel X1 dengan Y dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
()()(){}(){}222121111YnYXXnYXYXnYrXΣ−Σ−ΣΣΣ−Σ=30
3. Uji Keberartian Koefisien Korelasi
Sebelum koefisien korelasi diatas dipakai untuk mengambil kesimpulan, terlebih dahulu diuji mengenai keberartian.
Hipotesis statik :
a. Ho : py x1 = 0
Ha : py x1 > 0
b. Ho : py x2 = 0
Ha : py x2 > 0
Kriteria pengujian :
Tolak Ho jika thitung > ttabel dalam hal lain Ho diterima pada α = 0,05 untuk keperluan uji ini dengan rumus sebagai berikut : 212rnrt−−=31
4. Mencari Koefisien Determinasi
Untuk mengetahui kontribusi variabel X terhadap Y dicari dengan jalan mengalikan koefisien korelasi yang sudah dikuadratkan dengan angka 100%.
30 Sudjana, Teknik Analisa Regresi dan Korelasi, (Bandung : Tarsito, 1992),
h. 47
31 Ibid, h. 62
Regresi Linier Ganda
1. Mencari Persamaan Regresi Linier Ganda dengan cara sebagai berikut :
22110^xbxbbY++=32
dimana
bo = _22_11_XbXbY−−
b1 = ()()()()()()()2212221221122XXXXYXXXYXXΣΣΣΣΣ−ΣΣ
b2 = ()()()()()()()221222112121XXXXYXXXYXXΣΣΣΣΣ−ΣΣ
2. Mencari Koefisien Korelasi Ganda (Ry1-2)
Koefisien korelasi ganda (Ry1-2)
Ry1-2 = YgJKΣ)(Re33
JK (Reg) = b1ΣX1Y + b2ΣX2Y
3. Uji Keberartian Koefisien Korelasi Ganda
Hipotesis Statistik :
Ho : Ry x1 x2 = 0
Ho : Ry x1 x1 > 0
Ho : Koefisien korelasi ganda tidak berarti
Ha : Koefisien korelasi ganda berarti
Kriteria pengujian :
Tolak Ho jika Fhitung > Ftabel dalam hal ini diterima pada α = 0,05
Rumusnya : F = 1/)1(/22−−−knRKR34
Dimana :
F = Uji keberartian regresi
R = Koefisien korelasi ganda
K = Jumlah variabel bebas
N = Jumlah sampel
32 Sudjana, Ibid, h. 69
33 Op.Cit., h. 107
34 Sudjana, Op.Cit., h. 108
Ftabel dicari dari daftar distribusi F dengan dk sebagai pembilang adalah K atau 2 dan sebagai dk penyebut (n-k-1) atau 22 pada α = 0,05.
4. Mencari Koefisien
Hal ini dapat dilakukan mengetahui sumbangan dua variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y, koefisien determinasi dicari dengan jalan mengalika R2 dengan 100%.
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
Deskripsi data dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang penyebaran data yang meliputi nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata, simpangan baku, median, modus, varians, distribusi frekuensi, serta histogram dari masing-masing variabel X1, X2 maupun Y. Berikut data lengkapnya :
Tabel 1 . Deskripsi Data Penelitian
Variabel
Kecepatan Reaksi
Daya Ledak Otot Tungkai
Ketepatan Smash Kedeng
Nilai Tertinggi
0,890
71
16
Nilai Terendah
0,185
57
3
Rata-rata
0,49
63,73
7,83
Simpangan Baku
0,19
4,02
3,30
Median
0,44
64,50
7,50
Varians
0,03
16,13
10,90
1. Variabel Kecepatan Reaksi
Hasil penelitian menunjukkan rentang skor Kecepatan Reaksi ( X1 ) adalah antara 0,185 sampai dengan 0,890 nilai rata-rata sebesar 0,49 simpangan baku sebesar 0,19 median sebesar 0,44. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 . Distibusi Frekuensi Kecepatan Reaksi
Frekuensi
No
Interval Kelas
Absolut
Relatif (%)
1
0,185 – 0,302
5
16.67%
2
0,303 – 0,420
8
26.67%
3
0,421 – 0,538
7
23.33%
4
0,539 – 0,655
3
10.00%
5
0,656 – 0,773
3
10.00%
6
0,774 – 0,891
4
13.33%
Jumlah
30
100%
Berdasarkan tabel 2 di atas dibandingkan dengan nilai rata-rata, terlihat testee yang berada pada kelas rata-rata sebanyak 7 testee (23,33%) dan yang berada di bawah kelas rata-rata sebanyak 10 testee (33,33%), sedangkan testee yang berada di atas kelas rata-rata sebanyak 13 testee (43,34%). Selanjutnya histogram variabel Kecepatan Reaksi dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini :
Gambar 1 : Diagram Histogram Kecepatan Reaksi 01234567890,185-00,0,530,0,77
2. Variabel Daya Ledak Otot Tungkai
Hasil penelitian menunjukkan rentang skor Daya Ledak Otot Tungkai (X2) adalah antara 57 sampai dengan 71, nilai rata-rata sebesar 63,73 simpangan baku sebesar 4,02 median sebesar 64,50. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3 . Distribusi Frekuensi Daya Ledak Otot Tungkai
Frekuensi
No
Interval Kelas
Absolut
Relatif (%)
1
57,0 – 59,3
6
20.00%
2
59,4 – 61,7
3
10.00%
3
61,8 – 64,1
6
20.00%
4
64,2 – 66,5
8
26.67%
5
66,6 – 68,9
3
10.00%
6
69,0 – 72,3
4
13.33%
Jumlah
30
100%
Berdasarkan tabel 3 di atas dibandingkan dengan nilai rata-rata, terlihat testee yang berada pada kelas rata-rata sebanyak 6 testee (20,00%) dan testee yang berada di bawah kelas rata-rata sebanyak 9 testee (30,00%), sedangkan testee yang berada di atas kelas rata-rata sebanyak 15 testee (50%). Histogram variabel Daya Ledak Otot Tungkai dapat dilihat pada gambar 2. 0123456789ueekFr
Gambar 2 : Diagram Histogram Daya Ledak Otot Tungkai n5756164,669
3. Variabel Ketepatan Smash Kedeng
Hasil penelitian menunjukan bahwa rentang skor variabel Ketepatan Smash Kedeng (Y) adalah antara 3 sampai dengan 16, nilai rata-rata sebesar 7,83 simpang baku sebesar 3,30 median sebesar 7,50. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4 . Distribusi Frekuensi Ketepatan Smash Kedeng
Frekuensi
No
Interval Kelas
Absolut
Relatif (%)
1
3,0 – 5,1
8
26.67%
2
5,2 – 7,3
7
23.33%
3
7,4 – 9,5
8
26.67%
4
9,6 – 11,7
3
10.00%
5
11,8 – 13,9
2
6.67%
6
14,0 – 16,1
2
6.67%
Jumlah
30
100%
Berdasarkan tabel 4 dibandingkan dengan skor rata-rata, terlihat testee yang berada pada kelas rata-rata sebanyak 8 testee (26,67%), testee yang berada di bawah kelas rata-rata sebanyak 15 testee (50%), sedangkan testee yang berada di atas kelas rata-rata sebanyak 7 testee (23,33%).
Gambaran histogram Ketepatan Smash Kedeng dapat dilihat seperti di bawah ini.
Gambar 3 : Diagram Histogram Ketepatan Smash Kedeng
B. Pengujian Hipotesis 01234567893,0-5,15,2-7,37,4-9,59,6-11,711,8-13,914,0-16,1
1. Hubungan Antara Kecepatan Reaksi terhadap Ketepatan Smash Kedeng
Hubungan antara Kecepatan Reaksi terhadap Ketepatan Smash Kedeng dinyatakan oleh persamaan regresi , Artinya Ketepatan Smash Kedeng dapat diketahui atau diperkirakan dengan persamaan regresi tersebut, jika variabel Kecepatan Reaksi (X143,026,28ˆXY+=1) diketahui.
Hubungan antara Kecepatan Reaksi (X1) terhadap Ketepatan Smash Kedeng (Y) ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry1 = 0,44. Koefisien korelasi tersebut harus diuji terlebih dahulu mengenai keberartiannya, sebelum digunakan untuk mengambil kesimpulan. Hasil uji keberartian korelasi tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 5 : Uji Keberartian Koefisien Korelasi X1 Terhadap Y
Koefisien Korelasi
t hitung
t tabel
0,44
2,59
2,048
Uji keberartian koefisien korelasi di atas terlihat bahwa t hitung = 2,59 lebih besar dari t tabel = 2,048, yang berarti koefisien korelasi ry1 = 0,44 adalah berarti. Dengan demikian hipotesis yang mengatakan terdapat hubungan yang positif antara Kecepatan Reaksi terhadap Ketepatan Smash Kedeng didukung oleh data penelitian, yang berarti meningkatnya Kecepatan Reaksi maka akan meningkatkan pula Ketepatan Smash Kedeng. Koefisien determinasi Kecepatan Reaksi terhadap Ketepatan Smash Kedeng ( ry12 ) = 0,1936. Hal ini berarti bahwa 19,36% Ketepatan Smash Kedeng ditentukan oleh Kecepatan Reaksi (X1). Kelas I
2. Hubungan Antara Daya Ledak Otot Tungkai terhadap Ketepatan Smash Kedeng
Hubungan antara Daya Ledak Otot Tungkai terhadap Ketepatan Smash Kedeng dinyatakan oleh persamaan regresi , Artinya Ketepatan Smash Kedeng dapat diketahui atau diperkirakan dengan persamaan regresi tersebut jika variabel Daya Ledak Otot Tungkai (X243,059,28ˆXY+=2) diketahui.
Hubungan antara Daya Ledak Otot Tungkai (X2) terhadap Ketepatan Smash Kedeng (Y) ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry2= 0,43. Koefisien korelasi tersebut harus diuji terlebih dahulu mengenai keberartiannya. Hasil uji koefisien korelasi tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 6 : Uji Keberartian Koefisien Korelasi X2 Terhadap Y
Koefisien Korelasi
T hitung
T tabel
0,43
2,52
2,048
Uji keberartian koefisien korelasi di atas terlihat bahwa t hitung = 2,52 lebih besar dari t tabel = 2,048 yang berarti koefisien korelasi ry2 = 0,43 adalah berarti. Dengan demikian hipotesis yang mengatakan terdapat hubungan yang positif antara Daya Ledak Otot Tungkai terhadap Ketepatan Smash Kedeng didukung oleh data penelitian, yang berarti meningkatnya Daya Ledak Otot Tungkai akan meningkatkan pula Ketepatan Smash Kedeng. Koefisien determinasi Daya Ledak Otot Tungkai terhadap Ketepatan Smash Kedeng dalam (ry22) = 0,1849 , hal ini berarti bahwa 18,49% terhadap Ketepatan Smash Kedeng ditentukan oleh Daya Ledak Otot Tungkai (X2).
3. Hubungan Secara Bersama-sama Antara Kecepatan Reaksi Dan Daya Ledak Otot Tungkai terhadap Ketepatan Smash Kedeng
Hubungan antara Kecepatan Reaksi (X1) dan Daya Ledak Otot Tungkai (X2) terhadap Ketepatan Smash Kedeng (Y) dinyatakan oleh persamaan regresi Sedangkan hubungan antara ketiga variabel tersebut dinyatakan oleh koefisien korelasi ganda R2128,030,021ˆXXY++=y1-2 = 0,5 Koefisien korelasi ganda tersebut, harus diuji terlebih dahulu mengenai keberartiannya sebelum digunakan untuk mengambil kesimpulan. Hasil uji koefisien korelasi ganda tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 7 : Uji Keberartian Koefisien Korelasi ganda
Koefisien Korelasi
F hitung
F tabel
0, 5
6,76
3,35
Uji keberartian koefisien korelasi ganda di atas terlihat bahwa F hitung = 6,76 lebih besar dari F tabel = 3,35 yang berarti koefisien korelasi ganda Ry1-2 = 0,5
adalah berarti. Hipotesis yang mengatakan terdapat hubungan positif Kecepatan Reaksi dan Daya Ledak Otot Tungkai secara bersama-sama terhadap Ketepatan Smash Kedeng didukung oleh data penelitian, ini berarti bahwa meningkatnya Kecepatan Reaksi dan Daya Ledak Otot Tungkai maka akan meningkatkan pula Ketepatan Smash Kedeng. Koefisien determinasi (Ry1-22) = 0,25. Hal ini berarti bahwa 25% Ketepatan Smash Kedeng ditentukan oleh Kecepatan Reaksi dan Daya Ledak Otot Tungkai.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian serta hasil penelitia pada bab terdahulu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi terhadap ketepatan smash kedeng
2. Terdapat hubungan yang berarti antara daya ledak otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng
3. Terdapat hubungan yang berarti antara kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:
1. Pelatih Sepak Takraw dalam usaha meningkatkan hasil latihan yang optimal yang memperhitungkan kecepatan reaksi dan daya ledak otot tungkai terhadap ketepatan smash kedeng sebagai faktor utama dalam smash kedeng
2. Mahasiswa FIK khususnya jurusan Somatokinetika untuk dapat meneliti unsur lain yang dapat meningkatkan kemampuan ketepatan smash kedeng
Lampiran 1
Tabel 1. Data Hasil Tes Kecepatan Reaksi (X1), Tes Daya Ledak Otot Tungkai (X2), dan Tes Ketepatan Smash Kedeng (Y)
Data Sebelum T-skor
Data Sesudah T-skor
No
X1
X2
Y
X1
X2
Y
1
0.287
65
5
60.91
53.15
41.42
2
0.434
62
4
52.98
45.68
38.39
3
0.504
64
6
49.21
50.66
44.45
4
0.363
59
4
56.81
38.22
38.39
5
0.483
69
9
50.34
63.11
53.53
6
0.413
65
8
54.11
53.15
50.50
7
0.342
57
6
57.94
33.24
44.45
8
0.356
66
9
57.19
55.64
53.53
9
0.449
63
7
52.17
48.17
47.48
10
0.589
58
4
44.62
35.73
38.39
11
0.794
60
3
33.56
40.71
35.36
12
0.511
62
5
48.83
45.68
41.42
13
0.332
65
13
58.48
53.15
65.65
14
0.430
62
9
53.20
45.68
53.53
15
0.561
59
11
46.13
38.22
59.59
16
0.631
63
6
42.35
48.17
44.45
17
0.379
65
16
55.95
53.15
74.73
18
0.779
61
3
34.37
43.19
35.36
19
0.662
67
5
40.68
58.13
41.42
20
0.291
68
10
60.70
60.62
56.56
21
0.675
59
7
39.98
38.22
47.48
22
0.890
60
7
28.38
40.71
47.48
23
0.831
57
9
31.56
33.24
53.53
24
0.340
69
15
58.05
63.11
71.70
25
0.291
71
10
60.70
68.09
56.56
26
0.386
66
8
55.57
55.64
50.50
27
0.270
65
12
61.83
53.15
62.62
28
0.528
71
8
47.91
68.09
50.50
29
0.185
68
9
66.41
60.62
53.53
30
0.692
66
7
39.06
55.64
47.48
Σ
14.678
1912
235
1500
1500
1500
DAFTAR PUSTAKA
Bahar Asril, Jurnal Portius Hakikat Permainan Sepaktakraw, Jakarta : FIK UNJ, 2001.
Bompa, Tudor, O, Theory and Methodology of Training, Ontario Canada : Dep Of Physical Education York University, Toronto, 1990.
Charsian Anwar, Mari Bermain Sepaktakraw, Jakarta : PB, PERSETASI, 1999.
Dadang Masnun, Biomekanika Dasar, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1980. , Biomekanika Teknik Olahraga, Penggalan 3, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1997. , Kinesiologi, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1987.
Frank W. Dick , Sport Training Principles, London : A and C Black Publisher, 1989
Hamidsyah Noer, Kepelatihan Dasar, Jakarta : Depdikbud, 1995.
Harsono, Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching, Jakarta : P2LPTK, 1980.
________, Ilmu Melatih, Jakarta : Pusat Ilmu Olahraga, 1986.
Kirkendall, Don R., Mearsurement and Evaluation for Physical Education, diterjemahkan oleh ME. Winarno, dkk., Jakarta : Aswin, 1975.
________, Mearsurement and Evaluation for Physical Education, diterjemahkan oleh ME. Winarno, dkk., Jakarta : PPS IKIP Jakarta, 1997.
M. Muslim, Tes dan Pengukuran Olahraga, Bandung : 1975.
________, Tes dan Pengukuran dalam Olahraga, Yogyakarta, STO Yogyakarta, 1986.
________, Tes dan Pengukuran Olahraga, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1995.
________, Tes dan Pengukuran Kepelatihan, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1995.
M. Sajoto, Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga, Semarang: Depdikbud, 1988.
________, Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga, Jakarta : Depdikbud P2LPTK, 1988.
M. Soebroto, Masalah-Masalah Dalam Kedokteran Olahraga dan Coaching, Jakarta : Dirjen PHSO, Dep. P & K, 1975.
Matakupan. J., Teori Bermain, Jakarta : Depdikbud, UT, 1992/1993.
Muhamad Suhud, Jurnal Kortius Hakikat Permainan Sepaktakraw, Jakarta : FIK UNJ, 2001.
Pate Russel. R., Dasar-Dasar Ilmu Kepelatihan, diterjemahkan oleh Kasiyo Dwijodinarto, Semarang : IKIP Semarang, 1993.
Poerwadarmita, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Depdikbud, PT. Balai Pustaka, 1976.
Ratinus Darwis, Olahraga Pilihan Sepaktakraw, Jakarta : Dep. P & K Direktorat Jendeal Pendidikan Tinggi, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan, 1992.
Suharno H.P., Metode Penelitian, Jakarta : KONI Pusat, 1993
Sudjana, Teknik Analisa Regresi dan Korelasi, (Bandung : Tarsito, 1992)
Woeryanto, Latihan Penguatan Otot, Jakarta : FPOK IKIP Jakarta, 1988.

Kategori:Uncategorized

PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL
LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA
KELAS V, VI SD KALISIDI 03 UNGARAN
TAHUN PELAJARAN 2004/2005
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
Nama : JUMIYATUN
NIM : 6301903029
Program Studi : S1/ Transfer PKLO
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI
JUMIYATUN (2005). Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
Apakah ada perbedaan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun 2004/2005.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pola M-S. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel penelitan ini terdiri dari variabel bebas yaitu latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki, serta variabel terikat yaitu kemampuan lompat jauh gaya jongkok. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes lompat jauh gaya jongkok. Analisis data menggunakan t-test.
Analisis statistik menunjukkan hasil t-hitung yang diperoleh lebih besar daripada t-tabel yaitu 2,250 > 2,201 , dengan taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (db) 11 yang berarti ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Dari perhitungan mean, menunjukkan bahwa mean kelompok eksperimen 2 lebih besar dari mean kelompok eksperimen 1 (354,166 > 341,666), dengan demikian latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih dari latihan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki.
Dari hasil penelitian disarankan untuk meningkatkan hasil lompat jauh gaya jongkok dapat dilatih dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian maupun naik turun bangku tumpuan dua kaki, dan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dapat melakukan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah disetujui dan diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Semarang, 2005
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A Dr. Khomsin, M.Pd
NIP. 130189315 Nip. 131469639
Menyetujui
Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Universitas Negeri Semarang
Drs. Wahadi, M. Pd
NIP. 131571551
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 14 Juli 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, MS Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 130525506 NIP. 131571551
Penguji :
1. Kumbul S. Budiyanto, S.Pd. M.Kes.
NIP. 132205932
2. Dr. Husein Argasasmita, M.A.
NIP. 130189315
3. Dr. Khomsin, M.Pd.
NIP. 131469639
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
“ Bekerjalah untuk dirimu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok (HR: Ibnu Asakir)
Persembahan :
Skripsi ini dipersembahkan kepada:
1. Ayah, Ibu, Suami tercinta,
2. Almamater PKLO 2005 FIK Universitas Negeri Semarang,
3. Keluarga besar SD N Kalisidi 03 Ungaran
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya, sehingga atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak mendapatkan dorongan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung yang tak ternilai harganya, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan persetujuan dalam penelitian ini.
3. Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A dan Dr. Khomsin, M.Pd yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran yang telah memberikan ijin penggunaan siswa putra kelas V dan VI sebagai sampel penelitian.
5. Para Dosen FIK UNNES yang telah ikut serta memberikan petunjuk
6. Guru-guru SD Negeri Kalisidi 03 yang telah banyak membantu dalam penelitian ini
7. Suami dan Orangtua terkasih yang selalu memberikan dorongan moral dalam penyelesaian kripsi ini.
8. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir selama penelitian
9. Siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung dalam peneletian skripsi ini.
Atas bantuan dan pengorbanannya yang telah diberikan, semoga mendapat imbalan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembinaan dunia olahraga atletik khususnya lompat jauh dimasa yang akan datang.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………….i
SARI …………………………………………………………………………………………….ii
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………………………….iii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………..iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….vi
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….viii
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………..x
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………….1
1.2 Permasalahan……………………………………………………………………4
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………………………5
1.4 Penegasan Istilah………………………………………………………………5
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian…………………………………………………8
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori……………………………………………………………………9
2.1.1 Atletik………………………………………………………………………..9
2.1.2 Lompat Jauh……………………………………………………………….10
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-Prinsip Latihan…………………………18
2.1.4 Faktor Kondisi Fisik…………………………………………………….21
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku………………………………………….21
2.1.6 Analisis Gerakan…………………………………………………………25
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….26
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi Penelitian……………………………………………………………27
3.2 Sampel Penelitian dan Tehnik Pengambilan Sampel……………..28
3.3 Variabel Penelitian……………………………………………………………29
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian………………………………………29
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………….31
3.6 Tehnik Pengambilan Data………………………………………………….32
3.6.1 Waktu Penelitian………………………………………………………33
3.6.2 Tempat Penelitian……………………………………………………..33
3.6.3 Obyek Penelitian ……………………………………………………..33
3.6.4 Alat Penelitian …………………………………………………………33
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian ……………………………………..33
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian ……………………………………………..33
3.7 Tehnik Analisa Data………………………………………………………….36
3.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penelitian………………………37
3.8.1 Faktor Kesungguhan Anak…………………………………………37
3.8.2 Faktor Cuaca …………………………………………………………..37
3.8.3 Faktor Kegiatan Anak……………………………………………….37
3.8.4 Faktor Pemberian Materi……………………………………………37
3.8.5 Faktor Kehadiran ……………………………………………………..38
3.8.6 Faktor Psikologi ………………………………………………………38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil Penelitian………………………………………………………………….39
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………..40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan………………………………………………………………………….42
5.2 Saran……………………………………………………………………………….41
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..43
LAMPIRAN – LAMPIRAN………………………………………………………………….45
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Rancangan Penelitian………………………………………………………………..31
2. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik………………………………………39
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok…………………………….11
2. Cara Melakukan Gerakan Tumpuan…………………………………………15
3. Sikap Badan Pada Saat Diudara………………………………………………16
4. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian……..24
5. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki………………………25
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. SK Pembimbing………………………………………………………………..45
2. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas……………………………………….46
3. Surat Ijin Penelitian dari SD ………………………………………………47
4. Populasi dan Sampel …………………………………………………………48
5. Hasil Tes Awal ………………………………………………………………..49
6. Program Latihan ………………………………………………………………53
7. Tes Akhir ………………………………………………………………………..61
8. Analisa Data ……………………………………………………………………62
9. Tabel Nilai – nilai t……………………………………………………………64
10. Foto-Foto…………………………………………………………………………65
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang olahraga, dalam upaya mengembangkan prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Berbagai disiplin ilmu yang terkait banyak menunjang program latihan olahraga. Disiplin ilmu tersebut antara lain : ilmu biomekanika, sport medicine, fisiologi, anatomi, massage, kinesiology, ilmu coaching khusus, psikologi olahraga, psikologi kepelatihan serta banyak lagi disiplin ilmu yang lainnya.
Masalah peningkatan prestasi dibidang olahraga sebagai sasaran yang ingin dicapai dalam pembinaan dan pengembangan di Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama. Latihan dimulai diusia dini dan harus dilakukan secara berkesinambungan sampai mencapai puncak prestasi pada cabang olahraga yang ditekuninya, selanjutnya pembinaan prestasi ditingkatkan. Dengan demikian pembinaan olahraga sejak dini sangatlah penting, supaya kelak atlet mampu mencapai kesuksesan.
Untuk mengikuti perkembangan itu, maka segala usaha kearah pembinaan terus dipacu dan ditumbuh kembangkan oleh semua pihak yang terkait. Pihak-pihak yang terkait antara lain : pemerintah, KONI, pelatih, masyarakat, atlet, pihak swasta dan orang tua. Pola pembinaan kearah yang lebih professional, sistematis, berkualitas dan terprogram dengan baik inilah yang akan melahirkan atlet yang tengguh dimasa yang akan datang.
Menurut M. Sajoto (1988 : 15) faktor kelengkapan yang harus dimiliki atlet bila ingin mencapai prestasi yang optimal, yaitu : 1) Pengembangan fisik, 2) Pengembangan teknik, 3) Pengembangan mental, 4) Kematangan juara.
Dengan demikian untuk mencapai suatu prestasi yang optimal di dunia olah raga, keempat aspek pendukung tersebut harus dilakukan dengan baik, sesuai dengan cabang olahraga yang ditekuninya.
Dari keempat aspek diatas yang merupakan faktor utama adalah kondisi fisik seperti pendapat Depdikbud (2000 : 10) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan teknik, taktik dan kemampuan mental. Komponen kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari konponen kesegaran jasmani, kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi.
Komponen kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelenturan, keseimbangan, koordinasi, kelincahan, ketepatan reaksi (M. Sajoto 1988 : 16). Untuk mencapai prestasi yang baik perlu dilakukan upaya-upaya seperti peningkatan sarana, memperbarui metode latihan, penggunaan sarana yang baik, perbaikan gizi, dokter olahraga dan ahli gizi (M. Sajoto : 10)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas Suharno H.P. (1986 : 4-7) mengemukakan bahwa secara umum ada dua faktor penentu pencapaian prestasi maksimal yaitu faktor indogen dan faktor exogen.
1. Faktor indogen, diantaranya adalah: a) Kesehatan fisik dan mental yang baik, terutama tidak berpenyakit jantung, paru-paru, saraf dan jiwa; b) Bentuk dan proporsi tubuh yang sesuai dengan cabang olah raga yang dipilihnya; c) Kondisi fisik dan kemampuan fisik yang baik; d) Penguasaan tehnik yang sempurna; e) Penguasaan taktik; f) Aspek kejiwaan dan kepribadian yang baik; g) Memiliki kematangan juara yang mantap.
2. Faktor exogen, diantaranya adalah: a) Hubungan yang baik dan harmonis antar pelatih, asisten pelatih dan atlet; b) Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana olahraga yang tersedia; c) Kepengurusan dan organisasi cabang olahraga yang jujur dan bertanggung jawab; d) Lingkungan hudup atlet haru menunjang; e) Dukungan moril dan material dari pemerintah daerah atau pusat; f) Metode-metode latihan yang efektif dsn efisien.
Salah satu faktor untuk mencapai prestasi dalam olahraga khususnya lompat jauh adalah kekuatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin dan Muhadi 1992/1993 : 73). Latihan untuk meningkatkan hasil lompat jauh banyak ragamnya, yaitu lompat naik turun bangku, latihan jongkok berdiri, latihan naik turun tumit, latihan squat jump, naik turun tangga dan lain-lain (Engkos Kosasih 1993 : 89). Dari bermacam-macam metode latihan tersebut belum diketahui dengan pasti metode mana yang paling efektif dan baik hasilnya untuk meningkatkan hasil lompat jauh.
Untuk mengetahui hasil latihan yang baik dan efektif tersebut akan diberikan eksperimen lompat naik turun bangku yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil lompat jauh yang maksimal. Adapun metode latihan yang
diberikan adalah metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian sedangkan yang satunya diberikan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Dalam melakukan kedua jenis latihan merupakan latihan kekuatan otot kaki. Lingkup yang dilatih dalam kedua latihan ini adalah daya ledak otot tungkai dan kekuatan otot tungkai, sehingga dengan latihan tersebut diharapkan akan memberikan perbedaan pada peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok.
Dengan memperhatikan uraian di atas maka penulis ingin penelitian berjudul :” Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005”.
Adapun alasan lain pemilihan judul tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1.1.1. Lompat jauh merupakan materi kurikulum Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar
1.1.2. Pekan Olah Raga Pelajar Daerah Sekolah Dasar
1.1.3. Metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki dapat meningkatkan hasil lompat jauh
1.2. Permasalahan
Di dalam setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari adanya permasalahan yang dihadapi, yang segera perlu diteliti, dikaji, dianalisis serta selanjutnya diusahakan solusi pemecahannya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku satu kaki
bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2004 – 2005?.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang berarti antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
1.3.2. Apabila ditemukan ada perbedaan akan diuji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana antara naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.
1.4. Penegasan Istilah / Batasan Operasional
Untuk menghindari adanya salah penafsiran atau kesalahan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka istilah-istilah tersebut perlu adanya ketegasan sebagai berikut :
1.4.1. Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang,benda dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan (Poerwadarminta, 1985 : 731).
1.4.2. Latihan
Latihan adalah suatu proses penyesuaian tubuh terhadap kerja yang lebih berat dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang lebih berat dan meningkatkan ketrampilan.
Menurut Harsono (1982 : 27) latihan adalah proses yang sistematis dari pada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya atau pekerjaannya.
Jadi latihan dalam penelitian ini adalah cara melakukan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki secara berulang-ulang, makin lama makin bertambah bebannya dengan tujuan untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Pengaruh latihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh antara dua latihan, yaitu antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan metode lompat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap lompat jauh gaya jongkok.
1.4.3. Daya ledak
Kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M.Sajoto, 1995 : 8).
Sedangkan daya ledak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya ledak dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
1.4.4. Metode
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud tertentu (Poerwodarminto, 1995 : 649).
Dalam penelitian ini metode diartikan sebagai cara untuk melatih lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
1.4.5. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian yang dimaksud garakan ini adalah melompat ke atas bangku tumpuan satu kaki kiri di atas bangku, kaki kanan di atas lantai. Kemudian melompat bersama-sama kaki kanan membentuk sudut 900, kemudian kaki kiri mendarat di atas bangku, kaki kanan mendarat di atas lantai.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang dimaksud gerakan ini adalah sikap kaki rapat menghadap bangku kemudian meloncat ke atas bangku bersama-sama, kemudian turun lagi bersama-sama.
1.4.6. Lompat jauh gaya jongkok
Lompat jauh gaya jongkok adalah salah satu tehnik melompat dalam lompat jauh. Adapun gerakan dari tehnik lompat jauh gaya jongkok adalah sebagai berikut : pada saat lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok. Dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk dan kedua lengan di depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan lalu mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu dan kedua tangan ke depan ( Aip Syarifuddin, 1992 : 93).
1.5. Kegunaan Hasil Penelitian
Setelah mengetahui perbedaan dari kedua metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki penelitian ini, maka manfaat yang dapat diambil adalah :
1.5.1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru dan pelatih atlet lompat jauh untuk meningkatkan prestasi lompat jauh
1.5.2. Sebagai perbandingan bagi yang berminat mengadakan penelitian dicabang lompat jauh.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Atletik
Di dalam aktivitas dunia olahraga dikenal berbagai macam cabang olahraga, yaitu : atletik, renang, senam, sepak bola, bola basket, bola volley, tinju dan lain-lain. Antara cabang olahraga tersebut yang ada kaitannya dengan penelitian ini adalah atletik.
Atletik berasal dari bahasa Yunani athlon artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan atau perjuangan, sedangkan orang yang melakukannya dinamakan athleta (atlet). Atletik adalah satu cabang olahraga yang diperlombakan yang meliputi nomor-nomor jalan, lari, lempar, lompat (Aip Syarifuddin, 1992 : 2).
Sejak manusia ada di bumi mereka telah melakukan gerakan berjalan, berlari, melompat, dan melempar yang semuanya itu merupakan gerakan alami yang dilakukan sehari-hari baik dalam usahanya mempertahankan hidup ataupun untuk menyelamatkan diri dari gangguan alam sekitarnya (Yoyo Bahagia, Ucup Yusup, Adang Suherman, 2000 : 3).
Atletik adalah salah satu cabang olahraga yang terdiri dari nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik menjadi intisari atau ibu dari seluruh cabang olahraga (Aip Syarifuddin 1992 : 1). Nomor lompat jauh tersebut dapat digolongkan ke dalam nomor lompat cabang olahraga atletik.
2.1.2. Lompat jauh
2.1.2.1. Pengertian lompat jauh
Lompat jauh termasuk bagian nomor lompat dalam cabang olahraga atletik, yang secara teknis maupun pelaksanaannya berbeda dengan nomor lompat yang lain seperti lompat tinggi dan lompat jangkit.
Menurut pendapat Aip Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat mangangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara atau melayang di udara yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Sudarminto (1993 : 349) menyatakan bahwa unsur utama lompat jauh dengan awalan adalah lari awalan, bertolak, melayang di udara dan mendarat. Masing-masing bagian itu memiliki gaya gerakannya sendiri yang menyumbangkan pencapaian jarak lompatan. Namun syarat utamanya adalah pengembangan jarak daya. Daya ini dikembangkan dari latihan awalan yang cepat dan lompatan ke atas yang kuat dari tolakan.
Jadi pada hakekatnya lompat jauh adalah gerakan menolak satu kaki yang dipengaruhi oleh kecepatan horizontal dan vertical serta gaya tarik bumi untuk menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dibawah ini gambar lompat jauh gaya jongkok dari tumpuan sampai mendarat.
Gambar 1.
Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Tamsir Riyadi, 1985 : 97)
2.1.1.2. Tehnik lompat jauh
Nomor lompat ada tiga gaya, yaitu gaya jongkok, gaya lenting atau menggantung dan gaya jalan di udara (Yusuf Adisasmita : 68). Salah satu gaya dari ketiga gaya tersebut yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah lompat jauh gaya jongkok, karena gaya ini banyak dilakukan anak-anak sekolah karena gaya ini dianggap paling mudah untuk dipelajari (Kurikulum SD, 1994).
Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) secara tehnik lompat jauh gaya jongkok ada empat unsur yang terdiri dari : awalan (approach run), tolakan (take off), sikap badan di uadara (action in the air) serta mendarat (landing).
Pada dasarnya keempat unsur tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu persatu, karena gerakannya adalah gerakan yang membentuk rangkaian gerakan lompat jauh yang tidak terputus. Disamping itu dipengaruhi oleh kecepatan lari awalan, kekuatan tungkai tumpu,koordinasi sewaktu melayang di udara dan mendarat (Yusuf Adisasmita : 65).
Tujuan utama dari seorang pelompat ketika akan melompat adalah adanya keinginan untuk melakukan lompatan yang sejauh-jauhnya. Supaya dapat melakukan suatu lompatan yang diinginkan untuk meningkatkan hasil yang optimal maka terlebih dahulu harus memahami dan menguasai tehnik gerakan dalam lompat jauh.
Berikut ini akan diuraikan satu persatu tehnik lompat jauh gaya jongkok yaitu:
1. Awalan
Awalan adalah gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan atau lompatan. Kecepatan yang diperoleh dari hasil awalan disebut dengan kecepatan horizontal, yang sangat berguna untuk membantu kekuatan pada waktu melakukan tolakan ke atas depan. Supaya dapat menghasilkan daya tolakan yang besar maka langkah lari awalan harus dilakukan dengan mantap serta menghentak-hentak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90). Awalan itu harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan mengubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan biasanya 30 – 40 meter (Engkos Kosasih, 1993 : 83).
Pendapat Yusuf Adisasmita kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi hasil lompatan. Ini berarti bahwa kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pelompat tanpa kecepatan sama sekali tidak mempunyai suatu harapan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya (Yusup Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Yusuf Adisasmita (1992, 67) untuk dapat melakukan lari awalan dengan baik, perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Jarak lari awalan tergantung pada tiap-tiap pelompat.
b. Jarak lari awalan harus cukup jauh untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Panjang awalan 30 – 40 meter, untuk usia SD antara 15 – 20 meter.
c. Kecepatan lari awalan dan irama langkah harus rata.
d. Pada langkah akhir, pikiran dipusatkan untuk melompat setinggi-tingginya ke arah depan.
e. Langkah terakhir diperkecil agar dapat menolak ke atas dengan lebih sempurna.
f. Sikap lari seperti pada lari jarak pendek.
Pada penelitian ini siswa mempergunakan awalan dengan panjang antara 15-20 meter, sesuai dengan kemampuan usia anak SD.
2. Tolakan atau tumpuan (take off)
Tolakan atau tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara lari, awalan dan melayang. Beberapa langkah sebelum menumpu, pelompat harus sudah siap untuk bertumpu. Seluruh tenaga dan pikirannya, harus ditujukan terhadap ketepatan betumpu. Pada saat itu pelompat berpindah dari keadaan lari ke melayang. Agar dapat melayang lebih jauh, selain dari kecepatan lari awalan dibutuhkan pada tambahan tenaga dari kekuatan tumpuan, yaitu daya dari tungkai kaki yang disertai dengan lengan dan tungkai ayun.
Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong ke depan, titik berat badan harus terletak tegak dimuka titik sumber tenaga, yaitu tungkai menumpu pada saat pelompat menumpu (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Sudarminto (1998 : 241), mengatakan bahwa dari kecepatan maju yang penuh pelompat harus menggerakan gerakannya dari tolakan ke atas dengan sudut yang terbaik, yaitu 450. Untuk mengubah arah gerakannya, maka harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir.
Untuk melakukan ini ia membungkuk sedikit dan langkahnya diperlambat dalam usahanya mencapai ketinggian. Pada saat bertolak dari balok tolakan, telapak kaki depan ada titik berat badan. Telapak kaki menyentuh balok ketika titik beratnya bergerak ke depan 3,5 kaki. Di sini ada sedikit perlambatan pada saat bertolak. Pendapat Soedarminto (1998 : 241) menyatakan bahwa perlambatan itu tidak akan mempengaruhi lompatan yang dicapai asalkan sudut yang ideal 450 dapat dicapai.
Dari pendapat trsebut di atas dapat disimpulkan tujuan pelompat jauh melakukan tumpuan atau tolakan ini adalah mengubah gerak lari menjadi suatu lompatan dengan menggunakan kaki tumpu terkuat, pelompat harus mengerahkan gerakannya dari balok tolakan ke atas dengan sudut terbaik, yaitu 450, untuk merubah arah gerakannya ia harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :
Gambar 2
Cara melakukan gerakan tumpuan (take off)
(Carr. 2000 : 46)
Keterangan :
a. Saat kaki akan menumpu pada balok lompatan
b. Saat kaki menumpu pada balok lompat
c. Saat kaki tumpu akan lepas dari balok lompat
Untuk dapat melakukan tolakan atau tumpuan yang sangat kuat ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu : kecepatan horizontal yang diperoleh dari lari awalan dan kecepatan vertical yang diperoleh dari kekuatan tolakan atau tumpuan. Dari kedua kecepatan ini, akan diperoleh kecepatan paduan yang menentukan gerak titik berat badan (Yusuf Adisasmita, 1992 : 65).
3. Sikap badan di udara
Dalam tehnik lompat jauh, setelah pelompat menumpu pada balok lompat maka melayanglah pelompat itu. Naiknya badan setelah tumpuan (melayang) adalah salah satu faktor yang sering dilalaikan oleh para pelompat. Setelah menumpu dengan kaki tumpu, pelompat sering tidak memberi waktu lagi untuk lebih lama di udara. Biasanya tungkai tumpuannya dengan tergesa-gesa didaratkan pada bak pasir. Dalam hal ini penting sekali meluruskan tungkai itu dengan secepatnya untuk memperoleh ketinggian sehingga kita dapat
melayang lebih tinggi. Pada waktu naik badan harus ditahan dalam keadaan sikap tidak kaku (rileks).
Kemudian melakukan gerakan-gerakan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan yang lebih sempurna. Gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang) yang biasanya disebut gaya lompatan dalam lompat jauh (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Gerakan sikap badan di udara atau gaya lompatan harus benar untuk menjaga keseimbangan badan dan meningkatkan pendaratan yang lebih baik. Kesalahan gerak di udara menyebabkan seorang atlit mendarat lebih awal. Untuk lebih jelas lihat gambar 3 yaitu sikap badan pada saat melayang diudara:
Gambar 3.
Sikap Badan Pada Saat Di Udara
(Soegito dkk, 1994 : 147)
Menurut Soedarminto dan Soeparman (1993 : 360) menyatakan bahwa untuk membantu tolakan ke atas, lengan harus diayunkan setinggi mungkin atau prinsipnya adalah momentum dari bagian dipindahkan kepada
keseluruhan. Ayunan kaki ke atas mengunci sendi karena kerjanya Ligamenta iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk.
Menurut beberapa pendapat di atas bahwa melayang adalah pada saat pelompat memutuskan hubungan dengan papan, gerak seperti lintasan peluru dari kurva pusat gaya yang telah dilakukan tak bisa dirubah. Bagaimanapun gerakan di udara membantu pelompat mengatur keseimbangan dan menyiapkan posisi mendarat yang efektif.
4. Pendaratan
Pada waktu mendarat pelompat harus dapat mengusahakan menjulurkan lengannya sejauh-jauhnya ke muka dengan tidak kehilangan keseimbangan badan. Pada saat ini timbul perasaan badan akan jatuh ke belakang. Untuk mencegahnya titik berat badan harus dibawa ke muka dengan jalan membungkukkan badan, sehingga badan dan lutut hampir merapat dibantu pula dengan juluran tangan ke muka. Pada waktu pendaratan, lutut debengkokkan sehingga dapat memungkinkan suatu momentum membawa badan ke depan di atas kaki. Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Pada saat pelompat menginjak tanah lengan diayunkan ke depan, lutut ditekuk dan badan membungkuk ke depan. Gerakan ini membawa titik berat badan jatuh di bawah garis melayang, memberikan momentum pada badan serta mencegah jauh ke belakang pada tumit yang berakibat mengurangi jarak lompatan (Soedarminto dan Soeparman, 1993 : 360).
Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat, yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan. Mendarat yang baik adalah ketika mendarat atau jatuhnya dengan kedua kaki dan tangan ke depan, jadi misalkan jatuhnya ke depan tidak akan merugikan (Engkos Kosasih, 1993 : 84).
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-prinsip latihan
2.1.3.1 Pengertian Plyometrics
Menurut KONI (2000 : 27) plyometrics adalah metode latihan untuk meningkatkan kekuatan dan power otot tertentu. Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada otot tertentu ialah dengan meregangkan (memanjangkan) dahulu otot-otot tersebut. Sebelum mengkontraksikan (memendekkan) otot-otot secara eksplosif (meledak-ledak). Dengan kata lain, kita dapat mengerahkan lebih banyak tenaga pada suatu kelompok otot, apabila kita terlebih dahulu menggerakkan otot tersebut kearah yang berlawanan. Untuk melatih power otot tungkai, mula-mula gerakkan tungkai kearah yang berlawanan (jongkok), merupakan apa yang disebut sebagai fase pra-regang (pre-streching phase). Kemudian melompat dengan sekuat tenaga keatas. Setelah mendarat, tanpa adanya masa berhenti, kemudian secepatnya melompat lagi sekuat tenaga keatas, sehingga seakan-akan mendarat pada bara api.
Plyometrics merupakan bentuk latihan untuk mendapatkan eksplosive power (KONI, 2000 : 27).
2.1.3.2 Prinsip – Prinsip Latihan
a. Prinsip – Prinsip Penambahan Beban Bertambah ( Overload )
Prinsip latihan yang paling dasar adalah prinsip overload, oleh karena tanpa penerapan prinsip tersebut tidak mungkin berprestasi atlit akan meningkat. Penerapan sitem overload apabila atlit sudah merasa ringan dengan beban yang diberikan maka beban latihan harus ditingkatkan (M. Sajoto, 1988 :42). Dengan latihan beban bertambah penyesuaian fisiologis dalam tubuh yang mendorong meningkatkan kekuatan otot.
b. Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus
Otot yang menerima beban latihan berlebih kekuatanya akan bertambah. Apabila kekuatan bertambah maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak lagi dapat menambah kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit pada set atau jumlah repetisi tertentu, otot belum merasa lelah penambahan demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif (M. Sajoto, 1988).
c. Prinsip Pengaturan Suatu Latihan
Latihan berbeban hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga kelompok otot-otot dulu yang dilatih sebelum otot yang lebih kecil. Hal ini dilakukan agar kelompok otot kecil tidak mengalami kelelahan lebih dahulu.
d. Prinsip Kekhususan Program Latihan
Menurut O’shea dalam bukunya M. Sajoto (1988 : 42) menyatakan bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID” yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya
bersifat khusus, sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Bila akan meningkatkan kekuatan, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus. Namun perlu memperhatikan pula gerak yang dihasilkan, oleh karena itu latihan berbeban hendaknya dikaitkan dengan latihan peningkatan ketrampilan motorik khusus. Dengan kata lain latihan beban menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Seperti diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh dalam lompat jauh perlu adanya bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai, latihan tersebut dapat dilakukan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Menggunakan alat dalam hal ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki.
Selain keempat prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian. Volume menurut Depdikbud (1997 : 31) ialah kuantitas beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, jumlah beberapa elemen jenis latihan, total waktu latihan, berat beban yang diangkat, jumlah set dalam latihan interval dan sirkuit sebagai ukuran rangsangan motorik dalam satu unit latihan. Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat
pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan jumlah repetisi dan set. Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemilihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen berikutnya. Menurut O’Shea yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48) mengatakan bila latihan lebih dari satu rangkaian, maka masa istirahat dalam rangkaian adalah antara 1-2 menit. Menurut Bompa yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 33) mengatakan bahwa tes untuk mengevaluasi hasil latihan kekuatan dapat dilaksanakan setelah antara 4-6 minggu dari suatu masa siklus latihan makro. Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kaki atlit harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.
Dalam penelitian ini frekuensi latihan yang dipakai adalah tiga kali per minggu selama enam minggu. Sehingga tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu tersebut.
2.1.4. Faktor kondisi fisik yang mempengaruhi kemampuan lompat jauh
Dalam melakukan suatu latihan harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi atau memberi peran bagi tercapainya prestasi yang maksimal dalam cabang olahraga atletik khususnya lompat jauh. Pada lompat jauh gaya
jongkok ini akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan, daya ledak, ketepatan, kelentukan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90).
Kondisi fisik yang akan dibatas dalam penelitian ini adalah:
1. Kecepatan
Kecepatan menurut Suharno H.P.(1986 : 43) adalah kemampuan organisme atlit dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Sedangkan Sajoto (1995 : 9) menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan disini adalah kecepatan lari dalam lompat jauh gaya jongkok yang mana kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari langkah yang dilakukan secara cepat dan tepat. Secara cepat maksudnya setelah lari awalan lompat jauh itu untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh, secara tepat maksudnya setelah lari awalan dengan kecepatan tadi diupayakan kaki tumpu dapat jatuh dibalok tumpuan.
2. Kekuatan
Kekuatan merupakan unsur yang penting dan perlu mendapatkan perhatian khususnya dalam melaksanakan program latihan. Latihan kekuatan mendapat porsi lebih banyak dibandingkan unsur yang lainnya.
Kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam melatih ketrampilan gerak. Menurut Sajoto (1995 : 8) komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi kekuatan merupakan otot dalam menahan beban dari kerja dalam
waktu tertentu secara maksimal. Dalam lompat jauh unsur kekuatan sangatlah penting untuk mendapatkan hasil tolakan yang kuat dan benar sehingga dapat pula melakukan tolakan yang tinggi.
3. Daya ledak
Kekuatan daya ledak adalah kekuatan sebuah otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam gerakan yang utuh (Suharno H.P., 1998 : 36). Daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum dalam waktu yang singkat dan kontraksi yang cepat. Untuk mendapatkan tolakan yang kuat dan kecepatan yang tinggi harus memiliki daya ledak yang besar. Jadi daya ledak otot tungkai sebagai tenaga lompat pada saat melakukan tolakan pada papan tolak setelah melakukan awalan untuk memperoleh kecepatan vertical sehingga memperjauh hasil lompatan.
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dan Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus sesuai dengan cabang olahraga yang bersangkutan. Bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai menggunakan alat, yaitu naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
2.1.5.1. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah bentuk latihan plyometrics. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku kemudian kaki kiri diletakkan di atas bangku, kedua lengan berada disamping badan, kaki kiri yang berada di atas bangku ditekuk
membentuk sudut ± 900. Dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak kaki yang berada di atas bangku dan di lantai bersama-sama secara bergantian. Pada waktu mendarat dilakukan secepat mungkin kembali seperti pada saat posisi awal, untuk dilanjutkan dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada hitungan satu kaki kiri ke atas bangku, pada waktu hitungan dua melompat kaki kiri diikuti kaki kanan diayun setinggi mungkin dengan lutut ditekuk, hitungan tiga kaki kanan mendarat dilantai diiringi dengan kaki kiri pada hitungan keempat. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 4 dibawah ini.
Gambar 4.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian
(Yusuf Adisasmita, 1992:70)
2.1.5.2. Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki adalah bentuk latihan plyometrics dengan menggunakan dua tungkai secara bersamaan. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku sedikit menekuk sendi lutut ± 1350, kedua lengan berada disamping badan dengan kedua sendi siku ditekuk ± 900 dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak, kedua kaki bersama-sama melompat ke atas bengku ke tempat semula. Pendaratan dilakukan secepat mungkin pada posisi awal, untuk dilanjutkan
dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada waktu hitungan satu loncat di atas bangku, hitungan turun bangku dilanjutkan hitungan ganjil loncat di atas bangku, kalau hitungan genap turun bangku. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 5 dibawah ini.
Gambar 5.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki
(Donal A Chu, 1992:48)
2.1.6 Analisa Gerak
Kedua bentuk latihan di atas bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan tenaga lompat, yaitu unsur daya ledak dan kekuatan otot tungkai seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P.(1993 : 27-28) bahwa latihan-latihan otot mempunyai pengaruh terhadap hasil yang dicapai pada kemampuan jarak seperti dalam pengembangan daya lompat pada kaki dan juga terhadap fleksibilitas pada otot dan persendian.
Latihan loncat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian, lompatan lebih diarahkan pada ketepatan tolakan (tumpuan). Latihan yang diarahkan pada ketepatan tolakan diharapkan pelompat dengan tolakan yang tepat dan kuat akan menghasilkan lompatan horizontal yang tinggi, dengan demikian akan mempengaruhi hasil lompatan yang jauh dalm lompat jauh gaya jongkok.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lompatannya lebih banyak kearah vertikal, sehingga akan menghasilkan ketinggian yang optimal. Dengan latihan ini diharapkan pelompat setelah bertumpu akan menghasilkan kekuatan horizontal dan vertikal hingga menghasilkan lompatan yang jauh dalam lompat jauh gaya jongkok.
Prediksi awal dalam latihan naik turun bangku ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian diharapkan lebih baik dari pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki karena lompat jauh dipengaruhi oleh tolakan yang tepat dan kuat.
2.2. Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kebenarannya ( Sutrisno Hadi, 1988 : 257). Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 20) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Suatu hipotesis akan diterima kalau bahan-bahan penyelidikan membenarkan pernyataan itu dan akan ditolak bilamana kenyataan menolaknya. Dari kedua jenis latihan, yaitu lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten semarang tahun 2004-2005.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penggunaan metode penelitian dalam suatu research harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sutrisno Hadi (1988 : 4) berpendapat bahwa “Metodologi Research” sebagaimana kita kenal sekarang memberikan garis-garis yang sangat cermat dan mengajukan syarat-syarat yang sangat keras. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu research dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya.
Dalam penelitian ini akan diuraikan beberapa hal yang berkenaan engan metode penelitian, adalah sebagai berikut :
3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki. Populasi dibatasi sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 1988 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 155) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan objek penelitian dan dari seluruh individu tersebut paling sedikit harus mempunyai satu sifat yang sama.
Dalam penelitian ini populasi yang dipergunakan adalah siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.. Adapun yang mendasari pengambilan populasi ini adalah :
1. Semua siswa sama dalam satu naungan sekolah, yaitu SD Negeri Kalisidi 03 Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Semua siswa berjenis kelamin sama, yaitu putra
3. Masing-masing siswa pernah mendapatkan pelajaran atletik cabang lompat jauh gaya jongkok.
Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Sutrisno Hadi (1988 : 221) bahwa sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diselidiki. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah wakil atau sebagian dari suatu populasi yang akan diteliti. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
Sebagai pedoman untuk mendapatkan sampel adalah jika subjek yang digunakan kurang dari 100 dapat dipilih semua, sehingga merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar dapat dipilih antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Suharsimi Arikunto, 1998 : 120). Siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang berjumlah 24 siswa maka peneliti menggunakan total sampling.
Sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 sesudah diadakan pengambilan tes awal lompat jauh gaya jongkok kemudian dirangking dan dipasangkan dengan menggunakan rumus A-B-B-A. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Sedangkan kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel
Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998 : 99). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat.
Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan latihan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil lompat jauh gaya jongkok.
Metode dan Rancangan Penelitian
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian ini maka dipergunakan eksperimen, yaitu dengan memberikan perlakuan pada siswa berupa kegiatan tes awal, treatment atau latihan-latihan dan tes akhir. Dengan kegiatan
tersebut akan terlihat hubungan sebab akibat pengaruh dari pelaksanaan kegiatan atau latihan.
Penelitian ini mempergunakan metode eksperimen didasarkan pada :
1. Metode eksperimen merupakan salah satu metode paling tepat untuk menyelidiki sebab akibat (Sutrisno Hadi, 1988 : 127).
2. Metode eksperimen merupakan salah satu cara untuk mencari hubngan sebab akibat atau hubungan dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor lain yang bisa mengganggu (Suharsimi Arikunto, 1998 : 4)
Memperhatikan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dasar mempergunakan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang meliputi tes awal dan tes akhir yaitu lompat jauh gaya jongkok untuk menguji kebenarannya.
Metode eksperimen ini mempergunakan pola Macthing by Subject Design yang sering disebut pola M-S. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno Hadi (2000 : 484) yang menyatakan bahwa subject matching sudah tentu sekaligus berarti juga group matching, karena hakekat subject matching adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subjek (pair of subject) masing-masing kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 secara otomatis akan menseimbangkan kedua group itu. Adapun pairing of subject yang setingkat atau seimbang dijalankan atas dasar pengukuran pre eksperimen atau atas dasar penyelidikan-penyelidikan pendahuluan.
Tiap-tiap eksperimen akhirnya membandingkan sedikitnya dua kelompok dalam segi-segi yang dieksperimankan. Pendeknya mencari perbedaan antara sifat
keadaaan atau tingkah laku dua kelompok (atau lebih) menjadi kegiatan utama dalam kebanyakan penyelidik-penyelidik ilmiah (Sutrisno Hadi, 1988 : 260).
Peneliti dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ordinal pairing yang didapat dari hasil pre test atau tes awal , yaitu lompat jauh gaya jongkok. Hasil tes awal dipasangkan (diseimbangkan) dengan pola A-B-B-A dan setiap pasang dipisahkan menjadi dua kelompok, dari kedua kelompok tersebut diundi untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2, sehingga masing-masing kelompok berangkat dari titik tolak yang sama. Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok
Tes Awal (pre-test)
Treatmen
Tes Akhir (Post-Test)
Kelompok 1
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Lompat jauh gaya jongkok
Kelompok 2
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun tumpuan dua kaki
Lompat jauh gaya jongkok
Instrumen Penelitian
3.5.1 Instrumen Test
Instrument yang dipergunakan dalam penelitian ini adalahtes lompat jauh gaya jongkok. Tes ini bertujuan untuk mengukur hasil lompatan, baik pada tes awal maupun tes akhir.
3.5.2 Program Latihan
Program latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki dilaksanakan 16 kali pertemuan (6 minggu) yang setiap minggunya 3 kali pertemuan. Minggu
pertama 3 set 6 repetisi, minggu kedua 4 set 6 repetisi, minggu ketiga 4 set 8 repetisi, minggu keempat 4 set 10 repetisi, minggu kelima 4 set 12 repetisi dan minggu keenam 4 set 14 repetisi. Pertemuan pertama dan terakhir untuk pengambilan data.
Tehnik Pengambilan Data
Sebelum penelitian dimulai, peneliti mencari objek penelitian, setelah mendapatkan objek penelitian peneliti mengajukan surat permohonan untuk mengadakan penelitian kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Setelah mendapatkan persetujuan peneliti mengawali dengan menentukan populasi dan memilih sampel dengan tehnik total sampel, yaitu semua populasi diikutkan sebagai sampel.
Langkah berikutnya menentukan judul skripsi bersama pembimbing yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk rancangan skripsi guna mendapatkan surat persetujuan penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES berupa Permohonan Ijin Penelitian Kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03.
Kemudian peneliti mengadakan tes awal lompat jauh gaya jongkok, hasil tes dimasukkan dengan rumus A-B-B-A, sehingga terbentuk dua kelompok yang mempunyai kemampuan yang sama atau hampir sama., untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
3.6.1 Waktu Peneletian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, yaitu mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005. Penelitian ini diawali dengan tes awal pada tanggal 25 Januari 2005 dan hari-hari berikutnya merupakan latihan,
serta tes akhir dilaksanakan pada 5 Maret 2005.. Penelitian ini dilaksanakan tiga kali seminggu tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dengan pelaksanaan tiap sore pukul 15.00 WIB sampai selesai.
3.6.2 Tempat Penelitian
Tempat Penelitian yang dipergunakan adalah lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
3.6.3 Obyek Penelitian
Siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebagai obyek penelitian yang berjumlah 24 siswa.
3.6.4 Alat Penelitian
Alat perlengkapan dalam penelitian adalah : bangku setinggi 36 cm, bendera, roll metter, cangkul, bak pasir.
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian
Demi kelancaran penelitian peneliti dibantu oleh beberapa rekan guru Penjas Kecamatan Ungaran, serta beberapa rekan mahasiswa yang membantu dalam pelaksanaan tes awal dan tes akhir
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian
Secara keseluruhan penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu yang dimulai sejak tanggal 25 Januari 2005 sampai dengan tanggal 5 Maret 2005 yang terbagi dalam 3 kegiatan yaitu : 1) tes awal, 2) perlakuan, dan 3) tes akhir.
1. Tes awal
Tes awal dilaksanakan dilapangan olahraga SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah lompat jauh yang disesuaikan dengan buku peraturan perlombaan atletik dari PASI. Sebelum tes awal dimulai, siswa diberi penjelasan mengenai pelaksanaan tes lompat jauh. Sesudah diberi penjelasan baru penjelasan baru dilaksanakan tes awal. Tes awal dilaksanakan tanggal 25 Januari 2005 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai dilapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
2. Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005 dengan demikian penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan. Sedangkan setiap pertemuan dilaksanakan selama ± 90 menit, dengan pengaturan waktu yaitu 10 menit untuk pemanasan, 70 menit latihan inti dan 10 menit untuk penenangan.
Waktu kegiatan latihan dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dimulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Materi latihan pada kelompok eksperimen 1 adalah naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan kelompok eksperimen 2 adalah latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Untuk penyajian materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Sedangkan mengenai pengaturan waktu latihan adalah sebagai berikut:
a) Pemanasan
Pemanasan diberikan pada siswa dengan tujuan untuk persiapan fisik siswa sebelum melakukan latihan inti. Latihan ini sangat penting untuk mengadakan perubahan dalam fungsi organ tubuh guna menghadapi fisik yang lebih berat (Tohar, 2004 : 4).
b) Latihan Inti
Latihan inti dilaksanakan sesuai dengan program latihan materi diberikan sesuai dengan jadwal latihan. Jadwal latihan terlampir pada lampiran 6. Setelah melakukan latihan sesuai dengan kelompoknya masing-masing kemudian latihan lompat jauh gaya jongkok
c) Penenangan
Penenangan dilaksanakan selama 10 menit dan hal ini bertujuan untukm memulihkan kembali kondisi badan sesudah menerima materi latihan, dengan demikian keadaan tubuh akan pulih secara sempurna seperti semula. Adapun gerakan yang digunakan untuk penenangan bisa melakukan gerakan-gerakan stretching kembali. Selanjutnya bisa diberi penjelasan atau koreksi secara keseluruhan selama jalannya latihan, kesan dan pesan untuk membangkitkan motivasi latihan berdoa dan dibubarkan.
3. Tes akhir
Setelah program latihan dilaksanakan selama 16 kali pertemuan pada hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2005 dilakukan tes akhir yang pelaksanaannya sama dengan tes awal. Adapun tujuan dilaksanakannya tes akhir adalah untuk
mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa baik dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 setelah mengikuti program latihan.
Teknik Analisa Data
Karena dalam penelitian ini merupakan nilai suatu tes dari dua kelompok eksperimen yang sudah di-macth-kan pada masing-masing individunya, maka untuk pengetesan signifikan menggunakkan t-test dengan rumus pendek (short methode). Sesuai dengan pendapat Sutrisno hadi (1973 : 453).
Analisis terhadap hasil-hasil eksperimen yang didasarkan atas subject matching selalu menggunakan t-test pada correlated sample. Mengenai penggunaan rumus t-test peneliti menggunakan rumus pendek adalah rumus yang serba guna dan efisien. Rumus ini dipersiapkan untuk menyelesaikan eksperimen yang mennggunakan matched subject design (Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
3.7.1. Uji Beda
Untuk menghitung perbedaan peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok dengan rumus t-test. Rumus t-test digunakan dalam eksperimen-eksperimen yang menggunakan sampel-sampel yang berkorelasi, yaitu sampel-sampel yang sudah disamakan salah satu variabel t-test yang digunakan adalah sebagai berikut :
t = )1(2−ΣNNdMd
(Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
Keterangan :
t = Nilai perbedaan
N = Jumlah subjek
Md = Rata-rata selisih antara X1 dan X2
D = Penyimpangan (selisih) antara X1 dan X2 dan Md
Adapun uji perbedaan menggunakan derajat kebebasan N-1 pada taraf signifikansi 5%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian
Faktor kesungguhan anak
Kesungguhan anak dalam melakukan latihan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil penelitian. Peneliti memberikan motivasi selama latihan sehingga anak mempergunakan tenaganya secara maksimal.
Faktor cuaca
Latihan dilakukan pada sore hari, turunnya hujan dapat mengganggu jalannya latihan.apabila terjadi hujan saat latihan, latihan diganti dengan hari lain sehingga tidak mengurangi jadwal latihan. Jadi tidak mengurangi jumlah pertemuan yang sudah dijadwalkan.
3.8.3. Faktor kegiatan anak
Kegiatan anak diluar sulit diawasi peneliti, sebab tinggal peneliti jauh dari anak. Untuk mengontrol kegiatan anak peneliti memberikan pengertian-pengertian agar di luar penelitian tidak melakukan aktivitas yang sama dengan treatmen penelitian.
3.8.4. Faktor pemberian materi
Melihat kemampuan anak yang berbeda-beda peneliti selalu memberikan materi dengan jelas disertai dengan contoh-contoh sebelum pelaksanaan latihan dan sesudah latihan diberikan evaluasi secara menyeluruh.
3.8.5. Faktor kehadiran
Tempat penelitian dan rumah anak hanya berlingkup satu warga, maka anak dengan rajin mengikuti latihan, biarpun demikian peneliti selalu menyiapkan daftar hadir.
3.8.6. Faktor psikologi
Kehadiran peneliti pada waktu latihan membuat anak mempunyai rasa persaingan dalam melakukan kegiatan latihan. Anak selalu berlatih dengan sekuat tenaga dan menginginkan hasil lompatan sejauh mungkin apabila tes akhir nanti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Untuk mencari perbedaan pengaruh hasil latihan dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 dapat dilihat pada pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Tabel Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik
Kelompok
N
M
t-hitung
t-tabel
Keterangan
Eksperimen 1
12
341,67
Eksperimen 2
12
354,167
2,250
2,201
Signifikan
Dari hasil perhitungan statistik diperoleh t-hitung 2,250 kemudian t-tabel dengan db 11 dan taraf signifikan 5% diperoleh hasil 2,201 dengan demikian berarti setelah diberi perlakuan ternyata ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran diterima.
Untuk mengetahui mana yang lebih baik antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok dilakukan uji mean. Mean kelompok 1= 341,367 dan mean kelompok 2 = 354,167 , berarti M K1 < M K2 maka latihan naik turun tumpuan dua kaki lebih baik daripada latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005.
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok terdapat pengaruh. Siswa yang selama ini belum pernah menerima atau melakukan program latihan yang berkesinambungan setelah diberi latihan secara teratur dan terprogram sangat mempengaruhi hasil lompatan. Latihan naik turun bangku selain untuk memperkuat otot tungkai juga menimbulkan daya ledak yang optimal sehingga sangat menunjang dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki, terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok menunjukkan ada perbedaan yang berarti. Secara analisis gerakan kedua bentuk latihan dalam penelitian ini adalah ketinggian lompatan yang di hasilkan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih tinggi dibandingkan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Perbedaan pengaruh latihan ini terutama pada lompatan yang tinggi akan menghasilkan jarak yang lebih jauh.
Pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki mempunyai suatu kelebihan, yaitu adanya irama yang cepat pada waktu melakukan latihan, yaitu hitungan 1 dan 2 jadi mempengaruhi daya ledak yang tinggi dan kekuatan otot kaki secara maksimum. Gerakan meloncat ke atas pada posisi badan dan kaki membentuk sudut. Sesuai dengan gerakan melayang pada waktu melakukan lompat jauh gaya jongkok, dengan demikian latihan loncat naik turun bangku tumpuan dan kaki merupakan latihan yang berdaya guna (efektif) dan hasil guna
(efisien) di dalam pemakaian ruang gerak, waktu dan tenaga yang dihasilkan untuk memperoleh hsil yang baik dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok. Kekurangan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah gerakan terfokus pada lompatan yang tinggi dengan satu kaki yang bertujuan untuk ketepatan dan kekuatan tolakan saja, dengan irama yang lambat pada waktu latihan (hitungan 1-4) membuat daya ledak dan kekuatan otot kaki kurang maksimum.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, ternyata hipotesis yang diajukan dapat diterima, dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan loncat naik turun banku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompatan jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Tahun Pelajaran 2004/2005.
5.2. Saran
Dengan kesimpulan yang telah diambil, maka para guru atau pelatih atlit khususnya cabang lompat jauh disarankan hal-hal sebagai berikut :
1. Melatih lompat jauh gaya jongkok hendaknya menggunakan latihan yang tepat.
2. Meningkatkan hasil prestasi lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
DAFTAR PUSTAKA
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Aip Syarifuddin & Muhadi. 1992 / 1993. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Benhard, G. 1993. Atletik Prinsip Dasar Latihan Loncat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Loncat Galah. Terjemahan dari String Trainning Voor. Djengd. Semarang. Dahara Prize.
Carr, Gary. 2000. Atletik (edisi terjemahan). Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 1997. Kondisi Fisik Anak-Anak Sekolah Dasar. Jakarta. Depdikbud.
2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi SD dan MI. Jakarta: Dharma Bhakti.
Donald A. Chu. 1992. Plyometrics.
Engkos Kosasih. 1985. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo.
KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta: KONI
Harsono. 1988. Ilmu Coaching. Jakarta: KONI pusat
M. Sajoto. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta: Depdikbud.
Soegito dkk. 1994. Pendidikan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rinika Cipto.
Sutrisno Hadi. 1973. Metodologi Research. Yogyakarta: UGM
. 2000. Statistik II. Jakarta: Andi
Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta. FPOK IKIP Yogyakarta.
Tohar. 2004. Ilmu Kepelatihan Lanjut. Semarang. FIK UNNES.
Yoyo Bahagia dkk. 1999. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Yusuf Adisasmita. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
KALENDER PENELITIAN
BULAN JANUARI 2005
Minggu 2 9 16 23 30
Senin 3 10 17 24 31
Selasa 4 11 18 25
Rabu 5 12 19 26
Kamis 6 13 20 27
Jumat 7 14 21 28
Sabtu 1 8 15 22 29
BULAN PEBRUARI 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22
Rabu 2 9 16 23
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
BULAN MARET 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22 29
Rabu 2 9 16 23 30
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
Keterangan :
: Tes awal (Pre Test)
: Treatment (Latihan)
: Tes akhir (Post Test)
Hari latihan : Selasa, kamis dan jumat
Jam 14.00-16.00
Tempat : halaman SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran
SD NEGERI KALISIDI 03
KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG
SURAT KETERANGAN
NO : 00864/25B/2005
Yang bertandatangan di bawah ini, Kepala Sekolah Dasar Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang menerangkan dengan sesungguhnya bahwa :
Nama : Jumiyatun
NIM : 6301903029
Program/ Jurusan : FIK / PLKD UNNES
Semester : IV
Telah melakukan riset/ penelitian guna menyusun skripsi untuk melengkapi tugas-tugas studi tingkat sarjana dengan judul “Perbedaaan Latihan Lompat Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Lompat Naik Turun Bangku
Tumpuan Dua Kaki terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran”
Pelaksanaan riset / penelitian : dari tanggal 14 Februari 2005 sampai dengan 26 Maret 2005 di lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang kemudian harap menjadikan maklum bagi yang bersangkutan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Ungaran, 27 Maret 2005
Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Budiyono, Amd.Pd
NIP.130 567 680
DAFTAR PESERTA
LATIHAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI
BERGANTIAN DENGAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN DUA KAKI
SD NEGERI KALISIDI 03 ECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Induk
Nama Siswa
Jenis Kelamin
Kelas
Ket.
1.
Arif Ahrori
L
VI
2.
Dian Pamungkas
L
VI
3.
M. Shokibi
L
VI
4.
Sunarso
L
VI
5.
Agung Binarso
L
VI
6.
Luhur Adi D.
L
VI
7.
Nurhadi
L
VI
8.
Ardi Pradita
L
VI
9.
Edi Sunarso
L
VI
10.
Galuh
L
V
11.
Jumeri
L
V
12.
M. Nursyarifudin
L
V
13.
Zuli Setiyadi
L
V
14.
Hendro Suharno
L
V
15.
M. Ali
L
V
16.
Tri Sepdiyanto
L
V
17.
Taryono
L
V
18.
Zaenal
L
V
19.
Prasito
L
V
20.
Taufik
L
V
21.
R. Huda
L
V
22.
Fajar Sunarko
L
V
23.
Safii
L
V
24.
Nurkhafidin
L
V
HASIL TEST AWAL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
350
364
366
366
2.
Dian Pamungkas
308
334
343
343
3.
M. Shokibi
302
345
308
345
4.
Sunarso
307
300
300
307
5.
Agung Binarso
285
303
312
312
6.
Luhur Adi D.
270
309
253
309
7.
Nurhadi
290
291
297
297
8.
Ardi Pradita
260
223
242
260
9.
Edi Sunarso
351
340
329
351
10.
Galuh
335
310
342
342
11.
Jumeri
325
325
304
325
12.
M. Nursyarifudin
268
269
265
269
13.
Zuli Setiyadi
341
377
388
388
14.
Hendro Suharno
268
311
310
311
15.
M. Ali
286
276
256
286
16.
Tri Sepdiyanto
293
295
268
295
17.
Taryono
353
340
360
360
18.
Zaenal
311
309
321
321
19.
Prasito
296
335
333
335
20.
Taufik
278
289
284
289
21.
R. Huda
305
290
316
316
22.
Fajar Sunarko
248
251
209
251
23.
Safii
200
233
225
233
24.
Nurkhafidin
225
230
230
230
DAFTAR RANKING HASIL TEST DAN HASIL MATCHING YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBAGIAN KELOMPOK LOMPAT JAUH
SISWA PUTRA SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Dada
Nama
Hasil Awal
Pasangan no urut
Rumus MC
MC Pasang
Hasil Maching
1.
13
Zuli Setiyadi
388
1 2
A
13 1
388 366
2.
1
Arif Ahrori
366
B
3.
17
Taryono
360
4 3
B
9 17
351 360
4.
9
Edi Sunarso
351
A
5.
3
M. Shokibi
345
5 6
A
3 2
345 343
6.
2
Dian Pamungkas
343
B
7.
10
Galuh
342
8 7
B
19 10
335 342
8.
19
Prastio
335
A
9.
11
Jumeri
325
9 10
A
11 18
325 321
10.
18
Zaenal
321
B
11.
21
R. Huda
316
12 11
B
5 21
312 316
12.
5
Agung Binarso
312
A
13.
14
Hendro Suharno
311
13 14
A
14 6
311 309
14.
6
Luhur Adi D.
309
B
15.
4
Sunarso
307
16 15
B
7 4
297 307
16.
7
Nurhadi
297
A
17.
16
Tri Septiyanto
295
17 18
A
16 20
295 289
18.
20
Taufik
289
B
19.
15
M. Ali
286
20 19
B
12 15
269 286
20.
12
M. Nursyarifudin
269
A
21.
8
Ardi Pradita
260
21 22
A
8 22
260 251
22.
22
Fajar H.
251
B
23.
23
Safii
233
24 23
B
24 23
230 233
24.
24
Nurkhafidin
230
A
PEMASANGAN SAMPEL PENELITIAN HASIL TEST AWAL
LOMPAT JAUH
Kelompok Eksperimen I
Kelompok Eksperimen II
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
13
Zuli Setiyadi
388
1
1
Arif Ahrori
366
2
9
Edi Sunarno
351
4
17
Taryono
360
3
3
M. Shokibi
345
5
2
Dian Pamungkas
343
6
19
Prastio
355
8
10
Galuh
342
7
11
Jumeri
325
9
18
Zaenal
321
10
5
Agung Binarso
312
12
21
R. Huda
316
11
14
Hendro Suharno
311
13
6
Luhur Adi N.
309
14
7
Nurhadi
297
16
4
Sunarso
307
15
16
Tri Supriyadi
294
17
20
Taufik
289
18
12
M. Nursyarifudin
269
20
15
M. Ali
286
19
8
Aldi Pradita
260
21
22
Fajar Sunarko
251
22
24
Nur Khafidin
230
24
23
Safii
233
23
Keterangan :
1. Kelompok eksperimen I mendapat perlakuan latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
2. Kelompok eksperimen II mendapat perlakuan latihan lompat naik turun baangku tumpuan dua kaki
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TES AWAL HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 1 DAN EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
(x1)
K2
(x2)
D
x1 – x2
Md
D
(D – Md)
d2
(D-Md)
1 2
388
366
22
- 0,4166
22,4166
502,5039
4 3
351
360
- 9
- 0,4166
- 8,5834
73,6747
5 6
345
343
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
8 7
335
342
- 7
- 0,4166
- 6,5834
43,3411
9 10
325
321
4
- 0,4166
4,4166
19,5063
12 11
312
316
- 4
- 0,4166
- 3,5834
12,8407
13 14
311
309
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
16 15
297
307
-10
- 0,4166
- 9,5834
91,8415
17 18
295
289
6
- 0,4166
6,4166
41,1727
20 19
269
286
-17
- 0,4166
-16,5834
269,6689
21 22
260
251
9
- 0,4166
9,4166
88,6723
24 23
230
233
- 3
- 0,4166
- 2,5834
6,6739
Jumlah
3718
3723
- 5
- 0,002
1160,695
Mean
309,8333
310,25
- 0,4166
96,7245
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2
Md = NDΣ= 125−= – 0,4166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12695,11604166,0−−
= – 0,1405
Kesimpulan
Dengan db = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh – 0,1405, ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol diterima, yang berarti bahwa tidak trdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
HASIL TEST AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
410
400
445
445
2.
Dian Pamungkas
395
350
38
395
3.
M. Shokibi
345
365
365
365
4.
Sunarso
315
325
300
325
5.
Agung Binarso
335
350
345
350
6.
Luhur Adi D.
320
340
305
340
7.
Nurhadi
295
315
310
315
8.
Ardi Pradita
275
280
230
280
9.
Edi Sunarso
330
330
340
340
10.
Galuh
380
380
345
380
11.
Jumeri
365
350
355
365
12.
M. Nursyarifudin
295
305
305
305
13.
Zuli Setiyadi
410
405
390
410
14.
Hendro Suharno
280
320
360
360
15.
M. Ali
245
265
310
310
16.
Tri Sepdiyanto
280
250
305
305
17.
Taryono
370
390
380
390
18.
Zaenal
360
365
380
380
19.
Prasito
330
375
355
375
20.
Taufik
330
355
290
355
21.
R. Huda
330
260
330
330
22.
Fajar Sunarko
285
310
305
310
23.
Safii
355
220
295
355
24.
Nurkhafidin
250
270
300
300
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 1
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Zuli S.
388
410
22
2
Edi
351
370
21
3
M. Shokibi
345
365
20
4
Prastio
335
375
40
5
Jumeri
325
365
40
6
Agung B.
312
350
38
7
Hendro S.
311
360
49
8
Nurhadi
297
315
18
9
Tri Sepdiyanto
295
305
10
10
M. Nursyarifudin
269
305
36
11
Ardi P.D.
260
280
20
12
Nurkhafidin
230
300
70
3718
4100
382
Jumlah
Mean
309,8333
341,6666
31,8333
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 2
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Arif Ahrori
366
445
75
2
Taryono
360
390
30
3
Dian P.
343
395
52
4
Galuh
342
380
38
5
Zaenal
321
380
59
6
R. Huda
316
330
14
7
Luhur A.D.
309
340
31
8
Sunarso
307
325
18
9
Taufik
289
290
1
10
M. Ali
286
310
24
11
Fajar
251
310
59
12
Safii
233
355
122
3723
4250
527
Jumlah
Mean
310,25
354,1666
43,9166
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK 1
No Subjek
Test akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
410
388
22
- 9,8333
96,6937
2
370
351
19
-12,8333
164,6935
3
365
345
20
-11,8333
140,0367
4
375
335
40
8,1667
66,6945
5
365
325
40
8,1667
66,6745
6
350
312
38
6,1667
38,0282
7
360
311
49
17,1667
294,6955
8
315
297
18
-13,8333
191,3602
9
305
295
10
-21,8333
476,6930
10
305
269
36
4,1667
17,3614
11
280
260
20
-11,8333
140,0267
12
300
230
70
38,1667
1456,6969
4100
3718
384
0,0004
3149,6448
Jumlah
Mean
341,6666
309,8333
31,8333
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal dan tes akhir hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1
Md = NDΣ= 12384 = 31,8333
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(126448,31498333,31−
= 6,5169
Kesimpulan
Denagn db = N – 1 = 12 – 1= 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 6,517 ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil test awal dan test akhir pada kelompok eksperimen 1.
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 2
No
Test Akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
445
366
79
35,0834
1230,8449
2
390
360
30
-13,9166
193,6717
3
395
343
52
8,0834
65,3413
4
380
342
38
- 5,9166
35,0061
5
380
321
59
15,0834
227,5089
6
330
316
14
-29,9166
895,0029
7
340
309
31
-12,9166
166,8385
8
325
307
18
-25,9166
671,6701
9
290
289
1
-42,9166
1841,8345
10
310
286
24
-19,9166
396,6709
11
310
251
59
15,0834
227,5089
12
355
233
122
78,0834
6097,0173
4250
3723
527
0,0008
10891,916
Jumlah
Mean
354,1666
310,25
43,9166
Md = NDΣ = 12527= 43,9166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12916,108919166,43−
= 4,8346
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK EKSPERIMEN 1 DAN KELOMPOK EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
x1
K2
x2
D
(x1 – x2)
D
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1 2
410
445
-35
-22,5
506,25
4 3
370
390
-20
-7,5
56,25
5 6
365
395
-30
-17,5
306,25
8 7
375
380
-5
7,5
56,25
9 10
365
380
-15
-2,5
6,25
12 11
350
330
20
32,5
105,625
13 14
360
340
20
32,5
105,625
16 15
315
325
-10
2,5
6,25
17 18
305
290
15
27,5
756,25
20 19
305
310
-5
7,5
56,25
21 22
280
310
-30
-17,5
306,25
24 23
300
355
-55
-42,5
1806,25
4100
4250
-150
0
4073
Jumlah
Mean
341,3666
43,9166
-12,5
Md = NDΣ= 12150 = 12,5
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(1240735,12−−
= 2,2503
Kesimpulan
Denagn db galat = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan hipotesa nol adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 2,250 , ternyata lebih besar dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
TABEL NILAI-NILAI t
Taraf Signifikan
d.b
50%
40%
20%
10%
5%
2%
1%
0,20%
1
1,000
1,376
3,078
6,314
12,71
31,82
63,66
636,69
2
0,816
0,061
1,886
1,920
2,303
2,965
2,925
31,596
3
0,765
0,978
1,638
1,353
2,182
2,541
2,841
12,941
4
0,741
0,941
1,533
1,132
2,776
2,747
2,604
8,610
5
0,727
0,920
1,476
1,015
2,571
2,365
2,032
6,859
6
0,718
0,906
1,440
1,943
2,447
2,143
2,707
5,959
7
0,771
0,896
1,415
1,895
2,365
2,998
2,499
5,405
8
0,706
0,889
1,397
1,860
2,306
2,896
2,355
5,041
9
0,703
0,883
1,383
1,833
2,262
2,821
2,25
4,781
10
0,700
0,879
1,372
1,812
2,228
2,764
2,169
4,587
11
0,697
0,876
1,363
1,796
2,201
2,718
2,106
4,437
12
0,695
0,873
1,356
1,782
2,179
2,681
2.055
4,318
13
0,694
0,870
1,350
1,771
2,160
2,650
2,012
4,221
14
0,692
0,868
1,345
1,761
2,145
2,624
2,977
4,140
15
0,691
0,866
1,341
1,753
2,131
2,602
2,947
4,073
16
0,690
0,865
1,337
1,746
2,120
2,583
2,921
4,015
17
0,689
0,863
1,333
1,740
2,110
2,567
2,898
3,965
18
0,688
0,862
1,330
1,734
2,101
2,552
2,878
3,922
19
0,688
0,861
1,328
1,729
2,093
2,539
2,861
3,883
20
0,687
0,860
1,325
1,725
2,086
2,528
2,845
3,850
21
0,686
0,859
1,323
1,721
2,080
2,518
2,831
3,819
22
0,686
0,858
1,321
1,717
2,074
2,508
2,819
3,792
23
0,685
0,858
1,319
1,714
2,069
2,500
2,807
3,767
24
0,685
0,857
1,318
1,711
2,064
2,492
2,797
3,745
25
0,684
0,856
1,316
1,708
2,060
2,485
2,787
3,725
26
0,684
0,856
1,315
1,706
2,056
2,479
2,779
3,307
27
0,684
0,855
1,314
1,703
2,052
2,473
2,771
3,690
28
0,683
0,855
1,313
1,701
2,048
2,467
2,763
3,674
29
0,683
0,854
1,311
1,669
2,045
2,462
2,756
3,659
30
0,683
0,854
1,310
1,697
2,042
2,457
2,750
3,646
Sumber : (Sutrisno Hadi, 2001 : 358)

Kategori:Uncategorized

1
PENGARUH LATIHAN LOMPAT DENGAN RINTANGAN DAN MERAIH SASARAN DIATAS TERHADAP KEMAMPUAN
LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA
KELAS V SD NEGERI SIDOMULYO 04 UNGARAN
TAHUN PELAJARAN 2004/2005
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
Nama : SUTRISWATI
NIM : 6301903028
Program Studi : S1/ Transfer PKLO
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
2
SARI
SUTRISWATI (2005). Pengaruh Latihan Lompat Dengan Rintangan dan Meraih Sasaran Di Atas Terhadap Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
Permasalahan penelitian ini adalah : Apakah ada perbedaan pengaruh latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran tahun 2004/2005?. Tujuan penelitian untuk menyatakan ada dan tidaknya perbedaan pengaruh latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas.
Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pola M-S. Populasi penelitian ini siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu dengan latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas, serta variable terikat yaitu kemampuan lompat jauh. Instrument penelitian yang digunakan adalah test lompat jauh gaya jongkok. Analisis data menggunakan t-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel atau 2,4620 > 2,201 dengan taraf signifikan 5% dengan db 11 berarti ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Dari perhitungan mean, menunjukkan bahwa mean kelompok eksperimen 1 lebih besar dari mean kelompok eksperimen 2 (318,67 > 308,17), dengan demikian latihan lompat dengan rintangan lebih baik hasilnya dibandingkan dengan latihan meraih sasaran di atas.
Melihat hasil penelitian, disarankan kepada guru Penjas dan pelatih untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh gaya jongkok dapat melakukan latihan lompat dengan rintangan.
3
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui dan disyahkan untuk diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Khomsin, M.Pd. Sri Haryono, S.Pd. M.Or. Nip. 131469639 Nip. 132205930
Mengetahui,
Ketua Jurusan PKLO
Drs. Wahadi, M.Pd.
Nip. 131571551
4
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 14 Juli 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, MS Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 130525506 NIP. 131571551
Penguji :
1. Kumbul S. Budiyanto, S.Pd. M.Kes.
NIP. 132205932
2. Dr. Khomsin, M.Pd.
NIP. 131469639
3. Sri Haryono, S.pd. M.Or
NIP. 132205930
5
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
- Kemarin penuh angan – angan
- Hari ini jadi kenyataan
- Esok penuh harapan
Skripsi Ini Saya Persembahkan Kepada :
1. Ibu dan Bapak saya ( almarhum )
2. Suami saya tercinta
3. Anak saya tersayang
4. Teman-teman Mahasiswa S1 Transfer PKLO FIK UNNES Semarang.
6
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya, sehingga atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak mendapatkan dorongan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung yang tak ternilai harganya, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan persetujuan dalam penelitian ini.
3. Dr. Khomsin, M.Pd dan Sri Haryono, S.Pd. M.Or, yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Kepala SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran yang telah memberikan ijin penggunaan siswa putra kelas V sebagai sampel penelitian.
5. Para Dosen FIK UNNES yang telah ikut serta memberikan petunjuk
6. Guru-guru SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran yang telah banyak membantu dalam penelitian ini.
7. Suami, anak dan Orangtua terkasih yang selalu memberikan dorongan moral dalam penyelesaian kripsi ini.
7
8. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir selama penelitian
9. Siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung dalam peneletian skripsi ini.
Atas bantuan dan pengorbanannya yang telah diberikan, semoga mendapat imbalan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembinaan dunia olahraga atletik khususnya lompat jauh dimasa yang akan datang.
Penulis
8
DAFTAR ISI
JUDUL……………………………………………………………………………………………….i
SARI…………………………………………………………………………………………………..ii
LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………………………….iii
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………..iv
MOTTO & PERSEMBAHAN……………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….vi
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….viii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………x
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………..xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul………………………………………………………..1
1.2 Permasalahan………………………………………………………………………7
1.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………………………8
1.4 Penegasan Istilah…………………………………………………………………8
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian…………………………………………………….11
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori……………………………………………………………………12
2.1.1 Atletik………………………………………………………………………..12
2.1.2 Lompat Jauh……………………………………………………………….13
2.1.3 Tehnik Lompat Jauh…………………………………………………….14
2.1.4 Faktor Kondisi Fisik…………………………………………………….20
2.1.5 Latihan Lompat dan Prinsip-Prinsip Latihan…………………..22
2.1.6 Latihan Lompat Dengan Melompati Rintangan dan Latihan
Lompat Meraih Sasaran………………………………………………..26
2.1.7 Analisis Gerakan Latihan Lompat………………………………….31
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….33
9
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi…………………………………………………………………………..34
3.2 Sampel dan Tehnik Pengambilan Sampel…………………………….35
3.3 Variabel Penelitian……………………………………………………………36
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian………………………………………36
3.4.1 Metode Penelitian……………………………………………………..36
3.4.2 Rancangan Penelitian………………………………………………..36
3.4.3 Pelaksanaan Penelitian………………………………………………37
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………….40
3.6 Tehnik Pengambilan Data………………………………………………….41
3.7 Metode Analisis ………………………………………………………………41
3.8 Faktor yang Mempengaruhi Penelitian………………………………..42
3.8.1 Faktor Pengalaman Dalam Latihan……………………………..42
3.8.2 Faktor Kesungguhan Melakukan Latihan…………………….42
3.8.3 Faktor Tempat dan Cuaca………………………………………….43
3.8.4 Faktor Pemberian Materi……………………………………………43
3.8.5 Faktor Kondisi Sampel………………………………………………43
3.8.6 Faktor Kegiatan Anak……………………………………………….44
3.8.7 Faktor Alat……………………………………………………………….44
3.8.8 Faktor Peneliti………………………………………………………….44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian…………………………………………………………………45
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………..46
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan………………………………………………………………………….48
5.2 Saran……………………………………………………………………………….48
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………….49
LAMPIRAN………………………………………………………………………………………..51
10
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Cara Melakukan Gerak Tumpuan (Take-off)………………………………………..16
2. Sikap Melayang Diudara Pada Lompat Jauh Gaya Jongkok…………………..18
3. Serangkaian Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok………………………………..20
4. Gerakan Loncat-loncat Menyentuh Suatu Penentu………………………………..27
5. Latihan Melompati Rintangan dan di Modifikasi………………………………….29
6. Latihan Lompat Meraih Sasaran di atas……………………………………………….30
11
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Keuntungan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran diatas….32
2. Kerugian latihan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran…….33
3. Rancangan penelitian…………………………………………………………………..37
4. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik…………………………………………45
12
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. SK Pembimbing………………………………………………………………..51
2. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas……………………………………….52
3. Surat Ijin Penelitian dari SD ………………………………………………53
4. Populasi dan Sampel …………………………………………………………54
5. Hasil Tes Awal ………………………………………………………………..55
6. Program Latihan ………………………………………………………………61
7. Tes Akhir ………………………………………………………………………..69
8. Analisa Data ……………………………………………………………………71
9. Tabel Nilai – nilai t……………………………………………………………73
10. Foto-Foto…………………………………………………………………………74
13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Alasan Pemilihan Judul
Dalam kehidupan modern manusia tidak dapat dipisahkan dari olahraga, baik sebagai arena adu prestasi maupun sebagai kebutuhan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Olahraga mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui olahraga dapat dibentuk manusia yang sehat jasmani, rohani serta mempunyai kepribadian, disiplin, sportifitas yang tinggi sehingga pada akhirnya akan terbentuk manusia yang berkualitas. Suatu kenyataan yang bisa diamati dalam dunia olahraga, menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan prestasi olahraga yang pesat dari waktu kewaktu baik ditingkat daerah, nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilihat dari pemecahan-pemecahan rekor yang terus dilakukan pada cabang olahraga tertentu, penampilan tehnik yang efektif dan efisien dengan ditunjang oleh kondisi fisik yang baik.
Dengan adanya kecendrungan prestasi yang meningkat, maka untuk berpartisipasi dan bersaing antar atlet dalam kegiatan olahraga prestasi harus dikembangkan kualitas fisik, tehnik, psikologi dan sosial yang dituntut oleh cabang olahraga tertentu. Oleh karena itu melalui pengembangan dan pembinaan di masyarakat, olahraga wajib diajarkan di sekolah-sekolah dari sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat pertama sampai dengan sekolah tingkat menengah.
Olahraga atletik merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan pada siswa di Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan materi kurikulum 2004 standar kompetensi Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Menurut Aip Syarifuddin dan Muhadi (1992/1993: 59) atletik adalah salah satu cabang olahraga yang tertua yang dilakukan oleh manusia sejak jaman Yunani Kuno sampai dewasa ini. Dalam mata pelajaran atletik yang dipelajari adalah gerakan dasar manusia di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu berjalan, berlari, melompat dan melempar. Selain itu dalam kejuaraan atletik ada beberapa nomor yang diperlombakan antaranya adalah nomor lari, jalan cepat, nomor lompat dan nomor lempar. Khusus untuk nomor lompat yang diperlombakan baik yang bersifat nasional maupun internasional terdiri dari nomor : lompat jauh, lompat tinggi, lompat jangkit dan lompat tinggi galah.
Keempat nomor lompat tersebut yang akan dibahas lebih lanjut adalah pada nomor lompat jauh. Lompat jauh adalah salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik. Dalam perlombaan lompat jauh seorang pelompat akan bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya dan untuk mendarat di bak lompat sejauh-jauhnya. Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas, ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mancapai jarak yang sejauh-jauhnya. Karena lompat jauh termasuk nomor lompat yang diperlombakan, maka diperlukan metode latihan yang tepat untuk meningkatkan prestasi. Untuk mencapai prestasi yang baik di dalam lompat jauh menurut
ii
Aip Syarifuddin (1992 : 90), selain si pelompat harus memiliki kekuatan, daya ledak, kecepatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak, juga harus memahami dan menguasai tehnik untuk melakukan gerakan lompat jauh tersebut serta dapat melakukannya dengan cepat, tepat, luwes dan lancar. Tehnik untuk lompat jauh yang benar perlu memperhatikan unsur-unsur: awalan, tolakan, sikap badan di udara (melayang) dan mendarat. Menurut Yoyo Bahagia dkk (1999 / 2000 : 16) keempat unsur ini merupakan satu kesatuan, yaitu urutan gerakan lompat yang tidak terputus.
Dalam lompat jauh terdapat beberapa macam gaya atau sikap badan pada saat melayang di udara. Soegito dkk (1994 : 143) menyebutkan ada tiga cara sikap melayang yaitu: 1) gaya jongkok (waktu melayang bersikap jongkok), 2) gaya lenting (waktu di udara badan dilentingkan), dan 3) gaya jalan di udara (waktu melayang kaki bergerak seolah-olah berjalan di udara). Gaya lompat jauh yang paling sederhana untuk diajarkan pada pemula seperti siswa di SD adalah lompat jauh gaya jongkok. Tehnik lompat jauh gaya jongkok termasuk yang paling sederhana di banding dengan gaya yang lain.
Untuk mencapai prestasi yang baik di dalam lompat jauh perlu didukung dengan latihan yang baik melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dengan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan latihan untuk mencapai prestasi ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Unsur tersebut menurut M. Sajoto (1988 : 15) diantaranya adalah: 1) unsur fisik yang lebih popular dengan kondisi fisik, 2) unsur tehnik, 3) unsur mental, 4) unsur kematangan juara. Dari keempat unsur tersebut, ialah satu unsur yang merupakan
iii
faktor utama yaitu kondisi fisik, seperti pendapat dari Depdiknas (2000 : 101) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan tehnik, taktik dan kemampuan mental.
Kondisi fisik menurut M. Sajoto (1988 : 16) adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan, walaupun disana sini dilakukan dengan system prioritas sesuai keadaan atau status tiap komponen itu dan untuk keperluan apa keadaan atau status yang dibutuhkan tersebut. Komponen yang dimaksud menurut M. Sajoto (1988 : 16) adalah sebagai berikut : 1. Kekuatan; 2. Daya tahan; 3. Daya ledak; 4. Kecepatan; 5. Daya lentur; 6. Kelincahan; 7. Koordinasi; 8. Keseimbangan; 9. Ketepatan dan 10. Reaksi.
Dari beberapa komponen kondisi fisik tersebut, menurut Aip Syarifuddin (1992 : 93) komponen yang sangat besar pengaruhnya terhadap hasil lompatan pada lompat jauh adalah kekuatan otot tungkai yang meliputi : kecepatan yaitu pada awalan dan kekuatan yaitu pada tolakan. Perpaduan antara kecepatan dan kekuatan dinamakan power atau daya otot (M. Sajoto, 1988 : 12). Usaha untuk meningkatkan power dibutuhkan latihan yang disesuaikan dengan kemampuan atlet, sebab atlet dari masing-masing cabang baik dari cabang yang sama dan bahkan dari cabang yang berbeda yang memiliki kemampuan yang berlainan. Dengan demikian perlu dicari bentuk latihan yang tepat dan efektif untuk
iv
meningkatkan power ototnya terutama pada kemampuan melompat adalah kekuatan otot-otot pada tungkai.
Menurut Aip Syarifuddin dan Muhadi (1992/1993 : 49, 50) latihan pembentukan daya ledak anak usia SD dapat dilakukan dengan jalan latihan lompat jauh tanpa awalan, lompat setinggi-tingginya meraih sesuatu benda yang tergantung di atas, atau meraih pada dinding dan lompat berjongkok (squat jump). Dikatan oleh J. Matakupan (1996 : 56) bahwa aktivitas bermain pada anak yang dilakukan pada proses pendidikan jasmani akan sangat penting dalam masa pertumbuhan anak, dasar gerak akan menjadi lebih baik karena meningkatnya kekuatan otot, kelentukan, daya tahan otot setempat dan daya tahan cardiovaskuler yang semakin menjadi baik, selain itu akan menjadi panjang dan besarnya otot-otot, fungsi organ tubuh menjadi baik, sehingga dapat dikatakan bahwa terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik. Bentuk latihan lain yang dapat meningkatkan kekuatan otot kaki menurut Carr (2000 : 120) adalah dengan melompat rintangan rendah dan memyundul bola. Sedangkan menurut Gunter Bernhard (1993 : 86) bentuk-bentuk permainan dan latihan untuk melatih melompat pada lompat jauh yaitu loncatan- loncatan dengan menyentuh suatu penentu selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas yang tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan.
Untuk merangsang agar siswa melakukan lompatan yang cukup melambung, perlu dipasang tali atau batas melintang di atas tepi bak pasir, dengan ketinggian sekitar 75 cm, jarak antara balok tumpu dengan tali/bilah .sekitar 1-2 meter untuk disesuaikan dengan kemampuan (Tamsir Riyadi, 1985 : 103). Beberapa metode
v
latihan lompat menurut beberapa ahli dapat dilakukan dengan: 1) Melompat di atas serangkaian rintangan rendah, cara melakukannya masing-masing peserta melompat atau melambung di atas serangkaian rintangan yang rendah , tangan digerakkan di atas dan paha kaki yang memimpin digerakkan keatas pada setiap lompatan (Gerry A. Carr, 1997 : 141), dan 2) Meraih bola yang digantung atau meraih sasaran di atas, pelaksanaannya : gantungkan bola dengan tali, kira-kira setinggi 30 cm hingga 60 cm di atas kepala, peserta menggunakan run-up 3 hingga 5 langkah, masing-masing siswa melompat untuk menyentuh bola, dengan menggunakan take-off satu kaki. Jika mereka menyentuh bola dengan baik, mereka berpindah ke bola yang lain (Gunter Bernhard, 1993 : 86).
Latihan-latiahan tersebut diberikan pada anak dengan program latihan memakai beban berat badannya sendiri. Seperti yang dikatakan M. Sajoto (1988 : 42) beban yang digunakan dapat berupa berat badan sendiri, dengan berteman, bola karet, tali elastis, dumble, burble, latihan mendorong dan menahan alat permanen seperti latihan isometric. Dengan adanya berbagai macam bentuk-bentuk latihan lompat jauh yang tujuannya untuk memacu atau merangsang tolakan kaki agar kuat sehingga menghasilkan lompatan melambung tinggi.
Dalam penelitian ini dipilih dua jenis bentuk latihan yaitu latihan lompat dengan rintangan rendah dan lompat setinggi-tingginya meraih suatu benda. Latihan ini pada intinya bertujuan untuk memacu dan merangsang tolakan kaki agar kuat sehingga menghasilkan lompatan melambung tinggi. Kedua bentuk latihan tersebut belum diketahui dengan pasti, mana yang lebih efektif dalam
vi
meningkatkan prestasi lompat jauh. Untuk mengetahui bentuk latihan yang dapat memberikan pengaruh yang lebih baik, maka perlu dilakukan penelitian.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis akan melakukan penelitian eksperimen dengan judul : Pengaruh Latihan Lompat dengan Rintangan dan Meraih Sasaran Di atas Terhadap Kemampuan Lompat Jauh pada Siswa Putra Kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005, dengan alasan pemilihan judul adalah :
1. Latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas merupakan bentuk latihan yang sederhana, mudah, tidak membahayakan dan dapat digunakan sebagai metode pembelajaran pada anak SD.
2. Latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas dapat merangsang anak untuk melakukan lompatan yang cukup tinggi, lompatan yang melambung tinggi sangat dibutuhkan untuk melompat, sehingga mempengaruhi jauhnya lompatan.
1.2. Permasalahan
Permasalahan penelitian adalah : Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 ?
vii
1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Apabila ditemukan ada perbedaan maka akan dicari bentuk latihan mana yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
1.4. Penegasan Istilah
Agar persoalan yang dibicarakan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan penelitian dan tidak terjadi salah penafsiran pada istilah-istilah yang digunakan, maka perlu adanya penegasan istilah sebagai berikut:
1. Pengaruh
Pengaruh menurut Poerwadarminto ( 1984 : 731) diartikan daya yang ada atau yang ditimbulkan dari sesuatu yang berkuasa atau yang berkekuatan. Pengaruh dalam penelitian ini adalah daya yang timbul dari latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh.
2. Latihan
Latihan menurut Harsono (1982 : 27) adalah proses yang sistematis daripada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian
viii
menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya. Dikatakan pula oleh Depdiknas (2000 : 103) latihan adalah proses yang sistematis dari berlatih secara berulang-ulang dengan kian menambah jumlah beban atau pekerjaannya. Dan dua pendapat tersebut yang dimaksud latihan dalam penelitian ini adalah latihan melompati rintangan rendah dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh.
3. Lompat
Pengertian lompat menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) bahwa lompat adalah istilah yang digunakan dalam cabang olahraga atletik, yaitu melakukan tolakan dengan satu kaki. Maksud lompat dalam penelitian ini adalah melakukan gerakan melompati, melampaui rintangan dan melompat meraih sasaran di atas dengan tujuan untuk melatih kekuatan otot kaki.
4. Rintangan
Rintangan menurut Poerwadarminto (1984 : 827) adalah alangan ; apa-apa yang merintangi; gangguan. Dalam penelitian ini pengertian rintangan adalah serangkaian rintangan yang terbuat dari bilah bambu yang digunakan sebagai alat bantu dalam latihan dengan jumlah rintangan sebanyak 5 buah dengan ketinggian 30 cm dan kian hari kian meningkat.
5. Meraih Sasaran Di atas
Meraih sasaran di atas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melompat menggunakan run-up 3 langkah tangan diayun keatas untuk menyentuh atau memegang bola digantung, jika mereka menyentuh satu bola
ix
dengan baik mereka berpindah ke bola lain yang dilakukan secara berkesinambungan (Gunter Bernhards, 1993 : 86).
6. Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok
Kemampuan menurut Poerwadarminto (1984 : 682) adalah kesanggupan seseorang dalam melakukan sesuatu. Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat, mengangkat kaki keatas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin diudara (melayang diudara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya (Aip Syarifuddin, 1992 : 90), kemudian menurut Yusuf Adisasmita (1992 : 64) lompat jauh adalah salah satu lompat dalam cabang olahraga atletik yang meliputi cara malakukan awalan, tumpuan, malayang di udara dan cara melakukan pendaratan. Dalam perlombaan lompat jauh, seorang pelompat akan berusaha ke depan dengan bertumpu pada balok tumpuan sekuat-kuatnya untuk mendarat di bak lompat sejauh- juahnya, yang mempunyai empat unsur gerakan yaitu awalan, tumpuan, melayang dan mendarat. Lompat jauh juga memiliki beberapa gaya dan gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang), inilah yang biasa disebut gaya lompatan dalam lompat jauh. Gaya lompat jauh yang dikenal adalah gaya jongkok, gaya lenting dan gaya berjalan di udara.
Lompat jauh gaya jongkok menurut Tamsir Riyadi (1985 : 98) disebut juga gaya duduk di udara. Setelah kaki kiri bertumpu, maka kaki ayun (kanan terutama bagian paha) diangkat cepat tinggi kedepan. Pada saat itu pula kedua lengan diangkat kedepan atas. Setelah kaki kiri lepas dari tanah (balok tumpu)
x
segera diayun kedepan sehingga sejajar dengan kaki kanan. Pada saat mencapai titik ketinggian sikap badan dan kaki seperti duduk / berjongkok. Selanjutnya setelah bergerak turun, kedua kaki diluruskan kedepan, kedua lengan juga dijulurkan kedepan, badan condong kedepan. Dalam penelitian ini yang dimaksud kemampuan lompat jauh gaya jongkok adalah jauhnya jarak lompatan yang di tempuh untuk meningkatkan prestasi dalam lompat jauh gaya jongkok.
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna :
1. Sebagai masukan bagi guru Penjaskes SD Negeri Sidomulyo Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang dan pembina maupun pelatih olahraga dalam upaya memberikan latihan fisik khususnya untuk meningkatkan kemampuan power dalam lompat jauh
2. Sebagai langkah awal bagi pengembangan dan peningkatan proses belajar untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh.
3. Sebagai bahan referensi pada penelitian lebih lanjut.
xi
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Atletik
Dalam dunia olahraga, dikenal banyak sekali cabang olahraga, antara lain adalah atletik, permainan, senam dan beladiri. Dari keempat cabang olahraga tersebut, atletik mempunyai peranan penting, karena gerakan-gerakannya merupakan gerakan dasar bagi cabang olahraga lainnya. Atletik menurut Aip Syarifuddin (1992 :2) berasal dari bahasa Yunani, yaitu Athlon yang artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan atau perjuangan, sedangkan orang yang melakukannya dinamakan Athleta (Atlet). Dengan demikian dapatlah dikemukakan, bahwa atetik adalah salah satu cabang yang dipertandingkan atau diperlombakan yang meliputi atas nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar.
Atletik merupakan dasar untuk melakukan bentuk-bentuk gerakan yang terdapat didalam cabang olahraga yang lainnya. Dengan mengikuti kegiatan latihan atletik, akan dapat diperoleh berbagai pengalaman yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan, karena didalam melakukan kegiatan atletik akan dilatih kekuatan, kecepatan, kelentukan, kelincahan, ketepatan, daya tekan, koordinasi gerak, keuletan, kedisiplinan dan percaya diri serta bertanggung jawab (Aip Syarifuddin dan Muhadi, 1992/1993 : 60).
xii
Dalam cabang olahraga atletik ada empat nomor lompat yaitu nomor lompat jauh, lompat jangkit, lompat tinggi dan lompat tinggi galah. Lompat jauh merupakan salah satu nomor atletik yang wajib diajarkan di SD.
2.1.2. Lompat jauh
Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dari cabang olahraga atletik. Lompat jauh menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) didefinisikan sebagai suatu bentuk gerakan melompat, mengangkat kaki keatas kedepan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin diudara (melayang diudara) yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Lompat jauh merupakan suatu gerakan melompat menggunakan tumpuan satu kaki untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya. Sasaran dan tujuan lompat jauh adalah untuk mencapai jarak lompatan sejauh mungkin kesebuah letak pendaratan atau bak lompat. Jarak lompatan diukur dari papan tolakan sampai batas terdekat dari letak pendaratan yang dihasilkan oleh bagian tubuh. Menurut Engkos Kosasih (1985:67) bahwa yang menjadi tujuan lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya yang mempunyai empat unsur gerakan yaitu : awalan; tolakan; sikap badan di udara; sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat. Dalam hal yang sama Yusuf Adisasmita (1992:65) berpendapat bahwa keempat unsur ini merupakan suatu kesatuan, yaitu urutan gerakan lompat yang tidak terputus.
Dalam lompat jauh terdapat beberapa macam gaya yang umum dipergunakan oleh para pelompat, yaitu : gaya jongkok, gaya menggantung atau disebut juga
xiii
gaya lenting dan gaya jalan di udara. Perbedaan antara gaya lompatan yang satu dengan yang lainnya, ditandai oleh keadaan sikap badan si pelompat pada waktu melayang di udara (Aip Syarifuddin, 1992 : 93). Jadi mengenai awalan tumpuan / tolakan dan cara melakukan pendaratan dari ketiga gaya tersebut pada prinsipnya sama. Salah satu gaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah gaya jongkok. Disebut gaya jongkok karena gerak dan sikap sewaktu badan berada diudara seperti orang jongkok ( Tamsir Riyadi, 1985: 98).
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam lompat jauh selain pelompat harus memiliki kondisi fisik yang baik, juga harus memahami dan mengusai tehnik untuk melakukan gerakan lompat jauh tersebut. Bernhard (1993 : 45) menyatakan bahwa unsur-unsur dalam mencapai prestasi lompat jauh yang maksimal adalah: 1) faktor kondisi fisik terutama kecepatan tenaga lompatan dan tujuan yang diarahkan pada ketrampilan, 2) faktor tehnik ancang-ancang, persiapan dan perpindahan fase melayang dan pendaratan.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam lompat jauh terkandung unsur-unsur kondisi fisik yang meliputi : kecepatan, tenaga ledak otot tungkai yang mengarah pada ketrampilan.
2.1.3 Tehnik Lompat Jauh
Lompat jauh mempunyai empat fase gerakan, yaitu awalan, tolakan, melayang dan mendarat serta terdapat tiga macam gaya yang membedakan antara gaya yang satu dengan gaya yang lainnya pada saat melayang diudara. Uraian mengenai keempat fase gerakan dalam lompat jauh adalah sebagai berikut:
xiv
2.1.3.1. Awalan
Awalan adalah langkah utama yang diperlukan oleh pelompat untuk memperoleh kecepatan pada waktu akan melompat. Seperti dikatakan Aip Syarifuddin (1992 : 90) awalan merupakan gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan (lompatan). Jarak awalan yang biasa dan umum digunakan oleh para pelompat (atlet) dalam perlombaan lompat jauh adalah : 1) untuk putra antara 40 m sampai 50 m; 2) untuk putri antara 30 m sampai dengan 45 m. Akan tetapi di dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, terutama di SD hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak-anak SD. Misalnya antara 15 m sampai 20 m atau antara 15 m sampai 25 m. Menurut Engkos kosasih (1985 : 67) awalan harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan merubah langkah pada saat melompat.
Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 91) agar dapat menghasilkan daya tolakan yang besar, maka langkah dan awalan harus dilakukan dengan mantap dan menghentak-hentak (dinamis step). Untuk itu dalam melakukan lari awalan, bukan hanya kecepatan lari saja yang dibutuhkan, akan tetapi ketepatan langkah juga sangat dibutuhkan sebelum melakukan tolakan.
2.1.3.2. Tumpuan atau tolakan
Tumpuan atau tolakan adalah gerakan menolak sekuat-kuatnya dengan kaki yang terkuat, yaitu meneruskan kecepatan horizontal ke kekuatan vertical yang dilakukan secara cepat. Menurut Engkos Kosasih (1985 : 67) tolakan yaitu menolak sekuat-kuatnya pada papan tolakan dengan kaki terkuat ke atas (tinggi
xv
dan ke depan). Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa melakukan tolakan berarti jarak merubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertical.
Mengenai tolakan, Soedarminto dan Soeparman (1993 : 360) mengemukakan sebagai berikut : untuk membantu tolakan ke atas, lengan harus diayun ke atas dan kaki yang melangkah diayunkan setinggi mungkin (prinsipnya adalah bahwa momentum dari bagian dipindahkan kepada keseluruhan). Ayunan kaki ke atas mengunci sendi panggul karena kerjanya Ligamenta iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk, seperti pada gambar 1.
Gambar 1
Cara melakukan gerak tumpuan (take off)
(Carr. 2000 : 146)
Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong kedepan, titik berat badan harus terletak agak dimuka titik sumber tenaga, yaitu kaki tumpu pada saat pelompat menumpu, letak titik berat badan ditentukan oleh panjang langkah terakhir sebelum melompat (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67-68).
Dikatakan pula oleh Soegito dkk (1994 : 146) cara bertumpu pada balok tumpuan harus dengan kuat, tumit bertumpu lebih dahulu diteruskan dengan seluruh telapak kaki, pandangan mata tetap lurus kedepan agak ke atas.
xvi
2.1.3.3. Melayang di udara
Sikap melayang adalah sikap setelah gerakan lompatan dilakukan dan badan sudah terangkat tinggi keatas. Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 92/93) sikap dan gerakan badan di udara sangat erat hubungannya dengan kecepatan awalan dan kekuatan tolakan. Karena pada waktu pelompat lepas dari papan tolakan badan si pelompat akan dipengaruhi oleh suatu kekuatan yaitu gaya gravitasi (gaya penarik bumi). Untuk itu, kecepatan lari awalan dan kekuatan pada waktu menolak harus dilakukan oleh pelompat untuk mengetahui daya tarik bumi tersebut. Dengan demikian jelas bahwa pada nomor lompat jauh kecepatan dan kekuatan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil tolakan. Tetapi, dengan mengadakan suatu perbaikan bentuk dan cara-cara melompat serta mendarat, maka akan memperbaiki hasil lompatan. Perubahan dan perbaikan bentuk tersebut dinamakan “gaya lompatan” yang sifatnya individual. Pada nomor lompat (khususnya lompat jauh) perubahan bentuk akan gaya-gaya lompatan itu tidak akan mempengaruhi parabola dari titik berat badan, tetapi berguna untuk menjaga keseimbangan serta pandaratan yang lebih baik.
Menurut Engkos Kosasih (1985 : 67) sikap badan di udara adalah badan harus diusahakan melayang selama mungkin di udara serta dalam keadaan seimbang. Dalam hal yang sama Yusuf Adisasmita (1992 : 68) berpendapat bahwa pada waktu naik, badan harus dapat ditahan dalam keadaan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan lebih sempurna. Kalaupun mengadakan gerak yang lain harus dijaga agar gerak selama melayang itu tidak menimbulkan perlambatan. Pada lompat jauh, waktu melayang di udara berprinsip
xvii
pada 3 hal sebagai berikut : 1) bergerak ke depan semakin cepat semakin baik: 2) menolak secara tepat dan kuat; 3) adapun gerakan yang dilakukan selama melayang di udara tidak akan menambah kecepatan gerak selama melayang dan hanya berperan untuk menjaga keseimbangan saja.
Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok menurut Aip Syarifuddin (1992 : 93) pada waktu lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk, kedua tangan ke depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan kemudian mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu, kedua tangan ke depan. Untuk lebih jelasnya, sikap badan di udara seperti terlihat pada gambar 2. berikut ini.
Gambar 2
Sikap Melayang diudara Pada Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Soegito dkk, 1994 : 147)
Pada prinsipnya sikap badan diudara bertujuan untuk berada selama mungkin diudara menjaga keseimbangan tubuh dan untuk mempersiapkan pendaratan. Sehubungan dengan itu diusahakan jangan sampai menimbulkan perlambatan dari kecepatan yang telah dicapai. Dengan demikian tubuh akan melayang lebih lama.
xviii
2.1.3.4. Mendarat
Mendarat adalah sikap jatuh dengan posisi kedua kaki menyentuh tanah secara bersama-sama dengan lutut dibengkokkan dan mengeper sehingga memungkinkan jatuhnya badan kearah depan. Seperti dikatakan Yusuf Adisasmita (1992 : 68) pada saat mendarat titik berat badan harus dibawa kemuka dengan jalan membungkukkan badan hingga lutut hampir merapat, dibantu pula dengan juluran tangan kemuka. Pada waktu mendarat ini lutut dibengkokkan sehingga memungkinkan suatu momentum membawa badan ke depan di atas kaki.
Mendarat merupakan suatu gerakan terakhir dari rangkaian gerakan lompat jauh. Sikap mendarat pada lompat jauh baik untuk lompat jauh gaya jongkok, gaya menggantung maupun gaya jalan di udara adalah sama, yaitu : pada waktu akan mendarat kedua kaki dibawa ke depan lurus dengan cara mengangkat paha ke atas, badan dibungkukkan ke depan, kedua tangan ke depan, kemudian mendarat dengan kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut ditekuk, berat badan dibawa kedepan supaya tidak jatuh dibelakang, kepala ditundukkan, kedua tangan ke depan (Aip Syarifuddin, 1992 : 95).
Gerakan mendarat dapat disimpulkan sebagai berikut : sebelum kaki menyentuh pasir dengan kedua tumit, kedua kaki dalam keadaan lurus ke depan, maka segara diikuti ayunan kedua lengan ke depan. Gerakan tersebut dimaksudkan supaya secepat mungkin terjadi perpindahan posisi titik berat badan yang semula berada di belakang kedua kaki berpindah ke depan, sehingga terjadi gerakan yang arahnya sesuai dengan arah lompatan dengan demikian tubuh akan terdorong ke depan setelah menginjak pasir. Untuk lebih jelasnya, gambar
xix
dibawah ini menunjukkan serangkaian gerakan lompat jauh gaya jongkok dari take-off sampai sikap mendarat.
Gambar 3
Serangkaian Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Tamsir Riyadi, 1985 : 97)
Keterangan gambar:
1-2-3 : bertumpu / menolak dengan kaki kiri
4-5 : kaki tumpu kiri diayun kedepan menyusul kaki kanan (sikap jongkok)
6-7 : kedua kaki diluruskan kedepan, kedua lengan diayun kebelakang (dapat pula sikap kedua lengan ini tetap lurus kedepan)
8 : mendarat dipasir dengan bagian tumit terlebih dahulu, kedua kaki lurus
9-10 : kedua kaki segera ditekuk, terus menjatuhkan diri kedepan
2.1.4. Faktor Kondisi Fisik
Kondisi fisik adalah suatu kesatuan utuh, dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan, walaupun di sana-sini terutama dilakukan dengan sistem prioritas sesuai keadaan atau status komponen itu dan untuk keperluan apa keadaan atau status yang dibutuhkan tersebut (M. Sajoto, 1988 : 57).
Kondisi fisik akan baik apabila komponen-komponen yang ada terpelihara dengan baik. Komponen kondisi fisik menurut M. Sajoto (1988 : 57) meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, daya lentur, kelincahan, koordinasi,
xx
keseimbangan dan reaksi. Pada lompat jauh gaya jongkok akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan dan daya ledak. 1) Kecepatan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan keseimbangan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya (Depdikbud, 1997 : 6). Sedangkan menurut Suharno HP (1986 : 43) kecepatan adalah kemampuan organisme atlit dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Kecepatan disini adalah kecepatan lari dalam lompat jauh gaya jongkok yang mana kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari langkah yang dilakukan secara cepat dan tepat. Secara cepat maksudnya setelah lari awalan dalam lompat jauh, bisa mendapatkan lompatan yang jauh, secara tepat maksudnya setelah lari dengan kecepatan tinggi diupayakan lari tumpu dapat jatuh di balok tumpuan. Untuk menghasilkan tolakan yang kuat dan melambung tinggi perlu adanya kekuatan otot tungkai. Kekuatan merupakan unsur penting dan perlu mendapatkan perhatian kekuasaannya dalam melaksanakan program latihan. Maksudnya latihan kekuatan ini hendaknya dilakukan dan mendapatkan porsi latihan yang latihan yang banyak dibanding unsur latihannya. 2) Kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam melatih ketrampilan gerak. Menurut M. Sajoto (1988 : 58) kekuatan diartikan komponen kondisi fisik yang menyangkut masalah kemampuan seorang pada saat menggunakan otot-ototnya, menerima beban waktu bekerja. Jadi kekuatan merupakan otot dalam menahan beban dari bekerja motorik dalam waktu tertentu secara maksimal. Dalam lompat jauh unsur kekuatan sangat penting untuk mendapatkan hasil tolakan yang kuat dan benar. 3) Daya ledak menurut M. Sajoto
xxi
(1988:58) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum dengan usahanya dikeluarkan dalam waktu sependek-pendeknya. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa daya otot = kekuatan (force) x kecepatan (velocity). Berdasarkan pendapat para ahli dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan daya ledak otot adalah kombinasi gerakan ini bila dilakukan secara intensif dalam waktu yang singkat akan dapat menimbulkan daya ledak otot yang cukup besar atau kuat dan dapat dikatakan bahwa daya ledak otot tungkai adalah merupakan suatu kemampuan seseorang untuk menggerakkan kekuatan dengan cepat dalam waktu yang singkat dengan gerakan naik turun (vertikal) dan menggunakan anggota gerak bawah (otot tungkai). Daya ledak ini sangat dibutuhkan dalam lompat jauh terutama pada fase awalan dan tolakan pada rangkaian lompat jauh.
2.1.5 Latihan Lompat dan Prinsip-Prinsip Latihan
2.1.5.1 Pegertian Latihan Lompat
Latihan adalah proses yang sistematis daripada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya (Harsono, 1982 : 27). Lompat adalah istilah yang digunakan dalam cabang olahraga atletik, yaitu melakukan tolakan dengan satu kaki, Aip Syarifuddin (1992 : 90). Pengertian latihan lompat dari pendapat tersebut dapat disimpulkan yaitu melakukan gerakan melompat dengan tumpuan satu kaki yang dilakukan secara berulang-ulang dan setiap hari jumlah beban latihan ditambah. Latihan lompat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah latihan lompat dengan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran di atas.
xxii
Latihan lompat adalah metode yang terbaik untuk meningkatkan power maksimal pada otot tertentu. Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada kelompok otot tertentu, ialah dengan merenggangkan (memanjangkan) dahulu otot-otot tersebut secara eksplosif atau meledak-ledak. Untuk melatih power otot tungkai dimulai dengan gerakan tungkai kearah yang berlawanan (jongkok) yang disebut sebagai fase pre-regang (pre-stretching phase), kemudian melompat dengan kuat keatas. Setelah mendarat, tanpa adanya masa berhenti, kemudian secepatnya melompat lagi sekuat tenaga keatas, sehingga seakan-akan mendarat pada bara api (KONI, 2000: 27).
2.1.5.2 Prinsip-Prinsip Latihan
1) Prinsip Penambahan Beban Bertambah (overload)
Untuk meningkatkan prestasi atlit prinsip overload harus digunakan. Apabila atlet sudah merasa ringan pada beban yang diberikan maka beban harus ditambah. Menurut M. Sajoto (1988 : 42) dengan berprinsip pada overload, maka kelompok-kelompok otot akan bergabung kekuatannya secara efektif dan akan merangsang penyesuaian fisiologis dalam tubuh yang mendorong meningkatkan kekuatan otot. Prinsip overload ini akan menjamin agar system di dalam tubuh yang menjalankan latihan, mendapat tekanan beban yang besarnya makin meningkat, serta diberikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Apabila tidak diberikan secara bertahap, maka komponen kekuatan tidak akan dapat mencapai tahap potensi sesuai fungsi kekuatan secara maksimal.
xxiii
2) Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus
Otot yang menerima beban latihan lebih atau overload kekuatannya akan bertambah dan apabila kekuatan bertambah, maka program latihan berikutnya bila tidak ada penambahan beban, tidak lagi dapat menambah kekuatan. Penambahan beban dalam jumlah repetisi tertentu, otot belum merasakan lelah. Prinsip penambahan beban demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif. (M. Sajoto, 1988 : 115)
3) Prinsip Urutan Pengaturan Suatu Latihan
Latihan berbeban hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga kelompok otot besar mendapat giliran latihan lebih dulu sebelum latihan otot kecil. Hal ini perlu agar kelompok otot kecil tidak mengalami kelelahan terlebih dahuu, sebelum kelompok otot mendapat giliran latihan pengaturan latihan hendaknya diprogramkan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi dua bagian otot dalam tubuh yang sama mendapat dua giliran latihan secara berurutan (M. Sajoto, 1988 : 115)
4) Prinsip Kekhususan Program Latihan
Menurut O’shea dalam bukunya M. Sajoto (1988 : 42) menyatakan bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID” yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya bersifat khusus, sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Bila akan meningkatkan kekuatan, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.
xxiv
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus. Namun perlu memperhatikan pula gerak yang dihasilkan, oleh karena itu latihan berbeban hendaknya dikaitkan dengan latihan peningkatan ketrampilan motorik khusus. Dengan kata lain latihan beban menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Seperti diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh dalam lompat jauh perlu adanya bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai, latihan tersebut dapat dilakukan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Menggunakan alat dalam hal ini adalah latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas.
Selain keempat prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian. Volume menurut Depdikbud (1997 : 31) ialah kuantitas beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, jumlah beberapa elemen jenis latihan, total waktu latihan, berat beban yang diangkat, jumlah set dalam latihan interval dan sirkuit sebagai ukuran rangsangan motorik dalam satu unit latihan. Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan ketinggian
xxv
rintangan-rintangan (bilah) untuk depth jump atau dengan memperlebar jarak dalam longitudinal jump. Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemulihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen berikutnya. Menurut O’Shea yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48) mengatakan bila latihan lebih dari satu rangkaian, maka masa istirahat dalam rangkaian adalah antara 1-2 menit. Menurut Bompa yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 33) mengatakan bahwa tes untuk mengevaluasi hasil latihan kekuatan dapat dilaksanakan setelah antara 4-6 minggu dari suatu masa siklus latihan makro. Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kali atlet harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.
Dalam penelitian ini frekuensi latihan yang dipakai adalah tiga kali per minggu selama enam minggu. Sehingga tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu tersebut.
2.1.6.Latihan Lompat dengan Melompati Rintangan dan Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
Untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai menurut Gerry A. Carr (1997 : 141) dilatih dengan melompati rintangan dan menyundul bola yang digantung dan dikatakan oleh Aip Syarifuddin (1992 : 10) untuk mendapatkan lompatan yang tinggi dapat diberi rintangan kira-kira 25 cm sampai 30 cm. Anak-anak melompati rintangan tersebut. Dengan jalan demikian anak-anak akan dapat melompat lebih
xxvi
tinggi kedua kaki diangkat dan kedua lutut ditekuk. Disamping itu juga bisa dengan jalan lain, untuk menolong ketinggian lompatan , dapat dibantu dengan menggantungkan sebuah benda. Tinggi benda kira-kira tidak akan terjangkau bila anak itu melompat.
Menurut Aip Syarifuddin (1992/1993 : 62) bahwa dalam membentuk gerakan-gerakan dasar melompat dapat dilakukan dengan latihan diantaranya lompat meraih suatu benda di atas dan lompat melewati temannya yang merangkak. Gunter Bernhard (1993 : 86) berpendapat bahwa untuk melatih lompat pada lompat jauh dengan melakukan bentuk-bentuk permainan dalam latihan yaitu melakukan loncatan-loncatan dengan menyentuh suatu penentu selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas yang tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 4. Gambar 4.
Gerakan Loncat-Loncat Menyentuh Suatu Penentu
(Gunter Bernhard, 1993 : 86)
xxvii
Dari pendapat beberapa ahli di atas, latihan lompat yang peneliti maksud adalah latihan lompat dengan rintangan yang tingginya semakin meningkat dan latihan lompat meraih serangkaian sasaran atau serangkaian bola yang digantung dimana ketinggian bola gantungnya semakin ditingkatkan. Adapun uraian latihan tersebut adalah sebagai berikut :
2.1.6.1. Latihan Lompat dengan melompati rintangan
a. Pelaksanaan
Sikap awal : berdiri kira-kira 3 meter disisi depan rintangan, sikap badan tegak. Gerakkannya : dari sikap awal ancang-ancang (run up) 3 langkah dilanjutkan menolak dengan kaki satu sebagai kaki tumpu (kiri) melompat di atas rintangan mendarat dengan dua kaki kemudian langsung melompat kerintangan kedua dan seterusnya. Gerakan melompat dilakukan terus berkesinambungan antar rintangan dengan tetap memperhatikan ancang-ancang (run up) 3 langkah, jarak tolakan kaki dengan rintangan 1 meter dengan ditandai garis batas tumpuan. Sikap badan saat melompat di atas rintangan, tangan digerakkan ke atas dan paha kaki digerakkan hingga horizontal. Pendaratan : mendarat dengan kedua kaki bersama-sama, posisi kaki renggang selebar bahu dan sedikit jongkok kepala tegak kedua lengan disamping badan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 5.
xxviii
Gambar 5
Latihan Melompati Rintangan dan Dimodifikasi
(Garry A. Carr, 1997 : 141)
Keterangan :
1. Gerakan saat menolak
2. Gerakan di atas rintangan
3. Gerakan saat mendarat
b. Perlengkapan
Perlengkapan yang diperlukan dalam latihan lompat dengan rintangan adalah bilah sebagai rintangan yang tingginya semakin meningkat dari 30 cm, 35 cm, 40 cm, 50 cm dan 55 cm. Adapun jarak antara rintangan 4 meter dan jarak tumpuan dengan rintangan 1 meter.
2.1.6.2. Latihan Lompat meraih sasaran di atas
a. Pelaksanaan
Sikap awal : berdiri tegak di depan sasaran di atas (bola digantung), jarak kira-kira 3 meter. Selanjutnya melakukan ancang-ancang (run up) 3 langkah kemudian melompat kedua lengan naik ke atas meraih bola di gantung dengan
xxix
bertumpu pada satu kaki (kiri), begitu mendarat ancang-ancang dan melompat lagi untuk meraih bola digantung yang kedua dan seterusnya yang dilakukan sebanyak 5 kali secara berkesinambungan. Sikap setelah menumpu mengayunkan lengan dan kaki yang mengayun ke atas untuk membantu menambah ketinggian. Waktu melakukan tolakan tetap memperhatikan ancang-ancang 3 langkah dan menumpu dengan satu kaki, jarak tumpuan dengan garis vertical bola digantung 1 meter yang ditandai pada garis batas tumpuan setiap bola digantung.
Pendaratan : mendarat dengan kedua kaki bersama-sama posisi badan agak jongkok, lutut agak ditekuk dan tangan disamping badan. Lebih jelasnya lihat Gambar 6.
Gambar 6
Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
(Gunter Bernhard, 1993 : 86)
Keterangan :
1. Gerakan saat ancang-ancang
2. Gerakan saat menumpu
3. Gerakan saat melayang / saat meraih
4. Gerakan saat mendarat
xxx
b. Perlengkapan
Perlengkapan yang diperlukan untuk latihan lompat meraih sasaran di atas adalah bola digantung dengan ketinggian semakin meningkat dari 175 cm, 180 cm, 185 cm, 190 cm, 195 cm dan 200 cm, adapun jarak antar bola digantung 4 meter dan jarak tumpuan melompat dengan garis vertical bola digantung 1 meter.
2.1.7. Analisis Gerakan Latihan Lompat
2.1.7.1 Latihan Lompat Dengan Rintangan
Secara anatomi gerakan dan otot-otot utama yang terlibat secara langsung dalam latihan lompat dengan rintangan yaitu dari otot tungkai atas sampai otot tungkai bawah. Dengan kekuatan otot tungkai yang dilimiliki akan menambah kecepatan waktu berlari untuk awalan dan tolakan pada waktu menolak, demikian pula waktu pendaratan. Sedangkan ketinggian lompatan yang dihasilkan lebih tinggi, karena siswa terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin melompat setinggi-tingginya di atas rintangan sehingga rintangan tidak jatuh.
Hasil lompatan yang diperoleh pada latihan ini lebih jauh karena ada ayunan tangan dan gerakan kaki yang memimpin keatas dan kemudian lurus kedepan, selanjutnya mendarat. Kecepatan dan gerak lebih cepat, karena tidak ada usaha mempertahankan badan di atas rintangan. Untuk keseimbangan badan saat mendarat lebih seimbang dan terarah.
2.1.7.2 Latihan Lompat Meraih Sasaran Di Atas
Ketinggian lompatan yang dihasilkan pada latihan lompat meraih sasaran di atas tinggi karena siswa juga terpacu untuk bisa sampai meraih bola digantung,
xxxi
akan tetapi posisi bola jauh di atas kepala maka ayunan tangan untuk meraih sasaran tidak sampai.
Hasil lompatan yang diperoleh kurang jauh karena siswa terkonsentrasi untuk meraih bola setelah meraih mendarat tidak jauh dari garis vertical bola digantung.
Kecepatan gerak waktu yang dibutuhkan saat melayang diudara lebih lama, karena ada usaha mempertahankan sikap tegak saat meraih bola.
Dari hasil analisis kedua latihan yang dilakukan menunjukkan adanya beberapa perbedaan pengaruh terhadap kemampuan lompat jauh. Masing-masing bentuk latihan memiliki keuntungan dan kerugian yang dapat dirangkum seperti pada tabel 1 dan 2 berikut ini.
Tabel 1: keuntungan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran di atas.
No
Melompati Rintangan
No
Meraih Bola digantung
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Adanya irama gerakan melambung keatas
Adanya daya tarik bumi
Akan memperoleh tenaga lompatan yang kuat
Bentuk gerakan cukup efektif dan efisien dalam pemakaian ruang gerak pada lompat jauh
Melatih otot kaki tolak lebih baik.
Keseimbangan saat mendarat lebih baik
1.
2.
3.
4.
5.
Adanya irama gerakan melambung keatas
Adanya daya tarik bumi
Semakin kecil sudut lutut, semakin tinggi gerakan keatas
Waktu melayang di udara lebih lama
Melatih otot kaki tolak lebih baik.
xxxii
Tabel 2 : kerugian latihan melompati rintangan dan lompat meraih sasaran
No
Melompati Rintangan
No
Meraih Bola digantung
1.
2.
Menimbulkan rasa ragu-ragu dalam melakukan gerakan melompati rintangan
Pendaratan terlalu cepat
1.
2.
Anak cepat lelah
Mendarat kurang seimbang karena konsentrasi terpusat pada bola
2.2. Hipotesis
Hipoteisis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti malalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1998 : 67). Penolakan atau penerimaan suatu hipotesis sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap data-data yang terkumpul.
Berdasarkan hasil analisis dari latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran di atas, maka dapat dikemukakan rumusan hipotesis peneliti sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
xxxiii
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan syarat mutlak dalam suatu penelitian. Penggunaan metode penelitian dalam suatu penelitian harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian, serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu penelitian memberikan arah yang tepat guna tercapainya tujuan penelitian.
3.1 Populasi
Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 2000 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 115), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan subjek penelitian dan keseluruhan individu itu paling sedikit harus memiliki suatu sifat yang sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 24 orang siswa putra. Adapun alasan pengambilan populasi adalah :
1. Mereka sama-sama dalam satu sekolah, yaitu siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
2. Mempunyai jenis kelamin yang sama , yaitu laki-laki
xxxiv
Berdasarkan uraian di atas, maka populasi yang diambil telah memenuhi syarat, dimana suatu populasi harus memiliki minimal satu sifat yang sama, berarti populasi ini dapat diterima.
3.2 Sampel dan Tehnik Pengambilan Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto, 1998 : 117). Pendapat lain, Sutrisno Hadi (2000 : 221), menjelaskan bahwa sampel adalah sebagian dari populasi yang diselidiki.
Pedoman dalam pengambilan jumlah sampel ini, penulis mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto (1998 : 120) yaitu hanya untuk sekedar ancer-ancer apabila subyek kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyek besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, dana, dan tenaga.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun pelajaran 2004/2005, yang berjumlah 24 anak. Subyek yang diteliti sejumlah 24 orang siswa maka ditetapkan sebagai sampel semua karena jumlah sampel atau subyeknya kurang dari 100 orang. Oleh sebab itu dalam penentuan atau pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling, yaitu mengikutkan semua anggota populasi sebagai sampel penelitian. Daftar nama sampel penelitian dapat dilihat dalam lampiran 4 halaman 54.
xxxv
3.3 Variabel Penelitian
Variabel adalah gejala yang bervariasi dan menjadi objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998 : 99). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variable bebas dalam penelitian ini yaitu latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas. Sedangkan variable terikatnya adalah kemampuan lompat jauh.
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian
3.4.1 Metode Penelitian
Agar penelitian ini dapat memperoleh hasil yang baik dan sesuai dengan harapan, maka metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Dasar penggunaan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang diawali dengan memberikan perlakuan terhadap subjek dan diakhiri dengan tes untuk menguji seberapa jauh akibat dari perlakuan yang diberikan. Jadi metode eksperimen merupakan metode yang paling tepat untuk menyelidiki hubungan sebab akibat.
3.4.2 Rancangan Penelitian
Pola eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Matchced by Subject Design atau disingkat dengan Pola M-S, yang mengandung suatu pengertian seperti dikatakan oleh Sutrisno Hadi (1973 : 453) bahwa pola M-S matching dilakukan terhadap subjek demi subjek. Hakekat Subjek Macthing adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subjek masing-
xxxvi
masing kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 secara otomatis akan menseimbangkan kedua kelompok itu. Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel 3 berikut ini.
Tabel 3: Rancangan penelitian
Kelompok
Pre-test (tes awal)
Treatmen
Post-test (test akhir)
Eksperimen 1
Eksperimen 2
Lompat jauh gaya jongkok (X1)
Lompat jauh gaya jongkok (X1)
Latihan lompat dengan rintangan
Latihan lompat meraih sasaran diatas
Lompat jauh gaya jongkok (X2)
Lompat jauh gaya jongkok(X2)
3.4.2.1 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, yaitu mulai tanggal 13 Januari 2005 sampai dengan 24 Pebruari 2005. Penelitian ini diawali dengan pre test pada tanggal 13 Januari 2005 dan hari latihan mulai tanggal 18 Januari 2005 sampai dengan 22 Pebruari 2005. Post test dilaksanakan pada tanggal 24 Pebruari 2005. Penelitian ini dilaksanakan tiga kali seminggu tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dengan pelaksanaan tiap sore pukul 15.00-16.30 WIB. Tes tersebut terbagi dalam tiga kegiatan: 1) Tes awal, 2) Perlakuan, 3) Tes akhir
1. Pre Test atau Tes Awal
Tes awal dilaksanakan dilapangan / halaman olahraga SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah lompat jauh yang disesuaikan dengan buku peraturan perlombaan atletik dari PASI. Sebelum tes awal dimulai, siswa diberi penjelasan mengenai pelaksanaan tes lompat jauh. Sesudah diberi penjelasan baru dilaksanakan tes awal. Tes awal dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2005 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai
xxxvii
dilapangan / halaman SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
2. Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan mulai tanggal 18 Januari 2005 sampai 22 Pebruari 2005 dengan demikian penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan. Sedangkan setiap pertemuan dilaksanakan selama ± 90 menit, dengan pengaturan waktu yaitu 10 menit untuk pemanasan, 70 menit latihan inti dan 10 menit untuk penenangan.
Waktu kegiatan latihan dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dimulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Materi latihan pada kelompok eksperimen 1 adalah latihan lompat dengan rintangan dan kelompok eksperimen 2 adalah latihan lompat meraih sasaran. Untuk penyajian materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Sedangkan mengenai pengaturan waktu latihan adalah sebagai berikut.
a) Pemanasan
Pemanasan diberikan pada siswa secukupnya dengan tujuan untuk persiapan fisik siswa sebelum melakukan latihan inti. Latihan ini sangat penting untuk tubuh dan menghindari resiko terjadinya cedera otot maupun sendi, mengadakan perubahan dalam fungsi organ tubuh guna menghadapi fisik yang lebih berat (Tohar, 2004 : 4). Latihan yang merupakan kegiatan pemanasan dalam penelitian ini meliputi keliling lapangan, senam kelentukan dan senam khusus yang bertujuan untuk menyiapkan siswa pada materi latihan yang akan dilakukan.
xxxviii
b) Latihan Inti
Latihan inti dilaksanakan sesuai dengan program latihan materi diberikan sesuai dengan jadwal latihan. Setiap kelompok berlatih lompat sesuai dengan kelompoknya. Kelompok eksperimen 1 berlatih lompat dengan rintangan, sedangkan kelompok eksperimen 2 berlatih lompat meraih sasaran diatas. Setelah melakukan latihan sesuai dengan kelompoknya masing-masing kemudian latihan lompat jauh gaya jongkok
c) Penenangan
Penenangan dilaksanakan selama 10 menit dan hal ini bertujuan untukm memulihkan kembali kondisi badan sesudah menerima materi latihan, dengan demikian keadaan tubuh akan pulih secara sempurna seperti semula. Adapun gerakan yang digunakan untuk penenangan bisa melakukan gerakan-gerakan stretching kembali. Selanjutnya bisa diberi penjelasan atau koreksi secara keseluruhan selama jalannya latihan, kesan dan pesan untuk membangkitkan motivasi latihan berdoa dan dibubarkan.
3. Post Test atau Tes Akhir
Setelah program latihan dilaksanakan selama 16 kali pertemuan, pada tanggal 24 Pebruari 2005 dilaksanakan tes akhir yang pelaksanaannya sama dengan tes awal. Adapun tujuan dilaksanakannya tes akhir adalah untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa baik dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 setelah mengikuti program latihan.
3.4.2.2 Tempat Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan adalah lapangan olahraga SD Negeri Sidomulyo 04 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
xxxix
3.4.2.3 Alat dan Perlengkapan Penelitian
Alat dan perlengkapan penelitian adalah faktor penting yang sangat membantu kelancaran pelaksanaan penelitian dan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Alat dan perlengkapan tersebut terdiri dari : 1) Bak lompat jauh, 2) Roll meter, 3) Bendera kecil, 4) Cangkul, 5) Alat Tulis / blangko penilaian.
3.4.2.4 Tenaga Pembantu
Demi kelancaran jalannya penelitian ini, peneliti dibantu oleh beberapa tenaga guru Pendidikan Jasmani Kecamatan Ungaran dan rekan-rekan mahasiswa yang bertugas menyiapkan sarana latihan dan sebagai pembantu dalam pelaksanaan tes awal dan tes akhir. Daftar petugas dapat dilihat pada lampiran 6.
3.5 Instrumen Penelitian
1. Instrumen Tes
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode (Suharsimi Arikunto, 1998 : 137). Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah instrumen tes. Tes yang diperlukan dalam penelitian ini adalah tes lompat jauh. Tujuan tes lompat jauh ini adalah untuk mengetahui hasil lompatan (petunjuk pelaksanaan tes pada lampiran 6 halaman 68.
2. Program Latihan
Program latihan adalah jumlah pertemuan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung. Program latihan ini berlangsung 16 kali pertemuan perlakuan (treatment) ditambah dua pertemuan untuk tes awal dan tes akhir.
xl
Jumlah pertemuan latihan tiga kali dalam seminggu, sehingga waktu yang dipergunakan ada enam minggu. Hal ini menurut De Lorme dan Watkin yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48), program latihan yang dilakukan empat kali seminggu selama enam minggu cukup efektif, namun rupanya pelatih cenderung melaksanakan latihan setiap minggu tiga kali agar tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu atau lebih.
3.6 Tehnik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data dilaksanakan dengan tes dan pengukuran. Nurhasan (2001 : 24 dan 25) menjelaskan tes adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk memperoleh data yang obyektif tentang hasil belajar siswa. Sedangkan pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi dari suatu obyek tertentu dan dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Cirri khas dari hasil pengukuran yakni dinyatakan dalam skor kuantitatif yang dapat diolah secara statistik. Melalui pengukuran kita akan memperoleh informasi yang obyektif sehingga kita dapat menentukan kemampuan atau prestasi seseorang pada saat tertentu.
Tes dan pengukuran dalam penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang hasil lompat jauh gaya jongkok yang dilaksanakan dua kali yaitu pre-test dan post-test. Hasil tes dicatat dalam satuan centimeter.
3.7 Metode Analisis
Menurut Sutrisno Hadi (1973 : 455) analisis terhadap hasil-hasil eksperimen yang didasarkan atas subject matching selalu menggunkan t-test pada correlated
xli
sampel. Dengan demikian untuk pengetesan signifikansi dengan menggunakan t-test dengan rumus pendek (short methode). Rumus ini banyak digunakan dalam penelitian eksperimen karena efektif dan efisien seperti yang dikemukakan Sutrisno Hadi (1973 : 458), rumus pendek adalah rumus yang serba guna dan efisien, rumus ini dapat dipersiapkam untuk penyelidikan eksperimen yang menggunakan matching subjek. Untuk analisa data diperlukan suatu rumus t-test, sebagai berikut : t = )1(2−ΣNNdmd
Keterangan :
T : nilai perbedaan
N : jumlah subjek
Md : rata-rata selisih antara X1 dan X2
d : penyimpangan (selisih) antara X1 dan X2
3.8 Faktor Yang Mempengaruhi Penelitian
Variabel-variabel yang tidak masuk dalam eksperimen tetapi berpengaruh perlu dikendalikan, antara lain :
3.8.1. Faktor pengalaman dalam latihan
Faktor lompat jauh sampel siswa SD kelas V sudah mendapat pelajaran lompat jauh (kurikulum 1994), tetapi belum pernah berlatih melompati rintangan dan meraih sasaran di atas untuk menambah kemampuan lompat jauh yang lebih baik prestasinya.
3.8.2. Faktor kesungguhan melakukan latihan
Kesungguhan dalam mengikuti latihan mempengaruhi hasil latihan yang dicapai oleh sampel. Atas dasar tersebut peneliti mengambil satu langkah awal
xlii
untuk menghindari adanya penyimpangan dalam mengikuti latihan serta usaha agar sampel mempunyai kesungguhan dalam latihan. Adapun usaha tersebut antara lain :
1. Peneliti memberikan pengarahan dan penjelasan tentang penelitian
2. Peneliti memberikan penugasan dan mengontrol jalannya penelitian
3. Peneliti memberikan motivasi
3.8.3 Faktor tempat dan cuaca
Tempat yang digunakan peneliti berada di lapangan terbuka sehingga apabila hujan latihan ditunda dan latihan diganti di hari yang lain.
Faktor pemberian materi
Pemberian materi latihan mempunyai peranan penting dalam usaha untuk memperoleh hasil yang baik. Usaha yang dapat ditempuh supaya penyampaian materi dapat diterima dengan baik, maka sebelum memberikan materi latihan sampel dijelaskan mengenai bentuk latihan yang akan diterima secara lisan kemudian didemonstrasikan gerakan latihan tersebut agar sampel dapat menirukannya. Koreksi selalu dilakukan baik secara individu maupun klasikal.
3.8.5 Faktor kondisi sampel
Kondisi masing-masing sampel berbeda baik mengenai kondisi keluarga, lingkungan maupun kesehatannya. Untuk itu selalu diberikan penjelasan agar sampel selalu menjaga kondisinya dengan baik.
xliii
3.8.6 Faktor kegiatan anak (sampel)
Kegiatan sampel yang dilakukan di luar penelitan sangat sulit diawasi, hal ini karena kondisi tempat tinggal sampel tidak satu tempat. Untuk itu peneliti menekankan dan memberikan penjelasan agar sampel tidak melakukan kegiatan latihan yang sama di luar latihan, sebab dapat mempengaruhi hasil penelitian.
3.8.7 Faktor alat
Dalam penelitian ini menggunakan alat bantu yang dapat menentukan keberhasilan latihan. Kondisi alat yang kurang baik atau kurang layak akan mempengaruhi latihan. Maka untuk menutup kekuranglayakan alat dalam penelitian, peneliti melakukan :
1. Pada latihan lompat dengan rintangan untuk mendapatkan ketinggian lompatan yang apabila bilah rintangan jatuh maka segera dipasangkan kembali dan apabila bilah melengkung maka diganti dengan bilah yang lurus, sehingga ketinggian rintangan yang dikehendaki dapat tercapai.
2. Pada latihan lompat meraih sasaran di atas, bola digantung dengan tali dan ketinggiannya diukur dengan papan ukur dan apabila waktu digunakan bola bergoyang atau bola berputar maka bola segera ditenangkan atau dibenahi seperti posisi semula sehingga tidak merubah ketinggian bola saat digantung.
3.8.8 Faktor peneliti
Kemampuan peneliti dalam memberikan materi latihan dapat mempengaruhi hasil latihan, maka berusaha semaksimal mungkin untuk tetap konsisten pada program latihan dan persiapan latiahan yang tidak ditetapkan dan direncanakan.
xliv
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Untuk mencari hasil perbedaan latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas dapat dilihat pada hasil analisis t-test seperti tercantum pada Tabel 4 berikut ini :
Tabel 4. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik
Kelompok
Mean
t-hitung
t-tabel
Keterangan
Eksperimen 1
318,67
Eksperimen 2
308,17
2,462
2,201
Signifikan
Dari hasil perhitungan statistik diperoleh nilai t-hitung 2,462 kemudian t-tabel dengan db 11 dan taraf signifikan 5% diperoleh hasil 2,201, dengan demikian t-hitung lebih besar dari pada t-tabel yaitu 2,462 > 2,201, maka hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan ada perbedaan pengaruh antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran diterima.
Dari hasil analisis data ditemukan adanya perbedaan yang signifikan, maka dilakukan uji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana yang lebih baik pengaruhnya antara latihan lompat dengan rintangan dan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh dilakukan uji perbandingan mean. Diketahui mean kelompok eksperimen 1 = 318,67 dan mean kelompok eksperimen 2 = 308,17, berarti MXe1 > MXe2, maka latihan lompat dengan
xlv
rintangan lebih baik pengaruhnya dari pada latihan lompat dengan meraih sasaran di atas pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian antara latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok menunjukkan adanmya pengaruh yang berarti. Ternyata meskipun menurut teori masing-masing mempunyai kelebihan, secara analisis gerakan kedua bentuk latihan dalam penelitian ini adalah ketinggian lompatan yang dihasilkan pada latihan lompat dengan rintangan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan latihan lompat meraih sasaran diatas perbedaan hasil latihan ini terutama pada lompatan yang melambung sehingga jarak yang dihasilkan lebih baik.
Hasil perbandingan antara latihan lompat dengan rintangan dan latihan lompat meraih sasaran diatas terhadap kemampuan daya ledak otot tungkai yang digunakan untuk melakukan tolakan lompat jauh menunjukkan sama-sama menghasilkan lompatan yang tinggi, akan tetapi pada latihan lompat dengan rintangan, lompatan yang dihasilkan melambung tinggi dan dilakukan dengan cepat sehingga hasil lompatannya lebih jauh, sedangkan pada lompat meraih sasaran diatas lompatan yang dihasilkan kurang melambung tinggi dan dilakukan lebih lambat sehingga jarak yang dihasilkan kurang jauh.
Pada latihan lompat dengan rintangan punya satu kelebihan yaitu adanya irama gerakan melambung tinggi keatas. Gerakan pada waktu melayang dipengaruhi oleh suatu kekuatan tarikan yang disebut daya tarik bumi
xlvi
(Aip Syarifuddin : 1992). Daya tarik bumi tersebut bertitik tolak pada suatu titik yang disebut titik berat badan. Titik berat badan letaknya kira-kira pada pinggang sedikit dibawah pusar. Hal ini sesuai dengan gerakan melayang pada latihan lompat dengan rintangan. Sehingga pada latihan ini dapat membentuk gerakan cukup efektif dan efisien didalam hal pemakaian ruang gerak, waktu dan tenaga yang dihasilkan serta perbaikan kemampuan gerakan pada lompat jauh gaya jongkok. Sedangkan latihan melompat meraih sasaran diatas irama gerakan tercurahkan pada konsentrasi gerakan meraih sasaran, sehingga gerakan yang dihasilkan berupa lompatan keatas saja (vertikal) tanpa ada dorongan usaha melompat kedepan sejauh-jauhnya, sehingga hasil lompatan kurang maksimal. Pemberian latihan selama 16 kali pertemuan berdasarkan hasil penelitian di atas berarti hipotesis penelitian ini dapat diterima dan terbukti kebenarannya. Dengan demikian apa yang telah dilakukan dalam penelitian ini mulai dari penelitian populasi, pengambilan sampel, variabel, tes awal, program latihan, tes akhir dan metodologi penelitian sudah benar dan terbukti.
xlvii
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasakan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa :
1. Ada perbedaan pengaruh antara latihan melompati rintangan dan meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Latihan lompat dengan rintangan lebih baik pengaruhnya dari pada latihan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh pada siswa putra kelas V SD Negeri Sidomulyo 04 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
5.2. Saran
Berdasarkan pada hasil akhir dari penelitian ini maka dapat diberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Guru Penjaskes dan pelatih untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam latihan daya ledak otot tungkai disarankan menggunakan bentuk latihan lompat dengan rintangan, karena sudah diuji bahwa latihan lompat dengan rintangan mempunyai pengaruh lebih baik dari pada latihan lompat meraih sasaran di atas terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok.
2. Untuk Peneliti yang berminat dapat meneliti ulang dan hasil penelitian bisa digunakan sebagai pembanding.
xlviii
DAFTAR PUSTAKA
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta : Depdikbud.
Aip Syarifuddin dan Muhadi. 1992/1993. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta : Depdikbud.
Bernhard, G. 1993. Atletik Prinsip Dasar Latihan Loncat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Loncat Galah. Terjemahan dari String Trainning voor. Djeugd. Semarang : Dahara Prize.
Carr, Gerry. 2000. Atletik (Edisi Terjemahan). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi SD dan MI. Jakarta: Dharma Bhakti.
————–. 1997. Kondisi Fisik Anak-anak Sekolah Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Depdiknas. 2000. Pedoman dan Modal Pelatihan Kesehatan Olah Raga Bagi Pelatih Olahragawan Pelajar. Jakarta.
Engkos, Kosasih. 1985. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta. Akademika Pressindo.
Harsono. 1982. Ilmu Coaching. Jakarta: KONI Pusat.
J. Matakupan. 1996. Teori Bermain. Jakarta: Depdikbud
KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta: KONI.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Semarang : Dahara Prize.
Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta: Depdiknas.
Poerwodarminto. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.
Rubianto Hadi. 2003. Ilmu Kepelatihan Dasar. Semarang : FIK UNNES.
Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta.
Sugito dkk. 1994. Pendidikan Atletik. Jakarta : Depdikbud.
xlix
Suharno. HP. 1986. Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta.
Suharsimi, A. 1998. Prosedur Penelitian. Yogyakarta : Rineka Cipta.
Sutrisno Hadi. 2000. Statistik II. Yogyakarta : Andi.
—————. 1973. Metodologi Research. Yogyakarta : UGM.
Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta
Tohar. 2004. Ilmu Kepelatihan Lanjut. Semarang: FIK UNNES
Yusuf, Adisasmita. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta : Dekdikbud.
l
INSTRUMEN TES LOMPAT JAUH
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes lompat jauh, sesuai dengan petunjuk PASI. Tujuan tes lompat jauh ini untuk mengetahui hasil lompatan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan pada saat pelaksanaan tes lompat jauh adalah sebagai berikut:
a. Alat dan Perlengkapan:
1. Lapangan lompat jauh
2. Rol meter
3. Bendera kecil
4. Cangkul
5. Alat tulis
b. Petugas:
Dalam penelitian ini dibantu oleh 5 orang yang sebelumnya telah diberi penjelasan tentang jalannya penelitian baik dalam pelaksanaan tes maupun dalam latihan. Kelima orang tersebut bertugas sebagai pemanggil sampel, pengukur hasil lompatan, pencatat hasil lompatan dan pengambil gambar. Adapun petugasnya sebagai berikut:
1. Sri Wulan Oktina Hartati (Mahasiswa Transfer PKLO UNNES)
2. Jumiyatun (Guru SD Kalisidi 03)
3. Ahmadi (Guru SD Bandarjo 02)
4. Supardi (Guru SD Ungaran 03)
5. Hadi Astuti (Guru SD Ungaran 02 )
li
c. Pelaksanaan Tes:
1. Siswa dipersiapkan terlebih dahulu pada daerah lintasan awalan
2. Siswa dipanggil sesuai dengan nomor urut.
3. Tiap peserta diberi kesempatan tiga kali melompat secara bergiliran
4. Pengukuran dimulai dari bekas pendaratan yang terdekat dengan balok tumpuan.
5. Hasil tiap lompatan yang sah diukur oleh petugas
6. Hasil akhir diambil dari lompatan yang terjauh.
lii
PROGRAM LATIHAN DAN TES
LOMPAT JAUH SISWA PUTRA KELAS V
SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Kelompok Eksperimen 1 : Latihan dengan Rintangan
Kelompok Eksperimen 2 : Latihan Meraih Sasaran Di atas
Frekuensi Latihan : 3 x 1 Minggu (Selasa, Kamis & Sabtu)
Pkl. 15.00 – 16.30 WIB
Jumlah Pertemuan : 18 Pertemuan
(Termasuk Pre-Test dan Post-Test)
Cara melakukan:
1. Latihan Lompat dengan Rintangan
Berdiri tegak kira – kira 3 m di depan rintangan pertama, dilanjutkan ancang-ancang 3 langkah menolak dengan kaki satu sebagai kaki tumpu, melompati rintangan pertama kemudian langsung melompat ke rintangan ke dua dan seterusnya sampai pada rintangan ke lima. Gerakan dilakukan terus berkesinambungan antar rintangan dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah. Jarak kaki tolak dengan rintangan 1 meter dengan ditandai garis batas tumpuan.
2. Latihan Lompat Meraih Sasaran Di atas
Berdiri tegak jarak kira-kira 3 m di depan sasaran di atas, selanjutnya ancang-ancang 3 langkah kemudian melompat meraih sasaran di atas dengan bertumpu pada satu kaki, begitu mendarat langsung ancang-ancang dan melompati lagi dan seterusnya yang dilakukan sebanyak 5 kali secara berkesinambungan. Jarak tumpuan dengan garis vertical bola digantung 1 meter yang ditandai garis batas tumpuan setiap sasaran benda yang digantung di atas.
liii
Kegiatan
No
Perte-
muan
Mgg
Eksperimen 1
Eksperimen 2
Alokasi
Waktu
Ket.
1
1
I
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan Pre-test
- Pemanasan :
1. Jogging
2. Senam peng -
uluran, penguatan
dan pelepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian, dibubar -
kan
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan Pre-test
- Pemanasan
1. Jogging
2. Senam penguluran,
penguatan dan pe-
lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang pe-
nelitian, dibubarkan
5’
15’
40’
15’
Pre-test
2
2,3,4
I
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 30 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x lompatan
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (175 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
15’
30’
liv
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit tiap set
- Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
1. Repetisi : 5x lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
20’
10’
Test parameter pada pert 4
3
4.
5,6,7
8,9,10
II
III
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B Latihan inti
Latihan melompati rintangan (tingginya 35 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan 2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (180 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
15’
40’
20’
10’
15’
Test parameter pada pert 7
lv
5.
11,12,13
IV
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 40 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan 2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (180 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi :5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran,
45’
20’
10’
15’
50’
20’
15’
Test parameter pada pert 10
Test parameter pada pert
lvi
6.
7.
14,15,16
17
V
VI
garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
- latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (190 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-Latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (195 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
15’
55’
20’
15’
15’
60’
13
lvii
8.
18
VI
- Latihan melompati rintangan (tingginya 45 cm) dengan memperhatikan ancang-ancang 3 langkah , jarak kaki tolak dengan rintangan 1 m dengan ditandai garis batas tumpuan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 3 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan post test
- pemanasan
1. Jogging
2. Senam peng-
uluran, peng-
uatan dan pe- lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat jauh
C. Penenangan :
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian dibubarkan
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Pemanasan
ABC Running
- Senam penguluran, penguatan dan pe-lepasan
B. Latihan Inti
- Latihan lompat meraih sasaran di atas (195 m) selama mungkin memegang teguh sikap tubuh bagian atas tegak, penentu arah selalu diambil dari tempat pendaratan
1. Repetisi : 5x
lompatan
2. Set : 4 set
3. Istirahat : 2 menit
tiap set
-latihan lompat jauh
C. Penenangan
- Strecthing statis
A. Pendahuluan
- Penjelasan tentang penelitian lompat jauh
- Penjelasan post test
- Pemanasan
1. Jogging
2. Senam penguluran,
penguatan dan pe-
lepasan
B. Latihan Inti
- Melakukan lompat
20’
10’
5’
40’
15’
Pos-test
lviii
jauh
C. Penenangan :
- Strecthing statis
- Penjelasan tentang penelitian dibubarkan

Kategori:Uncategorized

ATLETIK

RINGKASAN MATERI

Cabang olahraga atletik merupakan cabang olahraga yang paling tua dibandingkan dengan cabang olaharaga yang lainnya. Oleh karena itu, atletik juga disebut Mother of the sport atau induk dari segala cabang olahraga. Induk organisasi atletik di Indonesia yaitu PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia). Cabang olahraga atletik meliputi jalan, lari, lompat dan lempar.

Keempatnya itu merupakan gerakan – gerakan manusia sehari – hari. Gerakan – gerakan itu sangat penting bagi kehidupan manusia agar sehat, gerakan – gerakan atletik diperlukan dalam cabang – cabang olahraga lainnya.

  1. LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK
  1. 1. Tehnik dasar

Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Tehnik dasar awalan

Jarak awalan :    1)     bisa + 30 m dari papan tumpu

2)     bisa + 60 m dari papan tumpu

untuk memperoleh jarak awalan bagi pemula, bisa dilakukan dengan langkah mundur ke belakang.

1)    Berdiri pada papan tumpu,

2)    Tarik kaki kiri ke belakang sejauh mungkin, untuk tahap pertama bisa empat langkah, kanan dan kiri

3)    Ambil sikap melangkah dengan kaki kiri di depan

4)    Melangkah ke depan, sehingga kaki kanan tepat menumpu papan tumpu

Setelah dilakukan dengan tehnik di atas secara berulang – ulang maka kita bisa melakukan awalan lompat jauh gaya jongkok yaitu lari cepat dari titik yang telah dilatih tadi tanpa menambah langkah sampaio pada papan tolak / tumpu dan melakukan tolakan

  1. Tehnik tolakan

1)    Pada saat menumpu badan lebih ditegakkan dari sikap lari (boleh dikatakan badan condong ke belakang)

2)    Urutan tumpuan telapak kaki :

-          tumit

-          telapak kaki

-          ujung kaki

3)    Dorongkan kaki dengan menggunakan ujung kaki ke depan ke atas dibantu gerakan tangan

Posisi gerakan saat melakukan tolakan

  1. Sikap badan di udara

1)    Kedua kaki ditekuk

2)    Kedua tangan di depan, disamping kepala

3)    Pada saat akan mendarat kedua kaki lurus ke depan merapat, kedua tangan lurus ke depan serta berat badan di bawa ke depan

  1. Sikap mendarat

1)    Mendarat dengan kedua kaki agak merapat

2)    Berat badan di bawa ke depan

3)    Lutut ditekuk dalam posisi jongkok

4)    Tangan di depan menyentuh bak lompat

5)    Pandangan ke depan

  1. 2. Peraturan perlombaan
    1. Gaya – gaya lompat jauh

-          Gaya jongkok (tuck style / sit down in the air)

-          Gaya melayang / melenting (rang style / schenepper)

-          Gaya jalan di udara (walking / running in the air)

  1. Lapangan / bak lompat

Ukuran :

-          Panjang : 11 m

-          Lebar : 2,75 m

Jarak balok tumpu dengan bak lompat : 2 m

Lebar balok tumpu : 1,22 m

Panjang awalan : 30 – 40 m

Lebar awalan  : 2,22 m

2. LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG

Dalam penggunaan teknik lompat jauh yang sebenarnya, perbedaannya terletak pada teknik saat di udara, baik lompat jauh gaya jongkok maupun gaya menggantung.

  1. 1. TEKNIK DASAR AWALAN
    1. Dilakukan dengan lari secepat-cepatnya
    2. Tidak mengubah kecepatan dan langkah saat akan bertumpu pada papan tumpuan
  1. 2. TEKNIK DASAR TOLAKAN
    1. Saat kaki tumpu menolak pada papan tumpuan, posisi badan lebih ditegakkan
    2. Urutan tumpuan kaki menolak pada papan tumpuan, mulai dari tumit, telapak kaki diteruskan pada ujung telapak kaki
    3. Gerak mengayun kaki belakang ke depan atas bersamaan dengan kedua lengan .
  1. 3. TEKNIK DASAR SIKAP DI UDARA
    1. Badan melenting ke belakang
    2. Kedua lengan lurus ke atas di samping telinga
    3. Kedua kaki hampir rapat di belakang badan
  1. 4. TEKNIK DASAR MENDARAT
    1. Dari sikap di udara, kedua lengan diluruskan ke depan
    2. Kedua lutut dan badan dibawa ke depan
    3. Saat kedua kaki mendarat kedua lutut mengeper dan berat badan di bawa ke depan
  1. 5. MODEL PEMBELAJARAN TEKNIK DASAR LOMPAT JAUH GAYA MENGGANTUNG
    1. Model Pembelajaran Untuk Teknik Dasar Awalan
  • Model I melangkah mudur 4,6,8 atau 10 langkah dan melanmgkah ke depan kearah papan tumpuan, hingga kaki tumpu tumpu tepat menginjak papan tumpuan.

Cara melakukan :

-       Berdiri menginjak papan tumpuan / garis dan mundur beberapa langkah

-       Bila langkah terakhir kaki kanan (dibelakang) maka untuk pertama melangkah kembali ke depan menggunakan kaki kanan

  • Model II melakukan awalan lari melalui tanda yang dibuat pada lintasan, untuk mengatur irama lari dan melangkah, hingga kaki tumpuan tepat mendarat pada papan tumpuan.

Cara melakukan :

-       Berdiri menghadap arah lompatan

-       Lakukan lari cepat melalui tanda, diawali kaki kanan melangkah

-       Langkah terakhir kaki kanan tepat bertumpu pada papan tumpuan

  • Model III melakukan lomba lari dan ketepatan kaki tumpu mendarat pada papan tumpuan

Cara melakukan :

-       Jarak lari 30 – 40 m dan garis start ke garis tumpuan, tentukan kaki tumpuan  menggunakan kaki kanan / kiri

-       Pelari dianggap menang bila pemain menginjak garis tumpu yang benar.

  1. Model Pembelajaran Untuk Teknik Dasar Tolakan
  • Model I Menolak dengan dua kaki ke depan atas dan mendarat pada bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Berdiri menghadap bak lompat / matras

-       Rendahnya kedua lutut bersamaan kedua lengan bawa ke belakang

-       Tolakan kedua kaki ke depan atas bersamaan kedua lengan diayun ke atas.

-       Mendarat pada bak lompat / matras sikap jongkok

  • Model II Menolak dengan satu kaki kearah bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Tentukan kaki yang akan digunakan menolak kanan atau kiri

-       Berdiri sikap melangkah

-       Ayunkan kaki belakang ke depan atas bersamaan kaki depan menolak dan kedua dengan diayun ke depan.

  • Model III Menolak dengan satu kaki kearah bak lompat / matras.

Cara melakukan :

-       Tentukan kaki yang digunakan menolak kanan / kiri

-       Lakukan gerak melangkah lari dari jarak 3 – 4 meter, setelah kaki menginjak papan tumpuan / garis lakukan gerak menolak ke depan atas melewati box.

  • Model IV Menolak melalui atas bangku – bangku panjang yang dipasang melintang.

Cara melakukan :

-       Lakukan gerak melangkah di antara bangku (2-3 langkah) dan langkah terakhir dilanjutkan dengan gerak menolak melalui atas bangku.

  1. Model Pembelajaran untuk teknik dasar sikap di udara dan mendarat
  • Model I Melenting di udara dan alas box senam dan mendarat pada matras / bak lompat

Cara melakukan :

-       Berdiri diatas box, kedua lutut direndahkan dan kedua lengan ke belakang badan

-       Tolakkan kedua kaki pada box bersamaan kedua lengan ke belakang badan

-       Tolakkan kedua kaki pada box bersamaan kedua lengan diayunkan ke depan atas hingga pinggang melenting dan perut menyentuh benda didepannya

-       Mendarat pada matras dengan kedua kaki

  • Model II melenting di udara dan awalan 3 – 4 langkah dan mendarat pada matras / bak lompat.

Cara melakukan :

-       Lakukan gerak melangkah dan menolak ke depan atas, hingga saat diudara badan melenting dan perut menyentuh dada di depannya

-       Mendarat pada matras / bak lompat dengan kedua kaki

  1. 6. GERAK RANGKAI TEKNIK DASAR LOMPAT JAUH GAYA MELENTING DI UDARA, DENGAN CARA :
  • Lakukan awalan lari dengan cepat ke arah  tempat bertumpu dan saat kaki tumpu menginjak tempat bertumpu tolakan ke depan atas.
  • Lentingkan pinggang ke belakang lalu mendarat pada tempat pendaratan.

A T L E T I K

RINGKASAN MATERI

  1. A. Lompat Jauh Gaya Berjalan di Udara

Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara pada dasarnya sama dengan tehnik lompat jauh gaya menggantung dan lompat jauh gaya jongkok. Ciri khas dari lompat jauh gaya berjalan di udara adalah gerakan lompatannya dilakukan seperti orang berjalan.

  1. Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara.

a)    Awalan

Awalan dilakukan pada jarak 30 – 40 meter dan dilakukan dengan secepat-cepatnya dan jangan mengubah langkah pada saat akan melompat.

b)    Tolakan

Tolakan dilakukan dengen menggunakan kaki sekuat-kuatnya ke atas dan ke depan tepat pada balok tolakan yang terkuat.

c)    Sikap Badan di Udara

Cara melakukannya adalah pada saat kaki ditolakkan pada balok tolakan, kaki ayun diangkat ke depan atas untuk membantu titik berat badan. Kemudian kaki ayun diturunkan, bersamaan dengan itu kaki satunya ditarik ke depan dan dirapatkan, sehingga mendarat dengan ke dua kaki lurus ke depan.

d)    Mendarat

Pada waktu akan mendarat, berat badan bagian bawah ke depan, demikian juga kedua tangan. Mendarat dengan kedua kaki rapat dan jongkok.

  1. Latihan Lompat Jauh Gaya berjalan di Udara

Untuk menghasilkan gerakan lompatan yang baik maka harus dilakukan latihan-latihan yang benar.

Ada beberapa bentuk latihan untuk dapat melakukan lompat jauh gaya berjalan di udara, antara lain :

  1. a. Latihan mengayunkan tangan.

Gerakan ayunan tangan memerlukan latihan dengan sungguh-sungguh, dengan tujuan untuk melatih gerak reflek ayunan tangan ketika akan melakukan ancang-ancang. Cara melakukan latihan tangan dapat diperhatikan pada gambar disamping.

  1. b. Latihan berjalan sambil melompat

Untuk menghasilkan lompatan secara maksimal, maka harus dilakukan latihan melompat dengan benar, latihan ini dapat dilakukan dengan cara berjalan lalu melompat dengan benar, latihan ini dapat dilakukan dengan cara berjalan lalu melompat secara kontinyu sampai dirasakan kita bisa melakukan dengan baik. Perhatikan gambar berikut, dan lakukan dengan sungguh-sungguh dan benar.

  1. c. Latihan berjalan di udara

Gerakan berjalan di udara waktu melayang sangat penting sebab hal ini menentukan benar tidaknya gaya ini dilakukan. Latihan ini bertujuan untuk melatih gaya berjalan sat di udara dengan benar. Latihan ini menggunakan sebuah alat bantu yaitu balok rintangan untuk memudahkan dalam melakukan latihan. Perhatikan gambar dibawah ini lalu praktikkan berulang-ulang sampai anda menguasainya.

  1. d. Latihan mendarat

Sikap badan saat mendarat yang benar dalam lompat jauh gaya berjalan di udara kaki lurus ke depan bersamaan, badan condong ke depan, dengan tujuan supaya tidak jatuh ke belakang.

Apabila tahap-tahap latihan sudah dilakukan dengan baik dan benar, selanjutnya lakukan dengan menggunakan awalan secepat-cepatnya pada jarak 15 m, sampai 25 m. Agar mendapatkan hasil yang baik dalam lompat jauh, yang harus diperhatikan oleh pelompat, yaitu :

1)    Pelihara kecepatan sampai saat menolak.

2)    Capailah dorongan yang cepat dan dinamis dari balik tumpuan.

3)    Ubahlah sedikit posisi lari, untuk mencapai posisi lebih tegak.

4)    Gunakan gerakan kompensasi lengan yang baik.

5)    Capailah jangkauan gerakan yang baik.

6)    Latihlah gerakan pendaratan.

7)            Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruskan dan membengkokkannya

Kategori:Uncategorized

lompat jauh dan lain lain

• Atletik merupakan induk cabang olahraga yang diperlombakan, yang dilakukan secara luas dan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang tidak sekolah, siswa, mahasiswa, junior dan senior. Atletik bisa dilakukan secara perorangan maupun beregu. Yang termasuk dalam olahraga atletik adalah lari, lompat/loncat, tolak dan lempar.
Menurut AP Panjaitan  menyatakan bahwa “Atletik mempunyai semboyan “ citius, altius, fortius yang dalam bahasa Inggrisnya faster, higner, dan stronger, yaitu lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Atletik terdiri dari jalan, lari, lempar, lompat. Setiap penyelenggaraan pesta olahraga baik tingkat nasional maupun tingkat dunia atletik selalu ikut dipertandingkan dan merupakan pokok acara pada setiap peristiwa. Keadaan ini membuat orang menjuluki atletik sebagai induk (ibu) dari segala cabang olah raga (Mother of Sport).
Berlatih atletik bisa dilakukan di hutan, di alam bebas, di bangsal, di lapangan olahraga, di stadion. Di Indonesia perserikatannya adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), yang kini telah tersebar keseluruh pelosok tanah air. Untuk dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga diperlukan berbagai usaha dan melalui pendekatan ilmiah. Prestasi olahraga yang dicapai sebenarnya merupakan hasil perpaduan dari berbagai usaha. Karena di dalamnya akan dilibatkan banyak pihak seperti pelatih, fasilitas, program latihan, teori-teori yang mendukung dalam kepelatihan dan sebagainya.
Dalam hal latihan salah satu faktor yang paling esensial adalah dilakukannya dengan berulang-ulang. Jadi latihan merupakan suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berkesinambungan dengan beban semakin meningkat. Sedangkan tujuan dari latihan fisik adalah mengembangkan dan meningkatkan kondisi fisik atlet yang meliputi kekuatan kelentukan daya tahan dan daya gerak.
1. Pengertian
Latihan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang pencapaian suatu kemampuan atau prestasi. Latihan berarti menyesuaikan pada kerja yang lebih berat yaitu kita membuat tubuh selangkah demi selangkah pada keadaan efisien yang kita inginkan, kepada produktifitas yang terbesar kepada keserasian yang dipertinggi untuk melakukan pekerjaan.
Latihan adalah suatu proses kerja yang harus dilakukan secara sistematis, berulang-ulang dengan jumlah beban yang diberikan semakin-hari semakin bertambah. Tujuan serta sasarannya dari berlatih adalah untuk membantu atlet meningkatkan suatru kemampuan atau prestasi semaksimal mungkin
Untuk mendapatkan suatu kemampuan prestasi yang maksimal perlu pelatihan dengan melakukan latihan secara intensif, terprogram dan kontinyu melalui program pembinaan latihan yang disusun oleh pelatih. Selanjutnya program latihan yang proporsional akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan atlet baik secara fisiologis, psikologis maupun sosiologis, tentunya hal ini harus ditunjang oleh sistem yang profesional.
Pembinaan latihan secara profesional merupakan sesuatu yang dapat memberikan simulasi dan pelatihan terhadap karakter setiap individu atlet yang bersifat kompetitif yaitu meliputi disiplin, sportif, pantang menyerah, rasa tanggung jawab, mampu bekerjasama dengan tim, dan bangkit dari kekalahan, yang sekaligus merupakan mata rantai yang diperlukan untuk meningkatkan prestasi atlet baik ditingkat nasional maupun internasional yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Dengan demikian seorang pelatih merupakan penentu dalam keberhasilan atlet untuk mengantarkan potensinya mencapai puncak penampilan (feak performance). Seorang pelatih yang profesional tentunya dalam pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan atlet secara individual. Sehingga pelatih benar-benar dapat mengemas program pelatihan secara proporsional. Sehingga pelatih benar-benar dapat megemas program pelatihan secara profesional, dilakukan secara sistematis, kontinyu dan sesuai dengan target yang ingin dicapai. Ini penting karena dalam cabang olahraga atletik khususnya pada nomor-nomor individual, sehingga program pelatihannyapun harus diarahkan secara individual.
Program pelatihan merupakan upaya yang sistematis dalam meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan daya tahan. Namun semua itu tidak terlepas dari program yang disusun oleh pelatih untuk meningkatkan kemampuan atlet, disamping metode-metode pelatihan yang diarahkan secara individu guna dipadukan dengan cara saling melengkapi sehingga dapat memperoleh hasil secara optimal, oleh karena itu peran pelatih sangat menentukan dalam mengoptimalkan kemampuan atlet.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa untuk menyusun program latihan fisik yang tepat, salah satu hal yang harus dipertimbangkan adalah :
Penentuan tinggi rendahnya intensitas suatu latihan, frekuensi latihan dan beban latihan dengan tidak meninggalkan pertimbangan kemampuan fisik secara mendasar untuk masing-masing atlet. Intensitas latihan merupakan fungsi dari kekuatan rangsangan yang diberikan pada saat latihan
Tentunya himbauan pendapat tersebut harus terprogram dan disusun secara sistematis serta dijalankan secara terpadu. Hal ini sesuai dengan dimana seorang pelatih harus benar-benar mempertimbangkan kemampuan dasar masing-masing atlet yakni kemampuan secara fisiologis, khususnya pada latihan berbeban.
pelatihan
1) Untuk mengetahui sejauh mana kontribusi penggunaan metode latihan berbeban yang dimiliki oleh atlet lompat jauh.
2) Untuk mengetahui taktik/teknik yang benar dari lompat jauh gaya jongkok
3) Untuk meningkatkan kemampuan prestasi atlet
2. Pengaruh Pelatihan
Menurut U. Jonath/E.Haag/R.Krempel menyatakan bahwa :
a. Latihan adalah penerangan rangsangan fungsional secara sistematis dalam ukuran makin meninggi dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Latihan menimbulkan perubahan penyesuaian organ terhadap persyaratan prestasi yang dipertinggi.
b. Rangsangan latihan harus paling sedikit mencapai 30 sampai 50 persen prestasi maksimal untuk dapat menbimbulkan peningkatan prestasi.
c. Pada umumnya otot-otot menjadi lebih besar dan lebih dekat, pembuluh-pembuluh kapiler makin besar jumlahnya. Pertukaran zat dalam otot dipengaruhi secara baik, dan kemampuannya untuk mengikat oksigen menjadi lebih baik pula.
d. Dengan latihan secara terus-menerus, jantung menjadi lebih besar. Jumlah denyutnya pada waktu istirahat menjadilebih rendah, dan pernafasan menjadi efisien. Jumlah oksigen (O2) lebih banyak dapat dihirup dan jumlah karbondioksida (CO2) lebih banyak dapat dikeluarkan. Daya maksimal pemasukan oksigen menjadi lebih besar hingga kemampuan berprestasi terus-menerus dapat ditingkatkan dalam waktu yang lama. Juga jumlah darah dan butir-butir darah merah meningkat.
e. Pendayagunaan zat-zat makanan yang dimasukkan pun menjadi dipertinggi.
Selanjutnya pengaruh latihan terhadap organisme menurut U Jonath juga menyatakan bahwa : pengaruh latihan badan yang dapat ditunjukkan terhadap organisme, dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pengaruh terhasp sistem otot dan kerangka
Otot yang terlatih pada umumnya menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada yang tidak terlatih. Ukuran, penampang lintang, maupun volumenya menjadi lebih besar. Dalam perbandingan yang kira-kira sama, juga tenaga ototnya meningkat. Otot terlatih, dengan pertumbuhan (hipertrofi) masing-masing serat otot karena peningkatan putih telur (protein) di dalamnya, menjadi lebih besar. Jadi kemampuan untuk memenuhi persyaratan pada prestasi gerak, karenanya juga meningkat.
b. Pengaruh terhadap organ dalam dan darah
Latihan secara terus-menerus mempunyai pengaruh yangterlihat pada perkembangan organ tubuh dalam, terutama otok, darah, paru-paru maupun kelenjar-kelenjar hormon tertentu. “Kemampuan jantung terlatih” pada olah ragawan stamina dibandingkan jantung biasa, juga dalam hal berat maupun isinya dapat berlipat dua. Sehubungan sengan organ dalam dan darah merupakan kriteria yang menentukan bagi penilaian kemampuan prestasi stamina seorang olah ragawan.
c. Pengaruh terhadap pertukaran zat
Dalam pengertian pertukaran zat, termasuk semua proses yang mengakibatkan pembentukan, perubahan, dan pembongkaran zat di dalam tubuh. Setiap fungsi hidup hanya terjadi dengan pembongkaran zat. Pada pembongkaran zat yang terjadi menurut proses biokimia yang asangat rumit itu, dikeluarkan energi dalam bentuk panas atau sebagai energi mekanis proses perubahan kimia itu dapat berlangsung dengan penambahan oksigen (aerob) atau tanpa oksigen atau tanpa oksigen (anaerob). Yang menentukan untuk itu ialah lamnya waktu dan intensitas kerja yang harus dilakukan, maka selama diadakan latihan secara teratur dengan olah ragawan yang terlatih supaya dapat diperoleh penyesuaian yang baik. Dengan demikian juga kebutuhan sebesar mungkin akan oksigen yang disampaikan kepada otot-otot di bawah pengaruh latihan itu, menjadi lebih besar.
Sebagai dasar bagi latihan dapat disusun aturan sebagai berikut melalui tiga tahap :
Tahap pertama : latihan dasar (beberapa tahun sekitar lima tahun) dengan menerapkan latihan olahraga secara sistematis. Akan tercapai dasar umum yang luas tentang sifat-sifat utama mengenai tenaga-stamina-kecepatan.
Tahap kedua : latihan pembentukan (kira-kira dua sampai tiga tahun) yang menuju kepada kemampuan prestasi dalam cabang olah raga khusus. Pembentukan ini berdasarkan kemampuan dan kesiapan umum yang diperoleh pada latihan dasar.
Tahap ketiga : latihan prestasi. Di sini diusahakan sebaik-baiknya agar dapat tercapai prestasi pribadi secara maksimal dalam suatu cabang olah raga khusus.

engkoskosasih
Mei 2, 2010 pukul 4:12 pm | #2
Balas | Kutip | Sunting
Organisasi latihan berbeban
Pelaksanaan latihan tenaga secara praktis, sebagian besar bergantung pada alat-alat yang tersedia. Di bawah ini terdapat kumpulan yang dipilih dari alat-alat yang paling banyak digunakan atau cara lain dalam pembebanan.
Yang menjadi tujuan dari lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya dengan memperhatikan atau memahami unsur atau teknik-teknik pokok pada lompat jauh. Adapun teknik-teknik atau unsur-unsur pokok dalam lompat jauh menurut pendapat adalah :
a. Awalan, yaitu untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan menolak. Awalan ini harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan merubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan  30 meter – 4 meter
b. Tolakan, yaitu menolak sekuat-kuatnya pada papan tolakan dengan kaki yang terkuat ke atas (tinggi dan ke depan)
c. Sikap badan di udara, yaitu badan harus diusahakan melayang selama mungkin di udara serta dalam keadaan seimbang.
d. Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya, jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan.
Selanjutanya menurut AD Pandjaitan (1990) mengatakan bahwa :
Suatu lompatan mempunyai hubungan atau pengaruh dengan lari kareana lari merupakan awalan bagi pelompat jauh dan harus memperhatikan. Awalan yang cepat dan tepat, tumpuan yang baik dan pendaratan yang menguntungkan.
Sedangkan U Jonath/E Haag/R Krempel menyebutkan bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelompat jauh yang baik adalah :
Teknik lompat jauh menurut pendapat Muhajir (1994) yaitu :
a. Awalan atau ancang-ancang
Guna awalan atau ancang-ancang pada lompat jauh adalah untuk mendapatkan kecepatan yang setinggi-tingginya sebelum mencapai balok tolakan. Adapun panjang lintasan untuk melaksanakan awalan lompatan jauh adalah tidak kurang dari 45 meter. Untuk memperoleh hasil lompatan yang maksimal, setiap melakukan awalan harus selalu dapat bertumpu pada balok.
Cara melakukan awalan atau ancang-ancang sebagai berikut :
1) Lari ancang-ancang tergantung pada kemampuan masing-masing siswa
2) Tambah kecepatan lari ancang-ancang sedikit demi sedikit sebelum bertumpu/bertolak. Kecepatan ancang-ancang dipertahankan tetap maksimum sampai mencapai papan tolak.
3) Punggang turun sedikit pada langkah akhir ancang-ancan
Tumpuan atau tolakan kaki harus kuat agar tercapai tinggi lompatan yang cukup, tanpa kehilangan kecepatan maju. Karena ini tidak mungkin, maka diusahakan agar kehilangan kecepatan maju diusahakan semaksimal mungkin. Kaki ayun digerakkan secara aktif untuk membantu menaikkan badan dan menjaga keseimbangan berat badan sedikit di depan titik tumpuan. Gerakan tangan membantu menambah ketinggian, pandangan mata yang naik ke depan sebagai kemudi.
Cara melakukan tumpuan atau tolakan sebagai berikut :
1) Ayunkan paha kaki-bebas cepat ke posisi horizontal dan dipertahankan
2) Luruskan sendi mata-kaki, lutut dan pinggang pada waktu melakukan tolakan
3) Bertolak ke depan dan ke atas
Melayang di udara dapat dilakukan beberapa cara, ada tiga cara yang lazim digunakan :
1) Sikap tengadah/bergantung atau the hang style (seperti gambar A)
2) Sikap mengambang/jongkok atau float sit down (seperti gambar B)
3) Sikap berjalan di udara atau stride in the air (seperti gambar C)
Yang penting pada saat melayang di udara ini bukan cara melayangnya yang diutamakan, tetapi tetap terpeliharanya keseimbangan badan dan mengusahakan tahanan udara sekecil mungkin, mengusahakan melayang di udara selama mungkin dan menyiapkan letak kaki dalam posisi yang menguntungkan pada waktu mendarat dengan kaki yang diacungkan ke depan lemas-lemas.
Mendarat harus sedemikian rupa sehingga kaki yang diacungkan ke depan tidak menyebabkan bahwa pelompat akan mendarat pada pantatnya, keadaan ini sangat merugikan. Untuk menghindarkan pendaratan pada pantat ini, kepala ditundukkan dan lengan diayunkan ke depan sewaktu kaki menyentuh pasir. Titik berat badan akan melampaui titik pendaratan kaki di pasir kalau kaki tidak kaku tegang, melainkan lemas-lentuk. maka sendi lutut harus siap menekuk pada saat yang tepat. Gerakan ini memerlukan timing (waktu) yang tepat.
Cara melakukan pendaratan sebagai berikut :
1) Tariklah lengan dan tubuh ke depan-bawah. Tariklah kaki mendekat badan
2) Luruskan kaki dan tekuk lagi sedikit sesaat sebelum menyentuh tanah
3) Bila kedua kaki telah mendarat di pasir, duduklah atas kedua kaki
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan pada lompat jauh yang tujuannya untuk mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya maka yang perlu diperhatikan yaitu masalah kondisi fisik pelompat dan teknik-teknik yang baik.
Untuk meningkatkan suatu kemampuan selain masalah kondisi fisik pelompat menurut pendapat Yanto Kusyanto (1994 : 122) mengatakan bahwa yang harus diperhatikan atau dilakukan oleh atlet lompat jauh adalah :
1) Pelihara kecepatan sampai saat bertolak
2) Capailah dorongan yang cepat dan dinamis dari balok tumpuan
3) Gunakan gerakan kompetensi lengan yang baik
4) Capailah jangkauan gerak yang baik
5) Gerak akhir agar dibuat lebih kuat dengan menggunakan lebih besar daya kepadanya
6) Latihlah gerak pendaratan
7) Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruskan dan membengkokkannya
Kesalahan-kesalahan umum
1) Memperpendek atau memperpanjang langkah terakhir sebelum bertolak
2) Bertolak dari tumit dengan kecepatan yang tak memadai
3) Badan miring jauh ke depan atau ke belakang
4) Fase melayang tak seimbang
5) Gerak kaki yang prematur
6) Tak cukup angkatan kaki pada pendaratan
7) Satu kaki turun mendahului kaki lain pada pendaratan
2. Latihan Lompat Jauh gaya jongkok tanpa awalan
Cara melakukan latihan :
a. Berlatih gerakan bertolak (take off) dengan melompat beberapa kali berturut-turut dengan menggunakan kaki tolakan secara aktif.
b. Belajarlah melakukan dorongan kaki yang baik dan jangkauan gerak pada saat bertolak dan pertahanan posisi sampai mendarat di bak pasir.
c. Perbaiki tolakan dan posisi sewaktu mendarat. Bertolak dengan keras dan mengangkat kaki tinggi dan mendorong yang kuat, pertahankan posisi sebelum menjulurkan kaki-kai ke luar untuk mendarat pada saat terakhir
d. Latihan jangkauan gerak yang luas pada pinggang, langkah bertolak dengan dorongan yang baik dari yang bebas, pertukarkan posisi kaki sebelum mendarat mendarat. Kaki bebas diayun lurus ke belakang sedangkan kaki tolak ditekuk dalam-dalam sebelum mengayun terus.
3. Latihan Lompat Jauh Gaya Jongkok Dengan Awalan
Pada hakekatnya latihannya sama seperti lompat jauh tanpa awalan, perbedaannya terletak pada awalan saat melakukan tolakan untuk melompat.
Cara melakukan latihan :
a. Lari dengan awalan antara 30 – 45 m. Lari awalan semakin dipercepat dan pada langkah akhir ada sedikit penurunan titik pusat gravitasi dalam persiapan untuk bertolak. Ketepatan mengukur jarak awalan adalah penting.
b. Hentakkan kaki pada saat bertolak, harus terjadi pada sol kaki dengan tumit menyentuh tanah. Sedikit pinggang ke depan dan dengan kaki penolak sedikit bengkok. Hal ini diluruskan dengan cepat dan kuat sesaat titik pusat grafitiasi melewati di atas kaki tumpu.
c. Berbagai teknik boleh dipakai yang ditunjukkan dalam urutan gerak adalah 2 ½ langkah hitch kick. Langkah pertama berakhir dengan kaki ayun dalam posisi depan dan kaki penolak sesaat meninggalkan/lepas dari tanah. Langkah kedua berakhir dengan posisi berlawanan dan pada langkah ½ berakhir, kaki ayun bergabung dengan kaki tolak untuk mendarat.
Selajutnya menurut pendapat Yanto Kusyanto (!994 : 125) selain latihan-latihan di atas ada bebarapa skema latihan singkat lompat jauh adalah :
a. Latihan dasar
1) 10% : Conditioning umum (latihan keseluruhan, beberapa variasi lompatan, lari tanjakan dan lain-lain)
2) 30% : Latihan teknik (memahirkan dengan 5-7 langkah awalan) dengan banyak sekali
3) 20% : Latihan kekuatan (power training) dengan beban (beban maksimum 5-6 latihan, 8-10 kali dilakukan dengan cepat)
4) 20% : Latihan conditioning dalam ruang senam (latihan penguatan dan penguluran dan lain-lain)
5) 20% : Latihan speed (20-90 m) latihan lari gawang untuk 10-12 kali
b. Latihan khusus
1) 20% : Berbagai lompatan (pakai jaket atau tanpa jaket beban) dan latihan ketangkasan
2) 30% : Latihan Teknik, melompat dengan lari awalan penuh 10-12 kali
3) 20% : Latihan power dalam ruang senam (latihan penguatan tanpa beban atau memakai beban selama ½ jam)
4) 20% : Latihan kecepatan (60-120 meter pada lintasan lurus atau pada lintasan tikungan) atau lari gawang 5 buah 6-8 kali.
5) 20% : Latihan teknik membetulkan atau mengoreksi kesalahan-kesalahan dengan awalan pendek) 10 atau 20 kali.
c. Kompetisi/Perlombaan
1) 20% : Latihan ketangkasan (latihan penguluran dan latihan rileks) dan lari gawang rendah tanpa ketegangan
2) 40% : Latihan teknik (menyempurnakan dan mensinkronisasikan lari awalan dengan lompatan) 10-20 kali
3) 10% : Melakukan berbagai cara lompatan (secara intensif dengan interval istirahat secukupnya)
4) 30% : Latihan speed (latihan start pada lintasan lurus dan tikungan) 10-15 kali
5) Berlomba (sekali seminggu dan kadang-kadang istirahat dan mencoba event (lagi)
4. Peraturan perlombaan lompat jauh dan posisi pelompat saat melakukan lompatan
a. Awalan/lintasan awalan lebar minimum 1,22 m dan panjang 45 m
b. Panjang papan tolakan 1,22, lebar 20 cm dan tebal 10 cm
c. Pada sisi dekat dengan tempat mendarat harus diletakkan papan plastisin untuk mencatat bekas kaki pelompat bila ia berbuat salah tolak. Papan tolakan harus dicatat putih dan harus datar dengan tanah awalan dan harus ditanam sekurang-kurangnya 1 meter dari tepi depan bak pasir pencatatan
d. Lebar tempat pendaratan minimum 2,75 m jarak antara garis tolakan sampai akhir tempat lompatan minimal 10 m.
e. Permukaan pasir di dalam tempat pendaratan harus sama tinggi/datar dengan sisi atas papan tolakan
f. Bila peserta lebih dari 8 orang, tiap peserta diperbolehkan melompat 3 kali (giliran) dan 8 pelompat dengan lompatan terbaik, boleh melompat 3 kali lagi
Bila perseta hanya 8 orang kurang, semua peserta harus melompat 6 kali (giliran). Semua lompatan diukur dari titik bekas terdekat di bak pasir/pendaratan yang dibuat oleh setiap bagian badan ke garis tolakan dalam posisi siku-siku terhadap garis tolakan tersebut.
Peserta diberi waktu (1 giliran) lompat hanya selama 1,5 menit. Lompatan yang sama (tie) ditentukan dengan melihat hasil lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik ketiga dan seterusnya
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan yang maksimal bagi atlet lompat jauh khususnya lompat jauh gaya jongkok maka latihan yang mendukung atau yang harus dilakukan yaitu menggunakan metode latihan berbeban dengan alat pembebanan yaitu jaket atau rompi pemberat, seperti yang diungkapkan Yanto Kusyanto (1994 : 125) menyatakan ada beberapa skema latihan singkat tentang lompat jauh antara lain :
a. Latihan dasar
b. Latihan khusus, yaitu si pelompat melakukan berbagai lompatan dengan menggunakan jaket atau rompi pemberat
c. Kompetisi atau perlombaan
Dengan demikian berdasarkan pendapat di atas, maka jelas bahwa peranan metode latihan berbeban sangat berpengaruh besar dalam meningkatkan suatu kemampuan cabang olahraga khususnya cabang olah raga atletik nomor lompat jauh gaya jongkok.
Metode latihan berbeban merupakan suatu latihan yang memperhitungkan baik dari segi situasi, faktor atau unsur biomotorik dan juga faktor pembebanan, baik pembebanan lebih atau di bawah normal yang berfungsi untuk mengembangkan tenaga secara spesifik dengan menggunakan berbagai macam alat-alat atau cara lain dalam pembebanan.
Menurut  menyatakan bahwa : Metode latihan bebeban atau weight training yaitu metode latihan yang sistematis dimana beban hanya digunakan untuk menambah tahanan terhadap kontraksi otot dengan tujuan tertentu.
Selanjutnya Jess Jarver (2005) menyatakan bahwa metode latihan berbeban yaitu :
Suatu metode latihan yang membedakan antara peningkatan kekuatan (strength) dan tenaga (power), gerakan berkekuatan adalah gerakan yang lambat, terkendali melawan suatu gaya berat dari luar. Sedangkan gerakan bertenaga meliputi kecepatan gerak dan kemampuan memberikan reaksi cepat terhadap beban yang ringan, sedang dan berat dalam waktu yang sangat singkat.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa latihan berbeban dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah upaya maksimal untuk mengembangkan atau meningkatkan tenaga secara spesifik baik dengan beban yang lebih atau di bawah normal dalam cabang olahraga atletik khususnya cabang lompat jauh gaya jongkok
Aturan dasar metode latihan berbeban menurut U. Jonath  menyatakan bahwa :
a. Pemanasan sebagai persiapan latihan dan perlombaan
Sebelum latihan dan perlombaan dengan cara pemanasan atlet harus menyiapkan diri bagi kesediaan organismenya untuk berprestasi tinggi. Pemanasan ini dapat dilakukan secara aktif (misalnya dengan lari-lari awal, senam) atau juga secara pasif (misalnya pijat atau masase). Dengan pemanasan dapat dicapai kesediaan berprestasi yang lebih tinggi karena :
1) Peredaran darah yang lebih baik dalam otot-ototnya
2) Pengaruhnya yang baik terhadap pertukaran zat
3) Penyesuaian yang lebih baik pada sistem saraf
4) Peningkatan elastisitas pada sistem otot dan sehubungan dengan itu menjadi kurangnya bahaya untuk mendapat cedera
b. Prinsip peningkatan beban dalam latihan
Peningkatan prestasi terus menerus hanya dapat dicapai dengan peningkatan beban latihan. Perubahan progresif (pembebanan progresif) itu menyangkut peningkatan seringnya berlatih maupun penambahan volume dan intensitas latihan. Pada olah ragawan tingkat tinggi soalnya terutama mengenai peningkatan intensitas pada yang baru mulai dan yang lebih lanjut mengenai perluasan volume latihan umum.
Menurut Matwejew menunjukkan peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan.
Tahun/Bulan 1 2 3 4
Ketinggian
Relatif
Beban
Latihan PPs PPI PPr
PPs PPI PPr PPs PPI PPr PPs PPI PPr
Pembebanan latihan
PPS = Periode persiapan
PPI = Periode perlombaan
PPr = Periode peralihan
= Perubahan beban latihan dalam makrosiklus
= Perbedaan ketinggian beban
Gambar 1
Peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan
c. Jedah (istirahat) dalam latihan
Jedah atau istirahat antara masing-masing rangsangan latihan gunanya untuk memulihkan organisme dari beban yang dikenakan sebelumnya.
Dalam praktek latihan dibedakan dua jenis istirahat :
1) Istirahat penuh setelah pembebanan tinggi sampai tinggi
2) Istirahat tak penuh setelah pembebanan ringan sampai di bawah maksimal
d. Prinsip superkompensasi
Tiap rangsangan gerak mengabaikan suatu pembongkaran zat (cadangan energi) namun mengandung rangsangan untuk pembangunan baru. Ini tidak menghentikan keadaan jaringan semula, tetapi berkembang lanjut melebihi keadaan pada waktu itu. Itulah yang merupakan ciri khas sesuatu yang hidup, yaitu menyesuaikan diri pada persyaratan prestasi yang diertinggi.
e. Peningkatan latihan hingga optimal melalui perencanaan dan kontrol
Latihan olahraga hanya dapat memberikan hasil optimal bila diartikan sebagai proses pendidikan atlet secara luas. Perencanaan latihan, kontrol hasil latihan dan perlombaan secara teratur, maupun pengorganisasian yang berarti tentang prestasi yang diinginkan, semuanya itu merupakan dasar untuk mengoptimalkan proses latihan. Diantara berbagai upaya itu di sini hanya diambil yang penting-penting saja.
a. Pembebanan progresif
Dengan latihan tenaga dua kali seminggu, setelah enam sampai delapan minggu terlihat tambahan tenaga kira-kira 20 persen. Otot telah menyesuaikan diri pada rangsangan beban dan bereaksi dengan membesarnya penampang lintang seperti yang diinginkan. Akibatnya ialah bahwa ulangan yang lebih banyak dapat dilakukan atau bahwa penambahan tenaga itu memungkinkan diberikannya beban yang lebih tinggi 20 persen. Tinggi pembebanan optimal (misalnya 70% pada latihan tenaga dinamis) juga bukan besaran yang mutlak dan harus selalu ditetapkan lagi. Bagi praktek-praktek latihan itu berarti dalam waktu kira-kira dua sampai tiga minggu, berat bebannya terus ditambah. Sebaliknya akan keliru bila pada ketinggian beban yang sama, jumlah ulangannya dikurangi. Prinsip pembebanan progresif tidak dapat diabaikan dalam latihan tenaga optimal. Sayangnya, persyaratan tersebut, karena alasan organisatoris dan teknis, jarang dipenuhi karena pembebanan perorangan pada latihan dalam kelompok bukanlah soal yang sederhana.
b. Prinsip pembebanan yang cocok
Menurut U Jonath/E Haag/R Krempel menyatakan bahwa persyaratan metodis menurut pembebanan yang cocok (sesuai dengan keadaan prestasi yang berlatih) yang telah diketahui secara umum dalam latihan tenaga perlu diberi tekanan sebaik-baiknya.
1) Dari kebiasaan menjadi ketakbiasaan
Pada mulnya perlu didahulukan latihan tenaga yang biasa serta sederhana; ini tidak boleh menunjukkan tingkat kesulitan apa pun. Baru setelah beberapa waktu latihan dapat bersifat teknis terinci. Sekarang misalnya dipelajari teknik angkat dengan halter kepingan.
2) Dari yang sedikit sampai yang banyak
Peningkatan sedikit demi sedikit secara lambat laun, dalam takaran latihan selanjutnya (ulangan dalam latihan dan seri) akhirnya memuncak sampai volume latihan yang besar lebih banyak ulangan dan lebih banyak seri
3) Dari yang ringan sampai yang berat
Selanjutnya hanya boleh digunakan pembebanan yang ringan. Baru setalah latihannya dikuasai dan terjadi perbaikan dalam tenaga dasar pada yang berlatih pembebanan dapat di tingkatkan sampai ketinggian 70 persen yang dipersyaratkan bagi latihan tenaga.
4) Dari penguatan umum sampai penguatan khusus
Terutama dalam usia anak sekolah dan remaja, penguatan tubuh secara umum dalam tahap pertama latihan tenaga sangat diperlukan. Itu karena mereka belum disiapkan untuk menghasilkan prestasi dan dapat menderita dan dapat menderita kerugian dalam sikap badan dan kemungkinan bergerak (tulang, otot, bungkus otot, serta uratnya). Maka itu mula-mula kelompok-kelompok otot besar dalam badan dikuatkan dulu, sebab ini merupakan dasar bagi gerak tubuh dan ini pun memerlukan penanganan secara sistematis

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.