PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI BERGANTIAN DENGAN DUA KAKI TERHADAP HASIL
LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA
KELAS V, VI SD KALISIDI 03 UNGARAN
TAHUN PELAJARAN 2004/2005
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan studi Strata 1
Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
Nama : JUMIYATUN
NIM : 6301903029
Program Studi : S1/ Transfer PKLO
Jurusan : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI
JUMIYATUN (2005). Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok Pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005.
Apakah ada perbedaan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun 2004/2005.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pola M-S. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel penelitan ini terdiri dari variabel bebas yaitu latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki, serta variabel terikat yaitu kemampuan lompat jauh gaya jongkok. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes lompat jauh gaya jongkok. Analisis data menggunakan t-test.
Analisis statistik menunjukkan hasil t-hitung yang diperoleh lebih besar daripada t-tabel yaitu 2,250 > 2,201 , dengan taraf signifikan 5% dan derajat kebebasan (db) 11 yang berarti ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Dari perhitungan mean, menunjukkan bahwa mean kelompok eksperimen 2 lebih besar dari mean kelompok eksperimen 1 (354,166 > 341,666), dengan demikian latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih dari latihan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki.
Dari hasil penelitian disarankan untuk meningkatkan hasil lompat jauh gaya jongkok dapat dilatih dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian maupun naik turun bangku tumpuan dua kaki, dan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dapat melakukan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah disetujui dan diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Semarang, 2005
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A Dr. Khomsin, M.Pd
NIP. 130189315 Nip. 131469639
Menyetujui
Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Universitas Negeri Semarang
Drs. Wahadi, M. Pd
NIP. 131571551
HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 14 Juli 2005
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Drs. Sutardji, MS Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 130525506 NIP. 131571551
Penguji :
1. Kumbul S. Budiyanto, S.Pd. M.Kes.
NIP. 132205932
2. Dr. Husein Argasasmita, M.A.
NIP. 130189315
3. Dr. Khomsin, M.Pd.
NIP. 131469639
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
“ Bekerjalah untuk dirimu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok (HR: Ibnu Asakir)
Persembahan :
Skripsi ini dipersembahkan kepada:
1. Ayah, Ibu, Suami tercinta,
2. Almamater PKLO 2005 FIK Universitas Negeri Semarang,
3. Keluarga besar SD N Kalisidi 03 Ungaran
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat-Nya, sehingga atas kehendak-Nya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik.
Dalam penyusunan skripsi ini, banyak mendapatkan dorongan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung yang tak ternilai harganya, untuk itu pada kesempatan ini perkenankanlah untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk mengadakan penelitian.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FIK UNNES yang telah memberikan persetujuan dalam penelitian ini.
3. Prof. Dr. Husein Argasasmita, M.A dan Dr. Khomsin, M.Pd yang telah memberikan petunjuk, bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran yang telah memberikan ijin penggunaan siswa putra kelas V dan VI sebagai sampel penelitian.
5. Para Dosen FIK UNNES yang telah ikut serta memberikan petunjuk
6. Guru-guru SD Negeri Kalisidi 03 yang telah banyak membantu dalam penelitian ini
7. Suami dan Orangtua terkasih yang selalu memberikan dorongan moral dalam penyelesaian kripsi ini.
8. Rekan-rekan seperjuangan yang telah banyak membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir selama penelitian
9. Siswa putra kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005 yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini
10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung dalam peneletian skripsi ini.
Atas bantuan dan pengorbanannya yang telah diberikan, semoga mendapat imbalan dari Allah SWT.
Semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembinaan dunia olahraga atletik khususnya lompat jauh dimasa yang akan datang.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………….i
SARI …………………………………………………………………………………………….ii
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………………………….iii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………..iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….vi
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….viii
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………..x
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………xi
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………….1
1.2 Permasalahan……………………………………………………………………4
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………………………5
1.4 Penegasan Istilah………………………………………………………………5
1.5 Kegunaan Hasil Penelitian…………………………………………………8
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori……………………………………………………………………9
2.1.1 Atletik………………………………………………………………………..9
2.1.2 Lompat Jauh……………………………………………………………….10
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-Prinsip Latihan…………………………18
2.1.4 Faktor Kondisi Fisik…………………………………………………….21
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku………………………………………….21
2.1.6 Analisis Gerakan…………………………………………………………25
2.2 Hipotesis…………………………………………………………………………….26
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi Penelitian……………………………………………………………27
3.2 Sampel Penelitian dan Tehnik Pengambilan Sampel……………..28
3.3 Variabel Penelitian……………………………………………………………29
3.4 Metode dan Rancangan Penelitian………………………………………29
3.5 Instrumen Penelitian………………………………………………………….31
3.6 Tehnik Pengambilan Data………………………………………………….32
3.6.1 Waktu Penelitian………………………………………………………33
3.6.2 Tempat Penelitian……………………………………………………..33
3.6.3 Obyek Penelitian ……………………………………………………..33
3.6.4 Alat Penelitian …………………………………………………………33
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian ……………………………………..33
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian ……………………………………………..33
3.7 Tehnik Analisa Data………………………………………………………….36
3.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penelitian………………………37
3.8.1 Faktor Kesungguhan Anak…………………………………………37
3.8.2 Faktor Cuaca …………………………………………………………..37
3.8.3 Faktor Kegiatan Anak……………………………………………….37
3.8.4 Faktor Pemberian Materi……………………………………………37
3.8.5 Faktor Kehadiran ……………………………………………………..38
3.8.6 Faktor Psikologi ………………………………………………………38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil Penelitian………………………………………………………………….39
4.2 Pembahasan……………………………………………………………………..40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan………………………………………………………………………….42
5.2 Saran……………………………………………………………………………….41
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..43
LAMPIRAN – LAMPIRAN………………………………………………………………….45
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Rancangan Penelitian………………………………………………………………..31
2. Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik………………………………………39
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok…………………………….11
2. Cara Melakukan Gerakan Tumpuan…………………………………………15
3. Sikap Badan Pada Saat Diudara………………………………………………16
4. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian……..24
5. Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki………………………25
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. SK Pembimbing………………………………………………………………..45
2. Surat Ijin Penelitian dari Fakultas……………………………………….46
3. Surat Ijin Penelitian dari SD ………………………………………………47
4. Populasi dan Sampel …………………………………………………………48
5. Hasil Tes Awal ………………………………………………………………..49
6. Program Latihan ………………………………………………………………53
7. Tes Akhir ………………………………………………………………………..61
8. Analisa Data ……………………………………………………………………62
9. Tabel Nilai – nilai t……………………………………………………………64
10. Foto-Foto…………………………………………………………………………65
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang olahraga, dalam upaya mengembangkan prestasi olahraga yang setinggi-tingginya. Berbagai disiplin ilmu yang terkait banyak menunjang program latihan olahraga. Disiplin ilmu tersebut antara lain : ilmu biomekanika, sport medicine, fisiologi, anatomi, massage, kinesiology, ilmu coaching khusus, psikologi olahraga, psikologi kepelatihan serta banyak lagi disiplin ilmu yang lainnya.
Masalah peningkatan prestasi dibidang olahraga sebagai sasaran yang ingin dicapai dalam pembinaan dan pengembangan di Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama. Latihan dimulai diusia dini dan harus dilakukan secara berkesinambungan sampai mencapai puncak prestasi pada cabang olahraga yang ditekuninya, selanjutnya pembinaan prestasi ditingkatkan. Dengan demikian pembinaan olahraga sejak dini sangatlah penting, supaya kelak atlet mampu mencapai kesuksesan.
Untuk mengikuti perkembangan itu, maka segala usaha kearah pembinaan terus dipacu dan ditumbuh kembangkan oleh semua pihak yang terkait. Pihak-pihak yang terkait antara lain : pemerintah, KONI, pelatih, masyarakat, atlet, pihak swasta dan orang tua. Pola pembinaan kearah yang lebih professional, sistematis, berkualitas dan terprogram dengan baik inilah yang akan melahirkan atlet yang tengguh dimasa yang akan datang.
Menurut M. Sajoto (1988 : 15) faktor kelengkapan yang harus dimiliki atlet bila ingin mencapai prestasi yang optimal, yaitu : 1) Pengembangan fisik, 2) Pengembangan teknik, 3) Pengembangan mental, 4) Kematangan juara.
Dengan demikian untuk mencapai suatu prestasi yang optimal di dunia olah raga, keempat aspek pendukung tersebut harus dilakukan dengan baik, sesuai dengan cabang olahraga yang ditekuninya.
Dari keempat aspek diatas yang merupakan faktor utama adalah kondisi fisik seperti pendapat Depdikbud (2000 : 10) bahwa salah satu unsur atau faktor penting untuk meraih suatu prestasi dalam olahraga adalah kondisi fisik, disamping penguasaan teknik, taktik dan kemampuan mental. Komponen kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari konponen kesegaran jasmani, kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi.
Komponen kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelenturan, keseimbangan, koordinasi, kelincahan, ketepatan reaksi (M. Sajoto 1988 : 16). Untuk mencapai prestasi yang baik perlu dilakukan upaya-upaya seperti peningkatan sarana, memperbarui metode latihan, penggunaan sarana yang baik, perbaikan gizi, dokter olahraga dan ahli gizi (M. Sajoto : 10)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas Suharno H.P. (1986 : 4-7) mengemukakan bahwa secara umum ada dua faktor penentu pencapaian prestasi maksimal yaitu faktor indogen dan faktor exogen.
1. Faktor indogen, diantaranya adalah: a) Kesehatan fisik dan mental yang baik, terutama tidak berpenyakit jantung, paru-paru, saraf dan jiwa; b) Bentuk dan proporsi tubuh yang sesuai dengan cabang olah raga yang dipilihnya; c) Kondisi fisik dan kemampuan fisik yang baik; d) Penguasaan tehnik yang sempurna; e) Penguasaan taktik; f) Aspek kejiwaan dan kepribadian yang baik; g) Memiliki kematangan juara yang mantap.
2. Faktor exogen, diantaranya adalah: a) Hubungan yang baik dan harmonis antar pelatih, asisten pelatih dan atlet; b) Kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana olahraga yang tersedia; c) Kepengurusan dan organisasi cabang olahraga yang jujur dan bertanggung jawab; d) Lingkungan hudup atlet haru menunjang; e) Dukungan moril dan material dari pemerintah daerah atau pusat; f) Metode-metode latihan yang efektif dsn efisien.
Salah satu faktor untuk mencapai prestasi dalam olahraga khususnya lompat jauh adalah kekuatan, ketepatan, kelentukan dan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin dan Muhadi 1992/1993 : 73). Latihan untuk meningkatkan hasil lompat jauh banyak ragamnya, yaitu lompat naik turun bangku, latihan jongkok berdiri, latihan naik turun tumit, latihan squat jump, naik turun tangga dan lain-lain (Engkos Kosasih 1993 : 89). Dari bermacam-macam metode latihan tersebut belum diketahui dengan pasti metode mana yang paling efektif dan baik hasilnya untuk meningkatkan hasil lompat jauh.
Untuk mengetahui hasil latihan yang baik dan efektif tersebut akan diberikan eksperimen lompat naik turun bangku yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil lompat jauh yang maksimal. Adapun metode latihan yang
diberikan adalah metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian sedangkan yang satunya diberikan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Dalam melakukan kedua jenis latihan merupakan latihan kekuatan otot kaki. Lingkup yang dilatih dalam kedua latihan ini adalah daya ledak otot tungkai dan kekuatan otot tungkai, sehingga dengan latihan tersebut diharapkan akan memberikan perbedaan pada peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok.
Dengan memperhatikan uraian di atas maka penulis ingin penelitian berjudul :” Pengaruh Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki Terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005”.
Adapun alasan lain pemilihan judul tersebut di atas adalah sebagai berikut :
1.1.1. Lompat jauh merupakan materi kurikulum Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar
1.1.2. Pekan Olah Raga Pelajar Daerah Sekolah Dasar
1.1.3. Metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki dapat meningkatkan hasil lompat jauh
1.2. Permasalahan
Di dalam setiap pelaksanaan penelitian selalu bertitik tolak dari adanya permasalahan yang dihadapi, yang segera perlu diteliti, dikaji, dianalisis serta selanjutnya diusahakan solusi pemecahannya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku satu kaki
bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang tahun 2004 – 2005?.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang berarti antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Ungaran Tahun Pelajaran 2004/2005
1.3.2. Apabila ditemukan ada perbedaan akan diuji lanjut untuk mengetahui metode latihan mana antara naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.
1.4. Penegasan Istilah / Batasan Operasional
Untuk menghindari adanya salah penafsiran atau kesalahan pengertian terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka istilah-istilah tersebut perlu adanya ketegasan sebagai berikut :
1.4.1. Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang,benda dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan (Poerwadarminta, 1985 : 731).
1.4.2. Latihan
Latihan adalah suatu proses penyesuaian tubuh terhadap kerja yang lebih berat dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi yang lebih berat dan meningkatkan ketrampilan.
Menurut Harsono (1982 : 27) latihan adalah proses yang sistematis dari pada berlatih atau bekerja secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya atau pekerjaannya.
Jadi latihan dalam penelitian ini adalah cara melakukan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki secara berulang-ulang, makin lama makin bertambah bebannya dengan tujuan untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Pengaruh latihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh antara dua latihan, yaitu antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan metode lompat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap lompat jauh gaya jongkok.
1.4.3. Daya ledak
Kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya (M.Sajoto, 1995 : 8).
Sedangkan daya ledak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya ledak dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
1.4.4. Metode
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud tertentu (Poerwodarminto, 1995 : 649).
Dalam penelitian ini metode diartikan sebagai cara untuk melatih lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
1.4.5. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian yang dimaksud garakan ini adalah melompat ke atas bangku tumpuan satu kaki kiri di atas bangku, kaki kanan di atas lantai. Kemudian melompat bersama-sama kaki kanan membentuk sudut 900, kemudian kaki kiri mendarat di atas bangku, kaki kanan mendarat di atas lantai.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki yang dimaksud gerakan ini adalah sikap kaki rapat menghadap bangku kemudian meloncat ke atas bangku bersama-sama, kemudian turun lagi bersama-sama.
1.4.6. Lompat jauh gaya jongkok
Lompat jauh gaya jongkok adalah salah satu tehnik melompat dalam lompat jauh. Adapun gerakan dari tehnik lompat jauh gaya jongkok adalah sebagai berikut : pada saat lepas dari tanah (papan tolakan) keadaan sikap badan di udara jongkok. Dengan jalan membulatkan badan dengan kedua lutut ditekuk dan kedua lengan di depan. Pada waktu akan mendarat kedua kaki dijulurkan ke depan lalu mendarat pada kedua kaki dengan bagian tumit lebih dahulu dan kedua tangan ke depan ( Aip Syarifuddin, 1992 : 93).
1.5. Kegunaan Hasil Penelitian
Setelah mengetahui perbedaan dari kedua metode latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki penelitian ini, maka manfaat yang dapat diambil adalah :
1.5.1. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para guru dan pelatih atlet lompat jauh untuk meningkatkan prestasi lompat jauh
1.5.2. Sebagai perbandingan bagi yang berminat mengadakan penelitian dicabang lompat jauh.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1. Landasan Teori
2.1.1 Atletik
Di dalam aktivitas dunia olahraga dikenal berbagai macam cabang olahraga, yaitu : atletik, renang, senam, sepak bola, bola basket, bola volley, tinju dan lain-lain. Antara cabang olahraga tersebut yang ada kaitannya dengan penelitian ini adalah atletik.
Atletik berasal dari bahasa Yunani athlon artinya pertandingan, perlombaan, pergulatan atau perjuangan, sedangkan orang yang melakukannya dinamakan athleta (atlet). Atletik adalah satu cabang olahraga yang diperlombakan yang meliputi nomor-nomor jalan, lari, lempar, lompat (Aip Syarifuddin, 1992 : 2).
Sejak manusia ada di bumi mereka telah melakukan gerakan berjalan, berlari, melompat, dan melempar yang semuanya itu merupakan gerakan alami yang dilakukan sehari-hari baik dalam usahanya mempertahankan hidup ataupun untuk menyelamatkan diri dari gangguan alam sekitarnya (Yoyo Bahagia, Ucup Yusup, Adang Suherman, 2000 : 3).
Atletik adalah salah satu cabang olahraga yang terdiri dari nomor-nomor jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik menjadi intisari atau ibu dari seluruh cabang olahraga (Aip Syarifuddin 1992 : 1). Nomor lompat jauh tersebut dapat digolongkan ke dalam nomor lompat cabang olahraga atletik.
2.1.2. Lompat jauh
2.1.2.1. Pengertian lompat jauh
Lompat jauh termasuk bagian nomor lompat dalam cabang olahraga atletik, yang secara teknis maupun pelaksanaannya berbeda dengan nomor lompat yang lain seperti lompat tinggi dan lompat jangkit.
Menurut pendapat Aip Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat mangangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara atau melayang di udara yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.
Sudarminto (1993 : 349) menyatakan bahwa unsur utama lompat jauh dengan awalan adalah lari awalan, bertolak, melayang di udara dan mendarat. Masing-masing bagian itu memiliki gaya gerakannya sendiri yang menyumbangkan pencapaian jarak lompatan. Namun syarat utamanya adalah pengembangan jarak daya. Daya ini dikembangkan dari latihan awalan yang cepat dan lompatan ke atas yang kuat dari tolakan.
Jadi pada hakekatnya lompat jauh adalah gerakan menolak satu kaki yang dipengaruhi oleh kecepatan horizontal dan vertical serta gaya tarik bumi untuk menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dibawah ini gambar lompat jauh gaya jongkok dari tumpuan sampai mendarat.
Gambar 1.
Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok
(Tamsir Riyadi, 1985 : 97)
2.1.1.2. Tehnik lompat jauh
Nomor lompat ada tiga gaya, yaitu gaya jongkok, gaya lenting atau menggantung dan gaya jalan di udara (Yusuf Adisasmita : 68). Salah satu gaya dari ketiga gaya tersebut yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah lompat jauh gaya jongkok, karena gaya ini banyak dilakukan anak-anak sekolah karena gaya ini dianggap paling mudah untuk dipelajari (Kurikulum SD, 1994).
Menurut Aip Syarifuddin (1992 : 90) secara tehnik lompat jauh gaya jongkok ada empat unsur yang terdiri dari : awalan (approach run), tolakan (take off), sikap badan di uadara (action in the air) serta mendarat (landing).
Pada dasarnya keempat unsur tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu persatu, karena gerakannya adalah gerakan yang membentuk rangkaian gerakan lompat jauh yang tidak terputus. Disamping itu dipengaruhi oleh kecepatan lari awalan, kekuatan tungkai tumpu,koordinasi sewaktu melayang di udara dan mendarat (Yusuf Adisasmita : 65).
Tujuan utama dari seorang pelompat ketika akan melompat adalah adanya keinginan untuk melakukan lompatan yang sejauh-jauhnya. Supaya dapat melakukan suatu lompatan yang diinginkan untuk meningkatkan hasil yang optimal maka terlebih dahulu harus memahami dan menguasai tehnik gerakan dalam lompat jauh.
Berikut ini akan diuraikan satu persatu tehnik lompat jauh gaya jongkok yaitu:
1. Awalan
Awalan adalah gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan atau lompatan. Kecepatan yang diperoleh dari hasil awalan disebut dengan kecepatan horizontal, yang sangat berguna untuk membantu kekuatan pada waktu melakukan tolakan ke atas depan. Supaya dapat menghasilkan daya tolakan yang besar maka langkah lari awalan harus dilakukan dengan mantap serta menghentak-hentak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90). Awalan itu harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan mengubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan biasanya 30 – 40 meter (Engkos Kosasih, 1993 : 83).
Pendapat Yusuf Adisasmita kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi hasil lompatan. Ini berarti bahwa kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pelompat tanpa kecepatan sama sekali tidak mempunyai suatu harapan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya (Yusup Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Yusuf Adisasmita (1992, 67) untuk dapat melakukan lari awalan dengan baik, perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Jarak lari awalan tergantung pada tiap-tiap pelompat.
b. Jarak lari awalan harus cukup jauh untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Panjang awalan 30 – 40 meter, untuk usia SD antara 15 – 20 meter.
c. Kecepatan lari awalan dan irama langkah harus rata.
d. Pada langkah akhir, pikiran dipusatkan untuk melompat setinggi-tingginya ke arah depan.
e. Langkah terakhir diperkecil agar dapat menolak ke atas dengan lebih sempurna.
f. Sikap lari seperti pada lari jarak pendek.
Pada penelitian ini siswa mempergunakan awalan dengan panjang antara 15-20 meter, sesuai dengan kemampuan usia anak SD.
2. Tolakan atau tumpuan (take off)
Tolakan atau tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara lari, awalan dan melayang. Beberapa langkah sebelum menumpu, pelompat harus sudah siap untuk bertumpu. Seluruh tenaga dan pikirannya, harus ditujukan terhadap ketepatan betumpu. Pada saat itu pelompat berpindah dari keadaan lari ke melayang. Agar dapat melayang lebih jauh, selain dari kecepatan lari awalan dibutuhkan pada tambahan tenaga dari kekuatan tumpuan, yaitu daya dari tungkai kaki yang disertai dengan lengan dan tungkai ayun.
Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong ke depan, titik berat badan harus terletak tegak dimuka titik sumber tenaga, yaitu tungkai menumpu pada saat pelompat menumpu (Yusuf Adisasmita, 1992 : 67).
Menurut Sudarminto (1998 : 241), mengatakan bahwa dari kecepatan maju yang penuh pelompat harus menggerakan gerakannya dari tolakan ke atas dengan sudut yang terbaik, yaitu 450. Untuk mengubah arah gerakannya, maka harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir.
Untuk melakukan ini ia membungkuk sedikit dan langkahnya diperlambat dalam usahanya mencapai ketinggian. Pada saat bertolak dari balok tolakan, telapak kaki depan ada titik berat badan. Telapak kaki menyentuh balok ketika titik beratnya bergerak ke depan 3,5 kaki. Di sini ada sedikit perlambatan pada saat bertolak. Pendapat Soedarminto (1998 : 241) menyatakan bahwa perlambatan itu tidak akan mempengaruhi lompatan yang dicapai asalkan sudut yang ideal 450 dapat dicapai.
Dari pendapat trsebut di atas dapat disimpulkan tujuan pelompat jauh melakukan tumpuan atau tolakan ini adalah mengubah gerak lari menjadi suatu lompatan dengan menggunakan kaki tumpu terkuat, pelompat harus mengerahkan gerakannya dari balok tolakan ke atas dengan sudut terbaik, yaitu 450, untuk merubah arah gerakannya ia harus mempersiapkan tolakannya pada jarak tiga langkah terakhir. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :
Gambar 2
Cara melakukan gerakan tumpuan (take off)
(Carr. 2000 : 46)
Keterangan :
a. Saat kaki akan menumpu pada balok lompatan
b. Saat kaki menumpu pada balok lompat
c. Saat kaki tumpu akan lepas dari balok lompat
Untuk dapat melakukan tolakan atau tumpuan yang sangat kuat ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu : kecepatan horizontal yang diperoleh dari lari awalan dan kecepatan vertical yang diperoleh dari kekuatan tolakan atau tumpuan. Dari kedua kecepatan ini, akan diperoleh kecepatan paduan yang menentukan gerak titik berat badan (Yusuf Adisasmita, 1992 : 65).
3. Sikap badan di udara
Dalam tehnik lompat jauh, setelah pelompat menumpu pada balok lompat maka melayanglah pelompat itu. Naiknya badan setelah tumpuan (melayang) adalah salah satu faktor yang sering dilalaikan oleh para pelompat. Setelah menumpu dengan kaki tumpu, pelompat sering tidak memberi waktu lagi untuk lebih lama di udara. Biasanya tungkai tumpuannya dengan tergesa-gesa didaratkan pada bak pasir. Dalam hal ini penting sekali meluruskan tungkai itu dengan secepatnya untuk memperoleh ketinggian sehingga kita dapat
melayang lebih tinggi. Pada waktu naik badan harus ditahan dalam keadaan sikap tidak kaku (rileks).
Kemudian melakukan gerakan-gerakan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan yang lebih sempurna. Gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang) yang biasanya disebut gaya lompatan dalam lompat jauh (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Gerakan sikap badan di udara atau gaya lompatan harus benar untuk menjaga keseimbangan badan dan meningkatkan pendaratan yang lebih baik. Kesalahan gerak di udara menyebabkan seorang atlit mendarat lebih awal. Untuk lebih jelas lihat gambar 3 yaitu sikap badan pada saat melayang diudara:
Gambar 3.
Sikap Badan Pada Saat Di Udara
(Soegito dkk, 1994 : 147)
Menurut Soedarminto dan Soeparman (1993 : 360) menyatakan bahwa untuk membantu tolakan ke atas, lengan harus diayunkan setinggi mungkin atau prinsipnya adalah momentum dari bagian dipindahkan kepada
keseluruhan. Ayunan kaki ke atas mengunci sendi karena kerjanya Ligamenta iliofemoral. Oleh karena itu lutut kaki tumpu harus sedikit ditekuk.
Menurut beberapa pendapat di atas bahwa melayang adalah pada saat pelompat memutuskan hubungan dengan papan, gerak seperti lintasan peluru dari kurva pusat gaya yang telah dilakukan tak bisa dirubah. Bagaimanapun gerakan di udara membantu pelompat mengatur keseimbangan dan menyiapkan posisi mendarat yang efektif.
4. Pendaratan
Pada waktu mendarat pelompat harus dapat mengusahakan menjulurkan lengannya sejauh-jauhnya ke muka dengan tidak kehilangan keseimbangan badan. Pada saat ini timbul perasaan badan akan jatuh ke belakang. Untuk mencegahnya titik berat badan harus dibawa ke muka dengan jalan membungkukkan badan, sehingga badan dan lutut hampir merapat dibantu pula dengan juluran tangan ke muka. Pada waktu pendaratan, lutut debengkokkan sehingga dapat memungkinkan suatu momentum membawa badan ke depan di atas kaki. Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah (Yusuf Adisasmita, 1992 : 68).
Pada saat pelompat menginjak tanah lengan diayunkan ke depan, lutut ditekuk dan badan membungkuk ke depan. Gerakan ini membawa titik berat badan jatuh di bawah garis melayang, memberikan momentum pada badan serta mencegah jauh ke belakang pada tumit yang berakibat mengurangi jarak lompatan (Soedarminto dan Soeparman, 1993 : 360).
Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat, yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan. Mendarat yang baik adalah ketika mendarat atau jatuhnya dengan kedua kaki dan tangan ke depan, jadi misalkan jatuhnya ke depan tidak akan merugikan (Engkos Kosasih, 1993 : 84).
2.1.3 Plyometrics dan Prinsip-prinsip latihan
2.1.3.1 Pengertian Plyometrics
Menurut KONI (2000 : 27) plyometrics adalah metode latihan untuk meningkatkan kekuatan dan power otot tertentu. Cara yang paling baik untuk mengembangkan power maksimal pada otot tertentu ialah dengan meregangkan (memanjangkan) dahulu otot-otot tersebut. Sebelum mengkontraksikan (memendekkan) otot-otot secara eksplosif (meledak-ledak). Dengan kata lain, kita dapat mengerahkan lebih banyak tenaga pada suatu kelompok otot, apabila kita terlebih dahulu menggerakkan otot tersebut kearah yang berlawanan. Untuk melatih power otot tungkai, mula-mula gerakkan tungkai kearah yang berlawanan (jongkok), merupakan apa yang disebut sebagai fase pra-regang (pre-streching phase). Kemudian melompat dengan sekuat tenaga keatas. Setelah mendarat, tanpa adanya masa berhenti, kemudian secepatnya melompat lagi sekuat tenaga keatas, sehingga seakan-akan mendarat pada bara api.
Plyometrics merupakan bentuk latihan untuk mendapatkan eksplosive power (KONI, 2000 : 27).
2.1.3.2 Prinsip – Prinsip Latihan
a. Prinsip – Prinsip Penambahan Beban Bertambah ( Overload )
Prinsip latihan yang paling dasar adalah prinsip overload, oleh karena tanpa penerapan prinsip tersebut tidak mungkin berprestasi atlit akan meningkat. Penerapan sitem overload apabila atlit sudah merasa ringan dengan beban yang diberikan maka beban latihan harus ditingkatkan (M. Sajoto, 1988 :42). Dengan latihan beban bertambah penyesuaian fisiologis dalam tubuh yang mendorong meningkatkan kekuatan otot.
b. Prinsip Peningkatan Beban Terus Menerus
Otot yang menerima beban latihan berlebih kekuatanya akan bertambah. Apabila kekuatan bertambah maka program latihan berikutnya, bila tidak ada penambahan beban, tidak lagi dapat menambah kekuatan. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit pada set atau jumlah repetisi tertentu, otot belum merasa lelah penambahan demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif (M. Sajoto, 1988).
c. Prinsip Pengaturan Suatu Latihan
Latihan berbeban hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga kelompok otot-otot dulu yang dilatih sebelum otot yang lebih kecil. Hal ini dilakukan agar kelompok otot kecil tidak mengalami kelelahan lebih dahulu.
d. Prinsip Kekhususan Program Latihan
Menurut O’shea dalam bukunya M. Sajoto (1988 : 42) menyatakan bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID” yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya
bersifat khusus, sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Bila akan meningkatkan kekuatan, maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus. Namun perlu memperhatikan pula gerak yang dihasilkan, oleh karena itu latihan berbeban hendaknya dikaitkan dengan latihan peningkatan ketrampilan motorik khusus. Dengan kata lain latihan beban menuju peningkatan kekuatan, hendaknya diprogram yang menuju nomor-nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Seperti diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh dalam lompat jauh perlu adanya bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai, latihan tersebut dapat dilakukan baik dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Menggunakan alat dalam hal ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan dua kaki.
Selain keempat prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian. Volume menurut Depdikbud (1997 : 31) ialah kuantitas beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, jumlah beberapa elemen jenis latihan, total waktu latihan, berat beban yang diangkat, jumlah set dalam latihan interval dan sirkuit sebagai ukuran rangsangan motorik dalam satu unit latihan. Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat
pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan jumlah repetisi dan set. Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemilihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen berikutnya. Menurut O’Shea yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 48) mengatakan bila latihan lebih dari satu rangkaian, maka masa istirahat dalam rangkaian adalah antara 1-2 menit. Menurut Bompa yang dikutip oleh M. Sajoto (1988 : 33) mengatakan bahwa tes untuk mengevaluasi hasil latihan kekuatan dapat dilaksanakan setelah antara 4-6 minggu dari suatu masa siklus latihan makro. Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kaki atlit harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.
Dalam penelitian ini frekuensi latihan yang dipakai adalah tiga kali per minggu selama enam minggu. Sehingga tidak terjadi kelelahan yang kronis dengan lama latihan enam minggu tersebut.
2.1.4. Faktor kondisi fisik yang mempengaruhi kemampuan lompat jauh
Dalam melakukan suatu latihan harus diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi atau memberi peran bagi tercapainya prestasi yang maksimal dalam cabang olahraga atletik khususnya lompat jauh. Pada lompat jauh gaya
jongkok ini akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan, daya ledak, ketepatan, kelentukan koordinasi gerak (Aip Syarifuddin, 1992 : 90).
Kondisi fisik yang akan dibatas dalam penelitian ini adalah:
1. Kecepatan
Kecepatan menurut Suharno H.P.(1986 : 43) adalah kemampuan organisme atlit dalam melakukan gerakan-gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Sedangkan Sajoto (1995 : 9) menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Kecepatan disini adalah kecepatan lari dalam lompat jauh gaya jongkok yang mana kecepatan larinya ditentukan oleh gerakan berturut-turut dari langkah yang dilakukan secara cepat dan tepat. Secara cepat maksudnya setelah lari awalan lompat jauh itu untuk mendapatkan hasil lompatan yang jauh, secara tepat maksudnya setelah lari awalan dengan kecepatan tadi diupayakan kaki tumpu dapat jatuh dibalok tumpuan.
2. Kekuatan
Kekuatan merupakan unsur yang penting dan perlu mendapatkan perhatian khususnya dalam melaksanakan program latihan. Latihan kekuatan mendapat porsi lebih banyak dibandingkan unsur yang lainnya.
Kekuatan adalah dasar yang paling penting dalam melatih ketrampilan gerak. Menurut Sajoto (1995 : 8) komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi kekuatan merupakan otot dalam menahan beban dari kerja dalam
waktu tertentu secara maksimal. Dalam lompat jauh unsur kekuatan sangatlah penting untuk mendapatkan hasil tolakan yang kuat dan benar sehingga dapat pula melakukan tolakan yang tinggi.
3. Daya ledak
Kekuatan daya ledak adalah kekuatan sebuah otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam gerakan yang utuh (Suharno H.P., 1998 : 36). Daya ledak adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum dalam waktu yang singkat dan kontraksi yang cepat. Untuk mendapatkan tolakan yang kuat dan kecepatan yang tinggi harus memiliki daya ledak yang besar. Jadi daya ledak otot tungkai sebagai tenaga lompat pada saat melakukan tolakan pada papan tolak setelah melakukan awalan untuk memperoleh kecepatan vertical sehingga memperjauh hasil lompatan.
2.1.5 Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dan Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki.
Program latihan dengan beban dalam beberapa hal hendaknya bersifat khusus sesuai dengan cabang olahraga yang bersangkutan. Bentuk latihan untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai menggunakan alat, yaitu naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
2.1.5.1. Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah bentuk latihan plyometrics. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku kemudian kaki kiri diletakkan di atas bangku, kedua lengan berada disamping badan, kaki kiri yang berada di atas bangku ditekuk
membentuk sudut ± 900. Dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak kaki yang berada di atas bangku dan di lantai bersama-sama secara bergantian. Pada waktu mendarat dilakukan secepat mungkin kembali seperti pada saat posisi awal, untuk dilanjutkan dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada hitungan satu kaki kiri ke atas bangku, pada waktu hitungan dua melompat kaki kiri diikuti kaki kanan diayun setinggi mungkin dengan lutut ditekuk, hitungan tiga kaki kanan mendarat dilantai diiringi dengan kaki kiri pada hitungan keempat. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 4 dibawah ini.
Gambar 4.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian
(Yusuf Adisasmita, 1992:70)
2.1.5.2. Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki adalah bentuk latihan plyometrics dengan menggunakan dua tungkai secara bersamaan. Untuk melakukan gerakan tersebut diawali dengan posisi berdiri menghadap bangku sedikit menekuk sendi lutut ± 1350, kedua lengan berada disamping badan dengan kedua sendi siku ditekuk ± 900 dari awalan kemudian dilanjutkan dengan menolak, kedua kaki bersama-sama melompat ke atas bengku ke tempat semula. Pendaratan dilakukan secepat mungkin pada posisi awal, untuk dilanjutkan
dengan gerakan yang sama berikutnya. Pada waktu hitungan satu loncat di atas bangku, hitungan turun bangku dilanjutkan hitungan ganjil loncat di atas bangku, kalau hitungan genap turun bangku. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 5 dibawah ini.
Gambar 5.
Latihan Naik Turun Bangku Tumpuan Dua Kaki
(Donal A Chu, 1992:48)
2.1.6 Analisa Gerak
Kedua bentuk latihan di atas bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan tenaga lompat, yaitu unsur daya ledak dan kekuatan otot tungkai seperti yang dikemukakan oleh Suharno H.P.(1993 : 27-28) bahwa latihan-latihan otot mempunyai pengaruh terhadap hasil yang dicapai pada kemampuan jarak seperti dalam pengembangan daya lompat pada kaki dan juga terhadap fleksibilitas pada otot dan persendian.
Latihan loncat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian, lompatan lebih diarahkan pada ketepatan tolakan (tumpuan). Latihan yang diarahkan pada ketepatan tolakan diharapkan pelompat dengan tolakan yang tepat dan kuat akan menghasilkan lompatan horizontal yang tinggi, dengan demikian akan mempengaruhi hasil lompatan yang jauh dalm lompat jauh gaya jongkok.
Latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lompatannya lebih banyak kearah vertikal, sehingga akan menghasilkan ketinggian yang optimal. Dengan latihan ini diharapkan pelompat setelah bertumpu akan menghasilkan kekuatan horizontal dan vertikal hingga menghasilkan lompatan yang jauh dalam lompat jauh gaya jongkok.
Prediksi awal dalam latihan naik turun bangku ini adalah latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian diharapkan lebih baik dari pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki karena lompat jauh dipengaruhi oleh tolakan yang tepat dan kuat.
2.2. Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kebenarannya ( Sutrisno Hadi, 1988 : 257). Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 20) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Suatu hipotesis akan diterima kalau bahan-bahan penyelidikan membenarkan pernyataan itu dan akan ditolak bilamana kenyataan menolaknya. Dari kedua jenis latihan, yaitu lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki terhadap kemampuan hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten semarang tahun 2004-2005.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penggunaan metode penelitian dalam suatu research harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sutrisno Hadi (1988 : 4) berpendapat bahwa “Metodologi Research” sebagaimana kita kenal sekarang memberikan garis-garis yang sangat cermat dan mengajukan syarat-syarat yang sangat keras. Maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu research dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya.
Dalam penelitian ini akan diuraikan beberapa hal yang berkenaan engan metode penelitian, adalah sebagai berikut :
3.1. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki. Populasi dibatasi sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 1988 : 220). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 155) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan populasi adalah seluruh individu yang akan dijadikan objek penelitian dan dari seluruh individu tersebut paling sedikit harus mempunyai satu sifat yang sama.
Dalam penelitian ini populasi yang dipergunakan adalah siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.. Adapun yang mendasari pengambilan populasi ini adalah :
1. Semua siswa sama dalam satu naungan sekolah, yaitu SD Negeri Kalisidi 03 Tahun Pelajaran 2004/2005.
2. Semua siswa berjenis kelamin sama, yaitu putra
3. Masing-masing siswa pernah mendapatkan pelajaran atletik cabang lompat jauh gaya jongkok.
Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Sutrisno Hadi (1988 : 221) bahwa sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 117) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diselidiki. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah wakil atau sebagian dari suatu populasi yang akan diteliti. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.
Sebagai pedoman untuk mendapatkan sampel adalah jika subjek yang digunakan kurang dari 100 dapat dipilih semua, sehingga merupakan penelitian populasi. Jika subjeknya besar dapat dipilih antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Suharsimi Arikunto, 1998 : 120). Siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang berjumlah 24 siswa maka peneliti menggunakan total sampling.
Sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 sesudah diadakan pengambilan tes awal lompat jauh gaya jongkok kemudian dirangking dan dipasangkan dengan menggunakan rumus A-B-B-A. Kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Sedangkan kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel
Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998 : 99). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat.
Variabel bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan latihan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki.
Variabel terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil lompat jauh gaya jongkok.
Metode dan Rancangan Penelitian
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian ini maka dipergunakan eksperimen, yaitu dengan memberikan perlakuan pada siswa berupa kegiatan tes awal, treatment atau latihan-latihan dan tes akhir. Dengan kegiatan
tersebut akan terlihat hubungan sebab akibat pengaruh dari pelaksanaan kegiatan atau latihan.
Penelitian ini mempergunakan metode eksperimen didasarkan pada :
1. Metode eksperimen merupakan salah satu metode paling tepat untuk menyelidiki sebab akibat (Sutrisno Hadi, 1988 : 127).
2. Metode eksperimen merupakan salah satu cara untuk mencari hubngan sebab akibat atau hubungan dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor lain yang bisa mengganggu (Suharsimi Arikunto, 1998 : 4)
Memperhatikan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dasar mempergunakan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang meliputi tes awal dan tes akhir yaitu lompat jauh gaya jongkok untuk menguji kebenarannya.
Metode eksperimen ini mempergunakan pola Macthing by Subject Design yang sering disebut pola M-S. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno Hadi (2000 : 484) yang menyatakan bahwa subject matching sudah tentu sekaligus berarti juga group matching, karena hakekat subject matching adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan pasangan-pasangan subjek (pair of subject) masing-masing kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 secara otomatis akan menseimbangkan kedua group itu. Adapun pairing of subject yang setingkat atau seimbang dijalankan atas dasar pengukuran pre eksperimen atau atas dasar penyelidikan-penyelidikan pendahuluan.
Tiap-tiap eksperimen akhirnya membandingkan sedikitnya dua kelompok dalam segi-segi yang dieksperimankan. Pendeknya mencari perbedaan antara sifat
keadaaan atau tingkah laku dua kelompok (atau lebih) menjadi kegiatan utama dalam kebanyakan penyelidik-penyelidik ilmiah (Sutrisno Hadi, 1988 : 260).
Peneliti dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ordinal pairing yang didapat dari hasil pre test atau tes awal , yaitu lompat jauh gaya jongkok. Hasil tes awal dipasangkan (diseimbangkan) dengan pola A-B-B-A dan setiap pasang dipisahkan menjadi dua kelompok, dari kedua kelompok tersebut diundi untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2, sehingga masing-masing kelompok berangkat dari titik tolak yang sama. Rancangan penelitian dapat digambarkan pada tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok
Tes Awal (pre-test)
Treatmen
Tes Akhir (Post-Test)
Kelompok 1
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
Lompat jauh gaya jongkok
Kelompok 2
Lompat jauh gaya jongkok
Naik turun tumpuan dua kaki
Lompat jauh gaya jongkok
Instrumen Penelitian
3.5.1 Instrumen Test
Instrument yang dipergunakan dalam penelitian ini adalahtes lompat jauh gaya jongkok. Tes ini bertujuan untuk mengukur hasil lompatan, baik pada tes awal maupun tes akhir.
3.5.2 Program Latihan
Program latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan loncat naik turun bangku tumpuan dua kaki dilaksanakan 16 kali pertemuan (6 minggu) yang setiap minggunya 3 kali pertemuan. Minggu
pertama 3 set 6 repetisi, minggu kedua 4 set 6 repetisi, minggu ketiga 4 set 8 repetisi, minggu keempat 4 set 10 repetisi, minggu kelima 4 set 12 repetisi dan minggu keenam 4 set 14 repetisi. Pertemuan pertama dan terakhir untuk pengambilan data.
Tehnik Pengambilan Data
Sebelum penelitian dimulai, peneliti mencari objek penelitian, setelah mendapatkan objek penelitian peneliti mengajukan surat permohonan untuk mengadakan penelitian kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Setelah mendapatkan persetujuan peneliti mengawali dengan menentukan populasi dan memilih sampel dengan tehnik total sampel, yaitu semua populasi diikutkan sebagai sampel.
Langkah berikutnya menentukan judul skripsi bersama pembimbing yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk rancangan skripsi guna mendapatkan surat persetujuan penelitian dari Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES berupa Permohonan Ijin Penelitian Kepada Kepala SD Negeri Kalisidi 03.
Kemudian peneliti mengadakan tes awal lompat jauh gaya jongkok, hasil tes dimasukkan dengan rumus A-B-B-A, sehingga terbentuk dua kelompok yang mempunyai kemampuan yang sama atau hampir sama., untuk menjadi kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
3.6.1 Waktu Peneletian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, yaitu mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005. Penelitian ini diawali dengan tes awal pada tanggal 25 Januari 2005 dan hari-hari berikutnya merupakan latihan,
serta tes akhir dilaksanakan pada 5 Maret 2005.. Penelitian ini dilaksanakan tiga kali seminggu tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Dengan pelaksanaan tiap sore pukul 15.00 WIB sampai selesai.
3.6.2 Tempat Penelitian
Tempat Penelitian yang dipergunakan adalah lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
3.6.3 Obyek Penelitian
Siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebagai obyek penelitian yang berjumlah 24 siswa.
3.6.4 Alat Penelitian
Alat perlengkapan dalam penelitian adalah : bangku setinggi 36 cm, bendera, roll metter, cangkul, bak pasir.
3.6.5 Tenaga Pembantu Penelitian
Demi kelancaran penelitian peneliti dibantu oleh beberapa rekan guru Penjas Kecamatan Ungaran, serta beberapa rekan mahasiswa yang membantu dalam pelaksanaan tes awal dan tes akhir
3.6.6 Pelaksanaan Penelitian
Secara keseluruhan penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu yang dimulai sejak tanggal 25 Januari 2005 sampai dengan tanggal 5 Maret 2005 yang terbagi dalam 3 kegiatan yaitu : 1) tes awal, 2) perlakuan, dan 3) tes akhir.
1. Tes awal
Tes awal dilaksanakan dilapangan olahraga SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah lompat jauh yang disesuaikan dengan buku peraturan perlombaan atletik dari PASI. Sebelum tes awal dimulai, siswa diberi penjelasan mengenai pelaksanaan tes lompat jauh. Sesudah diberi penjelasan baru penjelasan baru dilaksanakan tes awal. Tes awal dilaksanakan tanggal 25 Januari 2005 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai dilapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang.
2. Perlakuan
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu, setiap minggu 3 kali pertemuan mulai tanggal 25 Januari 2005 sampai 5 Maret 2005 dengan demikian penelitian ini dilaksanakan selama 16 kali pertemuan. Sedangkan setiap pertemuan dilaksanakan selama ± 90 menit, dengan pengaturan waktu yaitu 10 menit untuk pemanasan, 70 menit latihan inti dan 10 menit untuk penenangan.
Waktu kegiatan latihan dilaksanakan pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu dimulai pukul 15.00 – 16.30 WIB. Materi latihan pada kelompok eksperimen 1 adalah naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan kelompok eksperimen 2 adalah latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki. Untuk penyajian materi disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Sedangkan mengenai pengaturan waktu latihan adalah sebagai berikut:
a) Pemanasan
Pemanasan diberikan pada siswa dengan tujuan untuk persiapan fisik siswa sebelum melakukan latihan inti. Latihan ini sangat penting untuk mengadakan perubahan dalam fungsi organ tubuh guna menghadapi fisik yang lebih berat (Tohar, 2004 : 4).
b) Latihan Inti
Latihan inti dilaksanakan sesuai dengan program latihan materi diberikan sesuai dengan jadwal latihan. Jadwal latihan terlampir pada lampiran 6. Setelah melakukan latihan sesuai dengan kelompoknya masing-masing kemudian latihan lompat jauh gaya jongkok
c) Penenangan
Penenangan dilaksanakan selama 10 menit dan hal ini bertujuan untukm memulihkan kembali kondisi badan sesudah menerima materi latihan, dengan demikian keadaan tubuh akan pulih secara sempurna seperti semula. Adapun gerakan yang digunakan untuk penenangan bisa melakukan gerakan-gerakan stretching kembali. Selanjutnya bisa diberi penjelasan atau koreksi secara keseluruhan selama jalannya latihan, kesan dan pesan untuk membangkitkan motivasi latihan berdoa dan dibubarkan.
3. Tes akhir
Setelah program latihan dilaksanakan selama 16 kali pertemuan pada hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2005 dilakukan tes akhir yang pelaksanaannya sama dengan tes awal. Adapun tujuan dilaksanakannya tes akhir adalah untuk
mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa baik dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 setelah mengikuti program latihan.
Teknik Analisa Data
Karena dalam penelitian ini merupakan nilai suatu tes dari dua kelompok eksperimen yang sudah di-macth-kan pada masing-masing individunya, maka untuk pengetesan signifikan menggunakkan t-test dengan rumus pendek (short methode). Sesuai dengan pendapat Sutrisno hadi (1973 : 453).
Analisis terhadap hasil-hasil eksperimen yang didasarkan atas subject matching selalu menggunakan t-test pada correlated sample. Mengenai penggunaan rumus t-test peneliti menggunakan rumus pendek adalah rumus yang serba guna dan efisien. Rumus ini dipersiapkan untuk menyelesaikan eksperimen yang mennggunakan matched subject design (Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
3.7.1. Uji Beda
Untuk menghitung perbedaan peningkatan hasil lompat jauh gaya jongkok dengan rumus t-test. Rumus t-test digunakan dalam eksperimen-eksperimen yang menggunakan sampel-sampel yang berkorelasi, yaitu sampel-sampel yang sudah disamakan salah satu variabel t-test yang digunakan adalah sebagai berikut :
t = )1(2−ΣNNdMd
(Sutrisno Hadi, 1973 : 453)
Keterangan :
t = Nilai perbedaan
N = Jumlah subjek
Md = Rata-rata selisih antara X1 dan X2
D = Penyimpangan (selisih) antara X1 dan X2 dan Md
Adapun uji perbedaan menggunakan derajat kebebasan N-1 pada taraf signifikansi 5%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penelitian
Faktor kesungguhan anak
Kesungguhan anak dalam melakukan latihan sangat besar pengaruhnya terhadap hasil penelitian. Peneliti memberikan motivasi selama latihan sehingga anak mempergunakan tenaganya secara maksimal.
Faktor cuaca
Latihan dilakukan pada sore hari, turunnya hujan dapat mengganggu jalannya latihan.apabila terjadi hujan saat latihan, latihan diganti dengan hari lain sehingga tidak mengurangi jadwal latihan. Jadi tidak mengurangi jumlah pertemuan yang sudah dijadwalkan.
3.8.3. Faktor kegiatan anak
Kegiatan anak diluar sulit diawasi peneliti, sebab tinggal peneliti jauh dari anak. Untuk mengontrol kegiatan anak peneliti memberikan pengertian-pengertian agar di luar penelitian tidak melakukan aktivitas yang sama dengan treatmen penelitian.
3.8.4. Faktor pemberian materi
Melihat kemampuan anak yang berbeda-beda peneliti selalu memberikan materi dengan jelas disertai dengan contoh-contoh sebelum pelaksanaan latihan dan sesudah latihan diberikan evaluasi secara menyeluruh.
3.8.5. Faktor kehadiran
Tempat penelitian dan rumah anak hanya berlingkup satu warga, maka anak dengan rajin mengikuti latihan, biarpun demikian peneliti selalu menyiapkan daftar hadir.
3.8.6. Faktor psikologi
Kehadiran peneliti pada waktu latihan membuat anak mempunyai rasa persaingan dalam melakukan kegiatan latihan. Anak selalu berlatih dengan sekuat tenaga dan menginginkan hasil lompatan sejauh mungkin apabila tes akhir nanti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Untuk mencari perbedaan pengaruh hasil latihan dari kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2 dapat dilihat pada pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Tabel Rangkuman Hasil Perhitungan Statistik
Kelompok
N
M
t-hitung
t-tabel
Keterangan
Eksperimen 1
12
341,67
Eksperimen 2
12
354,167
2,250
2,201
Signifikan
Dari hasil perhitungan statistik diperoleh t-hitung 2,250 kemudian t-tabel dengan db 11 dan taraf signifikan 5% diperoleh hasil 2,201 dengan demikian berarti setelah diberi perlakuan ternyata ada perbedaan pengaruh antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V, VI SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran diterima.
Untuk mengetahui mana yang lebih baik antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok dilakukan uji mean. Mean kelompok 1= 341,367 dan mean kelompok 2 = 354,167 , berarti M K1 < M K2 maka latihan naik turun tumpuan dua kaki lebih baik daripada latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran tahun pelajaran 2004/2005.
4.2. Pembahasan
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan tumpuan dua kaki terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok terdapat pengaruh. Siswa yang selama ini belum pernah menerima atau melakukan program latihan yang berkesinambungan setelah diberi latihan secara teratur dan terprogram sangat mempengaruhi hasil lompatan. Latihan naik turun bangku selain untuk memperkuat otot tungkai juga menimbulkan daya ledak yang optimal sehingga sangat menunjang dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok.
Hasil penelitian antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan naik turun bangku tumpuan dua kaki, terhadap hasil lompat jauh gaya jongkok menunjukkan ada perbedaan yang berarti. Secara analisis gerakan kedua bentuk latihan dalam penelitian ini adalah ketinggian lompatan yang di hasilkan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki lebih tinggi dibandingkan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian. Perbedaan pengaruh latihan ini terutama pada lompatan yang tinggi akan menghasilkan jarak yang lebih jauh.
Pada latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki mempunyai suatu kelebihan, yaitu adanya irama yang cepat pada waktu melakukan latihan, yaitu hitungan 1 dan 2 jadi mempengaruhi daya ledak yang tinggi dan kekuatan otot kaki secara maksimum. Gerakan meloncat ke atas pada posisi badan dan kaki membentuk sudut. Sesuai dengan gerakan melayang pada waktu melakukan lompat jauh gaya jongkok, dengan demikian latihan loncat naik turun bangku tumpuan dan kaki merupakan latihan yang berdaya guna (efektif) dan hasil guna
(efisien) di dalam pemakaian ruang gerak, waktu dan tenaga yang dihasilkan untuk memperoleh hsil yang baik dalam melakukan lompat jauh gaya jongkok. Kekurangan latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian adalah gerakan terfokus pada lompatan yang tinggi dengan satu kaki yang bertujuan untuk ketepatan dan kekuatan tolakan saja, dengan irama yang lambat pada waktu latihan (hitungan 1-4) membuat daya ledak dan kekuatan otot kaki kurang maksimum.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil pengolahan data yang telah dilakukan, ternyata hipotesis yang diajukan dapat diterima, dengan demikian dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian dengan latihan loncat naik turun banku tumpuan dua kaki terhadap hasil lompatan jauh gaya jongkok pada siswa putra kelas V,VI SD Negeri Kalisidi 03 kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Tahun Pelajaran 2004/2005.
5.2. Saran
Dengan kesimpulan yang telah diambil, maka para guru atau pelatih atlit khususnya cabang lompat jauh disarankan hal-hal sebagai berikut :
1. Melatih lompat jauh gaya jongkok hendaknya menggunakan latihan yang tepat.
2. Meningkatkan hasil prestasi lompat jauh gaya jongkok dengan latihan naik turun bangku tumpuan dua kaki.
DAFTAR PUSTAKA
Aip Syarifuddin. 1992. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Aip Syarifuddin & Muhadi. 1992 / 1993. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depdikbud.
Benhard, G. 1993. Atletik Prinsip Dasar Latihan Loncat Tinggi, Jauh, Jangkit dan Loncat Galah. Terjemahan dari String Trainning Voor. Djengd. Semarang. Dahara Prize.
Carr, Gary. 2000. Atletik (edisi terjemahan). Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Depdikbud. 1997. Kondisi Fisik Anak-Anak Sekolah Dasar. Jakarta. Depdikbud.
2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi SD dan MI. Jakarta: Dharma Bhakti.
Donald A. Chu. 1992. Plyometrics.
Engkos Kosasih. 1985. Olahraga Tehnik dan Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo.
KONI. 2000. Panduan Kepelatihan. Jakarta: KONI
Harsono. 1988. Ilmu Coaching. Jakarta: KONI pusat
M. Sajoto. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize.
Soedarminto dan Soeparman. 1993. Materi Pokok Kinesiologi. Jakarta: Depdikbud.
Soegito dkk. 1994. Pendidikan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rinika Cipto.
Sutrisno Hadi. 1973. Metodologi Research. Yogyakarta: UGM
. 2000. Statistik II. Jakarta: Andi
Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta. FPOK IKIP Yogyakarta.
Tohar. 2004. Ilmu Kepelatihan Lanjut. Semarang. FIK UNNES.
Yoyo Bahagia dkk. 1999. Atletik. Jakarta: Depdikbud.
Yusuf Adisasmita. 1992. Olahraga Pilihan Atletik. Jakarta: Depdikbud.
KALENDER PENELITIAN
BULAN JANUARI 2005
Minggu 2 9 16 23 30
Senin 3 10 17 24 31
Selasa 4 11 18 25
Rabu 5 12 19 26
Kamis 6 13 20 27
Jumat 7 14 21 28
Sabtu 1 8 15 22 29
BULAN PEBRUARI 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22
Rabu 2 9 16 23
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
BULAN MARET 2005
Minggu 6 13 20 27
Senin 7 14 21 28
Selasa 1 8 15 22 29
Rabu 2 9 16 23 30
Kamis 3 10 17 24
Jumat 4 11 18 25
Sabtu 5 12 19 26
Keterangan :
: Tes awal (Pre Test)
: Treatment (Latihan)
: Tes akhir (Post Test)
Hari latihan : Selasa, kamis dan jumat
Jam 14.00-16.00
Tempat : halaman SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran
SD NEGERI KALISIDI 03
KECAMATAN UNGARAN KABUPATEN SEMARANG
SURAT KETERANGAN
NO : 00864/25B/2005
Yang bertandatangan di bawah ini, Kepala Sekolah Dasar Negeri Kalisidi 03, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang menerangkan dengan sesungguhnya bahwa :
Nama : Jumiyatun
NIM : 6301903029
Program/ Jurusan : FIK / PLKD UNNES
Semester : IV
Telah melakukan riset/ penelitian guna menyusun skripsi untuk melengkapi tugas-tugas studi tingkat sarjana dengan judul “Perbedaaan Latihan Lompat Naik Turun Bangku Tumpuan Satu Kaki Bergantian dengan Lompat Naik Turun Bangku
Tumpuan Dua Kaki terhadap Hasil Lompat Jauh Gaya Jongkok pada Siswa Putra Kelas V dan VI SD Negeri Kalisidi 03 Ungaran”
Pelaksanaan riset / penelitian : dari tanggal 14 Februari 2005 sampai dengan 26 Maret 2005 di lapangan SD Negeri Kalisidi 03 Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang kemudian harap menjadikan maklum bagi yang bersangkutan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Ungaran, 27 Maret 2005
Kepala SD Negeri Kalisidi 03 Budiyono, Amd.Pd
NIP.130 567 680
DAFTAR PESERTA
LATIHAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN SATU KAKI
BERGANTIAN DENGAN LOMPAT NAIK TURUN BANGKU TUMPUAN DUA KAKI
SD NEGERI KALISIDI 03 ECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Induk
Nama Siswa
Jenis Kelamin
Kelas
Ket.
1.
Arif Ahrori
L
VI
2.
Dian Pamungkas
L
VI
3.
M. Shokibi
L
VI
4.
Sunarso
L
VI
5.
Agung Binarso
L
VI
6.
Luhur Adi D.
L
VI
7.
Nurhadi
L
VI
8.
Ardi Pradita
L
VI
9.
Edi Sunarso
L
VI
10.
Galuh
L
V
11.
Jumeri
L
V
12.
M. Nursyarifudin
L
V
13.
Zuli Setiyadi
L
V
14.
Hendro Suharno
L
V
15.
M. Ali
L
V
16.
Tri Sepdiyanto
L
V
17.
Taryono
L
V
18.
Zaenal
L
V
19.
Prasito
L
V
20.
Taufik
L
V
21.
R. Huda
L
V
22.
Fajar Sunarko
L
V
23.
Safii
L
V
24.
Nurkhafidin
L
V
HASIL TEST AWAL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
350
364
366
366
2.
Dian Pamungkas
308
334
343
343
3.
M. Shokibi
302
345
308
345
4.
Sunarso
307
300
300
307
5.
Agung Binarso
285
303
312
312
6.
Luhur Adi D.
270
309
253
309
7.
Nurhadi
290
291
297
297
8.
Ardi Pradita
260
223
242
260
9.
Edi Sunarso
351
340
329
351
10.
Galuh
335
310
342
342
11.
Jumeri
325
325
304
325
12.
M. Nursyarifudin
268
269
265
269
13.
Zuli Setiyadi
341
377
388
388
14.
Hendro Suharno
268
311
310
311
15.
M. Ali
286
276
256
286
16.
Tri Sepdiyanto
293
295
268
295
17.
Taryono
353
340
360
360
18.
Zaenal
311
309
321
321
19.
Prasito
296
335
333
335
20.
Taufik
278
289
284
289
21.
R. Huda
305
290
316
316
22.
Fajar Sunarko
248
251
209
251
23.
Safii
200
233
225
233
24.
Nurkhafidin
225
230
230
230
DAFTAR RANKING HASIL TEST DAN HASIL MATCHING YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBAGIAN KELOMPOK LOMPAT JAUH
SISWA PUTRA SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Nomor
Urut
Dada
Nama
Hasil Awal
Pasangan no urut
Rumus MC
MC Pasang
Hasil Maching
1.
13
Zuli Setiyadi
388
1 2
A
13 1
388 366
2.
1
Arif Ahrori
366
B
3.
17
Taryono
360
4 3
B
9 17
351 360
4.
9
Edi Sunarso
351
A
5.
3
M. Shokibi
345
5 6
A
3 2
345 343
6.
2
Dian Pamungkas
343
B
7.
10
Galuh
342
8 7
B
19 10
335 342
8.
19
Prastio
335
A
9.
11
Jumeri
325
9 10
A
11 18
325 321
10.
18
Zaenal
321
B
11.
21
R. Huda
316
12 11
B
5 21
312 316
12.
5
Agung Binarso
312
A
13.
14
Hendro Suharno
311
13 14
A
14 6
311 309
14.
6
Luhur Adi D.
309
B
15.
4
Sunarso
307
16 15
B
7 4
297 307
16.
7
Nurhadi
297
A
17.
16
Tri Septiyanto
295
17 18
A
16 20
295 289
18.
20
Taufik
289
B
19.
15
M. Ali
286
20 19
B
12 15
269 286
20.
12
M. Nursyarifudin
269
A
21.
8
Ardi Pradita
260
21 22
A
8 22
260 251
22.
22
Fajar H.
251
B
23.
23
Safii
233
24 23
B
24 23
230 233
24.
24
Nurkhafidin
230
A
PEMASANGAN SAMPEL PENELITIAN HASIL TEST AWAL
LOMPAT JAUH
Kelompok Eksperimen I
Kelompok Eksperimen II
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
No. Dada
Nama
Hasil
Ranking
13
Zuli Setiyadi
388
1
1
Arif Ahrori
366
2
9
Edi Sunarno
351
4
17
Taryono
360
3
3
M. Shokibi
345
5
2
Dian Pamungkas
343
6
19
Prastio
355
8
10
Galuh
342
7
11
Jumeri
325
9
18
Zaenal
321
10
5
Agung Binarso
312
12
21
R. Huda
316
11
14
Hendro Suharno
311
13
6
Luhur Adi N.
309
14
7
Nurhadi
297
16
4
Sunarso
307
15
16
Tri Supriyadi
294
17
20
Taufik
289
18
12
M. Nursyarifudin
269
20
15
M. Ali
286
19
8
Aldi Pradita
260
21
22
Fajar Sunarko
251
22
24
Nur Khafidin
230
24
23
Safii
233
23
Keterangan :
1. Kelompok eksperimen I mendapat perlakuan latihan lompat naik turun bangku tumpuan satu kaki bergantian
2. Kelompok eksperimen II mendapat perlakuan latihan lompat naik turun baangku tumpuan dua kaki
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TES AWAL HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 1 DAN EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
(x1)
K2
(x2)
D
x1 – x2
Md
D
(D – Md)
d2
(D-Md)
1 2
388
366
22
- 0,4166
22,4166
502,5039
4 3
351
360
- 9
- 0,4166
- 8,5834
73,6747
5 6
345
343
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
8 7
335
342
- 7
- 0,4166
- 6,5834
43,3411
9 10
325
321
4
- 0,4166
4,4166
19,5063
12 11
312
316
- 4
- 0,4166
- 3,5834
12,8407
13 14
311
309
2
- 0,4166
2,4166
5,3995
16 15
297
307
-10
- 0,4166
- 9,5834
91,8415
17 18
295
289
6
- 0,4166
6,4166
41,1727
20 19
269
286
-17
- 0,4166
-16,5834
269,6689
21 22
260
251
9
- 0,4166
9,4166
88,6723
24 23
230
233
- 3
- 0,4166
- 2,5834
6,6739
Jumlah
3718
3723
- 5
- 0,002
1160,695
Mean
309,8333
310,25
- 0,4166
96,7245
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2
Md = NDΣ= 125−= – 0,4166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12695,11604166,0−−
= – 0,1405
Kesimpulan
Dengan db = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh – 0,1405, ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol diterima, yang berarti bahwa tidak trdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
HASIL TEST AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA PUTRA V DAN VI SD NEGERI KALISIDI 03 KECAMATAN UNGARAN
Lompatan dalam cm
No.
Dada
Nama
I
II
III
Hasil
1.
Arif Ahrori
410
400
445
445
2.
Dian Pamungkas
395
350
38
395
3.
M. Shokibi
345
365
365
365
4.
Sunarso
315
325
300
325
5.
Agung Binarso
335
350
345
350
6.
Luhur Adi D.
320
340
305
340
7.
Nurhadi
295
315
310
315
8.
Ardi Pradita
275
280
230
280
9.
Edi Sunarso
330
330
340
340
10.
Galuh
380
380
345
380
11.
Jumeri
365
350
355
365
12.
M. Nursyarifudin
295
305
305
305
13.
Zuli Setiyadi
410
405
390
410
14.
Hendro Suharno
280
320
360
360
15.
M. Ali
245
265
310
310
16.
Tri Sepdiyanto
280
250
305
305
17.
Taryono
370
390
380
390
18.
Zaenal
360
365
380
380
19.
Prasito
330
375
355
375
20.
Taufik
330
355
290
355
21.
R. Huda
330
260
330
330
22.
Fajar Sunarko
285
310
305
310
23.
Safii
355
220
295
355
24.
Nurkhafidin
250
270
300
300
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 1
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Zuli S.
388
410
22
2
Edi
351
370
21
3
M. Shokibi
345
365
20
4
Prastio
335
375
40
5
Jumeri
325
365
40
6
Agung B.
312
350
38
7
Hendro S.
311
360
49
8
Nurhadi
297
315
18
9
Tri Sepdiyanto
295
305
10
10
M. Nursyarifudin
269
305
36
11
Ardi P.D.
260
280
20
12
Nurkhafidin
230
300
70
3718
4100
382
Jumlah
Mean
309,8333
341,6666
31,8333
REKAPITULASI DATA TES AWAL DAN TES AKHIR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK KELOMPOK EKSPERIMEN 2
No
Nama
Tes Awal
(cm)
Tes Akhir
(cm)
Peningkatan
(cm)
1
Arif Ahrori
366
445
75
2
Taryono
360
390
30
3
Dian P.
343
395
52
4
Galuh
342
380
38
5
Zaenal
321
380
59
6
R. Huda
316
330
14
7
Luhur A.D.
309
340
31
8
Sunarso
307
325
18
9
Taufik
289
290
1
10
M. Ali
286
310
24
11
Fajar
251
310
59
12
Safii
233
355
122
3723
4250
527
Jumlah
Mean
310,25
354,1666
43,9166
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK 1
No Subjek
Test akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
410
388
22
- 9,8333
96,6937
2
370
351
19
-12,8333
164,6935
3
365
345
20
-11,8333
140,0367
4
375
335
40
8,1667
66,6945
5
365
325
40
8,1667
66,6745
6
350
312
38
6,1667
38,0282
7
360
311
49
17,1667
294,6955
8
315
297
18
-13,8333
191,3602
9
305
295
10
-21,8333
476,6930
10
305
269
36
4,1667
17,3614
11
280
260
20
-11,8333
140,0267
12
300
230
70
38,1667
1456,6969
4100
3718
384
0,0004
3149,6448
Jumlah
Mean
341,6666
309,8333
31,8333
Menghitung nilai perbedaan antara tes awal dan tes akhir hasil lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 1
Md = NDΣ= 12384 = 31,8333
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(126448,31498333,31−
= 6,5169
Kesimpulan
Denagn db = N – 1 = 12 – 1= 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan nol dalam table t adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 6,517 ternyata lebih kecil dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil test awal dan test akhir pada kelompok eksperimen 1.
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AWAL DAN TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA EKSPERIMEN 2
No
Test Akhir
(cm)
Test Awal
(cm)
D
x1 – x2
d
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1
445
366
79
35,0834
1230,8449
2
390
360
30
-13,9166
193,6717
3
395
343
52
8,0834
65,3413
4
380
342
38
- 5,9166
35,0061
5
380
321
59
15,0834
227,5089
6
330
316
14
-29,9166
895,0029
7
340
309
31
-12,9166
166,8385
8
325
307
18
-25,9166
671,6701
9
290
289
1
-42,9166
1841,8345
10
310
286
24
-19,9166
396,6709
11
310
251
59
15,0834
227,5089
12
355
233
122
78,0834
6097,0173
4250
3723
527
0,0008
10891,916
Jumlah
Mean
354,1666
310,25
43,9166
Md = NDΣ = 12527= 43,9166
t = )1(2−ΣNNdMd = )112(12916,108919166,43−
= 4,8346
TABEL KERJA UNTUK MENGHITUNG NILAI PERBEDAAN ANTARA TEST AKHIR HASIL LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA KELOMPOK EKSPERIMEN 1 DAN KELOMPOK EKSPERIMEN 2
Pasangan Subjek
K1
x1
K2
x2
D
(x1 – x2)
D
(D – Md)
d2
(D – Md)2
1 2
410
445
-35
-22,5
506,25
4 3
370
390
-20
-7,5
56,25
5 6
365
395
-30
-17,5
306,25
8 7
375
380
-5
7,5
56,25
9 10
365
380
-15
-2,5
6,25
12 11
350
330
20
32,5
105,625
13 14
360
340
20
32,5
105,625
16 15
315
325
-10
2,5
6,25
17 18
305
290
15
27,5
756,25
20 19
305
310
-5
7,5
56,25
21 22
280
310
-30
-17,5
306,25
24 23
300
355
-55
-42,5
1806,25
4100
4250
-150
0
4073
Jumlah
Mean
341,3666
43,9166
-12,5
Md = NDΣ= 12150 = 12,5
t = )1(2−ΣNNdMd= )112(1240735,12−−
= 2,2503
Kesimpulan
Denagn db galat = n – 1 =12 – 1 = 11 dan taraf signifikansi 5% angka batas penolakan hipotesa nol adalah 2,201 sedangkan nilai t yang diperoleh 2,250 , ternyata lebih besar dari angka batas penolakan nol. Dengan demikian hipotesa nol ditolak, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes awal pada kelompok eksperimen 1 dan kelompok eksperimen 2.
TABEL NILAI-NILAI t
Taraf Signifikan
d.b
50%
40%
20%
10%
5%
2%
1%
0,20%
1
1,000
1,376
3,078
6,314
12,71
31,82
63,66
636,69
2
0,816
0,061
1,886
1,920
2,303
2,965
2,925
31,596
3
0,765
0,978
1,638
1,353
2,182
2,541
2,841
12,941
4
0,741
0,941
1,533
1,132
2,776
2,747
2,604
8,610
5
0,727
0,920
1,476
1,015
2,571
2,365
2,032
6,859
6
0,718
0,906
1,440
1,943
2,447
2,143
2,707
5,959
7
0,771
0,896
1,415
1,895
2,365
2,998
2,499
5,405
8
0,706
0,889
1,397
1,860
2,306
2,896
2,355
5,041
9
0,703
0,883
1,383
1,833
2,262
2,821
2,25
4,781
10
0,700
0,879
1,372
1,812
2,228
2,764
2,169
4,587
11
0,697
0,876
1,363
1,796
2,201
2,718
2,106
4,437
12
0,695
0,873
1,356
1,782
2,179
2,681
2.055
4,318
13
0,694
0,870
1,350
1,771
2,160
2,650
2,012
4,221
14
0,692
0,868
1,345
1,761
2,145
2,624
2,977
4,140
15
0,691
0,866
1,341
1,753
2,131
2,602
2,947
4,073
16
0,690
0,865
1,337
1,746
2,120
2,583
2,921
4,015
17
0,689
0,863
1,333
1,740
2,110
2,567
2,898
3,965
18
0,688
0,862
1,330
1,734
2,101
2,552
2,878
3,922
19
0,688
0,861
1,328
1,729
2,093
2,539
2,861
3,883
20
0,687
0,860
1,325
1,725
2,086
2,528
2,845
3,850
21
0,686
0,859
1,323
1,721
2,080
2,518
2,831
3,819
22
0,686
0,858
1,321
1,717
2,074
2,508
2,819
3,792
23
0,685
0,858
1,319
1,714
2,069
2,500
2,807
3,767
24
0,685
0,857
1,318
1,711
2,064
2,492
2,797
3,745
25
0,684
0,856
1,316
1,708
2,060
2,485
2,787
3,725
26
0,684
0,856
1,315
1,706
2,056
2,479
2,779
3,307
27
0,684
0,855
1,314
1,703
2,052
2,473
2,771
3,690
28
0,683
0,855
1,313
1,701
2,048
2,467
2,763
3,674
29
0,683
0,854
1,311
1,669
2,045
2,462
2,756
3,659
30
0,683
0,854
1,310
1,697
2,042
2,457
2,750
3,646
Sumber : (Sutrisno Hadi, 2001 : 358)

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: