Beranda > Uncategorized > lompat jauh dan lain lain

lompat jauh dan lain lain

• Atletik merupakan induk cabang olahraga yang diperlombakan, yang dilakukan secara luas dan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang tidak sekolah, siswa, mahasiswa, junior dan senior. Atletik bisa dilakukan secara perorangan maupun beregu. Yang termasuk dalam olahraga atletik adalah lari, lompat/loncat, tolak dan lempar.
Menurut AP Panjaitan  menyatakan bahwa “Atletik mempunyai semboyan “ citius, altius, fortius yang dalam bahasa Inggrisnya faster, higner, dan stronger, yaitu lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Atletik terdiri dari jalan, lari, lempar, lompat. Setiap penyelenggaraan pesta olahraga baik tingkat nasional maupun tingkat dunia atletik selalu ikut dipertandingkan dan merupakan pokok acara pada setiap peristiwa. Keadaan ini membuat orang menjuluki atletik sebagai induk (ibu) dari segala cabang olah raga (Mother of Sport).
Berlatih atletik bisa dilakukan di hutan, di alam bebas, di bangsal, di lapangan olahraga, di stadion. Di Indonesia perserikatannya adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), yang kini telah tersebar keseluruh pelosok tanah air. Untuk dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga diperlukan berbagai usaha dan melalui pendekatan ilmiah. Prestasi olahraga yang dicapai sebenarnya merupakan hasil perpaduan dari berbagai usaha. Karena di dalamnya akan dilibatkan banyak pihak seperti pelatih, fasilitas, program latihan, teori-teori yang mendukung dalam kepelatihan dan sebagainya.
Dalam hal latihan salah satu faktor yang paling esensial adalah dilakukannya dengan berulang-ulang. Jadi latihan merupakan suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berkesinambungan dengan beban semakin meningkat. Sedangkan tujuan dari latihan fisik adalah mengembangkan dan meningkatkan kondisi fisik atlet yang meliputi kekuatan kelentukan daya tahan dan daya gerak.
1. Pengertian
Latihan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang pencapaian suatu kemampuan atau prestasi. Latihan berarti menyesuaikan pada kerja yang lebih berat yaitu kita membuat tubuh selangkah demi selangkah pada keadaan efisien yang kita inginkan, kepada produktifitas yang terbesar kepada keserasian yang dipertinggi untuk melakukan pekerjaan.
Latihan adalah suatu proses kerja yang harus dilakukan secara sistematis, berulang-ulang dengan jumlah beban yang diberikan semakin-hari semakin bertambah. Tujuan serta sasarannya dari berlatih adalah untuk membantu atlet meningkatkan suatru kemampuan atau prestasi semaksimal mungkin
Untuk mendapatkan suatu kemampuan prestasi yang maksimal perlu pelatihan dengan melakukan latihan secara intensif, terprogram dan kontinyu melalui program pembinaan latihan yang disusun oleh pelatih. Selanjutnya program latihan yang proporsional akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan atlet baik secara fisiologis, psikologis maupun sosiologis, tentunya hal ini harus ditunjang oleh sistem yang profesional.
Pembinaan latihan secara profesional merupakan sesuatu yang dapat memberikan simulasi dan pelatihan terhadap karakter setiap individu atlet yang bersifat kompetitif yaitu meliputi disiplin, sportif, pantang menyerah, rasa tanggung jawab, mampu bekerjasama dengan tim, dan bangkit dari kekalahan, yang sekaligus merupakan mata rantai yang diperlukan untuk meningkatkan prestasi atlet baik ditingkat nasional maupun internasional yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Dengan demikian seorang pelatih merupakan penentu dalam keberhasilan atlet untuk mengantarkan potensinya mencapai puncak penampilan (feak performance). Seorang pelatih yang profesional tentunya dalam pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas pengalaman pribadi, tetapi selalu didasarkan atas perkembangan ilmu pengetahuan atlet secara individual. Sehingga pelatih benar-benar dapat mengemas program pelatihan secara proporsional. Sehingga pelatih benar-benar dapat megemas program pelatihan secara profesional, dilakukan secara sistematis, kontinyu dan sesuai dengan target yang ingin dicapai. Ini penting karena dalam cabang olahraga atletik khususnya pada nomor-nomor individual, sehingga program pelatihannyapun harus diarahkan secara individual.
Program pelatihan merupakan upaya yang sistematis dalam meningkatkan kapasitas fungsional fisik dan daya tahan. Namun semua itu tidak terlepas dari program yang disusun oleh pelatih untuk meningkatkan kemampuan atlet, disamping metode-metode pelatihan yang diarahkan secara individu guna dipadukan dengan cara saling melengkapi sehingga dapat memperoleh hasil secara optimal, oleh karena itu peran pelatih sangat menentukan dalam mengoptimalkan kemampuan atlet.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa untuk menyusun program latihan fisik yang tepat, salah satu hal yang harus dipertimbangkan adalah :
Penentuan tinggi rendahnya intensitas suatu latihan, frekuensi latihan dan beban latihan dengan tidak meninggalkan pertimbangan kemampuan fisik secara mendasar untuk masing-masing atlet. Intensitas latihan merupakan fungsi dari kekuatan rangsangan yang diberikan pada saat latihan
Tentunya himbauan pendapat tersebut harus terprogram dan disusun secara sistematis serta dijalankan secara terpadu. Hal ini sesuai dengan dimana seorang pelatih harus benar-benar mempertimbangkan kemampuan dasar masing-masing atlet yakni kemampuan secara fisiologis, khususnya pada latihan berbeban.
pelatihan
1) Untuk mengetahui sejauh mana kontribusi penggunaan metode latihan berbeban yang dimiliki oleh atlet lompat jauh.
2) Untuk mengetahui taktik/teknik yang benar dari lompat jauh gaya jongkok
3) Untuk meningkatkan kemampuan prestasi atlet
2. Pengaruh Pelatihan
Menurut U. Jonath/E.Haag/R.Krempel menyatakan bahwa :
a. Latihan adalah penerangan rangsangan fungsional secara sistematis dalam ukuran makin meninggi dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Latihan menimbulkan perubahan penyesuaian organ terhadap persyaratan prestasi yang dipertinggi.
b. Rangsangan latihan harus paling sedikit mencapai 30 sampai 50 persen prestasi maksimal untuk dapat menbimbulkan peningkatan prestasi.
c. Pada umumnya otot-otot menjadi lebih besar dan lebih dekat, pembuluh-pembuluh kapiler makin besar jumlahnya. Pertukaran zat dalam otot dipengaruhi secara baik, dan kemampuannya untuk mengikat oksigen menjadi lebih baik pula.
d. Dengan latihan secara terus-menerus, jantung menjadi lebih besar. Jumlah denyutnya pada waktu istirahat menjadilebih rendah, dan pernafasan menjadi efisien. Jumlah oksigen (O2) lebih banyak dapat dihirup dan jumlah karbondioksida (CO2) lebih banyak dapat dikeluarkan. Daya maksimal pemasukan oksigen menjadi lebih besar hingga kemampuan berprestasi terus-menerus dapat ditingkatkan dalam waktu yang lama. Juga jumlah darah dan butir-butir darah merah meningkat.
e. Pendayagunaan zat-zat makanan yang dimasukkan pun menjadi dipertinggi.
Selanjutnya pengaruh latihan terhadap organisme menurut U Jonath juga menyatakan bahwa : pengaruh latihan badan yang dapat ditunjukkan terhadap organisme, dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pengaruh terhasp sistem otot dan kerangka
Otot yang terlatih pada umumnya menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada yang tidak terlatih. Ukuran, penampang lintang, maupun volumenya menjadi lebih besar. Dalam perbandingan yang kira-kira sama, juga tenaga ototnya meningkat. Otot terlatih, dengan pertumbuhan (hipertrofi) masing-masing serat otot karena peningkatan putih telur (protein) di dalamnya, menjadi lebih besar. Jadi kemampuan untuk memenuhi persyaratan pada prestasi gerak, karenanya juga meningkat.
b. Pengaruh terhadap organ dalam dan darah
Latihan secara terus-menerus mempunyai pengaruh yangterlihat pada perkembangan organ tubuh dalam, terutama otok, darah, paru-paru maupun kelenjar-kelenjar hormon tertentu. “Kemampuan jantung terlatih” pada olah ragawan stamina dibandingkan jantung biasa, juga dalam hal berat maupun isinya dapat berlipat dua. Sehubungan sengan organ dalam dan darah merupakan kriteria yang menentukan bagi penilaian kemampuan prestasi stamina seorang olah ragawan.
c. Pengaruh terhadap pertukaran zat
Dalam pengertian pertukaran zat, termasuk semua proses yang mengakibatkan pembentukan, perubahan, dan pembongkaran zat di dalam tubuh. Setiap fungsi hidup hanya terjadi dengan pembongkaran zat. Pada pembongkaran zat yang terjadi menurut proses biokimia yang asangat rumit itu, dikeluarkan energi dalam bentuk panas atau sebagai energi mekanis proses perubahan kimia itu dapat berlangsung dengan penambahan oksigen (aerob) atau tanpa oksigen atau tanpa oksigen (anaerob). Yang menentukan untuk itu ialah lamnya waktu dan intensitas kerja yang harus dilakukan, maka selama diadakan latihan secara teratur dengan olah ragawan yang terlatih supaya dapat diperoleh penyesuaian yang baik. Dengan demikian juga kebutuhan sebesar mungkin akan oksigen yang disampaikan kepada otot-otot di bawah pengaruh latihan itu, menjadi lebih besar.
Sebagai dasar bagi latihan dapat disusun aturan sebagai berikut melalui tiga tahap :
Tahap pertama : latihan dasar (beberapa tahun sekitar lima tahun) dengan menerapkan latihan olahraga secara sistematis. Akan tercapai dasar umum yang luas tentang sifat-sifat utama mengenai tenaga-stamina-kecepatan.
Tahap kedua : latihan pembentukan (kira-kira dua sampai tiga tahun) yang menuju kepada kemampuan prestasi dalam cabang olah raga khusus. Pembentukan ini berdasarkan kemampuan dan kesiapan umum yang diperoleh pada latihan dasar.
Tahap ketiga : latihan prestasi. Di sini diusahakan sebaik-baiknya agar dapat tercapai prestasi pribadi secara maksimal dalam suatu cabang olah raga khusus.

engkoskosasih
Mei 2, 2010 pukul 4:12 pm | #2
Balas | Kutip | Sunting
Organisasi latihan berbeban
Pelaksanaan latihan tenaga secara praktis, sebagian besar bergantung pada alat-alat yang tersedia. Di bawah ini terdapat kumpulan yang dipilih dari alat-alat yang paling banyak digunakan atau cara lain dalam pembebanan.
Yang menjadi tujuan dari lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya dengan memperhatikan atau memahami unsur atau teknik-teknik pokok pada lompat jauh. Adapun teknik-teknik atau unsur-unsur pokok dalam lompat jauh menurut pendapat adalah :
a. Awalan, yaitu untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan menolak. Awalan ini harus dilakukan dengan secepat-cepatnya serta jangan merubah langkah pada saat akan melompat. Jarak awalan  30 meter – 4 meter
b. Tolakan, yaitu menolak sekuat-kuatnya pada papan tolakan dengan kaki yang terkuat ke atas (tinggi dan ke depan)
c. Sikap badan di udara, yaitu badan harus diusahakan melayang selama mungkin di udara serta dalam keadaan seimbang.
d. Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat dengan sebaik-baiknya, jangan sampai jatuhnya badan atau tangan ke belakang, karena dapat merugikan.
Selanjutanya menurut AD Pandjaitan (1990) mengatakan bahwa :
Suatu lompatan mempunyai hubungan atau pengaruh dengan lari kareana lari merupakan awalan bagi pelompat jauh dan harus memperhatikan. Awalan yang cepat dan tepat, tumpuan yang baik dan pendaratan yang menguntungkan.
Sedangkan U Jonath/E Haag/R Krempel menyebutkan bahwa persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelompat jauh yang baik adalah :
Teknik lompat jauh menurut pendapat Muhajir (1994) yaitu :
a. Awalan atau ancang-ancang
Guna awalan atau ancang-ancang pada lompat jauh adalah untuk mendapatkan kecepatan yang setinggi-tingginya sebelum mencapai balok tolakan. Adapun panjang lintasan untuk melaksanakan awalan lompatan jauh adalah tidak kurang dari 45 meter. Untuk memperoleh hasil lompatan yang maksimal, setiap melakukan awalan harus selalu dapat bertumpu pada balok.
Cara melakukan awalan atau ancang-ancang sebagai berikut :
1) Lari ancang-ancang tergantung pada kemampuan masing-masing siswa
2) Tambah kecepatan lari ancang-ancang sedikit demi sedikit sebelum bertumpu/bertolak. Kecepatan ancang-ancang dipertahankan tetap maksimum sampai mencapai papan tolak.
3) Punggang turun sedikit pada langkah akhir ancang-ancan
Tumpuan atau tolakan kaki harus kuat agar tercapai tinggi lompatan yang cukup, tanpa kehilangan kecepatan maju. Karena ini tidak mungkin, maka diusahakan agar kehilangan kecepatan maju diusahakan semaksimal mungkin. Kaki ayun digerakkan secara aktif untuk membantu menaikkan badan dan menjaga keseimbangan berat badan sedikit di depan titik tumpuan. Gerakan tangan membantu menambah ketinggian, pandangan mata yang naik ke depan sebagai kemudi.
Cara melakukan tumpuan atau tolakan sebagai berikut :
1) Ayunkan paha kaki-bebas cepat ke posisi horizontal dan dipertahankan
2) Luruskan sendi mata-kaki, lutut dan pinggang pada waktu melakukan tolakan
3) Bertolak ke depan dan ke atas
Melayang di udara dapat dilakukan beberapa cara, ada tiga cara yang lazim digunakan :
1) Sikap tengadah/bergantung atau the hang style (seperti gambar A)
2) Sikap mengambang/jongkok atau float sit down (seperti gambar B)
3) Sikap berjalan di udara atau stride in the air (seperti gambar C)
Yang penting pada saat melayang di udara ini bukan cara melayangnya yang diutamakan, tetapi tetap terpeliharanya keseimbangan badan dan mengusahakan tahanan udara sekecil mungkin, mengusahakan melayang di udara selama mungkin dan menyiapkan letak kaki dalam posisi yang menguntungkan pada waktu mendarat dengan kaki yang diacungkan ke depan lemas-lemas.
Mendarat harus sedemikian rupa sehingga kaki yang diacungkan ke depan tidak menyebabkan bahwa pelompat akan mendarat pada pantatnya, keadaan ini sangat merugikan. Untuk menghindarkan pendaratan pada pantat ini, kepala ditundukkan dan lengan diayunkan ke depan sewaktu kaki menyentuh pasir. Titik berat badan akan melampaui titik pendaratan kaki di pasir kalau kaki tidak kaku tegang, melainkan lemas-lentuk. maka sendi lutut harus siap menekuk pada saat yang tepat. Gerakan ini memerlukan timing (waktu) yang tepat.
Cara melakukan pendaratan sebagai berikut :
1) Tariklah lengan dan tubuh ke depan-bawah. Tariklah kaki mendekat badan
2) Luruskan kaki dan tekuk lagi sedikit sesaat sebelum menyentuh tanah
3) Bila kedua kaki telah mendarat di pasir, duduklah atas kedua kaki
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan pada lompat jauh yang tujuannya untuk mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya maka yang perlu diperhatikan yaitu masalah kondisi fisik pelompat dan teknik-teknik yang baik.
Untuk meningkatkan suatu kemampuan selain masalah kondisi fisik pelompat menurut pendapat Yanto Kusyanto (1994 : 122) mengatakan bahwa yang harus diperhatikan atau dilakukan oleh atlet lompat jauh adalah :
1) Pelihara kecepatan sampai saat bertolak
2) Capailah dorongan yang cepat dan dinamis dari balok tumpuan
3) Gunakan gerakan kompetensi lengan yang baik
4) Capailah jangkauan gerak yang baik
5) Gerak akhir agar dibuat lebih kuat dengan menggunakan lebih besar daya kepadanya
6) Latihlah gerak pendaratan
7) Kuasai gerak yang betul dari lengan dan kaki dalam meluruskan dan membengkokkannya
Kesalahan-kesalahan umum
1) Memperpendek atau memperpanjang langkah terakhir sebelum bertolak
2) Bertolak dari tumit dengan kecepatan yang tak memadai
3) Badan miring jauh ke depan atau ke belakang
4) Fase melayang tak seimbang
5) Gerak kaki yang prematur
6) Tak cukup angkatan kaki pada pendaratan
7) Satu kaki turun mendahului kaki lain pada pendaratan
2. Latihan Lompat Jauh gaya jongkok tanpa awalan
Cara melakukan latihan :
a. Berlatih gerakan bertolak (take off) dengan melompat beberapa kali berturut-turut dengan menggunakan kaki tolakan secara aktif.
b. Belajarlah melakukan dorongan kaki yang baik dan jangkauan gerak pada saat bertolak dan pertahanan posisi sampai mendarat di bak pasir.
c. Perbaiki tolakan dan posisi sewaktu mendarat. Bertolak dengan keras dan mengangkat kaki tinggi dan mendorong yang kuat, pertahankan posisi sebelum menjulurkan kaki-kai ke luar untuk mendarat pada saat terakhir
d. Latihan jangkauan gerak yang luas pada pinggang, langkah bertolak dengan dorongan yang baik dari yang bebas, pertukarkan posisi kaki sebelum mendarat mendarat. Kaki bebas diayun lurus ke belakang sedangkan kaki tolak ditekuk dalam-dalam sebelum mengayun terus.
3. Latihan Lompat Jauh Gaya Jongkok Dengan Awalan
Pada hakekatnya latihannya sama seperti lompat jauh tanpa awalan, perbedaannya terletak pada awalan saat melakukan tolakan untuk melompat.
Cara melakukan latihan :
a. Lari dengan awalan antara 30 – 45 m. Lari awalan semakin dipercepat dan pada langkah akhir ada sedikit penurunan titik pusat gravitasi dalam persiapan untuk bertolak. Ketepatan mengukur jarak awalan adalah penting.
b. Hentakkan kaki pada saat bertolak, harus terjadi pada sol kaki dengan tumit menyentuh tanah. Sedikit pinggang ke depan dan dengan kaki penolak sedikit bengkok. Hal ini diluruskan dengan cepat dan kuat sesaat titik pusat grafitiasi melewati di atas kaki tumpu.
c. Berbagai teknik boleh dipakai yang ditunjukkan dalam urutan gerak adalah 2 ½ langkah hitch kick. Langkah pertama berakhir dengan kaki ayun dalam posisi depan dan kaki penolak sesaat meninggalkan/lepas dari tanah. Langkah kedua berakhir dengan posisi berlawanan dan pada langkah ½ berakhir, kaki ayun bergabung dengan kaki tolak untuk mendarat.
Selajutnya menurut pendapat Yanto Kusyanto (!994 : 125) selain latihan-latihan di atas ada bebarapa skema latihan singkat lompat jauh adalah :
a. Latihan dasar
1) 10% : Conditioning umum (latihan keseluruhan, beberapa variasi lompatan, lari tanjakan dan lain-lain)
2) 30% : Latihan teknik (memahirkan dengan 5-7 langkah awalan) dengan banyak sekali
3) 20% : Latihan kekuatan (power training) dengan beban (beban maksimum 5-6 latihan, 8-10 kali dilakukan dengan cepat)
4) 20% : Latihan conditioning dalam ruang senam (latihan penguatan dan penguluran dan lain-lain)
5) 20% : Latihan speed (20-90 m) latihan lari gawang untuk 10-12 kali
b. Latihan khusus
1) 20% : Berbagai lompatan (pakai jaket atau tanpa jaket beban) dan latihan ketangkasan
2) 30% : Latihan Teknik, melompat dengan lari awalan penuh 10-12 kali
3) 20% : Latihan power dalam ruang senam (latihan penguatan tanpa beban atau memakai beban selama ½ jam)
4) 20% : Latihan kecepatan (60-120 meter pada lintasan lurus atau pada lintasan tikungan) atau lari gawang 5 buah 6-8 kali.
5) 20% : Latihan teknik membetulkan atau mengoreksi kesalahan-kesalahan dengan awalan pendek) 10 atau 20 kali.
c. Kompetisi/Perlombaan
1) 20% : Latihan ketangkasan (latihan penguluran dan latihan rileks) dan lari gawang rendah tanpa ketegangan
2) 40% : Latihan teknik (menyempurnakan dan mensinkronisasikan lari awalan dengan lompatan) 10-20 kali
3) 10% : Melakukan berbagai cara lompatan (secara intensif dengan interval istirahat secukupnya)
4) 30% : Latihan speed (latihan start pada lintasan lurus dan tikungan) 10-15 kali
5) Berlomba (sekali seminggu dan kadang-kadang istirahat dan mencoba event (lagi)
4. Peraturan perlombaan lompat jauh dan posisi pelompat saat melakukan lompatan
a. Awalan/lintasan awalan lebar minimum 1,22 m dan panjang 45 m
b. Panjang papan tolakan 1,22, lebar 20 cm dan tebal 10 cm
c. Pada sisi dekat dengan tempat mendarat harus diletakkan papan plastisin untuk mencatat bekas kaki pelompat bila ia berbuat salah tolak. Papan tolakan harus dicatat putih dan harus datar dengan tanah awalan dan harus ditanam sekurang-kurangnya 1 meter dari tepi depan bak pasir pencatatan
d. Lebar tempat pendaratan minimum 2,75 m jarak antara garis tolakan sampai akhir tempat lompatan minimal 10 m.
e. Permukaan pasir di dalam tempat pendaratan harus sama tinggi/datar dengan sisi atas papan tolakan
f. Bila peserta lebih dari 8 orang, tiap peserta diperbolehkan melompat 3 kali (giliran) dan 8 pelompat dengan lompatan terbaik, boleh melompat 3 kali lagi
Bila perseta hanya 8 orang kurang, semua peserta harus melompat 6 kali (giliran). Semua lompatan diukur dari titik bekas terdekat di bak pasir/pendaratan yang dibuat oleh setiap bagian badan ke garis tolakan dalam posisi siku-siku terhadap garis tolakan tersebut.
Peserta diberi waktu (1 giliran) lompat hanya selama 1,5 menit. Lompatan yang sama (tie) ditentukan dengan melihat hasil lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik kedua, bila masih sama (tie) dilihat lompatan terbaik ketiga dan seterusnya
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan suatu kemampuan yang maksimal bagi atlet lompat jauh khususnya lompat jauh gaya jongkok maka latihan yang mendukung atau yang harus dilakukan yaitu menggunakan metode latihan berbeban dengan alat pembebanan yaitu jaket atau rompi pemberat, seperti yang diungkapkan Yanto Kusyanto (1994 : 125) menyatakan ada beberapa skema latihan singkat tentang lompat jauh antara lain :
a. Latihan dasar
b. Latihan khusus, yaitu si pelompat melakukan berbagai lompatan dengan menggunakan jaket atau rompi pemberat
c. Kompetisi atau perlombaan
Dengan demikian berdasarkan pendapat di atas, maka jelas bahwa peranan metode latihan berbeban sangat berpengaruh besar dalam meningkatkan suatu kemampuan cabang olahraga khususnya cabang olah raga atletik nomor lompat jauh gaya jongkok.
Metode latihan berbeban merupakan suatu latihan yang memperhitungkan baik dari segi situasi, faktor atau unsur biomotorik dan juga faktor pembebanan, baik pembebanan lebih atau di bawah normal yang berfungsi untuk mengembangkan tenaga secara spesifik dengan menggunakan berbagai macam alat-alat atau cara lain dalam pembebanan.
Menurut  menyatakan bahwa : Metode latihan bebeban atau weight training yaitu metode latihan yang sistematis dimana beban hanya digunakan untuk menambah tahanan terhadap kontraksi otot dengan tujuan tertentu.
Selanjutnya Jess Jarver (2005) menyatakan bahwa metode latihan berbeban yaitu :
Suatu metode latihan yang membedakan antara peningkatan kekuatan (strength) dan tenaga (power), gerakan berkekuatan adalah gerakan yang lambat, terkendali melawan suatu gaya berat dari luar. Sedangkan gerakan bertenaga meliputi kecepatan gerak dan kemampuan memberikan reaksi cepat terhadap beban yang ringan, sedang dan berat dalam waktu yang sangat singkat.
Dari beberapa pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa latihan berbeban dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah upaya maksimal untuk mengembangkan atau meningkatkan tenaga secara spesifik baik dengan beban yang lebih atau di bawah normal dalam cabang olahraga atletik khususnya cabang lompat jauh gaya jongkok
Aturan dasar metode latihan berbeban menurut U. Jonath  menyatakan bahwa :
a. Pemanasan sebagai persiapan latihan dan perlombaan
Sebelum latihan dan perlombaan dengan cara pemanasan atlet harus menyiapkan diri bagi kesediaan organismenya untuk berprestasi tinggi. Pemanasan ini dapat dilakukan secara aktif (misalnya dengan lari-lari awal, senam) atau juga secara pasif (misalnya pijat atau masase). Dengan pemanasan dapat dicapai kesediaan berprestasi yang lebih tinggi karena :
1) Peredaran darah yang lebih baik dalam otot-ototnya
2) Pengaruhnya yang baik terhadap pertukaran zat
3) Penyesuaian yang lebih baik pada sistem saraf
4) Peningkatan elastisitas pada sistem otot dan sehubungan dengan itu menjadi kurangnya bahaya untuk mendapat cedera
b. Prinsip peningkatan beban dalam latihan
Peningkatan prestasi terus menerus hanya dapat dicapai dengan peningkatan beban latihan. Perubahan progresif (pembebanan progresif) itu menyangkut peningkatan seringnya berlatih maupun penambahan volume dan intensitas latihan. Pada olah ragawan tingkat tinggi soalnya terutama mengenai peningkatan intensitas pada yang baru mulai dan yang lebih lanjut mengenai perluasan volume latihan umum.
Menurut Matwejew menunjukkan peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan.
Tahun/Bulan 1 2 3 4
Ketinggian
Relatif
Beban
Latihan PPs PPI PPr
PPs PPI PPr PPs PPI PPr PPs PPI PPr
Pembebanan latihan
PPS = Periode persiapan
PPI = Periode perlombaan
PPr = Periode peralihan
= Perubahan beban latihan dalam makrosiklus
= Perbedaan ketinggian beban
Gambar 1
Peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan
c. Jedah (istirahat) dalam latihan
Jedah atau istirahat antara masing-masing rangsangan latihan gunanya untuk memulihkan organisme dari beban yang dikenakan sebelumnya.
Dalam praktek latihan dibedakan dua jenis istirahat :
1) Istirahat penuh setelah pembebanan tinggi sampai tinggi
2) Istirahat tak penuh setelah pembebanan ringan sampai di bawah maksimal
d. Prinsip superkompensasi
Tiap rangsangan gerak mengabaikan suatu pembongkaran zat (cadangan energi) namun mengandung rangsangan untuk pembangunan baru. Ini tidak menghentikan keadaan jaringan semula, tetapi berkembang lanjut melebihi keadaan pada waktu itu. Itulah yang merupakan ciri khas sesuatu yang hidup, yaitu menyesuaikan diri pada persyaratan prestasi yang diertinggi.
e. Peningkatan latihan hingga optimal melalui perencanaan dan kontrol
Latihan olahraga hanya dapat memberikan hasil optimal bila diartikan sebagai proses pendidikan atlet secara luas. Perencanaan latihan, kontrol hasil latihan dan perlombaan secara teratur, maupun pengorganisasian yang berarti tentang prestasi yang diinginkan, semuanya itu merupakan dasar untuk mengoptimalkan proses latihan. Diantara berbagai upaya itu di sini hanya diambil yang penting-penting saja.
a. Pembebanan progresif
Dengan latihan tenaga dua kali seminggu, setelah enam sampai delapan minggu terlihat tambahan tenaga kira-kira 20 persen. Otot telah menyesuaikan diri pada rangsangan beban dan bereaksi dengan membesarnya penampang lintang seperti yang diinginkan. Akibatnya ialah bahwa ulangan yang lebih banyak dapat dilakukan atau bahwa penambahan tenaga itu memungkinkan diberikannya beban yang lebih tinggi 20 persen. Tinggi pembebanan optimal (misalnya 70% pada latihan tenaga dinamis) juga bukan besaran yang mutlak dan harus selalu ditetapkan lagi. Bagi praktek-praktek latihan itu berarti dalam waktu kira-kira dua sampai tiga minggu, berat bebannya terus ditambah. Sebaliknya akan keliru bila pada ketinggian beban yang sama, jumlah ulangannya dikurangi. Prinsip pembebanan progresif tidak dapat diabaikan dalam latihan tenaga optimal. Sayangnya, persyaratan tersebut, karena alasan organisatoris dan teknis, jarang dipenuhi karena pembebanan perorangan pada latihan dalam kelompok bukanlah soal yang sederhana.
b. Prinsip pembebanan yang cocok
Menurut U Jonath/E Haag/R Krempel menyatakan bahwa persyaratan metodis menurut pembebanan yang cocok (sesuai dengan keadaan prestasi yang berlatih) yang telah diketahui secara umum dalam latihan tenaga perlu diberi tekanan sebaik-baiknya.
1) Dari kebiasaan menjadi ketakbiasaan
Pada mulnya perlu didahulukan latihan tenaga yang biasa serta sederhana; ini tidak boleh menunjukkan tingkat kesulitan apa pun. Baru setelah beberapa waktu latihan dapat bersifat teknis terinci. Sekarang misalnya dipelajari teknik angkat dengan halter kepingan.
2) Dari yang sedikit sampai yang banyak
Peningkatan sedikit demi sedikit secara lambat laun, dalam takaran latihan selanjutnya (ulangan dalam latihan dan seri) akhirnya memuncak sampai volume latihan yang besar lebih banyak ulangan dan lebih banyak seri
3) Dari yang ringan sampai yang berat
Selanjutnya hanya boleh digunakan pembebanan yang ringan. Baru setalah latihannya dikuasai dan terjadi perbaikan dalam tenaga dasar pada yang berlatih pembebanan dapat di tingkatkan sampai ketinggian 70 persen yang dipersyaratkan bagi latihan tenaga.
4) Dari penguatan umum sampai penguatan khusus
Terutama dalam usia anak sekolah dan remaja, penguatan tubuh secara umum dalam tahap pertama latihan tenaga sangat diperlukan. Itu karena mereka belum disiapkan untuk menghasilkan prestasi dan dapat menderita dan dapat menderita kerugian dalam sikap badan dan kemungkinan bergerak (tulang, otot, bungkus otot, serta uratnya). Maka itu mula-mula kelompok-kelompok otot besar dalam badan dikuatkan dulu, sebab ini merupakan dasar bagi gerak tubuh dan ini pun memerlukan penanganan secara sistematis

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: