lamp

“Atletik adalah satu cabang olahraga yang terdiri dari gerakan-geerakan yang dinamis dan harmonis seperti jalan, lari, lempar, dan lompat (Djumidar, 2007: 1.3)”.

“Atletik menjadi induk atau ibu dari seluruh cabang olahraga (Panjaitan, 1990: 51)”. Jadi lompat jauh dapat digolongkan ke dalam nomor lompat cabang olahraga atletik..

Menurut pendapat Syarifuddin (1992 : 90) lompat jauh adalah bentuk gerakan melompat mangangkat kaki ke atas depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara atau melayang di udara yang dilakukan dengan cepat dan dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.

Jonath, Haag, Krempel (1990 : 197) menyatakan bahwa unsur utama lompat jauh dengan awalan adalah lari awalan/ ancang-ancang, bertolak, melayang di udara dan mendarat. Masing-masing bagian itu memiliki gaya gerakannya sendiri yang menyumbangkan pencapaian jarak lompatan.

“Nomor lompat ada tiga gaya, yaitu gaya jongkok, gaya lenting atau menggantung dan gaya jalan di udara (Adisasmita : 68)”.

Pendapat Adisasmita kecepatan dan ketepatan dalam lari awalan sangat mempengaruhi hasil lompatan. Ini berarti bahwa kecepatan lari awalan adalah suatu keharusan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Pelompat tanpa kecepatan sama sekali tidak mempunyai suatu harapan untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya (Adisasmita, 1992 : 67).

Menurut Adisasmita (1992, 67) untuk dapat melakukan lari awalan dengan baik, perlu memperhatikan dan melakukan hal-hal sebagai berikut:

a)    Jarak lari awalan tergantung pada tiap-tiap pelompat.

b)  Jarak lari awalan harus cukup jauh untuk mendapatkan kecepatan

maksimal. Panjang awalan untuk usia SMP antara 30 – 45 meter.

c)  Kecepatan lari awalan dan irama langkah harus rata.

d) Pada langkah akhir, pikiran dipusatkan untuk melompat setinggi-tingginya ke arah depan.

e)  Langkah terakhir diperkecil agar dapat menolak ke atas dengan lebih sempurna.

f)  Sikap lari seperti pada lari jarak pendek.

“Pada waktu menumpu seharusnya badan sudah condong kedepan, titik berat badan harus terletak tegak dimuka titik sumber tenaga, yaitu tungkai menumpu pada saat pelompat menumpu (Adisasmita, 1992 : 67)”

Melakukan gerakan-gerakan sikap tubuh untuk menjaga keseimbangan dan untuk memungkinkan pendaratan yang lebih sempurna. Gerakan sikap tubuh di udara (waktu melayang) yang biasanya disebut gaya lompatan dalam lompat jauh (Adisasmita, 1992 : 68).

“Mendarat dilakukan dengan tumit terlebih dahulu mengenai tanah (Adisasmita, 1992 : 68)”.

Pada saat pelompat menginjak tanah lengan diayunkan ke depan, lutut ditekuk dan badan membungkuk ke depan. Gerakan ini membawa titik berat badan jatuh di bawah garis melayang, memberikan momentum pada badan serta mencegah jatuh ke belakang pada tumit yang berakibat mengurangi jarak lompatan (Soedarminto dan Soeparman, 1993 : 360).

“Mendarat yang baik adalah ketika mendarat atau jatuhnya dengan kedua kaki dan tangan ke depan, jadi misalkan jatuhnya ke depan tidak akan merugikan (Kosasih, 1993 : 84)”.

Prinsip yang cukup mendasar untuk program latihan menurut Tohar (2004 : 54) program latihan dapat diatur dan dikontrol dengan cara memvariasikan beban latihan seperti volume, intensitas, recovery dan frekuensi dalam suatu unit program latihan harian.

Intensitas menurut Tohar (2004 : 55) adalah takaran yang menunjukkan kadar atau tingkat pengeluaran energi, alat dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan. Intensitas latihan plaiometrik dapat ditingkatkan dengan penambahan beban pada hal-hal tertentu dengan peningkatan jumlah repetisi dan set.

“ Recovery dikatakan oleh Tohar (2004 : 55) adalah waktu yang digunakan untuk pemilihan tenaga kembali antara satu elemen materi latihan dengan elemen

berikutnya”.

Frekuensi menurut Tohar (2004 : 55) adalah ulangan gerak beberapa kaki atlit harus melakukan gerakan setiap giliran. Frekuensi tinggi berarti ulangan gerak banyak sekali dalam satu giliran. Frekuensi dapat juga diartikan berapa kali latihan per hari atau berapa hari latihan per minggu.

“Pada lompat jauh gaya jongkok ini akan dibahas komponen kondisi fisik tentang kecepatan, kekuatan, daya ledak, ketepatan, kelentukan koordinasi gerak (Syarifuddin, 1992 : 90)”.

  1. Kondisi fisik yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
  2. Kecepatan

Kecepatan menurut Sajoto (1995 : 9) menyatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan kesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

seperti yang dikemukakan oleh Suharno (1993 : 27-28) bahwa latihan-latihan otot mempunyai pengaruh terhadap hasil yang dicapai pada kemampuan jarak seperti dalam pengembangan daya lompat pada kaki dan juga terhadap fleksibilitas pada otot dan persendian.

A. Hipotesis Penelitian

“Menurut Arikunto (1998 : 20) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.

Kategori:Uncategorized

Menurut Sutrisno Hadi (2000)  mengatakan : Salah satu tugas penting dalam research ilmiah adalah menetapkan ada tidaknya hubungan sebab-akibat fenomin-fenomin dan menarik hukum-hukum tentang hubungan sebab akibat itu. Metode eksperimen merupakan salah satu metode yang paling tepat untuk menyelidiki hubungan sebab akibat itu.

Menurut Sutrisno Hadi (1996) dijelaskan bahwa : “Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki, dibatasi jumlah penduduk individu yang paling sedikit mempunyai sifat sama”.

Sutrisno Hadi (1996)  menyatakan bahwa : “Sampel adalah sebagian dari penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi jadi sampel harus paling sedikit mempunyai sifat sama, baik kodrat maupun sifat pengkhususannya”.

Menurut pendapat Jess Jarver (2005) , cara mengukur lompatan yaitu : ‘Jarak lompatan di ukur pada sudut tertentu mulai dari jejak terdekat di daerah pendaratan (landing) bagian tubuh manapun sampai ke garis tumpuan (take off)”

Kategori:Uncategorized

Mei 19, 2010 2 komentar

Olahraga adalah salah satu yang erat hubungannya dengan pembangunan dan telah menjadi program pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan berbangsa dan bernegara, olahraga memegang peranan penting bagi bangsa Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan, disamping itu olahraga dapat dijadikan supermasi keberadaan suatu negara. (GBHN, 1994 alenia ke 3 tentang pembinaan olahraga)

Ini sesuai dengan Undang-Undang Dasar No. 3 tahun 2005 tentang sistem keolahragaan nasional yaitu bahwa sistem keolahragaan nasional ini akan memberikan kepastian hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam kegiatan keolahragaan. Dalam mewujudkan masyarakat dan bangsa yang gemar, aktif, sehat dan bugar, serta berprestasi dalam olahraga. Dengan demikian gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat serta upaya meningkatkan prestasi olahraga dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa pada tingkat internasional sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan nasional yang berkelanjutan.

menurut Tamat (2008 : 1.8) menyatakan bahwa :

Kegiatan pendidikan jasmani, secara langsung atau tidak langsung ikut mengembangkan daya intelektual atau kemampuan berpikir anak didik.

Menurut pendapat Arikunto (1995:51) mengemukakan bahwa tes adalah :

Merupakan alat suatu prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur suatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Nurhasan (2008:1.3)

  1. Pengertian Cabang Olahraga Atletik

Pada pengertian cabang atletik merupakan induk cabang olahraga yang diperlombakan, yang dilakukan secara luas dan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik yang tidak sekolah, siswa, mahasiswa, junior dan senior. Atletik bisa dilakukan secara perorangan maupun beregu. Yang termasuk dalam olahraga atletik adalah lari, lompat/loncat, tolak dan lempar.

Menurut AP Panjaitan (1990) menyatakan bahwa “Atletik mempunyai semboyan “ citius, altius, fortius yang dalam bahasa Inggrisnya faster, higner, dan stronger, yaitu lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Atletik terdiri dari jalan, lari, lempar, lompat. Setiap penyelenggaraan pesta olahraga baik tingkat nasional maupun tingkat dunia atletik selalu ikut dipertandingkan dan merupakan pokok acara pada setiap peristiwa. Keadaan ini membuat orang menjuluki atletik sebagai induk  (ibu) dari segala cabang olah raga (Mother of Sport).

Berlatih atletik bisa dilakukan di hutan, di alam bebas, di bangsal, di lapangan olahraga, di stadion. Di Indonesia perserikatannya adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), yang kini telah tersebar keseluruh pelosok tanah air. Untuk dalam upaya meningkatkan prestasi olahraga diperlukan berbagai usaha dan melalui pendekatan ilmiah. Prestasi olahraga yang dicapai sebenarnya merupakan hasil perpaduan dari berbagai usaha. Karena di dalamnya akan dilibatkan banyak pihak seperti pelatih, fasilitas, program latihan, teori-teori yang mendukung dalam kepelatihan dan sebagainya.

Dalam hal latihan salah satu faktor yang paling esensial adalah dilakukannya dengan berulang-ulang. Jadi latihan merupakan suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berkesinambungan dengan beban semakin meningkat. Sedangkan tujuan dari latihan fisik adalah mengembangkan dan meningkatkan kondisi fisik atlet yang meliputi kekuatan kelentukan daya tahan dan daya gerak terutama dalam bidang lompat jauh.

  1. Lompat Jauh Gaya Berjalan di Udara

Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara pada dasarnya sama dengan tehnik lompat jauh gaya menggantung dan lompat jauh gaya jongkok. Ciri khas dari lompat jauh gaya berjalan di udara adalah gerakan lompatannya dilakukan seperti orang berjalan.

1). Tehnik lompat jauh gaya berjalan di udara.

a)      Awalan

Awalan dilakukan pada jarak 30 – 40 meter dan dilakukan dengan secepat-cepatnya dan jangan mengubah langkah pada saat akan melompat.

b)      Tolakan

Tolakan dilakukan dengen menggunakan kaki sekuat-kuatnya ke atas dan ke depan tepat pada balok tolakan yang terkuat.

c)      Sikap Badan di Udara.

Cara melakukannya adalah pada saat kaki ditolakkan pada balok tolakan, kaki ayun diangkat ke depan atas untuk membantu titik berat badan. Kemudian kaki ayun diturunkan, bersamaan dengan itu kaki satunya ditarik ke depan dan dirapatkan, sehingga mendarat dengan ke dua kaki lurus ke depan.

d)     Mendarat

Pada waktu akan mendarat, berat badan bagian bawah ke depan, demikian juga kedua tangan. Mendarat dengan kedua kaki rapat dan jongkok.

  1. Lompat Jauh Gaya Jongkok

1). Tehnik dasar

Cara melakukan lompat jauh gaya jongkok dapat dirinci sebagai berikut :

a). Tehnik dasar awalan

Jarak awalan :        (1)    bisa + 30 m dari papan tumpu

(2)    bisa + 60 m dari papan tumpu

untuk memperoleh jarak awalan bagi pemula, bisa dilakukan dengan langkah mundur ke belakang.

Berdiri pada papan tumpu,

(1)   Tarik kaki kiri ke belakang sejauh mungkin, untuk tahap pertama bisa empat langkah, kanan dan kiri.

(2)   Ambil sikap melangkah dengan kaki kiri di depan.

(3)   Melangkah ke depan, sehingga kaki kanan tepat menumpu papan tumpu.

Setelah dilakukan dengan tehnik di atas secara berulang – ulang maka kita bisa melakukan awalan lompat jauh gaya jongkok yaitu lari cepat dari titik yang telah dilatih tadi tanpa menambah langkah sampaio pada papan tolak / tumpu dan melakukan tolaka.

b)  Tehnik tolakan

(1)   Pada saat menumpu badan lebih ditegakkan dari sikap lari (boleh dikatakan badan condong ke belakang)

(2)   Urutan tumpuan telapak kaki :

(a)    tumit

(b)   telapak kaki

(c)    ujung kaki

(3)    Dorongkan kaki dengan menggunakan ujung kaki ke depan ke atas dibantu gerakan tangan.

c)       Sikap badan di udara

(1)                 Kedua kaki ditekuk

(2)                 Kedua tangan di depan, disamping kepala

(3)                 Pada saat akan mendarat kedua kaki lurus ke depan merapat, kedua tangan lurus ke depan serta berat badan di bawa ke depan.

d)        Sikap mendarat

(1)                 Mendarat dengan kedua kaki agak merapat

(2)                 Berat badan di bawa ke depan

(3)                 Lutut ditekuk dalam posisi jongkok

(4)                 Tangan di depan menyentuh bak lompat

(5)                 Pandangan ke depan

c . Peraturan perlombaan

1)      Gaya – gaya lompat jauh

a)      Gaya jongkok (tuck style / sit down in the air)

b)      Gaya melayang / melenting (rang style / schenepper)

c)      Gaya jalan di udara (walking / running in the air)

2)      Lapangan / bak lompat

Ukuran :

a)    Panjang : 11 m

b)   Lebar : 2,75 m

c)    Jarak balok tumpu dengan bak lompat : 2 m

d)   Lebar balok tumpu : 1,22 m

e)    Panjang awalan : 30 – 40 m

f)    Lebar awalan  : 2,22 m

Sikap badan pada waktu jatuh atau mendarat yaitu si pelompat harus mengusahakan jatuh atau mendarat. Sebaik-baiknya jangan sampai badan jatuh atau dengan posisi tangan ke belakang karena dapat merugikan, sikap badan waktu mendarat yang baik adalah jatuh dengan kedua kaki dan lengan ke depan.

Latihan kondisi fisik adalah proses mengembangkan kemampuan aktivitas gerak jasmani yang dilakukan secara sistematik dan ditingkatkan secara progresif untuk mempertahankan atau meningkatkan derajat kebugaran jasmani agar tercipta kemampuan kerja fisik yang optimal. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan potensi fungsional atlet dan mengembangkan kemampuan biomotorik ke derajat yang paling tinggi. (Yudiana, Subarjah, Julianntine, 2009 : 3.3)

menurut U Jonath (1990:6) juga menyatakan bahwa :

a)   Latihan adalah penerangan rangsangan fungsional secara sistematis dalam ukuran makin meninggi dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi. Latihan menimbulkan perubahan penyesuaian organ terhadap persyaratan prestasi yang dipertinggi.

b)   Rangsangan latihan harus paling sedikit mencapai 30 sampai 50 persen prestasi maksimal untuk dapat menbimbulkan peningkatan prestasi.

c)   Pada umumnya otot-otot menjadi lebih besar dan lebih dekat, pembuluh-pembuluh kapiler makin besar jumlahnya. Pertukaran zat dalam otot dipengaruhi secara baik, dan kemampuannya untuk mengikat oksigen menjadi lebih baik pula.

d)  Dengan latihan secara terus-menerus, jantung menjadi lebih besar. Jumlah denyutnya pada waktu istirahat menjadilebih rendah, dan pernafasan menjadi efisien. Jumlah oksigen (O2) lebih banyak dapat dihirup dan jumlah karbondioksida (CO2) lebih banyak dapat dikeluarkan. Daya maksimal pemasukan oksigen menjadi lebih besar hingga kemampuan berprestasi terus-menerus dapat ditingkatkan dalam waktu yang lama. Juga jumlah darah dan butir-butir darah merah meningkat.

e)   Pendayagunaan zat-zat makanan yang dimasukkan pun menjadi dipertinggi.

Selanjutnya pengaruh latihan terhadap organisme Menurut U. Jonath/E.Haag/R.Krempel (1990:13) menyatakan bahwa : pengaruh latihan badan yang dapat ditunjukkan terhadap organisme, dapat diuraikan sebagai berikut :

a)   Pengaruh terhasp sistem otot dan kerangka

Otot yang terlatih pada umumnya menjadi lebih besar dan lebih kuat daripada yang tidak terlatih. Ukuran, penampang lintang, maupun volumenya menjadi lebih besar. Dalam perbandingan yang kira-kira sama, juga tenaga ototnya meningkat. Otot terlatih, dengan pertumbuhan (hipertrofi) masing-masing serat otot karena peningkatan putih telur (protein) di dalamnya, menjadi lebih besar. Jadi kemampuan untuk memenuhi persyaratan pada prestasi gerak, karenanya juga meningkat.

b)   Pengaruh terhadap organ dalam dan darah

Latihan secara terus-menerus mempunyai pengaruh yangterlihat pada perkembangan organ tubuh dalam, terutama otok, darah, paru-paru maupun kelenjar-kelenjar hormon tertentu. “Kemampuan jantung terlatih” pada olah ragawan stamina dibandingkan jantung biasa, juga dalam hal berat maupun isinya dapat berlipat dua. Sehubungan sengan organ dalam dan darah merupakan kriteria yang menentukan bagi penilaian kemampuan prestasi stamina seorang olah ragawan.

c)   Pengaruh terhadap pertukaran zat

Dalam pengertian pertukaran zat, termasuk semua proses yang mengakibatkan pembentukan, perubahan, dan pembongkaran zat di dalam tubuh. Setiap fungsi hidup hanya terjadi dengan pembongkaran zat. Pada pembongkaran zat yang terjadi menurut proses biokimia yang asangat rumit itu, dikeluarkan energi dalam bentuk panas atau sebagai energi mekanis proses perubahan kimia itu dapat berlangsung dengan penambahan oksigen (aerob) atau tanpa oksigen atau tanpa oksigen (anaerob). Yang menentukan untuk itu ialah lamnya waktu dan intensitas kerja yang harus dilakukan, maka selama diadakan latihan secara teratur dengan olah ragawan yang terlatih supaya dapat diperoleh penyesuaian yang baik. Dengan demikian juga kebutuhan sebesar mungkin akan oksigen yang disampaikan kepada otot-otot di bawah pengaruh latihan itu, menjadi lebih besar.

Sebagai dasar bagi latihan dapat disusun aturan sebagai berikut melalui tiga tahap :

Tahap pertama : latihan dasar (beberapa tahun sekitar lima tahun) dengan menerapkan latihan olahraga secara sistematis. Akan tercapai dasar umum yang luas tentang sifat-sifat utama mengenai tenaga-stamina-kecepatan.

Tahap kedua : latihan pembentukan (kira-kira dua sampai tiga tahun) yang menuju kepada kemampuan prestasi dalam cabang olah raga khusus. Pembentukan ini berdasarkan kemampuan dan kesiapan umum yang diperoleh pada latihan dasar.

Tahap ketiga : latihan prestasi. Di sini diusahakan sebaik-baiknya agar dapat tercapai prestasi pribadi secara maksimal dalam suatu cabang olah raga khusus.

  1. Prinsip Pelatihan

Prinsip-prinsip di dalam latihan antara lain :

  1. Kesediaan mengulang-ulang apa yang akan dipelajari, gerakan-gerakan diulang sehingga dapat dilakukan tanpa memikirkan segala sesuatu dapat berlangsung secara otomatis, efektif dan efisien.
  2. Latihan harus cukup berat, sehingga dapat digunakan untuk merangsang otot untuk beradaptasi didalam tubuh. Latihan yang ringan tidak akan menimbulkan kemajuan kemampuannya, tetapi sebaliknya latihan yang sangat berat akan dapat melumpuhkan kemampuan otot untuk berprestasi. Jadi kaunci dalam latihan itu terletak pada penjatahan maupun pengaturan dosis latihan yang tepat dan rutinitas.
  3. Latihan harus meningkat, sebab ini ada hubungannya dengan prinsip-prinsip di atas yaitu latihan harus merangsang. Setelah melakukan latihan berkali-kali badan bertambah kemampuannya sehingga membutuhkan perangsang yang lebih besar dari semula. Dengan kata lain harus ditingkatkan beban latihan, sedang pembebanan didalam latihan harus teratur sebab kalau pemberatnya tidak teratur dapat berakibat kurang baik bagi para atlet yang sedang melakukan latihan.
  4. Latihan harus dilakukan secara teratur, sebab bila atlet melakukan latihan tidak teratur maka tidak akan terjadi adaptasi dari badan yang melakukan latihan.

Pada akhirnya kemampuan untuk berprestasi itu sendiri juga terbatas oleh bakat yang tersimpan oleh diri atlet itu sendiri, dan masing-masing atlet mempunyai bakat yang berbeda.

Periode latihan Fungsi latihan Jenis lataihan bentuk dan metode Kekhususan periode
Periode persiapan I : tahap persiapan umum latihan dasar Memperoleh dan mengembangkan persyaratan yang menjadi dasar bentuk olah raga. Tingkat umum kemungkinan fungsional dalam organisme harus dipertinggi Penggunaan latihan untuk mengembangkan; stamina umum-lari jauh; tenaga-latihan  dengan pembebanan berat dan tahanan; kecepatan garak-lari cepat dan permainan; ketangkasan-atletik berat (turmen), permainan gerak, dan olah raga bola Tujuan utamanya ialah makin mempertinggi volume dan itensitas, mengenai peningkatan lama waktu latihannya.
Periode persiapan II; tahap persiapan khusus, latihan pembentukan Secara jasmaniah ditonjolkan latihan khusus. Pendidikan teknis-taktis. Saling berhubungan antara latihan/pendidikan fisis, teknis, taktik dan mental Latihan khusus akan sesuai dengan latihan perlombaan dengan :

  1. Melatih unsur bagian seluruh gerak  perlombaan.
  2. Cukup memperpendek lama pelaksanaan dan mepertinggi intensitas kelompok latihan tertentu untuk mengembangkan stamina khusus
Penurunan volume umum dan peningkatan intensitas selanjutnya.
Periode perlombaan : latihan prestasi tinggi Kondisi harus dipertimbangan dan dialihkan ke dalam prestasi. Diusahakan agar keadaan mencapai keadaan latihan khusus secara maksimal, bila dengan penyempurnaan teknik lebih tinggi. Pengambangan pikiran taktis dan penyesuaian psikologis moral dan mental langsung pada perlombaan. Perlombaan dalam jenis olah raga khusus sesuai dengan latihan. Latihan umum khusus dalam tahao peralihan suatu periode perlobaan yang lama. Sarana pendidikan/latihan umum harus banyak seginya Volume seluruhnya masih dapat agak berubah tapi kemudian menjadi mantap. Intensitas pembebanan khusus meningkat hingga maksimum dan kemudian juga menjadi mantap.
Periode peralihan Isi utamanya ialah pemulihan aktif (atau reaksi perlindungan) tubuh terhadap pembebanan lebih yang dapat menyebabkan penurunan) Banyak latihan pembentukan tubuh secara umum (misal gerak jalan, memanjat, permainan gerak,s enam dan latihan dari jenis olah raga pelengkap) Waktu empat sampai enam miinggu cukup. dengan pemulihan aktif yang meningkat, tibalah peralihan ke periode persiapan.

Jess Jarver (2005) menyatakan bahwa metode latihan berbeban yaitu :

Suatu metode latihan yang membedakan antara peningkatan kekuatan (strength) dan tenaga (power), gerakan berkekuatan adalah gerakan yang lambat, terkendali melawan suatu gaya berat dari luar. Sedangkan gerakan bertenaga meliputi kecepatan gerak dan kemampuan memberikan reaksi cepat terhadap beban yang ringan, sedang dan berat dalam waktu yang sangat singkat.

Aturan dasar metode latihan berbeban menurut U. Jonath (1990) menyatakan bahwa :

  1. Pemanasan sebagai persiapan latihan dan perlombaan

Sebelum latihan dan perlombaan dengan cara pemanasan atlet harus menyiapkan diri bagi kesediaan organismenya untuk berprestasi tinggi. Pemanasan ini dapat dilakukan secara aktif (misalnya dengan lari-lari awal, senam) atau juga secara pasif (misalnya pijat atau masase). Dengan pemanasan dapat dicapai kesediaan berprestasi yang lebih tinggi karena :

1)   Peredaran darah yang lebih baik dalam otot-ototnya

2)   Pengaruhnya yang baik terhadap pertukaran zat

3)   Penyesuaian yang lebih baik pada sistem saraf

4)   Peningkatan elastisitas pada sistem otot dan sehubungan dengan itu menjadi kurangnya bahaya untuk mendapat cedera

  1. Prinsip peningkatan beban dalam latihan

Peningkatan prestasi terus menerus hanya dapat dicapai dengan peningkatan beban latihan. Perubahan progresif (pembebanan progresif) itu menyangkut peningkatan seringnya berlatih maupun penambahan volume dan intensitas latihan. Pada olah ragawan tingkat tinggi soalnya terutama mengenai peningkatan intensitas pada yang baru mulai dan yang lebih lanjut mengenai perluasan volume latihan umum.

Menurut Matwejew menunjukkan peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan.

Tahun/Bulan 1 2 3 4
Ketinggian

Relatif

Beban

Latihan

PPs PPI PPr PPs PPI PPr PPs PPI PPr PPs PPI PPr

Pembebanan latihan

PPS   = Periode persiapan

PPI    = Periode perlombaan

PPr    = Periode peralihan

= Perubahan beban latihan dalam makrosiklus

= Perbedaan ketinggian beban

Gambar 1

Peningkatan beban latihan dalam penyusunan latihan

  1. Jedah (istirahat) dalam latihan

Jedah atau istirahat antara masing-masing rangsangan latihan gunanya untuk memulihkan organisme dari beban yang dikenakan sebelumnya.

Dalam praktek latihan dibedakan dua jenis istirahat :

1)   Istirahat penuh setelah pembebanan tinggi sampai tinggi

2)   Istirahat tak penuh setelah pembebanan ringan sampai di bawah maksimal

  1. Prinsip superkompensasi

Tiap rangsangan gerak mengabaikan suatu pembongkaran zat (cadangan energi) namun mengandung rangsangan untuk pembangunan baru. Ini tidak menghentikan keadaan jaringan semula, tetapi berkembang lanjut melebihi keadaan pada waktu itu. Itulah yang merupakan ciri khas sesuatu yang hidup, yaitu menyesuaikan diri pada persyaratan prestasi yang diertinggi.

  1. Peningkatan latihan hingga optimal melalui perencanaan dan kontrol

Latihan olahraga hanya dapat memberikan hasil optimal bila diartikan sebagai proses pendidikan atlet secara luas. Perencanaan latihan, kontrol hasil latihan dan perlombaan secara teratur, maupun pengorganisasian yang berarti tentang prestasi yang diinginkan, semuanya itu merupakan dasar untuk mengoptimalkan proses latihan. Diantara berbagai upaya itu di sini hanya diambil yang penting-penting saja.

  1. Pembebanan progresif

Dengan latihan tenaga dua kali seminggu, setelah enam sampai delapan minggu terlihat tambahan tenaga kira-kira 20 persen. Otot telah menyesuaikan diri pada rangsangan beban dan bereaksi dengan membesarnya penampang lintang seperti yang diinginkan. Akibatnya ialah bahwa ulangan yang lebih banyak dapat dilakukan atau bahwa penambahan tenaga itu memungkinkan diberikannya beban yang lebih tinggi 20 persen. Tinggi pembebanan optimal (misalnya 70% pada latihan tenaga dinamis) juga bukan besaran yang mutlak dan harus selalu ditetapkan lagi. Bagi praktek-praktek latihan itu berarti dalam waktu kira-kira dua sampai tiga minggu, berat bebannya terus ditambah. Sebaliknya akan keliru bila pada ketinggian beban yang sama, jumlah ulangannya dikurangi. Prinsip pembebanan progresif tidak dapat diabaikan dalam latihan tenaga optimal. Sayangnya, persyaratan tersebut, karena alasan organisatoris dan teknis, jarang dipenuhi karena pembebanan perorangan pada latihan dalam kelompok bukanlah soal yang sederhana.

Menurut U Jonath/E Haag/R Krempel (1990) menyatakan bahwa persyaratan metodis menurut pembebanan yang cocok (sesuai dengan keadaan prestasi yang berlatih) yang telah diketahui secara umum dalam latihan tenaga perlu diberi tekanan sebaik-baiknya.

1)   Dari kebiasaan menjadi ketakbiasaan

Pada mulnya perlu didahulukan latihan tenaga yang biasa serta sederhana; ini tidak boleh menunjukkan tingkat kesulitan apa pun. Baru setelah beberapa waktu latihan dapat bersifat teknis terinci. Sekarang misalnya dipelajari teknik angkat dengan halter kepingan.

2)   Dari yang sedikit sampai yang banyak

Peningkatan sedikit demi sedikit secara lambat laun, dalam takaran latihan selanjutnya (ulangan dalam latihan dan seri) akhirnya memuncak sampai volume latihan yang besar lebih banyak ulangan dan lebih banyak seri

3)   Dari yang ringan sampai yang berat

Selanjutnya hanya boleh digunakan pembebanan yang ringan. Baru setalah latihannya dikuasai dan terjadi perbaikan dalam tenaga dasar pada yang berlatih pembebanan dapat di tingkatkan sampai ketinggian 70 persen yang dipersyaratkan bagi latihan tenaga.

4)   Dari penguatan umum sampai penguatan khusus

Terutama dalam usia anak sekolah dan remaja, penguatan tubuh secara umum dalam tahap pertama latihan tenaga sangat diperlukan. Itu karena mereka belum disiapkan untuk menghasilkan prestasi dan dapat menderita dan dapat menderita kerugian dalam sikap badan dan kemungkinan bergerak (tulang, otot, bungkus otot, serta uratnya). Maka itu mula-mula kelompok-kelompok otot besar dalam badan dikuatkan dulu, sebab ini merupakan dasar bagi gerak tubuh dan ini pun memerlukan penanganan secara sistematis

latihan bertenaga dengan menggunakan alat yaitu rompi atau jaket pemberat.

Cara latihannya

  1. Siswa melakukan pemanasan
  2. Setelah pemanasan, siswa melakukan pemanasan yang mendukung atau menyerupai gerakan lompat jauh
  3. Latihan inti atau khusus, siswa memakai rompi pemberat, selanjutnya siswa melakukan lompat pada lapangan lompat jauh atau bak pasir.

Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok

  1. Pengertian

Yang menjadi tujuan dari lompat jauh adalah mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya dengan memperhatikan atau memahami unsur atau teknik-teknik pokok pada lompat jauh. Adapun teknik-teknik atau unsur-unsur pokok dalam lompat jauh menurut pendapat Moh Gilang (2007:57) adalah :

  1. Teknik awalan atau ancang-ancang (Approach-Run)

Awalan atau ancang-ancang ialah gerakan permulaan dalam bentuk lari untuk mendapatkan kecepatan pada waktu akan melakukan tolakan (lompatan). Kecepatan yang di peroleh dari hasil awalan itu disebut dengan kecepatan horizontal, berguna untuk membantu kekuatan pada waktu melakukan tolakan ke atas-depan.

Guna awalan adalah untuk mendapatkan kecepatan yang setinggi-tingginya sebelum mencapai balok tolakan. Panjang awalan untuk melaksanakan awalan lompat jauh tidak kurang dari 45 meter. Untuk memperoleh hasil lompatan yang maksimal, setiap melakukan awalan harus dapat bertumpu pada balok.

Tumpuan yang tidak tepat pada balok lompat akan merugikan. Untuk menentukan jarak awalan sampai pada papan tolakan, dalam usaha upaya tepat melakukan tolakan pada papan tolakan sesuai dengan kaki yang di gunakan.

  1. Teknik tumpuan atau tolakan (Take-Off)

Tolakan ialah perubahan atau perpindahan geraka dari gerakan horizontal ke gerakan vertikal yang dilakukan secara cepat. Sebelumnya pelompat sudah mempersiapkan diri untuk melakukan gerakan sekuat-kuatnya pada langkah yang terahir sehingga seluruh tubuh terangkat ke atas melayang di udara.

  1. Teknik melayang di udara

Sikap badan melayang di udara, yaitu sikap setelah kaki tolak menolakkan kaki pada balok tumpuan, badan akan dapat terangkat melayang di udara, bersama dengan ayunan kedua lengan  ke depan atas. Tinggi dan jatuhnya hasil lompatan sangat tergantung dari besarnya kekuatan kaki tolak, dan pelompat harus meluruskan kaki tumpu selurus-lurusnya dan secepat-cepatnya.

Pada tahapan melayang di udara ada tiga teknik yang berbeda yang dapat digunakan bergantung pada penguasaan teknik pelompat.

  1. Teknik mendarat

Sikap mendarat pada lompat jauh, baik gaya jongkok, gaya menggantung, maupun gaya berjalan di udara adalah sama. Pada pada waktu akan mendarat kedua kaki di bawah ke depan lurus dengan jalan mengangkat paha ke atas, badan di bungkukkan ke depan, kedua tangan ke depan. Kemudian mendarat  pada kedua tumit terlebih dahulu dan mengeper, dengan kedua lutut dibengkokkan (ditekuk), berat badan ke depan supaya tidak jatuh ke belakang, kepala ditundukkan, kedua tangan ke depan.

Selanjutanya menurut AP Pandjaitan (1990:62) mengatakan        bahwa :

Suatu lompatan mempunyai hubungan atau pengaruh dengan lari kareana lari merupakan awalan bagi pelompat jauh dan harus memperhatikan. Awalan yang cepat dan tepat, tumpuan yang baik dan pendaratan yang menguntungkan. Baca selengkapnya…

Kategori:Uncategorized

Peraturan sepak bola

Peraturan resmi permainan sepak bola (Laws of the Game) adalah:

  • Peraturan 1: Lapangan sepak bola
  • Peraturan 2: Bola sepak bola
  • Peraturan 3: Jumlah Pemain
  • Peraturan 4: Peralatan Pemain
  • Peraturan 5: Wasit
  • Peraturan 6: Asisten wasit
  • Peraturan 7: Lama Permainan
  • Peraturan 8: Memulai dan Memulai Kembali Permainan
  • Peraturan 9: Bola Keluar dan di Dalam Lapangan
  • Peraturan 10: Cara Mendapatkan Angka
  • Peraturan 11: Offside
  • Peraturan 12: Pelanggaran
  • Peraturan 13: Tendangan bebas
  • Peraturan 14: Tendangan penalti
  • Peraturan 15: Lemparan dalam
  • Peraturan 16: Tendangan gawang
  • Peraturan 17: Tendangan

Selain peraturan-peraturan di atas, keputusan-keputusan Badan Asosiasi Sepak bola Internasional (IFAB) lainnya turut menambah peraturan dalam sepak bola. Peraturan-peraturan lengkapnya dapat ditemukan di situs web FIFA.

[sunting] Tujuan permainan

Dua tim yang masing-masing terdiri dari 11 orang bertarung untuk memasukkan sebuah bola bundar ke gawang lawan (“mencetak gol”). Tim yang mencetak lebih banyak gol adalah sang pemenang (biasanya dalam jangka waktu 90 menit, tetapi ada cara lainnya untuk menentukan pemenang jika hasilnya seri). akan diadakan pertambahan waktu 2x 15 menit dan apabila dalam pertambahan waktu hasilnya masih seri akan diadakan adu penalty yang setiap timnya akan diberikan lima kali kesempatan untuk menendang bola ke arah gawang dari titik penalty yang berada di dalam daerah kiper hingga hasilnya bisa ditentukan. Peraturan terpenting dalam mencapai tujuan ini adalah para pemain (kecuali penjaga gawang) tidak boleh menyentuh bola dengan tangan mereka selama masih dalam permainan.

[sunting] Taktik Permainan

Taktik yang biasa dipakai oleh klub-klub sepak bola adalah sebagai berikut:

  1. 4-4-2 (klasik: empat pemain belakang/skipper)
  2. 4-4-2 (dengan dua gelandang sayap)
  3. 4-4-1-1 2 pasang gelandang sayap,satu gelandang serang dan striker tunggal
  4. 4-2-4 2saayap
  5. 4-3-2-1memakai 3 pemain gelandang tengah,2 gelandang serang,dan striker tunggal
  6. 4-3-1-2
  7. 4-5-1
  8. 4-3-3
  9. 4-2-3-1
  10. 4-3-3
  11. 4-1-4-1
  12. 3-4-3
  13. 3-5-2 dengan libero/sweeper
  14. 3-5-2 tanpa libero/sweeper
  15. 3-6-1
  16. 5-4-1

Taktik yang dipakai oleh sebuah tim selalu berubah tergantung dari kondisi yang terjadi selama permainan berlangsung. Pada intinya ada tiga taktik yang digunakan yaitu; Bertahan, Menyerang, dan Normal.

[sunting] Ofisial

Sebuah pertandingan diperintah oleh seorang wasit yang mempunyai “wewenang penuh untuk menjalankan pertandingan sesuai Peraturan Permainan dalam suatu pertandingan yang telah diutuskan kepadanya” (Peraturan 5), dan keputusan-keputusan pertandingan yang dikeluarkannya dianggap sudah final. Sang wasit dibantu oleh dua orang asisten wasit (dulu dipanggil hakim/penjaga garis). Dalam banyak pertandingan wasit juga dibantu seorang ofisial keempat yang dapat menggantikan seorang ofisial lainnya jika diperlukan.selain itu juga mereka membutuhkan alat-alat untuk membantu jalannya petandingan seperti:

  1. papan pengganti pemain
  2. meja dan kursi

[sunting] Tim

  1. Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan: 11, salah satunya penjaga gawang
  2. Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 7
  3. Jumlah pemain cadangan maksimal: 13
  4. Jumlah wasit: 1
  5. Jumlah hakim garis: 2
  6. Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas

[sunting] Perlengkapan permainan

  1. Kaos bernomor (sejak tahun 1954)
  2. Celana pendek*
  3. Kaos kaki
  4. Pelindung lutut
  5. Alas kaki bersolkan karet
  • Penjaga gawang boleh memakai celana panjang

[sunting] Lapangan permainan dan bola

Ukuran lapangan standar

  • Lapangan permainan
  1. Ukuran: panjang 100-110 m x lebar 64-75 m
  2. Garis batas: garis selebar … cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; … m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
  3. Daerah penalti: busur berukuran … m dari setiap pos
  4. Garis penalti: … m dari titik tengah garis gawang
  5. Garis penalti kedua: … m dari titik tengah garis gawang
  6. Zona pergantian: daerah … m (… m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
  7. Gawang: tinggi 7 m x lebar 2,5 m
  8. Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif
  • Bola
  1. Ukuran: 68-70 cm
  2. Keliling: … cm
  3. Berat: 410-450 gram
  4. Lambungan: … cm pada pantulan pertama
  5. Bahan: karet atau karet sintetis (buatan)

[sunting] Lama permainan

  1. Lama normal: 2×45 menit
  2. Lama istiharat: 15 menit
  3. Lama perpanjangan waktu: 2×15 menit
  4. Ada adu penalti jika jumlah gol kedua tim seri saat perpanjangan waktu selesai
  5. Time-out: 1 per tim per babak; tak ada dalam waktu tambahan
  6. Waktu pergantian babak: maksimal 15 menit

[sunting] Perpanjangan waktu dan adu penalti

Kebanyakan pertandingan biasanya berakhir setelah kedua babak tersebut, dengan sebuah tim memenangkan pertandingan atau berakhir seri. Meskipun begitu, beberapa pertandingan, terutamanya yang memerlukan pemenang mengadakan babak tambahan yang disebut perpanjangan waktu kala pertandingan berakhir imbang: dua babak yang masing-masing sepanjang 15 menit dimainkan. Hingga belum lama ini, IFAB telah mencoba menggunakan beberapa bentuk dari sistem ‘sudden death’, namun mereka kini telah tidak digunakan.

Jika hasilnya masih imbang setelah perpanjangan waktu, beberapa kejuaraan mempergunakan adu penalti untuk menentukan sang pemenang. Ada juga kejuaraan lainnya yang mengharuskan pertandingan tersebut untuk diulangi.

Perlu diperhatikan bahwa gol yang dicetak sewaktu babak perpanjangan waktu ikut dihitung ke dalam hasil akhir, berbeda dari gol yang dihasilkan dari titik penalti yang hanya digunakan untuk menentukan pemenang pertandingan.

[sunting] Wasit sebagai pengukur waktu resmi

Wasit yang memimpin pertandingan sejumlah 1 orang dan dibantu 2 orang sebagai hakim garis. Kemudian dibantu wasit cadangan yang membantu apabila terjadi pergantian pemain dan mengumumkan tambahan waktu. Pada Piala Dunia 2006, digunakan ofisial ke-lima.

[sunting] Percobaan penggunaan gol emas dan gol perak

Lihat: Gol perak; Gol emas.

Pada akhir 1990-an, IFAB mencoba membuat pertandingan lebih mungkin berakhir tanpa memerlukan adu penalti, yang sering dianggap sebagai cara yang kurang tepat untuk mengakhiri pertandingan.

Contohnya adalah sistem gol perak yang mengakhiri pertandingan jika sebuah gol dicetak pada perpanjangan waktu pertama, dan gol emas yang mengakhiri pertandingan jika sebuah gol dicetak pada perpanjangan waktu kedua.

Kedua sistem ini telah dihentikan oleh IFAB.

[sunting] Kejuaraan internasional besar

Kejuaraan internasional terbesar di sepak bola ialah Piala Dunia yang diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Football Association. Piala Dunia diadakan setiap empat tahun sekali. Lebih dari 190 timnas bertanding di turnamen kualifikasi regional untuk sebuah tempat di babak final. Turnamen babak final yang berlangsung selama empat minggu kini melibatkan 32 timnas (naik dari 24 pada tahun 1998).

Kejuaraan internasional yang besar di setiap benua adalah:

Ajang tingkat klub terbesar di Eropa adalah Liga Champions, sementara di Amerika Selatan adalah Copa Libertadores. Di Asia, Liga Champions Asia adalah turnamen tingkat klub terbesar.

Sepak bola sudah dimainkan di Olimpiade sejak tahun 1900. (kecuali pada Olimpiade tahun 1932 di Los Angeles). Awalnya ini hanya untuk pemain-pemain amatir saja, namun sejak Olimpiade Los Angeles 1984 pemain profesional juga mulai ikut bermain, disertai peraturan yang mencegah negara-negara daripada memainkan tim terkuat mereka. Pada saat ini, turnamen Olimpiade untuk pria merupakan turnamen U-23 yang boleh ditamnbahi beberapa pemain di atas umur. Akibatnya, turnamen ini tidak mempunyai kepentingan internasional dan prestise yang sama dengan Piala Dunia, atau bahkan dengan Euro, Copa America atau Piala Afrika.

Sebaliknya, turnamen Olimpiade untuk wanita membawa prestise yang hampir sama seperti Piala Dunia Wanita FIFA; turnamen tersebut dimainkan oleh tim-tim internasional yang lengkap tanpa batasan umur.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Organisasi

[sunting] Jenis lainnya

[sunting] Elemen permainan

Bulu tangkis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk kegunaan lain dari Badminton, lihat Badminton (disambiguasi).

Ardy B. Wiranata, pemain bulu tangkis terkenal dari Indonesia

Bulu tangkis (sering disingkat bultang) atau badminton adalah suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang saling berlawanan.

Mirip dengan tenis, bulu tangkis bertujuan memukul bola permainan (“kok” atau “shuttlecock“) melewati jaring agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan dan berusaha mencegah lawan melakukan hal yang sama.

Daftar isi

[sembunyikan]

// <![CDATA[//

[sunting] Partai

Berkas:Bulu tangkis ukuran.jpg

Lapangan bulu tangkis

Ada lima partai yang biasa dimainkan dalam bulu tangkis, yaitu:

  1. Tunggal putra
  2. Tunggal putri
  3. Ganda putra
  4. Ganda putri
  5. Ganda campuran

[sunting] Lapangan dan jaring

Lapangan bulu tangkis berbentuk persegi panjang dan mempunyai ukuran seperti terlihat pada gambar. Garis-garis yang ada mempunyai ketebalan 40 mm dan harus berwarna kontras terhadap warna lapangan. Warna yang disarankan untuk garis adalah putih atau kuning. Permukaan lapangan disarankan terbuat dari kayu atau bahan sintetis yg lunak. Permukaan lapangan yang terbuat dari beton atau bahan sintetik yang keras sangat tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan cedera pada pemain. Jaring setinggi 1,55 m berada tepat di tengah lapangan. Jaring harus berwarna gelap kecuali bibir jaring yang mempunyai ketebalan 75 mm harus berwarna putih.

[sunting] Perlengkapan

  • Raket

Secara tradisional raket dibuat dari kayu. Kemudian aluminium atau logam ringan lainnya menjadi bahan yang dipilih. Kini, hampir semua raket bulu tangkis profesional berkomposisikan komposit serat karbon (plastik bertulang grafit). Serat karbon memiliki kekuatan hebat terhadap perbandingan berat, kaku, dan memberi perpindahan energi kinetik yang hebat. Namun, sejumlah model rendahan masih menggunakan baja atau aluminium untuk sebagian atau keseluruhan raket.

  • Senar

Mungkin salah satu dari bagian yang paling diperhatikan dalam bulu tangkis adalah senar nya. Jenis senar berbeda memiliki ciri-ciri tanggap berlainan. Keawetan secara umum bervariasi dengan kinerja. Kebanyakan senar berketebalan 21 ukuran dan diuntai dengan ketegangan 18 sampai 30+ lb. Kesukaan pribadi sang pemain memainkan peran yang kuat dalam seleksi senar.

  • Kok

Kok adalah bola yang digunakan dalam olahraga bulu tangkis, terbuat dari rangkaian bulu angsa yang disusun membentuk kerucut terbuka, dengan pangkal berbentuk setengah bola yang terbuat dari gabus. Dalam latihan atau pertandingan tidak resmi digunakan juga kok dari pelastik.

  • Sepatu

Karena percepatan sepanjang lapangan sangatlah penting, para pemain membutuhkan pegangan dengan lantai yang maksimal pada setiap saat. Sepatu bulu tangkis membutuhkan sol karet untuk cengkraman yang baik, dinding sisi yang bertulang agar tahan lama selama tarik-menarik, dan teknologi penyebaran goncangan untuk melompat; bulu tangkis mengakibatkan agak banyak stres (ketegangan) pada lutut dan pergelangan kaki.

[sunting] Memainkan bulu tangkis

Tiap pemain atau pasangan mengambil posisi berseberangan pada kedua sisi jaring di lapangan bulu tangkis.

Permainan dimulai dengan salah satu pemain melakukan servis.

Tujuan permainan adalah untuk memukul sebuah kok menggunakan raket, melewati jaring ke wilayah lawan, sampai lawan tidak dapat mengembalikannya kembali. Area permainan berbeda untuk partai tunggal dan ganda, seperti yang diperlihatkan pada gambar. Bila kok jatuh di luar area tersebut maka kok dikatakan “keluar”. Setiap kali pemain/pasangan tidak dapat mengembalikan kok (karena menyangkut di jaring atau keluar lapangan) maka lawannya akan memperoleh poin.

Permainan berakhir bila salah satu pemain/pasangan telah meraih sejumlah poin tertentu.

[sunting] Servis

Area servis

Servis dilakukan dari satu sisi lapangan (kiri atau kanan) menyilang menyeberangi jaring ke area lawan. Partai tunggal dan ganda memiliki area servis yang berbeda seperti yang diilustrasikan pada gambar. Bila kok jatuh di luar area tersebut maka kok dinyatakan “keluar” dan poin untuk penerima servis.

Posisi kiri atau kanan tempat servis dilakukan ditentukan dari jumlah poin yang telah dikumpulkan oleh pemain yang akan melakukan servis. Posisi kanan untuk jumlah poin genap dan posisi kiri untuk jumlah poin ganjil. Servis dari posisi kanan juga dilakukan saat jumlah poin masih nol.

Pada set pertama pemain/pasangan yang melakukan servis untuk pertam kali ditentukan dengan undian, sedangkan untuk set berikutnya dilakukan oleh pemenang dari set sebelumnya.

Untuk partai ganda, beberapa peraturan berbeda diterapkan untuk perhitungan poin menggunakan sistem pindah bola dan sistem reli poin:

[sunting] Sistem pindah bola

  • Sebelum pertandingan dimulai, harus ditentukan salah seorang pemain dari tiap-tiap pasangan sebagai “orang pertama”. Pilihan ini berlaku untuk setiap set yang dimainkan.
  • Jumlah poin genap atau ganjil menentukan posisi “orang pertama” saat melakukan servis.
  • Setiap pasangan mempunyai dua kali kesempatan servis (masing-masing untuk tiap pemain) sebelum pindah bola, kecuali servis pertama pada tiap-tiap awal set tidak mendapat kesempatan kedua.
  • Saat pindah bola, servis pertama selalu dilakukan oleh pemain yang berada di sebelah kanan, bukan oleh “orang pertama”.

[sunting] Sistem reli poin

  • Setiap pasangan hanya mendapat satu kali kesempatan servis, tidak ada servis kedua.
  • Servis dilakukan oleh pemain yang posisinya sesuai dengan poin yang telah diraih oleh pasangan tersebut.
  • Pemain yang sama akan terus melakukan servis sampai poin berikutnya diraih oleh lawan.

[sunting] Sistem perhitungan poin

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sistem perhitungan poin bulu tangkis

Sejak Mei 2006, pada kejuaraan resmi seluruh partai menggunakan sistem perhitungan 3×21 reli poin. Pemenang adalah pemain/pasangan yang telah memenangkan dua set.

[sunting] Sejarah

Permainan Battledore and Shuttlecock pada tahun 1854

Olah raga yang dimainkan dengan kok dan raket, kemungkinan berkembang di Mesir kuno sekitar 2000 tahun lalu tetapi juga disebut-sebut di India dan Republik Rakyat Cina.

Nenek moyang terdininya diperkirakan ialah sebuah permainan Tionghoa, Jianzi yang melibatkan penggunaan kok tetapi tanpa raket. Alih-alih, objeknya dimanipulasi dengan kaki. Objek/misi permainan ini adalah untuk menjaga kok agar tidak menyentuh tanah selama mungkin tanpa menggunakan tangan.

Di Inggris sejak zaman pertengahan permainan anak-anak yang disebut Battledores dan Shuttlecocks sangat populer. Anak-anak pada waktu itu biasanya akan memakai dayung/tongkat (Battledores) dan bersiasat bersama untuk menjaga kok tetap di udara dan mencegahnya dari menyentuh tanah. Ini cukup populer untuk menjadi nuansa harian di jalan-jalan London pada tahun 1854 ketika majalah Punch mempublikasikan kartun untuk ini.

Penduduk Inggris membawa permainan ini ke Jepang, Republik Rakyat Cina, dan Siam (sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Ini kemudian dengan segera menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat mereka.

Olah raga kompetitif bulu tangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India pada abad ke-19 saat mereka menambahkan jaring dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenali sebagai Poona pada masa itu.

Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an. Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul “Badminton Battledore – a new game” (“Battledore bulu tangkis – sebuah permainan baru”). Ini melukiskan permainan tersebut dimainkan di Gedung Badminton (Badminton House), estat Duke of Beaufort’s di Gloucestershire, Inggris.

Rencengan peraturan yang pertama ditulis oleh Klub Badminton Bath pada 1877. Asosiasi bulu tangkis Inggris dibentuk pada 1893 dan kejuaraan internasional pertamanya berunjuk-gigi pertama kali pada 1899 dengan Kejuaraan All England.

bulu tangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini, dan di negara-negara Skandinavia.

[sunting] Induk organisasi

International Badminton Federation (IBF) didirikan pada tahun 1934 dan membukukan Inggris, Irlandia, Skotlandia, Wales, Denmark, Belanda, Kanada, Selandia Baru, dan Prancis sebagai anggota-anggota pelopornya. India bergabung sebagai afiliat pada tahun 1936. Pada IBF Extraordinary General Meeting di Madrid, Spanyol, September 2006, usulan untuk mengubah nama International Badminton Federation menjadi Badminton World Federation (BWF) diterima dengan suara bulat oleh seluruh 206 delegasi yang hadir.

Olah raga ini menjadi olah raga Olimpiade Musim Panas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memperoleh masing-masing dua medali emas tahun itu.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar

Mau Sehat? Bulu Tangkis Saja
Kamis, 6 Mei 2010 | 18:06 WIB
Melalui bulu tangkis, Hendra Setiawan dan Markis Kido sudah meraup banyak uang.

JAKARTA, Kompas.com – Bulu tangkis masih menjadi tumpuan prestise Indonesia di ajang internasional. Buktinya, olahraga yang satu ini tak pernah lepas menjadi penjaga tradisi medali emas Olimpiade bagi Indonesia.

Tercatat sejak 1992, bulu tangkis berperan mengibarkan Merah Putih pada perhelatan multi event paling akbar sejagad itu.

Tapi rupanya bulu tangkis tak sekadar menjadi olahraga prestise dan prestasi. Bulu tangkis sudah menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Dan bukan rahasia lagi olahraga ini tetap menjadi olahraga kedua terpopuler setelah sepak bola.

Memang bulu tangkis tak hanya olahraga yang populer karena prestasinya cukup mendunia. Tapi juga karena olahraga ini cukup murah, hanya bermodal raket dan shuttlecock. Malah tak asing anak-anak hanya menggunakan triplek sebagai pengganti raket.

“Lapangannya juga tak harus di dalam ruangan jika bukan bertujuan prestasi. Bisa di lapangan terbuka, bahkan di jalanan yang sepi atau garasi,” ujar Michael Triangto, dokter PB PBSI, ditemui di Hall Bulu Tangkis Senayan, Kamis (6/5/10).

Malah beberapa pertandingan antarkampung (tarkam) masih menggelar pertandingan di luar gedung. Misalnya pada acara perayaan HUT RI atau acara-acara yang hanya mengejar kemeriahaan saja. Selain itu olahraga ini tak mengenal gender dan usia para pelaku. Bulu tangkis bisa dilakukan oleh pria dan wanita. Olahraga ini mengenal ganda campuran, bisa dimainkan secara bersama-sama.

“Sedikit berbeda dengan olahraga terpopuler di negeri ini, sepak bola. Ramai di kelompok putra tapi tidak di sektor wanita,” ujar Michael.

Bulu tangkis juga bisa dimainkan oleh pelaku di segala usia, dari anak-anak sampai dewasa. Untuk sekadar bermain-main dan cari keringat, bisa saja si dewasa melawan anak-anak. Nah, dari segi kesehatan, gerakan-gerakan bulu tangkis, memiliki gerakan yang komplet.

“Bulu tangkis memiliki dua aspek sekaligus, yakni sebagai olahraga aerob dan anaerob,” ujar Michael.

Aspek anaerobic pada bulu tangkis terbentuk saat pemain melakukan lari-lari monoton mengejar bola, atau mengayun-ayunkan raket tanpa lonjakan power.  Nah, aktivitas aerobic juga dimiliki bulu tangkis, misalnya saat melakukan smes. Malah ada nilai plus lain yakni koordinasi gerak di mana ada lari, melompat, dan melempar dalam waktu yang bersamaan.

Memang dengan adanya nilai plus tersebut, risikonya pun kian tinggi. Namun, Michael mengatakan pelaku tak perlu terlalu khawatir dengan cedera.

“Cedera bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Bukan hanya karena bulu tangkis saja. Makanya semua kegiatan tidak perlu dilakukan secara berlebihan,” tutur Michael. “Cedera bisa terjadi jika kita berlatih lebih dari angka 100 persen kebutuhan. Untuk menunjang kesehatan, tidak perlu terlalu ngotot,” tambah Michael.

Kemungkinan besar, menurut Michael, pilihan olahraga bulu tangkis untuk menjaga kesehatan, juga dipengaruhi oleh adanya figur yang bisa ditiru. Maklum, tak bisa dipungkiri jika faktor kedekatan itu tetap menjadi sebuah magnet aktivitas. Indonesia memiliki banyak bintang besar, dari juara Olimpiade, juara dunia, sampai mereka yang dijuluki maestro bulu tangkis.

Michael ingat benar di masa mudanya King smash milik Liem Swie King banyak ditiru oleh anak-anak sekolah. Begitu pula dengan gaya split Susi Susanti atau si bola karet Lius Pongoh. Gaya-gaya tersebut sangat popular meski mereka tak tampil dalam sebuah kejuaraan.

“Jika imbasnya bisa menunjang kesehatan, mereka mendapatkannya dengan fun,” tukas Michael. “Untuk anak-anak mereka juga tak akan bosan jika berlatih dengan senang,” imbuh dia.

Fung Permadi, Manager klub PB Djarum Kudus, malah menyarankan masyarakat memilih bulu tangkis sebagai aktivitas rutin.  “Minimal seminggu sekali bisa dilakukan. Semua anggota badan bisa bergerak dengan olahraga ini,” ujar Fung.

Meski demikian, pria yang pernah menjadi pelatih tunggal putra dan putri timnas Taiwan pada 2005-2006 itu berharap agar pelaku berhati-hati saat melakukannya. “Yang penting mereka mengetahui kemampuan diri, jangan sampai berlebihan. Karena jika tidak memahami kondisi diri sendiri bisa-bisa malah cedera,” tutur pria berusia 42 tahun itu.

Berbeda lagi dengan Hariyanto Arbi. Menurut pemain yang berjuluk smes 100 watt itu, bulu tangkis tak hanya saja bisa berguna untuk menjaga kesehatan tapi sudah dapat dijadikan profesi.

“Contoh saja Markis Kido dan Hendra Setiawan. Dengan bulu tangkis pendapatan mereka berapa dalam satu tahun?” ujar Hariyanto yang juga pemilik produk alat- alat bulu tangkis merek Flypower.

Sebagai gambaran, Kido/Hendra adalah peraih medali emas Olimpiade 2008, kini dikontrak flypower. Rumor yang berkembang mereka dikontrak senilai Rp 1 miliar setahun untuk masing-masing pemain. “Untuk menjaga kesehatan bagus, dan bisa juga sekaligus membuatnya sebagai sebuah profesi,” tukas Hariyanto.

Kategori:Uncategorized

Lapangan permainan

Ukuran lapangan bola voli yang umum adalah 9 meter x 18 meter. Ukuran tinggi net putra 2,43 meter dan untuk net putri 2,24 meter. Garis batas serang untuk pemain belakang berjarak 3 meter dari garis tengah (sejajar dengan jaring). Garis tepi lapangan adalah 5 cm.

[sunting] Cara permainan

Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu.

Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.

Permainan voli menuntut kemampuan otak yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Tosser harus memutuskan apa yang harus dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan. Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu.

Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.

Permainan voli menuntut kemampuan otak yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Tosser harus memutuskan apa yang harus dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan

[sunting] Sejarah

Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat).

William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William.

Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.

Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang.

Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).

[sunting] Urutan serve

[sunting] Penghitungan angka

Aturan permainan dari bola voli adalah:

  1. Jika pihak musuh bisa memasukkan bola ke dalam daerah kita maka kita kehilangan bola dan musuh mendapatkan nilai
  2. Serve yang kita lakukan harus bisa melewati net dan masuk ke daerah musuh. Jika tidak, maka musuh pun akan mendapat nilai

[sunting] Sistem Pertandingan

  • Sistem pertandingan menggunakan sistem setengah kompetisi yang terdiri dari 8 tim dan akan

disitribusikan ke dalam 2 (dua) group, masing-masing group terdiri dari 4 (empat) tim.

  • Setiap tim terdiri dari 10 pemain meliputi 6 pemain inti yang bermain di lapangan dan 4 pemain cadangan.
  • Pergantian pemain inti dan cadangan pada saat pertandingan berlangsung tidak dibatasi.
  • Pertandingan tidak akan ditunda apabila salah satu atau lebih dari satu anggota tim sedang bermain untuk cabang olahraga yang

lain.

  • Jumlah pemain minimum yang boleh bermain di lapangan adalah 4 orang.
  • Apabila di lapangan terdapat kurang dari 4 orang, maka tim yang bersangkutan akan dianggap kalah.
  • Setiap pertandingan berlangsung 3 babak (best of three), kecuali pada 2 babak sudah di pastikan pemenangnya maka babak ke tiga tidak perlu dilaksanakan.
  • Sistem hitungan yang digunakan adalah 25 rally point. Bila poin peserta seri (24-24) maka pertandingan akan ditambah 2 poin. Peserta yg pertama kali unggul dengan selisih 2 poin akan memenangi pertandingan.
  • Kemenangan dalam pertandingan penyisihan mendapat nilai 1. Apabila ada dua tim atau lebih mendapat nilai sama, maka penentuan juara group dan runner-up akan dilihat dari kualitas angka pada tiap-tiap set yang dimainkan.
  • Kesalahan meliputi:

o Pemain menyentuh net atau melewati garis batas tengah lapangan lawan. o Tidak boleh melempar ataupun menangkap bola. Bola volley harus di pantulkan tanpa mengenai dasar lapangan. o Bola yang dipantulkan keluar dari lapangan belum dihitung sebagai out sebelum menyentuh permukaan lapangan. o Pada sat servis bola yang melewati lapangan dihitung sebagai poin bagi lawan, begitu juga sebaliknya penerima servis lawan yang membuat bola keluar dihitung sebagai poin bagi lawan. o Seluruh pemain harus berada di dalam lapangan pada saat serve dilakukan. o Pemain melakukan spike di atas lapangan lawan. o Seluruh bagian tubuh legal untuk memantulkan bola kecuali dengan cara menendang. o Para pemain dan lawan mengenai net 2 kali pada saat memainkan bola dihitung sebagai double faults.

  • Setiap team diwajibkan bertukar sisi lapangan pada saat setiap babak berakir. Dan apabila dilakukan babak penetuan (set ke 3) maka tim yang memiliki nilai terendah boleh meminta bertukar lapangan sesaat setelah tim lawan mencapai angka 13.
  • Time out dilakukan hanya 1 kali dalam setiap babak dan berlangsung hanya 1 menit.
  • Diluar dari aturan yang tertera disini, peraturan permainan mengikuti peraturan international.
  • Sistem pertandingan menggunakan sistem setengah kompetisi yang terdiri dari 8 tim dan akan disitribusikan ke dalam 2 (dua) group, masing-masing group terdiri dari 4 (empat) tim.
  • Setiap tim terdiri dari 10 pemain meliputi 6 pemain inti yang bermain di lapangan dan 4 pemain cadangan.
  • Pergantian pemain inti dan cadangan pada saat pertandingan berlangsung tidak dibatasi.
  • Pertandingan tidak akan ditunda apabila salah satu atau lebih dari satu anggota tim sedang bermain untuk cabang olahraga yang lain.
  • Jumlah pemain minimum yang boleh bermain di lapangan adalah 4 orang.
  • Apabila di lapangan terdapat kurang dari 4 orang, maka tim yang bersangkutan akan dianggap kalah.
  • Setiap pertandingan berlangsung 3 babak (best of three), kecuali pada 2 babak sudah di pastikan pemenangnya maka babak ke tiga tidak perlu dilaksanakan.
  • Sistem hitungan yang digunakan adalah 25 rally point. Bila poin peserta seri (24-24) maka pertandingan akan ditambah 2 poin. Peserta yg pertama kali unggul dengan selisih 2 poin akan memenangi pertandingan.
  • Kemenangan dalam pertandingan penyisihan mendapat nilai 1. Apabila ada dua tim atau lebih mendapat nilai sama, maka penentuan juara group dan runner-up akan dilihat dari kualitas angka pada tiap-tiap set yang dimainkan.
  • Kesalahan meliputi:

o Pemain menyentuh net atau melewati garis batas tengah lapangan lawan. o Tidak boleh melempar ataupun menangkap bola. Bola volley harus di pantulkan tanpa mengenai dasar lapangan. o Bola yang dipantulkan keluar dari lapangan belum dihitung sebagai out sebelum menyentuh permukaan lapangan. o Pada sat servis bola yang melewati lapangan dihitung sebagai poin bagi lawan, begitu juga sebaliknya penerima servis lawan yang membuat bola keluar dihitung sebagai poin bagi lawan. o Seluruh pemain harus berada di dalam lapangan pada saat serve dilakukan. o Pemain melakukan spike di atas lapangan lawan. o Seluruh bagian tubuh legal untuk memantulkan bola kecuali dengan cara menendang. o Para pemain dan lawan mengenai net 2 kali pada saat memainkan bola dihitung sebagai double faults.

  • Setiap team diwajibkan bertukar sisi lapangan pada saat setiap babak berakir. Dan apabila dilakukan babak penetuan (set ke 3) maka tim yang memiliki nilai terendah boleh meminta bertukar lapangan sesaat setelah tim lawan mencapai angka 13.
  • Time out dilakukan hanya 1 kali dalam setiap babak dan berlangsung hanya 1 menit.
  • Diluar dari aturan yang tertera disini, peraturan permainan mengikuti peraturan international.

[sunting] Teknik Bola Voli

[sunting] Service

Service ada beberapa macam:

  • Service atas adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
  • Service bawah adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
  • Service mengapung adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. Awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.

Yang perlu diperhatikan dalam service

  • Sikap badan dan pandangan
  • Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan.
  • Saat kapan harus memukul Bola.

Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli

[sunting] Passing

  • Passing Bawah (Pukulan/pengambilan tangan kebawah)
    • Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
    • tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
    • Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
  • Passing Keatas (Pukulan/pengambilan tangan keatas)
    • Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
    • Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
    • Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
    • Penyentuhan pada semua jari-jari dan gerakannya meluruskan kedua tangan

[sunting] Smash (spike)

Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut pendapat M. Mariyanto mengemukakan bahwa : “ Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola secara penuh pada bagian atas , sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net , maka bola dapat dipukul tajam ke bawah .” (2006 : 128 ) Menurut Iwan Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) . Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli . Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk mengukur kemampuan smash.

[sunting] Membendung (blocking)

Dengan daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:

  • Jongkok, bersiap untuk melompat.
  • Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas.
  • Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian memblok.

[sunting] Kedudukan pemain (posisi pemain)

Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero

Olympic flag.svg Artikel bertopik olahraga ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
Kategori:Uncategorized

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN DUMBLLE PRESS DAN LATIHAN PUSH-UP WITH CLAP TERHADAP POWER OTOT LENGAN

Oleh:

ARGUBI SILWAN

POR A2

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

PROGRAM PENDIDIKAN OLAHRAGA

PASCA SARJANA


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjukNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Perbedaan Pengaruh Latihan Dumblle Press Dan Latihan Push-up With Clap Terhadap Power Otot Lengan ”.

Semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi para pembaca terutama pelatih karena di dalam makalah ini terdapat pemecahan-pemecahan terutama terhadap power otot lengan dan bentuk latihan yang cocok untuk tenis lapangan.

Dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pada penyususnan makalah ini, yaitu kepada rekan-rekan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan saya mohon maaf apabila masih banyak kekurangan.

Semarang,      Agustus 2009

Argubi Silwan


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Tenis salah satu cabang olahraga yang dimainkan oleh semua orang baik laki- laki maupun perempuan dari segala tingkatan usia. Bahkan juga dapat dilakukan penyandang cacat dengan tenis khusus bagi mereka. Oleh karena itu tenis cukup mempunyai banyak penggemar dan menggelutinya. Dalam permainan tenis dituntut banyak keterampilan dan kemampuan fisik, teknik, taktik dan fisik merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. Oleh karena pelatih dituntut untuk membina serta melatih para atlet sehingga menghasilkan atlet- atlet yang memiliki potensi serta berprestasi.

Kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi seorang atlit. Kondisi fisik adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen- komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik peningkatannya maupun pemeliharaannya. Dalam tenis terdapat beberapa teknik dasar yang harus dikuasai oleh setiap pemain dengan baik, karena itu penguasaan teknik dasar dalam tenis sudah sejak dini harus mendapat perhatian yang serius dalam usaha pengembangan dan peningkatan permainan. Teknik- teknik dasar dalam pukulan tenis meliputi serve (service), forehand, backhand.

Olahraga tenis adalah suatu permainan yang menggunakan lengan untuk mengayunkan raket. Keterampilan dan keahlian diperlukan dalam permainan ini, yang dimainkan secara tunggal (satu lawan satu) dan ganda (dua lawan dua). Dan olahraga tenis merupakan olahraga yang kompleks, dimana olahraga ini menggunakan hampir seluruh komponen fisik. Selain komponen fisik olahraga ini juga disertai latihan teknik. Didalam kondisi fisik power sangat diperlukan dalam permainan tenis karena apabila seorang petenis mempunyai power yang baik maka pemain tersebut diduga akan dapat mendapat poin yang bagus maka dari itu harus memiliki power yang baik.

Apabila kita analisis sebuah pertandingan sering kita lihat pemain tidak mampu mengembalikan bola atau sering tersangkut di net dari permasalahan inilah diduga lengannya tidak memliki power yang bagus sedangkan tujuan dari permainan ini adalah mengumpulkan point melalui serangkaian pukulan- pukulan yang membuat lawan tidak mampu mengembalikan bola dengan baik, atau memaksa lawan kehilangan point.

Power sangat diperlukan dalam permainan tenis, walaupun teknik dan taktik sudah mencukupi namun masih kurang dalam faktor kondisi fisik, maka petenis akan mempunyai kurang banyak peluang untuk mendapatkan point”.

Penulis berpedoman dengan kategori kemampuan Sistem Monitoring Evaluasi dan Pelaporan (SMEP) KONI sebagai berikut :

Komponen Tes Pengukuran Kategori
Kurang Cukup Baik Baik Sekali Sempurna
Power otot lengan Medicine Ball Put 2,63- 3,67 3,68- 4,52 4,53- 5,37 5,88- 6,22 > 6,23

Atas dasar tersebut penulis tertarik dan terdorong ingin melakukan penelitian terfokus pada power otot lengan pada atlet. Pada penelitian ini penulis akan menerapkan bentuk latihan yang dapat meningkatkan power otot lengan, diantaranya adalah latihan dumblle press dan latihan push-up with clap karena ingin mengetahui apakah latihan ini dapat meningkatkan power otot lengan.

Berdasarkan penjelasan di atas isu utama dalam penelitian ini adalah perbedaan pengaruh latihan dumblle press dan latihan push-up with clap untuk meningkatkan power otot lengan.

  1. B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan penjelasan dalam permasalahan yang dikemukakan di atas yaitu :

  1. Untuk mengetahui pengaruh latihan dumblle press terhadap power otot lengan.
  2. Untuk mengetahui pengaruh latihan push-up with clap terhadap power otot lengan.
  3. Untuk mengetahui pengaruh yang lebih besar antara latihan dumblle press dengan latihan push-up with clap terhadap power otot lengan.
  1. C. Manfaat Penelitian

Dari penelitian yang dilakukan akan memberikan manfaat pada pengembangan ilmu pengetahuan di bidang olahraga. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat :

  1. Memberikan informasi dan menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti dalam mengembangkan ilmu kepelatihan yang telah diperoleh selama perkuliahan.
  2. Menjadi bahan informasi bagi para pembina, pelatih, agar dapat menerapkan latihan dumblle press dengan latihan  push-up with clap untuk meningkatkan power otot lengan atletnya.
  3. Menjadi masukan bagi para ilmuwan olahraga dalam upaya peningkatan prestasi tenis.
  4. Menjadi sumbangan pengetahuan bagi atlet tenis dimana untuk meningkatkan power otot lengan dapat dilakukan dengan latihan dumblle press dengan latihan  push-up with clap.
  5. Dijadikan sebagai salah satu bahan acuan untuk kegiatan penelitian selanjutnya dengan ruang lingkup yang lebih luas.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

  1. A. Kajian Teoritis
  2. 1. Hakikat Power Otot Lengan

Power atau disebut juga daya ledak merupakan salah satu komponen fisik yang harus dimiliki seorang atlet. Menurut Sajoto (1988 : 55) daya ledak atau power adalah “kemampuan melakukan gerakan eksplosif”. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa, daya ledak atau power = kekuatan atau force X kecepatan atau velocity (P = F x T) seperti dalam tolak peluru, lompat tinggi dan gerakan lainnya yang bersifat eksplosive. Sajoto (1995 : 9)“power adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek- pendeknya”

Ismaryati (2006 : 59) “power menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif seta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dan secepat- cepatnya”. Hampir senada dengan Witarsa (2002 : 17) berpendapat bahwa; “power atau daya ledak adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang cepat, oleh karena itu power adalah tingkat kondisi fisik yang lebih tinggi dari pada kekuatan. Power merupakan kombinasi antara kekuatan dan kecepatan.

Power otot atau muscular power menurut Sajoto (1988 : 58) adalah; “kemampuan seseorang untuk melakukan kekuatan maksimum, dengan usaha yang dikerahkan sependek- pendeknya”.

Jadi power otot lengan adalah kemampuan otot- otot di daerah lengan untuk mengerahkan kekuatan maksimum dalam waktu yang sangat cepat dan maksimal.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa power otot lengan besar peranannya dalam penerapan teknik di dalam permainan tenis, karena dengan adanya power otot lengan tersebut petenis akan lebih merasa yakin akan dapat menghasilkan point dan bisa mengalahkan lawannya dan memenangi pertandingan.

  1. 2. Hakikat Latihan

Latihan sangat penting dilakukan dalam membantu peningkatan kemampuan melakukan aktifitas olahraga. Untuk memungkinkan peningkatan prestasi, latihan haruslah berpedoman teori- teori serta prinsip- prinsip latihan tertentu. Tanpa melakukan latihan yang rutin maka mustahil atlet akan memperoleh prestasi yang diharapkan.

Menurut Bompa (1994 : 167) “latihan adalah suatu aktifitas olahraga yang dilakukan secara sistematis dalam watu yang lama ditingkatkan secara progresif dan individual mengarah kepada ciri- ciri fungsi fisiologis dan psikologis untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan”.

Latihan  mempunyai batasan- batasan tertentu, oleh karena itu perlu kita pahami dulu apa batasan latihan itu. Secara sedehana batasan latihan menurut Harsono (1982 : 101) “latihan adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang- ulang dengan hari kian menambah jumlah beban latihan”.

Witarsa (2002 : 1) mengungkapkan beberapa komponen latihan kondisi fisik seperti; 1, Kecepatan (speed). 2. Daya Tahan (endurance). 3. Kekuatan (strenght). 4. Kelentukan (flexibility). 5. Kekuatan dan Kecepatan (power). 6. Daya tahan dan kecepatan (stamina). 7. Kelincahan (agility).

Meskipun latihan dilakukan secara berulang- ulang, sistematis dan kian hari kian ditambah bebannya, tetapi disamping itu prinsip latihan juga penting menjadi pedoman bagi siapapun yang ingin meningkatkan prestasi olahraganya.

Latihan pada prinsipnya adalah memberikan tekanan fisik pada tubuh secara teratur dan sistematik, berkesinambungan sehingga akan menambah kemampuan atlet yang akhirnya akan meningkatkan kemampuan atlet. Dan untuk melaksanakan suatu latihan diperlukan metode latihan yang dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan latihan merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dan sistematis untuk mempersiapkan atlet baik dari kondisi fisik maupun teknik untuk menghadapi tekanan dalam pertandingan.

Hakikat Latihan Dumblle Press

Dumblle Press merupakan salah satu latihan beban yang menggunakan berat dumblle. Latihan ini bertujuan untuk melatih otot- otot lengan.

Otot lengan yang dilatih memakai metode latihan beban. Diantaranya metode latihan beban adalah latihan dumblle.

Otot yang terlatih dengan latihan dumblle press :

-          Deltoid, middle, dan anterior

-          Trisep

-          Petrocalis mayor

-          Upper trapezius

Sajoto (1988 : 128) mengemukakan cara pelaksanaan latihan dumblle press adalah :

“latihan ini dapat dilakukan dengan posisi berdiri atau duduk, lakukan gerakan angkat dumblle yang dipegang dengan posisi telapak tangan kedepan secara bergantian”.

Untuk lebih jelas latihan dumblle press dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Seperti yang telah dijelaskan bahwa apabila petenis ingin teknik pukulannya tidak bisa dikembalikan lawan dan mendapatkan point, maka power dari otot lengan si petenis harus baik. Karena apabila petenis memiliki power otot lengan yang baik akan mudah mendapatkan point dari lawannya dalam pertandingan.

Untuk itu peneliti mencoba untuk menerapkan latihan dumblle press dalam upaya peningkatan power otot lengan petenis tersebut. Dari bentuk latihan ini diharapkan dapat meningkatkan power otot lengan petenis.

Hakikat Latihan Push-Up With Clap

Push-up with clap juga merupakan salah satu latihan untuk meningkatkan power otot- otot lengan

Chu (1996 : 88) mengemukakan cara pelaksanaan latihan  push-up with clap adalah :

“latihan ini dilakukan dengan posisi psh-up (telungkup), lengan dipanjangkan, tangan bertepuk pada waktu berada di atas, dan kembali pada posisi awal”

Untuk lebih jelas latihan push-up with clap dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Seperti yang telah dijelaskan bahwa apabila petenis ingin teknik pukulannya tidak bisa dikembalikan lawan dan mendapatkan point, maka power dari otot lengan petenis harus baik. Karena apabila petenis memiliki power otot lengan yang baik akan mudah mendapatkan point dari lawannya dalam pertandingan.

Untuk itu peneliti mencoba untuk menerapkan latihan push-up with clap dalam upaya peningkatan power otot lengan petenis tersebut. Dari bentuk latihan ini diharapkan dapat meningkatkan power otot lengan petenis.

  1. B. Pembahasan

Berdasarkan dari teori- teori yang telah dikemukakan pada kerangka teotitis, tampak jelas bahwa untuk meningkatkan power otot lengan yang baik yang hasilnya akan berpengaruh pada keberhasilan teknik petenis. Dan dengan power otot lengan petenis akan dapat memperoleh point dari lawannya apalagi tenis merupakan olahraga yang sepenuhnya memakai lengan. Dengan demikian apabila otot lengan petenis mempunyai power akan bisa memperoleh point dari lawannya.

Latihan dumblle press, diharapkan berpengaruh terhadap power otot lengan karena bentuk latihan ini dapat meningkatkan power otot lengan yang sanga dibutuhkan oleh petenis dalam menerapkan teknik pukulan yang diharapkannya dan mendapatkan point.

Latihan push-up with clap, diharapkan berpengaruh terhadap power otot lengan karena bentuk latihan ini dapat meningkatkan power otot lengan yang sanga dibutuhkan oleh petenis dalam menerapkan atau mengeluarkan teknik pukulan yang diharapkan untuk mendapatkan point .

Latihan dumblle press dan push-up with clap, diharapkan berpengaruh terhadap power otot lengan karena bentuk latihan ini dapat meningkatkan power otot lengan yang sangat dibutuhkan oleh petenis dalam menerapkan teknik pukulan yang diharapkannya dan mendapatkan point.

Dengan demikian kedua bentuk latihan yang diberikan ini nantinya akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap power otot lengan atlet tenis, sebab kedua bentuk latihan ini merupakan bentuk latihan yang langsung melatih dari pada otot- otot yang terdapat pada lengan apalagi olahraga tenis menggunakan otot lengan dan dapat menyempurnakan teknik pukulan pada cabang olahraga tenis.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

  1. Bahwa latihan dumblle press dapat untuk meningkatkan power otot lengan pada permainan tenis lapangan
  2. Bahwa latihan push-up with clap dapat untuk meningkatkan power otot lengan pada permianan tenis lapangan
    1. Power otot lengan sangat diperlukan pada permainan tenis

  1. B. Saran
  2. Kepada para pelatih agar memperhatikan bentuk latihan yang sesuai terhadap peningkatan prestasi
  3. Kepada para pelatih agar dapat memanfaatkan bentuk latihan yang ada dalam makalah ini dalam proses melpatih
  4. Agar lebih memperhatikan sasaran dan tujuan latihan

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian_Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta, Rineka Cipta.

Bompa, O. Tudor. (1983). Theory and Methodology of Training. Dubuque, Iowa, Kendall/Hunt Publishing Company.

Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta, CV. Tambak Kusuma.

Kent, Michael. (1994). The Oxford Dictionary of Sport Science and Medicine. Oxford, Oxford University Press.

Nurhasan. (2001). Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani, Gramedia Jakarta ; Bandung

Quinn E.2007.Plyometric Exercises http://sportsmedicine.about.com/cs/conditioning/

a/aa062701a.html.

Radcliffe C.J and R.C. Farentines. (1985). Plyometrics Explosive Power Training. 2nd ed. Champaign, Illinois, Human Kinetics Publishers, Inc.

……………………………………….. (1994). Plyometrics Explosive Power Training. Alih Bahasa. Engkos Kosasih. Jakarta.

Sajoto M. (1988). Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta,  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Siagian, Der Gibson. (2006). Metode Statistika Untuk Bisnis Dan Ekonomi. Jakarta, Gramedia Pustaka.

Sudjana. (1992). Metode Statistika. Bandung, Tarsito.

Suharno. (1992). Rencana Program Latihan. Jakarta, Direktorat Keolahragaan Ditjen Diklusepora Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Syaifuddin. (1996). Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta, EGC

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1996). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta, Balai Pustaka.

Witarsa, Wita. (2002). Latihan Kondisi Fisik. Penataran Wasit dan Latihan Panahan Sejawa Barat. Bandung.

Yunus. M.  (1992). Olahraga Pilihan Bola Voli, Departemen P dan K Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Pendidik, FPOK Medan

Zumerchik, John. (1997). Encyclopedia of Sport Science. Volume 2. New York, Macmillan Inc.

Kategori:Uncategorized

PERBANDINGAN PENGARUH FREKUENSI LATIHAN SENAM KESEGARAN
JASMANI USIA SEKOLAH DASAR ANTARA TIGA KALI DENGAN
EMPAT KALI DALAM SATU MINGGU TERHADAP TINGKAT
KESEGARAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS VI
SD NEGERI GUNUNGPATI 4 DAN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
S K R I P S I
Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata I
untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Disusun oleh :
Nama : MUSLICHATUN
NIM : 6301903021
Jurusan : PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
Fakultas : ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
SARI
Muslichatun (2005) : “Perbandingan Pengaruh Frekuensi Latihan Kesegaran Jasmani Usia
Sekolah Dasar Antara Tiga Kali dan Empat Kali Dalam Satu Minggu Terhadap Tingkat
Kesegaran Jasmani Siswa Putri Kelas VI SD Negeri Gunungpati 4 dan Nongkosawit Tahun
Ajaran 2004/2005. Skripsi UNNES.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui atau membuktikan pada program
latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar manakah yang lebih efektif antara frekuensi
tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani. Populasi dalam
penelitian ini adalah siswa putri kelas VI SD Negeri Gunungpati 4 dan Nongkosawit Tahun
Ajaran 2004/2005 sebanyak 40 siswa terdiri 28 siswa SD Negeri Gunungpati 4 dan 12 siswa SD
Negeri Nongkosawit. Teknik sampling yang digunakan adalah Total Sampling yaitu seluruh
populasi digunakan atau dipakai. Untuk analisis data menggunakan metode statistik dengan pola
M-S (Matching by Subject Design) dengan rumus t-test.
Untuk mengetahui kondisi awal sampel diadakan tes pendahuluan dengan instrumen tes
kesegaran jasmani untuk anak umur 10-12 tahun, yaitu untuk mengetahui tingkat kesegaran
jasmani dari siswa putri tersebut. Dari hasil ini sampel dibagi menjadi dua kelompok eksperimen
dengan perlakuan senam kesegaran jasmani usia SD menggunakan frekuensi empat kali dalam
satu minggu dan kelompok kontrol dengan perlakuan senam kesegaran jasmani usia sekolah
dasar menggunakan frekuensi tiga kali dalam satu minggu. Setelah mendapat perlakuan selama 5
minggu kemudian diadakan tes akhir dengan instrumen tes yang sama. Dari hasil ini kemudian
diolah dengan analisis statistik t-tes dengan rumus pendek.
Berdasarkan analisis data diperoleh nilai t sebesar 2,308. kemudian dikonsultasikan dengan
t-tabel dengan derajat kebebasan N-1 = 19 dan dalam taraf signifikansi 5% diperoleh nilai
sebesar 2,093. Jadi t-hitung lebih besar dari t-tabel yaitu 2,308 > 2,093. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada perbedaan yang berarti antara latihan senam kesegaran jasmani usia
sekolah dasar menggunakan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu.
Karena ada perbedaan yang berarti, maka dapat diketahui program latihan mana yang lebih
efektif, dengan cara uji perbandingan mean dari kedua kelompok tersebut. Dari hasil perhitungan
diperoleh mean kelompok eksperimen I sebesar 15,1 lebih besar dari mean kelompok
eksperimen II sebesar 14,2. Ini berarti bahwa pengaruh latihan senam kesegaran jasmani usia
sekolah dasar yang melaksanakan dengan frekuensi empat kali dalam satu minggu lebih baik jika
dibandingkan dengan pengaruh latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang
dilaksanakan tiga kali dalam satu minggu.
Dari hasil penelitian ini maka disarankan untuk para guru pendidikan jasmani SD Negeri
Gunungpati 4 dan SD Negeri Nongkosawit Kecamatan Gunungpati dapat menggunakan latihan
senam kesegaran jasmani usia sekolah dengan frekuensi empat kali dalam satu minggu untuk
meningkatkan kesegaran jasmani siswanya.
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Semarang, 2005
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Margono, M.Kes Kumbul Slamet Budiyanto, S.Pd,
M.Kes
NIP. 131 571 553 NIP. 132 205 932
Mengetahui :
Ketua Jurusan PKLO – FIK
Universitas Negeri Semarang
Drs. Wahadi, M.Pd
NIP. 131 571 551
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berhijrah dan berjuang di
jalan Allah, mereka itu mengharap rahmat Allah, Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”.
(QS. Al-Baqoroh 218)
Kupersembahkan Kepada :
Orangtuaku almarhum M. Zazuli / Sutimah, Suamiku Rosianto,
Anakku Avikasari dan Adhi serta teman-temanku seperjuangan
S1 Transfer PKLO-Fik UNNES 2004/ 2005 serta pembimbingpembimbing
saya yang memberikan saran dan arahan dalam
penulisan skripsi ini.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Keberhasilan skripsi ini tentunya atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, sehingga
pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan studi di FIK
UNNES Semarang.
2. Dekan FIK UNNES, yang menyetujui ijin penelitian.
3. Ketua Jurusan PKLO FIK UNNES, yang telah memberikan pengarahan dan dorongan dalam
penelitian ini.
4. Drs. Margono, M.Kes, selaku Pembimbing I dan Kumbul Slamet Budianto, S.Pd, M.Kes
selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta arahan sehingga terselesaikan
skripsi ini.
5. Sriyati, S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Negeri Gunungpati 04 yang telah memberikan ijin
penelitian ini.
6. Drs. Suyanto selaku Kepala Sekolah SD Negeri Nongkosawit yang telah memberikan ijin
penelitian ini.
7. Guru Penjaskes SD Negeri Gunungpati 04 dan SD Negeri Nongkosawit yang telah
membantu penelitian ini.
8. Para siswa putri kelas VI SD Negeri Gunungpati 04 dan SD Negeri Nongkosawit Tahun
Ajaran 2004/2005, selaku sampel telah membantu dengan sepenuh hati dalam penelitian ini.
9. Dosen FIK UNNES yang telah mendorong dan membantu penelitian.
10. Rekan-rekan mahasiswa yang telah dengan sukarela membantu penelitian ini.
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu dalam penulisan ini, yang telah
membantu secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga budi baik Bapak dan Ibu, serta rekan-rekan yang telah diberikan kepada penulis,
mendapat imbalan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Akhirnya penulis berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan
pedoman bagi pembuat skripsi selanjutnya.
Semarang, Maret 2005
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………….. i
SARI ……………………………………………………………………………………. ii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………… iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN …………………………………………. iv
KATA PENGANTAR …………………………………………………………… v
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………… vii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………… ix
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………… x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul …………………………………….. 1
1.2 Permasalahan ………………………………………………….. 5
1.3 Penegasan Istilah ……………………………………………… 6
1.4 Tujuan Penelitian ……………………………………………. 8
1.5 Manfaat Penelitian …………………………………………… 8
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori ………………………………………………… 9
2.1.1 Pengertian Kesegaran Jasmani………………………….. 9
2.1.2 Komponen-komponen Kesegaran Jasmani ………… 10
2.1.3 Fungsi Kesegaran Jasmani ………………………………. 15
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesegaran
Jasmani………………………………………………………….. 16
2.1.5 Tes Kesegaran Jasmani ……………………………………. 19
2.1.6 Kesegar Jasmani dan Kesehatan dalam Latihan ….. 20
2.1.7 Karakteristik Perkembangan Motorik Anak Usia SD 23
2.1.8 Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar …. 26
2.2 Hipotesis ………………………………………………………….. 27
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Obyek Penelitian …………………… 28
3.1.1 Penentuan Populasi ……………………………………….. 28
3.1.2 Penentuan Sampel dan Teknik Sampling …………… 29
3.1.3 Variabel Penelitian………………………………………….. 30
3.2 Variabel-variabel yang Dikendalaikan …………………. 30
3.3 Metode Pengumpulan Data ………………………………… 32
3.3.1 Prosedur Pengambilan Data …………………………….. 33
3.3.2 Instrumen Penelitian ………………………………………. 34
3.4. Metode Analisis Data ……………………………………….. 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian ………………………………………………. 46
4.2. Pembahasan ……………………………………………………. 48
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ………………………………………………………… 50
5.2 Saran-saran ……………………………………………………… 50
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 51
LAMPIRAN-LAMPIRAN ……………………………………………………. 53
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1. Persiapan Perhitungan Statistik dengan Pola M-S………………….. 44
2. Daftar Nama Populasi Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04
dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ………………… 53
3. Hasil Penelitian Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 …………………….. 54
4. Penilaian Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12 Tahun
pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan SDN
Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………………………….. 56
5. Penilaian Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12
Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan
SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………………….. 58
6. Rangking Hasil Penilaian Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani
Untuk Anak Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI
SDN Gunungpati 04 dan Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 60
7. Matching Hasil Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani Untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 …………….. 62
8. Hasil Penelitian Tes Akhir Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 …………….. 63
9. Hasil Penilaian Kelompok Eksperimen I dan Eksperimen II
Akhir Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12 Tahun
pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan SDN
Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………………………….. 65
10. Perhitungan Pola Statistik dengan Perhitungan M-S Terhadap
Hasil Tes Akhir ………………………………………………………………… 66
11. Tabel-tabel Nilai-nilai t Batas Signifikansi Nilai t pada Pelbagai
Taraf Signifikansi ……………………………………………………………… 67
12. Program Latihan Selama Penelitian …………………………………….. 68
13. Petunjuk Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12 Tahun
(Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi Jakarta 1995) ………….. 70
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Daftar Nama Populasi Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04
dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ………………… 53
2. Hasil Penelitian Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 …………………….. 54
3. Penilaian Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12 Tahun
pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan SDN
Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………………………….. 56
4. Penilaian Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12
Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan
SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………………….. 58
5. Rangking Hasil Penilaian Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani
Untuk Anak Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI
SDN Gunungpati 04 dan Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 60
6. Matching Hasil Tes Awal Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 …………….. 62
7. Hasil Penelitian Tes Akhir Tes Kesegaran Jasmani Untuk Anak
Umur 10-12 Tahun pada Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati
04 dan SDN Nongkosawit Tahun Ajaran 2004/2005 ……………. 63
8. Hasil Penilaian Kelompok Eksperimen I dan Eksperimen II
Tes Kesegaran Jasmani Untuk Anak Umur 10-12 Tahun pada
Siswa Putri Kelas VI SDN Gunungpati 04 dan SDN Nongkosawit
Tahun Ajaran 2004/2005 …………………………………………………… 65
9. Perhitungan Pola Statistik dengan Perhitungan M-S Terhadap
Hasil Tes Akhir ………………………………………………………………… 66
10. Tabel Nilai-nilai t Batas Signifikansi Nilai t pada Pelbagai Taraf
Signifikansi ……………………………………………………………………… 67
11. Program Latihan Selama Penelitian …………………………………….. 68
12. Petunjuk Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Umur 10-12 Tahun
(Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi Jakarta 1995) ………….. 70
13. Rangkaian Gerakan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk
Anak Umur 10-12 Tahun (Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi
Jakarta 1995) ……………………………………………………………………. 73
14. Surat Usul Penetapan Pembimbing ……………………………………… 77
15. Surat Permohonan Ijin Penelitian Pendidikan dari UNNES …… 79
14. Surat Izin Penelitian Pendidikan dari SD Negeri Gunungpati 04 80
15. Surat Izin Penelitian Pendidikan dari SD Negeri Nongkosawit 81
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul
Pengembangan sumber daya manusia pada umumnya diarahkan untuk menjadikan manusia
Indonesia yang tangguh, terampil, cakap, bersemangat dan produktif, sehingga mempunyai
kemampuan dalam melaksanakan berbagai kegiatan dalam masyarakat. Sementara itu, dari sisi
lain pengembangan sumber daya manusia sangat berhubungan erat dengan peningkatan taraf
hidup manusia itu sendiri.
Seiring dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, setiap
negara termasuk Bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan dan memelihara
kesegaran jasmani warga negaranya, terlebih bagi negara yang maju, dimana manusianya dapat
dikatakan sudah sangat berkurang dalam gerak jasmaninya, sehingga tidak jarang menimbulkan
gangguan-gangguan seperti metabolisme sel-sel, sistem otot, tulang, jantung dengan pembuluh
darahnya dan juga sistem syarafnya.
Pembinaan kesegaran jasmani merupakan salah satu faktor yang penting dalam
peningkatan kualitas fisik. Oleh karena itu, pembinaan kesegaran jasmani merupakan hal yang
perlu diperhatikan di tahun-tahun mendatang. Pelaksanaan pembinaan kesegaran jasmani
barangkali harus dilakukan dengan terobosan untuk menyentuh berbagai permasalahan dan
sambil menengok ke belakang apa-apa yang menjadi penghambat selama ini. Bahkan bila perlu
melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan pembinaan (Puskesjas, 1995:33)
Dari uraian di atas, sangat menarik perhatian karena menyentuh persoalan yang mendasar
yaitu persoalan kualitas fisik yang tercermin pada kesegaran jasmani. Pembangunan yang sedang
berjalan dewasa ini sangat menuntut kualitas fisik yang makin tinggi. Seperti yang disebutkan
dalam buku Kesegaran Jasmani dalam Pembangunan Bangsa bahwa : “Manusia energik atau
produktif merupakan modal utama dalam strategi dasar era pembangunan dan modernisasi serta
akselerasi”.
Berbicara mengenai kesegaran jasmani dalam upaya peningkatan kualitas fisik, memang
merupakan permasalahan yang menarik. Kalau tidak sebentar kita menemui jalan buntu, maka
akan menemui berbagai hambatan yang pada akhirnya bisa menjadi terarah. Akan tetapi kalau
keterpaduan pembinaan kesegaran jasmani dapat berjalan dengan baik dan ada komitmen dari
pemerintah tidak mustahil bahwa pembinaan kesegaran jasmani akan berhasil dengan baik.
Semakin banyak masyarakat melakukan latihan jasmani, berarti semakin berhasil pembinaan
kesegaran jasmani dan tingkat kesegaran jasmani masyarakat semakin baik serta akan
meningkatkan kualitas fisik manusia.
Seperti diketahui bahwa pembinaan kesegaran jasmani dapat dilakukan dengan berbagai
macam latihan jasmani atau olahraga. Pada dasarnya semua macam latihan atau olahraga yang
dapat meningkatkan kesegaran jasmani dapat digunakan sebagai sarana latihan seperti Senam
Kesegaran Jasmani lainnya. (Puskesjas, 1995:34)
Di Indonesia pembinaan kesegaran jasmani pelajar sudah termasuk dan tercantum dalam
kurikulum sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya, sehubungan dengan masalah kesegaran
jasmani, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan tugasnya menjelaskan : “Maka
seirama dengan derap pembangunan bangsa dan negara, masyarakat sekolah haruslah
dikondisikan secara sosial kultural, seperti misalnya dapat memberikan nilai yang tinggi dan
rasional terhadap arti kesegaran jasmani”. Hal tersebut mengandung pengertian bahwa dalam
hubungan antara pembangunan bangsa dan negara, sekolah dan kesegaran jasmani, maka yang
menjadi obyek dan subyeknya adalah anak-anak sekolah dan lingkungannya. Jadi disamping
masyarakat sekolah itu mau melakukan usaha-usaha pembinaan kesegaran jasmani, juga dapat
mempengaruhi lingkungan dan bahkan tidak mustahil akan berkembang luas di kalangan
masyarakat umum.
Kemudian di dalam kurikulum sekolah dasar mata pelajaran Pendidikan Jasmani
disebutkan : “Tujuan umum pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah memacu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial yang selaras dalam upaya membentuk
dan mengembangkan hidup sehat”. (Depdikbud, 1988:5).
Dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar, juga
memuat pokok bahasan Senam Kesegaran Jasmani. Karena itu untuk mencapai tujuan seperti
yang disebutkan dalam kurikulum, pendidikan jasmani di sekolah dasar mempunyai andil yang
sangat besar untuk dapat mewujudkan tujuan pendidikan jasmani di sekolah dasar. Dan senam
kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang telah ada saat ini merupakan alat yang sangat tepat
dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan jasmani di sekolah dasar tersebut. Hal ini dapat
dilihat bahwa senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar bukan hanya sebagai materi pelajaran
yang disampaikan dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, tetapi juga dicantumkan dalam
program pendidikan yang dilakukan sebelum jam pelajaran dimulai.
Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar merupakan suatu paket senam yang baru,
yang memang dikhususkan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Akan tetapi dalam
pelaksanaannya tidak harus dilakukan pada pagi hari saja, dapat dilakukan dimana saja dan
kapan saja karena memang merupakan suatu bentuk kegiatan jasmani yang penting untuk
menjaga, meningkatkan dan menyempurnakan kesegaran jasmani.
Untuk memajukan vitalitas organ tubuh yang dibutuhkan untuk menjaga kegiatan seharihari
diperlukan suatu latihan yang dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan hal-hal
yang berhubungan dengan program latihan seperti : Frekuensi latihan yang harus dilakukan
setiap minggunya, intensitas latihan dan lama latihan. Ketiga faktor tersebut sangat menentukan
keberhasilan pelaksanaan program latihan. Orang yang sudah melaksanakan latihan olahraga
secara tertib dan teratur sejak masa kanak-kanak yang disesuaikan dengan usianya, akan tumbuh
secara sempurna sesuai dengan potensinya.
Walaupun latihan fisik yang teratur secara umum memberikan pengaruh yang bermanfaat, akan
tetapi ada kemungkinan terjadinya kerusakan pada organ-organ yang sedang tumbuh, yang
disebabkan karena latihan fisik tersebut dilakukan dengan intensitas, jangka waktu, serta jenis
frekuensi yang tidak tepat. (Albertus Kamiso, 1988:24).
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti ternyata ada beberapa sekolah dasar yang
melaksanakan latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar dengan frekuensi tiga kali dan
ada pula yang melaksanakan latihan dengan frekuensi empat kali setiap minggunya dan demikian
pula yang dilakukan oleh kesegaran jasmani, mewajibkan bagi murid-muridnya untuk
melakukan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar sebelum jam pelajaran dimulai. (M.
Sajoto, 1988:119)
Sampai sekarang ini belum ada pedoman yang memberikan ketentuan berapa kali latihan
setiap minggunya yang paling baik dapat meningkatkan kesegaran jasmani bagi siswa sekolah
dasar. Bertolak dari permasalahan tersebut, penulis tertarik dan ingin meneliti mana yang lebih
efektif antara latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang diberikan tiga kali
dengan empat kali dalam satu minggu dengan beban latihan yang sama terhadap tingkat
kesegaran jasmani.
1.2 Permasalahan
Secara garis besar, senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar dapat digunakan untuk
meningkatkan kesegaran jasmani bagi pelakunya, tingkat kesegaran jasmani dapat diketahui
dengan cara mengukur komponen-komponen dari kesegaran jasmani.
Berdasar dari uraian di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Apakah ada pengaruh yang berbeda antara program latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang dilaksanakan dengan
frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.2.2 Kemudian jika ada pengaruh yang berarti mana yang lebih efektif antara program latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah
dasar yang dilaksanakan dengan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.3 Penegasan Istilah
Sehubungan dengan judul yang diajukan, yaitu “Perbandingan Pengaruh Frekuensi Latihan
Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar Antara Tiga Kali Dengan Empat Kali Dalam Satu
Minggu Terhadap Tingkat Kesegaran Jasmani Siswa Putri Kelas VI SD Negeri Gunungpati 04
dan SD Nongkosawit Semarang Tahun Ajaran 2004/2005.
Maka perlu dijelaskan beberapa istilah dalam judul tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari agar persoalan yang dibicarakan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan
semula dan agar tidak terjadi salah penafsiran istilah yang digunakan, yang meliputi :
1.3.1 Perbandingan
Perbandingan adalah perbedaan (selisih) kesamaan. (Depdikbud, 1998:75). Yang dimaksud
dengan “Perbandingan” dalam penelitian ini diartikan yang akan dibandingkan adalah frekuensi
latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar antara tiga kali dengan empat kali dalam satu
minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.3.2 Pengaruh
Pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari suatu (benda, orang dan sebagainya)
yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. (Depdikbud, 1998:664).
Pengaruh yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah daya yang ditimbulkan oleh
adanya pelaksanaan program latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang dilakukan
dengan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.3.3 Frekuensi
Frekuensi adalah “Kekerapan, jumlah (kekerapan) unsur bahasa. (Depdikbud, 1998:245)
Yang dimaksud frekuensi dalam penelitian ini adalah jumlah latihan senam kesegaran
jasmani usia sekolah dasar yang dilakukan dalam satu minggu yaitu tiga kali dan empat kali.
1.3.4 Latihan
Latihan ialah pendidikan untuk memperoleh kemahiran dan kecakapan (Depdikbud,
1998:502).
Latihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu aktivitas fisik yang berupa
gerakan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar.
1.3.5 Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
Senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar adalah senam baru yang diciptakan siswa
sekolah dasar yang merupakan rangkaian gerakan senam yang baru dan ditujukan untuk
pembentukan otot yang nantinya bermanfaat bagi perkembangan tubuh selanjutnya.
1.3.6 Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah kemampuan atau kesanggupan seseorang untuk melakukan
suatu pekerjaan atau aktivitas tubuh tertentu, tanpa mengalami kelelahan yang berarti setelah
melakukan aktivitas tersebut, sehingga masih adanya sisa tenaga untuk melakukan aktivitas yang
lain.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui :
1.4.1 Untuk mengetahui pengaruh perbedaan antara program latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang dilaksanakan dengan
frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.4.2 Untuk membedakan pengaruh yang berarti mana yang lebih efektif antara program latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah
dasar yang dilaksanakan dengan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
1.5 Manfaat Penelitian
Sebagai tolak ukur kesegaran jasmani di SD Gunungpati 04 dan SD Nongkosawit.
Mengetahui tingkat kesegaran jasmani di SD Gunungpati 04 dan SD
Nongkosawit.
Mengetahui dan menilai kadar kesegaran jasmani di SD Gunungpati 04 dan SD
Nongkosawit.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Kesegaran Jasmani
Dewasa ini istilah kesegaran jasmani sering menjadi topik pembicaraan yang menarik,
pengertian kesegaran jasmani menurut beberapa ahli olahraga memang bermacam-macam,
kesegaran jasmani menurut Sadoso (1992:19) adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan
tugasnya sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan dan masih
mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk
keperluan-keperluan yang mendadak, dapat pula ditambahkan kesegaran jasmani merupakan
kemampuan untuk menunaikan tugas dengan baik walaupun dalam keadaan sukar, dimana orang
yang kesegaran jasmaninya kurang, tidak dapat melakukannya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa kesegaran jasmani adalah suatu keadaan saat tubuh
mampu menunaikan tugas hariannya dengan baik dan efisien, tanpa kelelahan yang berarti, dan
tubuh masih memiliki tenaga cadangan, baik untuk mengatasi keadaan darurat yang mendadak,
maupun untuk menikmati waktu senggang dengan rekreasi yang aktif (Sudarno, 1992:9).
Sedangkan menurut hasil seminar nasional kesegaran jasmani tahun 1971 di Jakarta yang
dikutip oleh A. Kamiso (1998:58) menyebutkan bahwa seseorang yang memiliki kesegaran
jasmani dapat diartikan orang yang cukup mempunyai kesanggupan dan kemampuan untuk
melakukan pekerjaan dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.
Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah
kesanggupan dan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan atau menunaikan tugasnya
sehari-hari dengan cukup kekuatan dan daya tahan, tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti,
sehingga masih terdapat sisa tenaga yang berarti digunakan untuk menikmati waktu luang yang
datangnya secara tiba-tiba atau mendadak, dimana orang yang kesegarannya kurang tidak akan
mampu melakukannya. Hal ini yang membedakan orang yang fit dan tidak fit.
Tetapi perlu diketahui bahwa masing-masing individu mempunyai latar belakang
kemampuan tubuh dan pekerjaan yang berbeda sehingga masing-masing akan mempunyai
kesegaran jasmani yang berbeda pula.
2.1.2 Komponen-Komponen Kesegaran Jasmani
Senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar adalah suatu bentuk latihan yang bertujuan
untuk meningkatkan kesegaran jasmani karena gerakan-gerakannya melibatkan secara aktif
sejumlah besar otot secara berkesinambungan dengan beban latihan yang cukup untuk
merangsang jantung, paru-paru dan pembuluh darah, dan besarnya latihan untuk masing-masing
otot tidak terlalu tinggi sehingga cukup untuk meningkatkan kesegaran jasmani.
Dapat juga dikatakan bahwa senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar gerakangerakannya
mengandung unsur dari komponen kesegaran jasmani.
Adapun komponen dari kesegaran jasmani tersebut adalah : 1) Kekuatan; 2) Daya tahan; 3)
Daya ledak; 4) Kelentukan; 5) Kecepatan; 6) Kelincahan; 7) Koordinasi; 8) Keseimbangan; 9)
Ketepatan dan; 10) Reaksi.
Untuk mengetahui lebih mendalam dari komponen kesegaran jasmani tersebut akan
diuraikan sebagai berikut :
1) Kekuatan
Kekuatan menurut M. Sajoto (1988:16) adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang
kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Sedangkan
menurut H.P. Suharno (1978:21) kekuatan adalah kemampuan dari otot untuk dapat mengatasi
tahanan atau beban dalam menjalankan aktivitas. Dengan demikian seseorang yang mempunyai
kekuatan otot baik dapat melakukan dan memikul pekerjaan yang berat dalam waktu yang lama.
Orang yang fisiknya segar akan mempunyai otot yang kuat dan mampu bekerja secara efisien.
2) Daya tahan
Ada dua macam daya tahan menurut M. Sajoto (1988:16) yaitu daya tahan umum dan daya
tahan otot. Daya tahan umum adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem
jantung, paru dan peredaran darahnya secara efektif untuk menjalankan kerja secara terus
menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot-otot dengan intensitas tinggi dalam waktu
yang cukup lama. Daya tahan otot adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan ototnya
untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu.
Menurut H.P. Suharno (1978 : 23) daya tahan adalah kemampuan organisme seseorang
untuk melawan kelelahan yang timbul saat menjalankan aktivitas dalam waktu yang lama.
Jika seseorang mampu menggerakkan sekelompok otot tertentu secara terus menerus
dalam waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan jantung, peredaran darah dan pernafasan
yang baik. Makin tinggi tingkat daya tahan seseorang makin tinggi pula kesegaran jasmaninya.
3) Daya ledak
Daya ledak ialah kemampuan otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi
dalam satu gerakan yang utuh (H.P Suharno, 1978:33).
Sedangkan menurut M. Sajoto (1988:17) daya ledak disebut juga Muscular Power
maksudnya adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan kemampuan maksimal yang
dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya.
Jadi dari kedua definisi di atas mengandung pengertian yang sama, bahwa seseorang dapat
melakukan gerakan dengan kemampuan maksimal namun dalam waktu yang singkat bila dalam
keadaan fit atau dengan kata lain kesegaran jasmaninya baik.
4) Kelentukan
Kelentukan (flexibility) adalah segala efektivitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk
segala aktivitas dengan penguluran tubuh ditandai dengan flexibilitas persendian pada seluruh
tubuh. (M. Sajoto, 1988 : 17).
Menurut H.P. Suharno (1988:30) kelentukan (flexibility) ialah kemampuan dari seseorang
dalam melaksanakan gerakan dengan amplitudo yang luas.
Dengan kelentukan tubuh atau penguluran tubuh yang luas berarti seseorang dapat
melakukan gerakan secara bebas, sehingga makin sedikit tenaga yang dikeluarkan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.
5) Kecepatan
Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan
dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. (M. Sajoto, 1988:17).
Sedangkan definisi dari ahli lain adalah kemampuan organisme seseorang dalam
melakukan gerakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya untuk mencapai hasil yang sebaikbaiknya
(Suharno H.P., 1978:26)
Dengan demikian seseorang yang mempunyai kecepatan yang tinggi, maka orang tersebut
dapat melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang dalam waktu yang pendek.
6) Kelincahan
Kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk merubah arah dan posisi di arena tertentu.
(M. Sajoto, 1988:17).Sedang menurut Moeloek Dangsina (1984:8) menggunakan istilah
ketangkasan, yang mengandung pengertian sebagai kemampuan mengubah secara cepat arah
tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan.
Dari kedua pendapat tersebut juga terdapat pengertian yang sama yaitu menekankan
kepada kemampuan untuk merubah posisi tubuh tertentu tanpa mengganggu keseimbangan.
Dimana kelincahan dan ketangkasan ini melibatkan faktor : kekuatan, kecepatan, tenaga
ledak otot, waktu reaksi, keseimbangan dan koordinasi. (Moeloek Dangsina, 1984:9).
7) Koordinasi
Koordinasi (Coordination) adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacammacam
gerakan yang berbeda dalam pola gerakan tunggal secara efektif. (Sajoto M, 1988:17).
Menurut Suharno HP (1978:34) koordinasi didefinisikan sebagai kemampuan seseorang
untuk merangkaikan beberapa unsur gerak menjadi satu gerakan yang selaras sesuai dengan
tujuannya.
Seseorang yang memiliki koordinasi yang baik dapat melakukan serangkaian gerakan
dalam satu pola irama, sedang orang yang tidak memiliki koordinasi yang baik akan
mengakibatkan kerugian pengeluaran tenaga yang berlebihan sehingga mengganggu
keseimbangan, cepat lelah bahkan mungkin dapat terjadi cidera.
8) Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang tepat pada saat
melakukan gerakan. Bergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indra penglihatan,
kanalis semisir-kularis pada telinga dan reseptor pada otot (Moeloek Dangsina, 1984:10).
Sedangkan Suharno HP (1978:36) mendefinisikan keseimbangan sebagai kemampuan
seseorang untuk mempertahankan keseimbangan badan dalam berbagai keadaan agar tetap
seimbang.
Dengan keseimbangan yang baik seseorang akan dengan mudah melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari sebab keseimbangan tidak hanya diperlukan pada olahraga saja.
9) Ketepatan
Ketepatan (Accuracy) adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak
bebas terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat berupa suatu jarak atau mungkin suatu obyek
langsung yang harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh. (Sajoto M., 1988:18).
Definisi lain menyebutkan ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengarahkan
suatu gerak ke suatu sasaran sesuai dengan tujuannya (Suharno HP, 1978:35).
Orang yang mempunyai ketepatan yang baik dapat mengontrol gerakan dari satu sasaran
ke sasaran yang lainnya.
10) Reaksi
Reaksi menurut Sajoto M. (1988:18) adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak
secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera atau saraf lainnya.
Sedangkan pendapat lain mengenai reaksi adalah interval waktu antara penerimaan
rangsang dengan jawaban atau respon. (Nurhasan, 1986:247).
Dari kedua pendapat tersebut maka seseorang yang memiliki reaksi yang baik akan dapat
melakukan aktivitasnya dengan cepat setelah menerima rangsang yang diterima dari inderanya.
2.1.3 Fungsi Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani disamping untuk menunjukkan kondisi fisik juga berfungsi untuk
meningkatkan mutu kehidupan seseorang sesuai dengan keadaannya masing-masing. Hal ini
disebabkan oleh latar belakang kehidupan manusia itu berbeda pula.
Adapun fungsi kesegaran jasmani selain untuk menunjukkan kondisi fisik dapat dibagi
menjadi tiga yaitu :
1. Golongan yang dihubungkan dengan pekerjaan yaitu :
a. Bagi olahragawan adalah meningkatkan prestasi.
b. Bagi karyawan adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja.
c. Bagi pelajar dan mahasiswa berguna untuk meningkatkan prestasi belajar.
2. Golongan yang dihubungkan dengan keadaan yaitu :
a. Bagi penderita cacat digunakan untuk rehabilitas.
b. Bagi ibu hamil sangat penting untuk perkembangan bayi yang dikandung dan
mempersiapkan kondisi fisik pada saat melahirkan.
3. Golongan yang dihubungkan dengan usia yaitu :
a. Bagi anak-anak adalah untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.
b. Bagi orang tua adalah untuk mempertahankan kondisi fisik agar tetap segar dan tidak
mudah terserang penyakit.
2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang, yang
membedakan satu dengan yang lainnya adalah :
1. Faktor makanan dan gizi
Sejak masih dalam kandungan, manusia sudah memerlukan makan dan gizi yang cukup
yang digunakan untuk pertumbuhan. Jadi dalam pembinaan kesegaran jasmani tubuh haruslah
cukup makan makanan yang bergizi, dan harus dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagaimana
fungsi yang semestinya. Konsumsi makanan yang salah dapat mengakibatkan buruk terhadap
kesehatan, kekurangan gizi pada tingkat yang berat dapat membawa akibat yang mengerikan.
Sebagai contoh akibat kekurangan vitamin A seseorang dapat menjadi buta, demikian juga bila
tubuh kekurangan protein dan kalori tubuh menjadi lemah, kurus dan pertumbuhan kurang baik.
Hal lain yang sangat penting bahwa kekurangan gizi akan menurunkan kecerdasan, daya
pikir dan perkembangan mental. Keadaan tersebut jelas menunjukkan betapa rendahnya mutu
kehidupan seseorang akibat kekurangan gizi. Sebaliknya kelebihan gizi dapat menyebabkan
kegemukan yang dapat mempermudah timbulnya penyakit jantung, diabetes dan lain-lain.
Makanan memiliki fungsi utama yaitu memberi tenaga yang dibutuhkan untuk gerakan
tubuh, menyediakan bahan-bahan untuk membangun tubuh, baik untuk memelihara dan
memperbaiki serta menyediakan bahan-bahan untuk mengatur tugas-tugas faal tubuh.
Sesuai dengan fungsinya zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan dapat digolongkan
menjadi tiga yaitu :
1. Zat gizi yang dapat memberikan tenaga untuk bergerak :
a. Hidrat arang/karbohidrat
Zat gizi ini terdapat pada nasi atau penggantinya seperti jagung, roti, ubi, kentang dan
lainnya.
b. Lemak
Terdapat pada daging, minyak kelapa, minyak jagung dan lainnya.
c. Protein
Banyak terdapat pada hewan dan tumbuh-tumbuhan seperti daging, ikan, telur, kacangkacangan
dan kedelai.
d. Zat gizi yang menyediakan bahan-bahan untuk membangun tubuh terdapat pada makanan
yang mengandung protein, mineral dan air.
e. Zat gizi yang menyediakan bahan-bahan untuk mengatur bekerjanya alat-alat tubuh
seperti vitamin, mineral dan air.
2. Faktor usia
Pada usia pertumbuhan (anak-anak) kesegaran jasmaninya akan lebih baik, karena pada
usia ini fungsi organ tubuh akan tumbuh dengan optimal. Sedangkan pada orang tua akan terjadi
penurunan kesegaran jasmani dikarenakan banyak jaringan-jaringan (sel-sel) dalam tubuh yang
mengalami kerusakan.
3. Faktor kebiasaan hidup sehat (cara hidup sehat)
Sudah barang tentu apabila seseorang menginginkan hidup sehat jasmaninya tetap terjaga,
maka ia harus menerapkan hidup sehat dalam kehidupan sehari-harinya, seperti makan makanan
yang bersih dan bergizi, menjaga kebersihan pribadi dan beristirahat yang cukup.
4. Faktor lingkungan
Lingkungan adalah tempat dimana seseorang itu tinggal dalam waktu yang lama.
Dalam hal ini menyangkut lingkungan fisik, serta sosial ekonomi. Mulai dari pekerjaannya,
perumahan, daerah tempat tinggal dan sebagainya.
5. Faktor latihan dan olahraga
Peningkatan kesegaran jasmani juga bisa dilakukan melalui latihan-latihan rutin dan gemar
berolahraga.
Latihan fisik adalah suatu kegiatan fisik yang menurut cara atau aturan tertentu, yang
mempunyai sasaran meningkatkan efisiensi faal tubuh, dan sebagai hasil terakhir adalah
peningkatan kesegaran jasmani. (Moeloek Dangsina, 1984 : 12)
2.1.5 Tes Kesegaran Jasmani
Banyak jenis tes yang biasa digunakan untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesegaran
jasmani seseorang. Adapun tes kesegaran jasmani yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes
Kesegaran Jasmani Indonesia untuk Anak Umur 10-12 Tahun.
Alasan dari pemilihan tes kesegaran jasmani ini adalah :
1. Pelaksanaannya mudah, biaya sedikit, tidak banyak menggunakan peralatan dan efisiensi
waktu.
2. Tes tersebut tepat untuk mengukur komponen terpenting dari kesegaran jasmani yaitu :
mengukur kecepatan, mengukur kekuatan dan ketahanan tubuh otot lengan dan bahu,
mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut mengukur tenaga eksplosif dan untuk mengukur
daya tahan jantung, peredaran darah dan pernafasan.
3. Penentuan status kesegaran jasmani disesuaikan dengan usia, jenis kelamin sehingga lebih
terperinci.
Tes kesegaran jasmani untuk anak usia 10-12 tahun putri akan dijelaskan lebih lanjut di Bab
III.
2.1.6 Kesegaran Jasmani dan Kesehatan Dalam Latihan
Kesegaran jasmani berhubungan erat dengan kemampuan seseorang dalam menjalankan
tugas pekerjaan sehari-hari. Makin tinggi tingkat kesegaran jasmani makin tinggi pula
kemampuan kerja, lebih jauh Kamiso A. (1988:70) mengatakan bahwa yang penting dalam
meningkatkan kesegaran jasmani adalah yang berhubungan dengan ergosistem primair, karena
yang berhubungan langsung dengan kesehatan. Sedang peningkatan ergosistem sekunder tidak
merata. Oleh karena itu untuk dapat lebih meningkatkan daya kerjanya, perlu meningkatkan
ergosistem primair khusus.
Sedangkan menurut Sigit Moerjono, yang dikutip oleh Kamiso A. (1988:70) mengatakan
bahwa latihan-latihan yang ditujukan kepada pembentukan otot-otot skelet tidak ada salahnya
untuk dilakukan oleh karena latihan ini akan dapat menopang latihan-latihan aerobik tadi,
sehingga akan berhasil lebih sempurna.
Dengan demikian dapat disimpulkan peningkatan kesegaran jasmani selalu diiringi dengan
peningkatan derajat kesehatan dan kemampuan melakukan pekerjaan sehari-hari. Yang mana
pada waktu melakukan latihan jasmani tidak hanya melibatkan salah satu bagian dari ergosistem
tetapi hendaknya latihan yang dilaksanakan mengacu pada ergosistem primair atau sistem
jantung peredaran darah dan pernafasan, sehingga latihan dapat bermanfaat bagi kesegaran
jasmani secara menyeluruh.
Agar latihan yang dilaksanakan dapat berhasil guna bagi peningkatan kesegaran jasmani
maka harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan :
1. Intensitas Latihan
Intensitas latihan menyatakan beratnya latihan dan faktor utama yang mempengaruhi
kesegaran kardiovaskuler. Perubahan pada kesegaran kardiovaskuler sangat erat hubungannya
dengan intensitas latihan. Oleh karena itu intensitas latihan merupakan faktor yang sangat
menentukan pada kardiovaskuler.
Kamiso A. (1988:71) mengatakan bahwa “ternyata 60% kapasitas aerobik maksimal sama
dengan 72% dari denyut nadi maksimal dan 80% kapasitas aerobik yang maksimal sama dengan
87% dari denyut nadi maksimal. Disamping itu batasan maksimal denyut nadi dipengaruhi oleh
usia, artinya makin tinggi usia denyut nadi makin turun.
Denyut nadi maksimal adalah 220 dikurangi umur, tetapi latihan klub jantung sehat telah
dipakai rumus 200 sehingga denyut nadi maksimal berada di bawah 20 hitungan dari rumus 220.
Patokan ini cukup aman, sebab dengan perhitungan beban latihan diturunkan kira-kira 10%
menjadi submaksimal (Kamiso. A, 1988:72).
Misalnya seorang anak yang berumur 12 tahun akan berlatih, maka denyut nadi latihan
berkisar antara 135 sampai 163. Ini diperoleh dari denyut nadi maksimal 200-umur (12)
didapatkan hasil 188, jadi untuk denyut nadi latihan berkisar antara 188 x 72% = 135 sampai 188
x 87% = 163. Kalau berlatih di bawah 72% dari denyut nadi maksimal maka akan kurang
manfaatnya, tetapi bila latihan melampaui 87% dari denyut nadi maksimal maka akan berbahaya.
Denyut nadi dapat dihitung pada pergelangan tangan atau pada arteria karotis di sebelah
kanan atau kiri pada pita suara. Cara meghitung ini harus dibiasakan supaya lebih terampil dan
tepat tempatnya. Memonitor denyut nadi cukup selama 10 detik saja dan hasilnya dikalikan 6
(heart rate/menit).
2. Lamanya latihan
Lama latihan berhubungan erat dengan intensitas. Kalau intensitas tinggi, maka latihannya
cukup pendek dan sebaliknya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kalau sasarannya hanya kesegaran
jasmani bagi orang awam sebaiknya berlatih dengan intensitas rendah atau sedang saja (Sudarno,
1992:135).
Mengenai waktu atau lama latihan harus dipadukan dengan intensitas latihan. Dikarenakan
latihan dengan intensitas tinggi merupakan latihan berat dan memungkinkan timbulnya cedera
juga besar.
Adapun yang dikutip dari pendapat Pollock dalam Sudarno (1992:135) mengatakan Untuk
pemula yang frekuensi latihannya lebih dari tiga kali seminggu dan latihanya lebih dari 30 menit,
cedera pada kaki dan lutut juga lebih besar.
3. Frekuensi latihan
Yang dimaksud frekuensi latihan adalah beberapa kali seorang melakukan latihan yang
cukup intensif dalam satu minggunya. Makin banyak frekuensi latihan per minggunya, makin
cepat pula hasil peningkatan kapasitas daya tahan orang tersebut. Tetapi disarankan dalam
menentukan frekuensi latihan benar-benar diperhatikan batas kemampuan orang tersebut, karena
bagaimanapun juga tubuh seseorang tidak dapat beradaptasi lebih cepat dari batas
kemampuannya. Apabial frekuensi latihan diberikan dengan berlebihan akibatnya bukan
percepatan kenaikan kapasitas daya tahannya dicapai, tetapi dapat mengakibatkan sakit yang
berkepanjangan. Jumlah frekuensi latihan yang efektif tergantung dari sifat olah raga yang
dilakukannya.
Bila tujuan dari latihan hanya untuk membina dan atau untuk meningkatkan kesegaran
jasmani, maka frekuensi latihan cukup tiga sampai lima kali seminggunya (Sudarno, 1992 : 67).
Sedangkan menurut Kamiso A (1991 : 76) efek dari latihan tiga kali perminggu dapat
disamakan dengan empat sampai lima kali kalau waktu latihan ditambah. Latihan dua kali
seminggu ternyata tidak efektif untuk melatih sistem kardiovaskuler dan dengan frekuensi
latihan dua kali perminggu tidak dapat memelihara kesegaran jasmani yang dicapai. Pendapat
tersebut dipertegas lagi oleh Sadoso (1992:26) yang mengemukakan bahwa frekuensi latihan
berhubungan erat dengan intensitas latihan dan lama latihan. Dapat disimpulkan bahwa latihan
paling sedikit tiga minggu, baik untuk olahraga kesehatan maupun olahraga prestasi. Hal ini
disebabkan ketahanan tubuh seseorang akan menurun setelah 48 jam tidak melakukan latihan.
Jadi diusahakan sebelum ketahanan menurun harus sudah dilatih lagi.
Tapi perlu diingat bahwa dalam berlatih setiap minggunya tubuh memerlukan istirahat
yang cukup diantara hari-hari latihan dan istirahat tersebut juga akan mengurangi timbulnya
cedera. Yang penting tidak melebihi 48 jam.
Pendapat Cooper yang dikutip Sudarno (1992:67) menyatakan bahwa kurang bijaksana
berlatih tiap hari, sebab bila latihan dilakukan setiap hari akan timbul kelelahan yang menumpuk
yang cenderung akan menimbulkan cidera pada otot, sendi atau tulang.
2.1.7 Karakteristik Perkembangan motorik Anak usia SD
Pada masa anak unur 10-12 tahun pertumbuhan cenderung relatif lambat. Walaupun
pertumbuhan itu lambat, tetapi mempunya waktu belajar cepat dan keadaan ini dapat
dipertimbangkan pula sebagai konsolidasi pertumbuhan yang ditandai dengan kesempurnaan dan
kestabilan terhadap keterampilan dan kemampuan yang telah ada dibandingkan yang baru
dipelajari.
Pada masa tersebut juga terjadi perubahan dimana anak yang pada mulanya bergerak dari
kondisi lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Pengaturan besar-besaran diperlukan untuk
pengembangan tugas-tugas pada umur itu. Adapun ketiga dorongan yang dimaksud adalah :
1. Dorongan dari lingkungan rumah ke kelompok sejawat;
2. Dorongan dari realisasi kerja dan suasana bermain yang masing-masing memerlukan
tambahan keterampilan neuromuskuler ;
3. Dorongan ke dalam konsep dunia dewasa yang mana memerlukan peningkatan keterampilan
dan seni berlogika serta berkomunikasi.
Pada anak usia sekolah dasar pertumbuhan yang nampak jelas adalah pertambahan panjang
lengan dan kaki, koordinasi antara tangan dan mata serta kaki dan mata bertambah baik pula.
Keberanian juga lebih berkembang hal ini baik terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan.
Anak perempuan karena itu harus dibimbing untuk mengembangkan kekuatan badan bagian atas
yang sangat berguna untuk memelihara berat badannya.
Pada masa ini aktivitas olahraga sangat dianjurkan bagi anak-anak usia sekolah dasar,
pertumbuhan dan koordinasi yang terus berlanjut akan mengalami penyempurnaan pada usiausia
tersebut, tetapi yang benar-benar menonjol adalah perkembangan keseimbangan dan
keterampilan terutama dalam melakukan olahraga atletik. (Sadoso, 1992:133).
Olahraga beregu dan kompetisi sangat penting artinya tetapi bukan waktu yang tepat untuk
memusatkan dalam satujenis olahraga saja, beberapa cabang olahraga yang dinjurkan bagi anak
usia sekolah dasar adalah berenang, senam, sepak bola dan basket.
Perubahan-perubahan fisiologis yang lain adalah sistem peredaran darah, termasuk jantung
dan pembuluh-pembuluh darah yang berkembang hingga dewasa. Pertumbuhan ini ditandai
dengan naiknya tekana darah, pada wanita biasanya denyut nadinya lebih cepat dari pria.
Perubahan pada sistem pernafasan juga nampak jelas, kenaikan yang cukup menyolok dapat
ditemui baik pada anak perempuan maupun laki-laki, pada anak perempuan pertambahannya
makin lama makin berkurang, sistem pencernaan juga mengalami perkembangan karena semakin
bertambahnya kebutuhan makanan. Sitem syaraf berkembang lebih cepat dibandingkan dengan
sistem-sistem yang lain (Sadoso: 1992,141)
Keterampilan dasar motorik dan perkembangannya selama masa ini yang paling menonjol
adalah :
1. Keseimbangan (balance). Pada anak laki-laki memiliki keseimbangan dan keterampilan yang
lebih baik jika dibandingkan anak perempuan.
2. Ketepatan (accuracy). Anak perempuan biasanya memiliki ketepatan yang lebih baik
daripada anak laki-laki
3. Ketangkasan (agility). Pada anak perempuan memiliki ketangkasan lebih baik sampai umur
tigabelas tahun.
4. Penguasaan batas (control). Anak perempuan meiliki kemampuan kontrol lebih baik daripada
anak laki-laki pada usia ini, tetapi setelah usia empatbelas tahun anak laki-laki menampakkan
kemajuan yang lebih baik.
5. Kekuatan (strength). Anak laki-laki memang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari
anak perempuan.
Keterampilan dasar motorik sangat penting artinya dalam pemberian program latihan olahraga, pada anak perempuan perlu sekali
penekanan pada latihan-latihan untuk : keseimbangan, ketangkasan, kontrol dan kekuatan yang nantinya berguna bagi perkembangan tubuhnya di
masa mendatang.
2.1.8 Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
Senam kesegaran jasmani usia Sekolah dasar adalah senam kesegaran jasmani yang baru dan memang dikhususkan bagi anak usia
sekolah dasar. Senam kesegaran jasmani usia Anak Sekolah Dasar ini dikeluarkan oleh Direktorat Keolahragaan Ditjen Diklusepora Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar terdiri dari tiga bagian yaitu latihan pendahuluan(warming up), latihan inti dan latihan
penutup. Keseluruhan waktu untuk melaksanakan senam ini adalah + 11 menit dengan perincian : latihan pendahuluan + 3 menit, latihan inti + 5
menit dan latihan penutup + 3 menit.
Gerakan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar melatih seluruh aspek yang ada di mulai badan bagian atas dan badan bagian
bawah, dimulai dengan gerakan-gerakan untuk meningkatkan fungsi pernapasan dan fungsi peredaran darah juga melatih otot-otot leher, bahu,
badan bagian atas dengan gerakan berputar yang mengikutsertakan perut, punggung, panggul, paha dan juga otot-otot kaki, disamping itu juga
ada gerakan untuk meningkatkan keterampilan menggunakan anggota tubuh seperti melatih keseimbangan, mempercepat kesigapan dalam
memindahkan berat badan, mengasah koordinasi dan menguatkan otot-otot.
Adapun gerakan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar secara lengkap terdapat dalam lampiran.
2.2. Hipotesis
Sutrisno Hadi (1990:63) mengatakan hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar atau
mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta
membenarkannya. Penerimaan dan penolakan dengan begitu sangat tergantung kepada hasilhasil
penyelidikan terhadap fakta-fakta yang dikumpulkan.
Untuk dapat dipakai sebagai pegangan dalam penelitian ini perlu dikemukakan hipotesis
yang akan dibuktikan. Maka penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut :
2.2.1 Ada perbandingan yang berarti antara program latihan senam kesegaran jasmani usia
sekolah dasar yang dilaksanakan dengan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam satu
minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani siswa putri kelas VI SD Gunungpati 4 dan SD
Nongkosawit.
2.2.2 Program latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar yang dilaksanakan dengan
frekuensi empat kali dalam satu minggu, lebih efektif dalam meningkatkan kesegaran
jasmani dibandingkan dengan program latihan yang dilaksanakan dengan frekuensi tiga
kali dalam satu minggu.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian. Penggunaan
metode penelitian pun harus tepat dan mengarah pada tujuan penelitian agar hasil yang diperoleh
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Seperti yang diungkapkan oleh Sutrisno Hadi (1990:4)
“Metode penelitian sebagaimana yang kita kenal sekarang memberikan garis-garis yang cermat
dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya untuk menjaga agar pengetahuan yang
dicapai dari suatu penelitian dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya”. (Sutrisno
Hadi, 1990:4).
Dalam bab ini akan diuraikan beberapa hal yang berhubungan dengan
metodologi penelitian, antara lain : 1) Metode penentuan Obyek penelitian; 2)
Variabel-variabel yang dikendalikan; 3) Metode pengumpulan data dan 4) Metode
analisis data.
3.1 Metode Penentuan Obyek Penelitian
Ada empat hal yang akan dibahas dalam penentuan obyek penelitian, yaitu :
penentuan populasi, penentuan sampel, penentuan variabel penelitian dan penyusunan
instrumen penelitian.
3.1.1 Penentuan Populasi
Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki disebut
populasi. Populasi dibatasi sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit
mempunyai sifat yang sama” (Sutrisno Hadi, 1990 : 20).
Pengertian di atas mengandung maksud bahwa populasi adalah seluruh
individu yang akan dijadikan obyek penelitian dan keseluruhan dari individu itu paling
tidak harus memiliki satu sifat sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa putri kelas VI SD Gunungpati 4 dan SD
Nongkosawit Semarang tahun ajaran 2004/2005. Jadi mereka memiliki sifat yang sama,
mempunyai umur yang sebaya. Populasi ini berjumlah 40 siswa. Siswa terdiri dari 28 siswa SD
Gunungpati 4 dan 12 siswa dari SD Nongkosawit.
3.1.2 Sampel dan Teknik Sampling
Menurut Sutrisno Hadi (1990:70) : “Sampel adalah sebagian individu yang diselidiki”.
Syarat sampel yang mewakili yang utama adalah : sampel harus menjadi cermin populasi,
sampel mewakili populasi, sampel harus merupakan populasi dalam bentukkecil, Miniatur
Population (Sutrisno Hadi, 1990:222).
Untuk memperoleh sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling, yaitu
siswa diberi preexperiment dengan tes kesegaran jasmani Indonesia untuk anak umur 10-12
tahun.
Tes diberikan pada seluruh populasi yang jumlahnya 40 siswa terdiri dari 28 siswa SD
Negeri Gunungpati 4 dan 12 siswa SD Negeri Nongkosawit. Siswa melakukan tes yang terdiri
dari 5 item kemudian hasilnya dijumlah sesuai dengan klasifikasi penilaian tes kesegaran jasmani
Indonesia untuk anak umur 10-12 tahun. Setelah itu siswa dipasang-pasangkan dan diperoleh 20
pasang.
3.1.3 Variabel Penelitian
”Variabel adalah gejala yang bervariasi, yang menjadi obyek penelitian”.
(Sutrisno Hadi, 1990:99).
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah program Senam Kesegaran Jasmani
Usia Sekolah Dasar yang dilakukan dengan frekuensi tiga kali dan empat kali dalam
satu minggu.
2. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kesegaran jasmani.
3.2 Variabel-variabel yang Dikendalikan
Meliputi beberapa faktor antara lain :
1. Keseragaman dalam pola gerak
Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda dalam pola gerak dalam senam
kesegaran jasmani usia sekolah dasar, maka digunakan buku petunjuk Senam
Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar yang dikeluarkan oleh Direktorat
Keolahragaan Ditjen Disklusepora Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang
diperbanyak oleh bidang Keolahragaan Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Jawa
Tengah, dalam rangka penyebarluasan senam tersebut.
2. Kesungguhan dalam latihan dan tes
Agar murid bersungguh-sungguh dalam melaksanakan program eksperimen
maupun pelaksanaan pengambilan data pada saat tes awal (Pre-test) dan tes akhir
(Post-test), maka guru olahraga dari sekolah tersebut dan peneliti selalu mengawasi
jalannya penelitian.
3. Waktu penelitian
Waktu penelitian untuk kedua kelompok adalah sama yaitu, sebelum jam
pelajaran dimulai baik untuk pelaksanaan program eksperimen pengambilan data awal
(Pre-test) dan tes akhir (Post-test).
4. Peralatan
Alat-alat dan fasilitas yang dipergunakan pada kedua kelompok, baik dalam pelaksanaan
program eksperimen maupun dalam pengambilan data awal (Pre-test) dan tes akhir (Post-test)
adalah sama.
5. Anak coba
Anak coba semuanya siswa putri kelas VI Sekolah Dasar Negeri Gunungpati
04 dan Sekolah Dasar Negeri Nongkosawit Semarang Tahun Ajaran 2004/2005 yang
usianya antara 10-12 tahun.
Kejadian-kejadian selama penelitian yang berada di luar kontrol peneliti,
seperti :
1. Mungkin diantara mereka yang melakukan kegiatan olahraga di luar latihan-latihan yang
dilakukan. Hal ini diatasi dengan mengadakan peringatan, pencegahan sebelum dan selama
penelitian berlangsung kepada mereka.
2. Kejadian yang terjadi pada masing-masing anak yang mungkin timbul selama berlangsung
penelitian, maka diatasi dengan jalan menanyakan kepada mereka siapa yang merasa sakit,
tidur terlalu malam dan gangguan-gangguan lain, ternyata tidak ada.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Di dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen adalah suatu metode yang
memberikan atau menggunakan gejala yang dinamakan percobaan. Dengan percobaan tersebut
akan terlihat hubungan sebab akibat dari pengaruh pelaksanaan penelitian tersebut.
Sutrisno Hadi (1990 : 472) mengungkapkan : “Salah satu tugas penting dalam research
ilmiah adalah menetapkan ada tidaknya hubungan sebab akibat antara fenonim-fenonim dan
menarik hukum tentang hubungan sebab akibat itu. Metode eksperimen merupakan salah satu
metode yang paling tepat untuk menyelidiki hubungan sebab akibat itu”.
Metode penelitian ini menggunakan pola Matched Subjects Designs dan sering dikenal
dengan pola M-S. Menurut Sutrisno Hadi (1990 : 484) : “Subject Matching sudah tentu sekaligus
juga grup matching karena subject matching adalah sedemikian rupa sehingga pemisahan
pasangan-pasangan subyek (pair of subject) masing-masing ke grup eksperimen dan ke grup
kontrol secara otomatis akan menseimbangkan kedua grup tersebut. Adapun pairing subject yang
setingkat atau seimbang dijalankan atas dasar penyelidikan-penyelidikan pendahuluan lainnya”.
Eksperimen dengan pola Matched Subjects Designs prinsipnya mempunyai tiga cara yaitu :
Nominal pairing, ordinal pairing dan kombinasi dari nominal-nominal pairing. Dan dalam
penelitian ini, pembagian menjadi kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II
diperoleh dari hasil matching nilai pre eksperimen tes dengan cara ordinal pairing. Yaitu anak
yang tingkat kemampuannya sama dipasang-pasangkan kemudian anggota tiap pasangan itu
dipisahkan ke dalam grup masing-masing. Kemudian masing-masing grup itu dipisahkan
menjadi grup eksperimen I dan grup eksperimen II. Sehingga kedua grup tersebut berangkat dari
titik tolak yang sama.
3.3.1 Prosedur Pengambilan Data
1. Perijinan
Untuk mendapatkan sampel pertama diadakan observasi lapangan yaitu
wawancara langsung dengan guru pendidikan jasmani dan Kepala Sekolah SD Negeri
Gunungpati 04 dan Nongkosawit Semarang yang akhirnya ditentukan dan diberi ijin
untuk menggunakan siswa putri kelas enam sebagai sampel.
2. Tempat dan waktu penelitian
Dalam penelitian ini tempat yang digunakan untuk kegiatan penelitian yaitu
halaman SD Negeri Gunungpati 04 Semarang untuk melaksanakan Senam Kesegaran
Jasmani Usia Sekolah Dasar. Sedangkan waktu pelaksanaan penelitian mulai tanggal
13 Januari 2005 sampai 21 Pebruari 2005.
3. Test pendahuluan
Test pendahuluan dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2005. Tes yang
digunakan adalah tes kesegaran jasmaninya untuk anak usia 10-12 tahun.
Dilaksanakan mulai jam 07.00 WIB sampai selesai. Sebelum tes dilaksanakan siswa
diberi pengarahan tentang pelaksanaannya dan diberi latihan pendahuluan (warmingup)
secukupnya. Hasil dari Pre-test dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 94.
4. Pelaksanaan program latihan
Pelaksanaan program latihan dilaksanakan mulai tanggal 12 Januari 2005
sampai tanggal 21 Pebruari 2005 pada hari Senin, Rabu, Jum’at dan Sabtu,
pelaksanaan latihan dimulai pukul 06.30 – 07.00 dengan pembagian, kelompok
eksperimen II melaksanakan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar pada hari
Senin, Rabu dan Sabtu, sedangkan kelompok eksperimen I pada hari Senin, Rabu,
Jum’at dan Sabtu. Lamanya latihan adalah 6 minggu.
5. Tes Akhir
Tes akhir dilaksanakan pada tanggal 23 Pebruari 2005. Tes yang digunakan
adalah tes kesegaran jasmani untuk anak usia 10-12 tahun. Dilaksanakan mulai pukul
07.00 sampai selesai. Sebelum tes dilaksanakan siswa diberi pengarahan tentang
pelaksanaannya dan diberi latihan pendahuluan (warming-up) secukupnya.
3.3.2 Instrumen Penelitian
1. Tes Kesegaran Jasmani untuk Anak Usia 10-12 tahun
Instrumen dalam penelitian ini adalah tes kesegaran jasmani untuk anak usia
10-12 tahun, tes ini merupakan satu rangkaian tes dimana semua butir tes harus
dilaksanakan dalam satu satuan waktu.
Urutan pelaksanaannya adalah :
a. Lari 40 meter
1) Tujuannya adalah untuk mengukur kecepatan
2) Alat dan fasilitas : a) lintasan lurus, datar, rata, tidak licin, berjarak 40 meter dan masih
mempunyai lintasan lanjutan; b) bendera start; c) peluit; d) tiang pancang; e) stopwatch;
f) serbuk kapur; g) formulir dan h) alat tulis.
3) Petugas tes
a) Juru keberangkatan
b) Pengukur waktu
4) Pelaksanaan
a) Sikap permulaan, peserta berdiri di belakang garis start.
b) Gerakan
- Pada aba-aba “Siap” peserta mengambil sikap start berdiri siap untuk lari.
- Pada aba-aba “Ya” peserta lari secepat mungkin menuju garis finish, menempuh
jarak 40 meter.
c) Lari masih diulang apabila :
- Pelari mencuri start
- Pelari tidak melewati garis finish
- Pelari terganggu pelari lain
d) Pengukuran waktu dilakukan dari saat bendera diangkat sampai pelari tepat melintas
garis finish.
5) Pencatatan hasil
a) Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 40
meter dalam satuan detik.
b) Pengambilan waktu satu angka di belakang koma (Stopwatch manual) dan dua angka
di belakang koma (Stopwatch digital)
b. Gantung siku tekuk
1) Tujuannya adalah untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot lengan dan otot bahu.
2) Alat dan fasilitas :
i.Palang tunggal
ii.Stopwatch
iii.Formulir tes dan alat tulis
iv.Nomor dada
v.Serbuk kapur.
3) Petugas tes, pengukur sekaligus pencatat hasil
4) Pelaksanaan
Palang tunggal dipasang dengan ketinggian sedikit di atas kepala peserta.
a) Sikap permulaan
Peserta berdiri di belakang palang tunggal, kedua tangan berpegangan pada palang
tunggal selebar bahu. Pegangan tangan menghadap ke arah letak kepala.
b. Gerakan
Dengan bantuan tolakan kaku, peserta melompat ke atas sampai mencapai sikap
bergantung siku tekuk, dagu berada di atas palang tunggal, sikap tersebut
dipertahankan selama mungkin
5) Pencatatan hasil
Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh peserta untuk mempertahankan sikap
tersebut di atas, dalam satuan waktu detik.
c. Baring duduk, 30 detik
1) Tujuannya adalah untuk mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut.
2) Alat dan fasilitas :
a) Lantai/lapangan rumput yang rata dan bersih
b) Stopwatch
c) Formulir tes dan alat tulis
d) Dan lain-lain
3) Petugas tes
a) Pengamat waktu
b) Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil
4) Pelaksanaan
a) Sikap permulaan
- Berbaring terlentang dilantai atau rumput, kedua lutut ditekuk dengan sudut ± 900,
kedua tangan jari-jarinya bersilang selip diletakkan kepala.
- Petugas atau peserta lain memegang atau menekan kedua pergelangan kaki, agar
kaki tidak terangkat.
b) Gerakan
- Pada aba-aba “Ya” peserta bergerak mengambil sikap duduk, sampai kedua
sikunya menyentuh kedua paha, kemudian kembali ke sikap semula.
- Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dengan cepat tanpa istirahat (selama 30
detik).
Catatan :
a) Gerakan tidak dihitung jika tangan terlepas, sehingga jari-jarinya tidak terjalin lagi.
b) Kedua siku tidak sampai menyentuh paha.
c) Mempertahankan sikunya untuk membentuk kekuatan tubuh.
5) Pencatatan hasil
a) Hasil yang dihitung dan dicatat adalah jumlah gerakan baring duduk yang dapat
dilakukan dengan sempurna selama 30 detik.
b) Peserta yang tidak mampu melakukan tes baring duduk ini, hasilnya ditulis dengan
angka nol (0).
d. Loncat tegak
1) Tujuannya adalah untuk mengukur tenaga eksplosif.
2) Alat dan fasilitas :
a) Papan berskala sentimeter, warna gelap, berukuran 30 x 150 cm dipasang pada
dinding atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka nol (0) pada skala yaitu 100 cm.
b) Serbuk kapur
c) Alat penghapus
d) Nomor dada
e) Formulir tes dan alat tulis
3) Petugas tes
a) Pengamat dan pencatat hasil
b) Pelaksanaan
- Terlebih dahulu ujung tangan peserta diolesi dengan serbuk kapur.
- Peserta duduk tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada disamping kiri
atau kananya. Kemudian tangan yang dekat dinding diangkat lurus keatas, telapak
tangan ditempelkan pada papan berskala, sehingga meninggalkan raihan jarinya.
- Peserta mengambil awalan dengan sikap menekukan lutut dan kedua tangan diayun
ke belakang.
- Kemudian peserta meloncat setinggi sambil menepuk papan dengan tangan yang
terdekat sehingga menimbulkan bekas.
- Ulangi loncatan itu sampai tiga (3) kali berturut-turut.
c) Pencatatan hasil
- Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak.
- Ketiga selisih raihan dicatat
e. Lari 600 meter
1) Tujuannya adalah mengukur daya tahan jantung, peredaran darah dan pernafasan.
2) Alat dan fasilitas :
i.Lintasan lari berjarak 600 meter
ii.Stopwatch
iii.Bendera start
iv.Peluit
v.Tiang pancang
vi.Nomor dada
vii.Formulir tes dan
viii.Alat tulis.
3) Petugas tes
a) Juru keberangkatan
b) Pengukur waktu
c) Pencatat hasil
d) Pembantu umum
4) Pelaksanaan
a) Sikap permulaan, peserta berdiri di belakang garis start.
b) Gerakan
- Pada aba-aba “Siap” peserta mengambil sikap start berdiri siap untuk lari.
- Pada aba-aba “Ya” peserta lari menuju garis finis. Menempuh jarak 600 meter.
Catatan :
i.Lari diulang bilamana ada pelari yang mencuri garis start.
ii.Lari diulang bilamana pelari tidak melewati gris finish.
5) Pencatatan hasil
a) Pengambilan waktu dilakukan pada saat bendera diangkat sampai tepat melintasi
garis finish.
b) Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai oleh pelari untuk menempuh jarak 600
meter. Waktu dicatat dalam satuan menit dan detik.
Untuk dapat melaksanakan tes kesegaran jasmani anak usia 10-12 tahun ini ada
beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Bagi peserta
1) Tes ini memerlukan banyak tenaga, oleh karena itu peserta harus dalam keadaan sehat
dan siap untuk melaksanakan tes.
2) Diharapkan sudah makan, sedikitnya 2 (dua) jam sebelum melakukan tes.
3) Disarankan memakai pakaian olahraga dan bersepatu olahraga.
4) Hendaknya mengerti dan memahami cara pelaksanaan tes.
5) Diharapkan melakukan pemanasan (warming-up) lebih dahulu sebelum melakukan tes.
6) Jika tidak dapat melaksanakan satu jenis tes atau lebih dinyatakan gagal / tidak
mendapatkan nilai.
b. Bagi petugas
1) Harap memberikan pemanasan lebih dahulu
2) Memberikan kesempatan kepada peserta untuk mencoba gerakan-gerakan
3) Harap memperhatikan perpindahan pelaksanaan butir tes satu ke butir tes berikutnya
secepat mungkin.
4) Harap memberikan nomor dada yang jelas dan mudah diingat oleh petugas.
5) Bagi peserta yang tidak dapat melakukan satu butir tes atau lebih tidak diberi nilai.
6) Untuk mencatat hasil tes dapat mempergunakan formulir tes perorangan atau gabungan.
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengungkap data dari
variabel yang diteliti secara cermat (Suharsimi Arikunto, 1998:136).
Sedangkan Dumadi (1990:32) mengemukakan suatu instrumen dikatakan
memiliki validitas logis bila instrumen itu disusun dengan usaha yang cermat melalui
usaha-usaha dan isi yang benar sehingga menurut logika akan dicapai tingkat validitas
yang dikehendaki.
2. Treatment
Treatment kelompok eksperimen adalah latihan Senam Kesegaran Jasmani
Usia Sekolah Dasar dengan frekuensi empat kali dalam satu minggu, sedangkan
kelompok kontrol adalah latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
dengan frekuensi tiga kali dalam satu minggu.
a. Pemanasan
Dalam pemanasan berisikan gerakan-gerakan : sikap awal, berdoa dan salam,
latihan I-V dan peregangan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan gerakan
pemanasan ± 3 menit. Sedangkan tujuan dari gerakan pemanasan ini adalah untuk
menyiapkan tubuh dalam melaksanakan gerakan senam, pemanasan dimulai dengan
gerakan-gerakan untuk meningkatkan fungsi pernafasan dan peredaran darah agar
suhu tubuh meningkat, juga untuk mempersiapkan otot-otot leher, bahu, badan bagian
atas dengan gerakan berputar yang mengikutsertakan perut, punggung, panggul, paha
dan diakhiri dengan peregangan otot-otot kaki.
b. Latihan inti
Dalam latihan ini ini ada 5 gerakan yang dilatih dan tujuannya adalah untuk
meningkatkan keterampilan menggunakan anggota tubuh terdiri dari melatih
keseimbangan, mempercepat kesigapan dalam memindahkan berat badan, mengasah
koordinasi anak dan menguatkan otot-otot yang dirangkum dengan gerak dasar
olahraga prestasi.
Kemudian dilanjutkan dengan gerakan latihan 1-3 yang bertujuan untuk
melatih irama (ritme) sekaligus menurunkan aktivitas yang sudah berlalu.
Latihan inti ini lamanya ± 5 (lima) menit.
c. Pendinginan
Bertujuan untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah beraktivitas ke kondisi
normal. Lama waktu untuk pendinginan ± 3 menit.
3.4 Metode Analisis Data
Analisis data atau pengolahan data merupakan suatu langkah yang penting dalam
penelitian. Data yang terkumpul tidak akan berarti apabila tidak diolah. Suatu kesimpulan bisa
diambil dari hasil pengolahan data tersebut. Dalam suatu penelitian seorang peneliti dapat
menggunakan dua jenis analisa, yaitu analisa statistik dan analisa non statistik (Sutrisno Hadi,
1990:221).
Karena dalam penelitian ini data yang disajikan berupa angka, sesuai dengan pengertian
statistik itu sendiri baik secara sempit maupun luas. Maka metode yang dipakai adalah metode
analisis statistik yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan
menganalisa hasil penelitian.
Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu ingin mengetahui, pengaruh frekuensi latihan yang
ditimbulkan oleh aktivitas program latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar yang
dilakukan tiga kali dengan empat kali dalam satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
Maka digunakan metode analisis statistik terhadap hasil eksperimen dengan pola M-S (Matched
Subjects Designs) ordinal pairing dimana : “Subjects Matching selalu menggunakan t-tes pada
correlated samples”, (Sutrisno Hadi, 1990 : 486).
Untuk memasukkan ke dalam rumus terlebih dahulu membuat tabel persiapan sebagai
berikut :
Tabel 1
Persiapan Perhitungan Statistik dengan Pola M-S
No. Pasangan
subyek Xe2 Xe1
(Xe2-Xe1)
D
(M-MD)
d d2
1 2 3 4 5 6 7
1.
2.
s/d
20
Σ Xe2 Σ Xe1 Σ D Σ d Σ d2
Cara pengisian tabel tersebut adalah sebagai berikut :
1. Catat nomor unit pada kolom 1
2. Pasangan subyek pada kolom 2
3. Nilai kelompok kontrol pada kolom 3
4. Nilai eksperimen pada kolom 4
5. Selisih nilai Xe2 dan Xe1 pada kolom 5
6. Selisih antara D dan Mean perbedaan pada kolom 6
7. Kuadrat antara deviasi perbedaan dari masing-masing pasangan pada kolom 7.
N (N -1)
d
MD
t
Σ 2
=
MD = Mean Differences
d = Deviasi individual dari MD
N = Jumlah subyek
(Sutrisno Hadi, 1990 : 455)
Keterangan :
Mean Xe2 = Rata-rata kelompok kontrol
Mean Xe1 = Rata-rata kelompok eksperimen
Σ Xe2 = Jumlah nilai kelompok kontrol
Σ Xe1 = Jumlai nilai kelompok eksperimen
N = Jumlah subyek / pasangan
Kemungkinan-kemungkinan hasil penelitian :
1) Apabila nilai t yang diperoleh dari perhitungan statistik itu sama atau lebih besar dari t tabel,
maka hipotesis nihil ditolak.
2) Apabila nilai t yang diperoleh dari perhitungan statistik itu lebih kecil dari t tabel, maka
hipotesis nihil diterima.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Sesudah diadakan tes akhir dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
maka didapatkan hasil dari tiap-tiap subyek dari kedua kelompok dan kemudian data
dari tes akhir dimasukkan ke dalam tabel perhitungan statistik.
4.1.1 Deskripsi Data
Perhitungan Pola Statistik dengan Perhitungan M-S
Terhadap Hasil Tes Akhir
No. Pasangan
subyek
ΣXe2 ΣXe1 ΣD Σd Σd2
1
2
3
4
Σ Xe2 = 284 Σ Xe1 = 302 ΣD = -18 Σ d = 0 Σ d2 = 57,80
4.1.2 Analisis Data
Dari perhitungan statistik dapat diketahui :
Σ Xe2 = 284 Σ d = 0
Σ Xe1 = 302 Σ d2 = 57,8
Σ D = -18
Mean Deviasi MD = 0,9
20
18
N
D = −

=
Σ
Maka nilai t hitung adalah :
N (N -1)
d
MD
t
Σ 2
=
2,308
0,39
0,9
20 (20 -1)
57,8
t = 0,9 = =
Dari perhitungan statistik di atas diperoleh nilai t hitung sebesar = 2,308,
sedangkan dengan taraf signifikansi 5% dan Db = 19, maka nilai t tabel sebesar =
2,093. Derajat kebebasan (Db) untuk t test ini adalah jumlah pasangan subyek
dikurangi satu atau 20-1 = 19. Ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel yaitu
2,308 > 2,093 yang berarti ada hasil beda signifikan.
Hasil t tes yang signifikan tersebut hipotesis yang menyatakan adanya perbedaan yang
berarti antara latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan frekuensi tiga
kali dalam satu minggu dan empat kali dalam satu minggu diterima.
Perbedaan mean kelompok eksperimen I (MXe1) dan mean kelompok eksperimen II
(MXe2) adalah :
Σ Xe1 = 302 dan
N = 20
Jadi :
MXe1 = 15,1
20
302
n
Xe = =
Σ Xe2 = 284
N = 20
Jadi :
MXe2 = 14,2
20
284
n
Xk = =
Dengan demikian maka MXe1 > MXe2 yaitu 15,1 ? 14,2 dari hasil perhitungan di atas
bahwa mean dari hasil latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar menggunakan
frekuensi empat kali dalam satu minggu lebih besar dari mean hasil latihan senam kesegaran
jasmani usia sekolah dasar menggunakan frekuensi tiga kali dalam satu minggu.
Maka hipotesis nihil yang mengatakan bahwa “Latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia
Sekolah Dasar menggunakan frekuensi tiga kali dalam satu minggu sama baiknya dengan latihan
Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan empat kali dalam satu minggu”
ditolak.
Sehingga hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa “Latihan Senam
Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan frekuensi empat kali dalam satu
minggu lebih baik dengan latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
menggunakan tiga kali dalam satu minggu” adalah diterima.
4.2 Pembahasan
Metabolisme tubuh empat kali latihan dibandingkan dengan tiga kali latihan lebih baik
karena proses dalam metabolisme dalam tubuh semakin baik karena fungsi kerja paru lebih besar
sedangkan latihan tiga kali lebih kecil dibandingkan empat kali latihan.
Fungsi jantung akan lebih besar pemacuannya ketika dilatih empat kali seminggu
dibanding dengan dengan tiga kali seminggu, peredaran darah dalam tubuh akan sangat
berpengaruh besar terhadap metabolisme tubuh karena kerja jantung memompa lebih banyak
atau lebih besar ketika dilatih empat kali seminggu.
Kerja otot dalam tubuh semakin besar atau banyak latihan serta dosis latihan akan
mempengaruhi kerja otot di dalam jantung, paru maupun peredaran darah dalam tubuh ini
disebabkan karena perkembangan atau semakin banyak metocondria maka stress/akibat latihan
empat kali seminggu lebih baik dibanding dengan tiga kali seminggu karena frekuensi latihan
lebih banyak akan semakin lebih baik.
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 2,308 lebih besar dari nilai
t tabel sebesar 2,093 berarti ada perbedaan yang berarti antara Latihan Senam Kesegaran Jasmani
Usia Sekolah Dasar menggunakan frekuensi tiga kali dalam satu minggu dan empat kali dalam
satu minggu terhadap tingkat kesegaran jasmani.
Dilihat dari mean masing-masing kelompok dapat diketahui bahwa mean kelompok siswa
yang diberi latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan menggunakan
frekuensi empat kali dalam satu minggu (MXe1) lebih besar daripada mean kelompok siswa yang
diberi latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan frekuensi tiga kali
dalam satu minggu (MXe2).
Dengan demikian maka Latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
menggunakan frekuensi empat kali dalam satu minggu lebih efektif dengan latihan Senam
Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar menggunakan tiga kali dalam satu minggu terhadap
tingkat kesegaran jasmani siswa putri, hal ini disebabkan karena ketahanan tubuh seseorang akan
turun apabila 48 jam tidak melakukan latihan, dalam latihan senam kesegaran jasmani usia
sekolah dasar yang dilaksanakan tiga kali dalam satu minggu ada waktu istirahat yang melebihi
48 jam, sedangkan latihan yang dilaksanakan empat kali dalam satu minggu waktu istirahat tidak
ada yang melebihi 48 jam.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
5.1.1 Dari hasil perhitungan statistik bahwa nilai t hitung 2,308 lebih besar dari nilai t tabel
2,093 dengan taraf signifikansi 5% db 19, berarti ada perbedaan yang signifikan.
5.1.2 Karena mean latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang dilaksanakan
empat kali dalam satu minggu (kelompok eksperimen I) adalah 15, lebih besar dari mean
latihan senam kesegaran jasmani usia sekolah dasar yang dilaksanakan tiga kali dalam
satu minggu (kelompok eksperimen II) sebesar 14,2 maka latihan senam kesegaran
jasmani usia sekolah dasar lebih efektif untuk meningkatkan kesegaran jasmani bagi
siswa putri kelas VI SD Negeri Gunungpati 04 dan Nongkosawit Semarang Tahun Ajaran
2004/2005.
5.2 Saran-Saran
5.2.1 Dalam penelitian ini disarankan bagi guru pendidikan jasmani di Sekolah Dasar yang
akan meningkatkan kesegaran jasmani siswanya melalui latihan Senam Kesegaran
Jasmani Usia Sekolah Dasar dapat menggunakan latihan senam ini dengan frekuensi
empat kali dalam satu minggu.
5.2.2 Sebaiknya peneliti, pelatih, pembina menggunakan latihan Senam Kesegaran Jasmani
Usia Sekolah Dasar dapat menggunakan latihan senam ini dengan frekuensi empat kali
dalam satu minggu.
DAFTAR PUSTAKA
A. Kamiso. 1998. Ilmu Kepelatihan Dasar. FPOK IKIP Semarang.
Direktorat Jenderal Olahraga dan Pemuda. 1971. Senam Kesegaran Jasmani. Jakarta.
————-, 1972. Senam Kesegaran Jasmani Untuk Pria dan Wanita, Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Keolahragaan Ditjen Disklesepora Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995.
Senam Kesegaran Jasmani Usia SD. Jakarta.
Dumadi. 1990. Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan. Semarang : IKIP Semarang.
Dangsina, Moeloek. 1984. Kesehatan Olahraga. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Depdikbud. 1998. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
GBHN, 1993. Bahan Referensi Penataran P-4, Jakarta.
Jintan Hutapea, Kesegaran Jasmani (buletin). 1995. Jakarta Pusat Kesegaran Jasmani dan
Rekreasi.
M. Hartono. 1994. Pengaruh Frekuensi Senam Aerobik dan Jenis Kelamin Prapupertas
Terhadap Peningkatan Kesegaran Jasmani. (Tesis). Jakarta : Program Pasca Sarjana
IKIP Jakarta.
M. Sajoto. 1988. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dan Olahraga. Semarang
: Dahara Prize.
Nurhasan. 1986. Tes dan Pengukuran. Jakarta : Karunika Jakarta Indonesia Terbuka.
Pate, RR, Mc Clenaghan and Rotella. 1984. Scientific Foundation of Coaching. Philadelphia.
Sauders College Publishing.
Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Tes
Kesegaran Jasmani Indonesia Umur 10-12 Tahun. Jakarta.
Sadoso Sumosardjuno, 1992. Pengetahuan Praktis Kesehatan Dalam Olahraga. Jakarta :
Gramedia.
Sudarno. 1992. Pendidikan Kesegaran Jasmani. Jakarta.
Suharno HP. 1978. Ilmu Coaching Umum. Yogyakarta : Yayasan Sekolah Tinggi Olahraga.
Suharsimi Arikunto, 1989. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta : Bina
Aksara.
Sutrisno Hadi. 1990. Metodologi Research I. Yogyakarta : Andi Offset.
—————-, 1990. Metodologi Research II. Yogyakarta : Andi Offset.
—————-, 1990. Metodologi Research III Yogyakarta : Andi Offset.
—————-, 1990. Statistik II. Yogyakarta : Andi Offset.
Lampiran 1
TABEL 2
DAFTAR NAMA POPULASI SISWA PUTRI KELAS VI
SDN GUNUNGPATI 04 DAN SDN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
NO NAMA SISWA KELAS NO NAMA SISWA KELAS
1 RAHAYU VI 24 NOVITA SARI VI
2 ST MARYAM VI 25 RIKA VEBRIYANTI VI
3 DWI WULANDARI VI 26 AYUK VI
4 DIYAN ERISKA VI 27 ROFIKOH VI
5 DARMASIH VI 28 VIKI MORMALA VI
6 ETIA DWI LANGGA VI 29 FAJAR MUTAHAROH VI
7 IDA MULYANI VI 30 RIKA APPRILIA VI
8 MAHARANI VI 31 RIMA UKIRANI VI
9 NOVI AGUSTINA VI 32 SONY A RINAWATI VI
10 RIKA AYU VI 33 YUNITA FAJAR S. VI
11 VEGA VEBRI VI 34 MARIA ANNISA VI
12 NURCHOLIDA VI 35 DIAN ANGGRAENI VI
13 YEKTI YULIANTI VI 36 DESY TANGJUNGSARI VI
14 AMINAH VI 37 INDAH SETYOWATI VI
15 NUKI PANCARANI VI 38 VITA KUMALASARI VI
16 LINA VI 39 TITIK ANGGRAINI VI
17 YANI VI 40 PUTRI ANGGORO VI
18 ASRI VI 41 ANNA EKOWATI VI
19 DIYAH VI 42 SUSI SUSANTI VI
20 LINTANG VI 43 TRI AGUSTIN VI
21 AMINAH VI 44 NONIK NINGRUM VI
22 NURUL VI 45 AMBARWATI VI
23 FITRIYANI VI
Lampiran 2
TABEL 3
HASIL PENELITIAN TES AWAL
TES KESEGARAN JASMANI UNTUK ANAK UMUR 10-12 TAHUN
PADA SISWA PUTRI KELAS VI SDN GUNUNGPATI 04 DAN NONGKOSAWIT TAHUN
AJARAN 2004/2005
HASIL TES
NO NAMA SISWA Loncat tegak
Lari
40 m
Gantung
siku tekuk
Baring
duduk
30” 1 2 3 4
Lari
600
m
1 RAHAYU 8,92″ 2,35″ 8 100 127 128 128 3,21″
2 ST MARYAM 8,98″ 3,55″ 5 24 96 96 96 3,67″
3 DWI WULANDARI 9,58″ 4,01″ 10 80 104 102 104 2,56″
4 DIYAN ERISKA 7,41″ 13,69″ 17 100 127 160 125 3,20″
5 DARMASIH 2,05″ 12,28″ 12 94 120 122 123 3,26″
6 ETIA DWI LANGGA 8,15″ 13,38″ 11 80 100 110 108 3,11″
7 IDA MULYANI 7,68″ 7,65″ 8 80 115 114 114 2,40″
8 MAHARANI 7,98″ 14,73″ 11 87 107 107 107 3,10″
9 NOVI AGUSTINA 8,10″ 14,73″ 12 86 116 116 115 2,50″
10 RIKA AYU 8,75″ 10,66″ 11 68 75 72 71 3,23″
11 VEGA VEBRI 7,45″ 11,35″ 10 95 125 126 128 3,38″
12 NURCHOLIDA 8,15″ 16,70″ 10 77 111 110 110 3,26″
13 YEKTI YULIANTI 7,98″ 15,64″ 11 85 114 113 114 3,07″
14 AMINAH 9,00″ 6,55″ 10 78 100 101 101 3,47″
15 NUKI PANCARANI 8,47″ 34,52″ 17 106 126 120 180 3,32″
16 LINA 8,40″ 3,45″ 15 90 110 110 127 3,44″
17 YANI 8,67″ 10,00″ 17 96 125 177 124 3,54″
18 ASRI – - – - – - – -
19 DIYAH 8,00″ 3,07″ 11 105 130 131 111 3,44″
20 LINTANG 8,25″ 08,09″ 11 73 100 101 101 2,33″
21 AMINAH 7,89″ 4,38″ 10 91 116 119 121 3,11″
22 NURUL 7,35″ 13,95″ 11 80 93 92 193 3,05″
Lanjutan lampiran 2
23 FITRIYANI 7,50″ 12,51″ 12 101 130 131 132 2,25″
24 NOVITA SARI 7,90″ 11,22″ 8 95 126 124 125 2,60″
25 RIKA VEBRIYANTI 7,90″ 10,28″ 12 78 106 105 104 3,25″
26 AYUK 8,08″ 17,68″ 6 79 104 105 106 3,50″
27 ROFIKOH 8,53″ 8,06″ 11 92 124 121 123 3,24″
28 VIKI MORMALA 8,53″ 12,65″ 10 102 129 130 130 3,50″
29 FAJAR MUTAHAROH 9,30″ 5,26″ 6 97 114 115 118 4,03″
30 RIKA APPRILIA – - – - – - – -
31 RIMA UKIRANI 7,74″ 7,49″ 12 89 120 120 120 3,28″
32 SONY A RINAWATI 8,30″ 15,54″ 10 90 115 116 117 4,14″
33 YUNITA FAJAR S. 8,90″ 11,09″ 12 97 117 118 120 4,14″
34 MARIA ANNISA – - – - – - – -
35 DIAN ANGGRAENI 8,16″ 5,85″ 6 91 112 114 116 4,03″
36 DESY TANGJUNGSARI 7,08″ 20,30″ 12 87 117 116 115 3,56″
37 INDAH SETYOWATI 7,68″ 20,15″ 11 95 123 123 122 3,20″
38 VITA KUMALASARI 7,30″ 10,11″ 10 81 112 111 112 2,55″
39 TITIK ANGGRAINI 8,90″ 5,63″ 6 85 95 103 106 3,29″
40 PUTRI ANGGORO 8,86″ 7,57″ 12 86 114 113 113 3,21″
41 ANNA EKOWATI 9,06″ 19,03″ 12 96 125 124 124 3,12″
42 SUSI SUSANTI 8,16″ 12,74″ 10 80 100 100 100 3,01″
43 TRI AGUSTIN 8,30″ 5,60″ 8 77 104 109 109 3,14″
44 NONIK NINGRUM 8,50″ 6,15″ 7 90 113 117 120 3,14″
45 AMBARWATI – - – - – - – -
Lampiran 3
TABEL 4
PENILAIAN TES KESEGARAN JASMANI UNTUK ANAK UMUR 10-12 TAHUN
PADA SISWA PUTRI KELAS VI SDN GUNUNGPATI 04 DAN
SDN NONGKOSAWIT TAHUN AJARAN 2004/2005
HASIL TES
NO NAMA SISWA
Lari
40 m
Gantung
siku
tekuk
Baring
duduk
30”
Loncat
tegak
Lari
600 m
Total Rang
king
1 RAHAYU 3 2 3 3 3 13 32
2 ST MARYAM 2 2 2 1 2 9 41
3 DWI WULANDARI 2 2 3 2 3 12 36
4 DIYAN ERISKA 3 3 3 3 3 15 15
5 DARMASIH 3 3 3 3 3 15 16
6 ETIA DWI LANGGA 3 3 3 3 3 15 17
7 IDA MULYANI 3 3 3 4 3 16 7
8 MAHARANI 3 3 3 2 3 14 23
9 NOVI AGUSTINA 3 3 3 3 4 16 8
10 RIKA AYU 2 3 3 3 3 15 18
11 VEGA VEBRI 3 3 3 3 2 14 24
12 NURCHOLIDA 3 3 3 4 3 16 9
13 YEKTI YULIANTI 3 3 3 3 3 15 10
14 AMINAH 2 2 3 2 2 11 37
15 NUKI PANCARANI 2 4 4 2 2 14 25
16 LINA 2 2 4 3 3 14 26
17 YANI 2 3 3 3 2 13 27
18 ASRI – - – - – - -
19 DIYAH 3 2 3 3 2 13 33
20 LINTANG 3 3 3 3 3 15 12
21 AMINAH 3 2 3 3 3 14 19
22 NURUL 4 3 3 3 3 16 4
Lanjutan lampiran 3
23 FITRIYANI 4 3 3 3 4 17 2
24 NOVITA SARI 3 3 3 3 4 16 5
25 RIKA VEBRIYANTI 3 3 3 3 3 15 13
26 AYUK 3 3 2 3 2 13 28
27 ROFIKOH 3 3 3 3 3 15 14
28 VIKI MORMALA 2 3 3 3 2 13 29
29 FAJAR MUTAHAROH 2 2 2 2 2 10 40
30 RIKA APPRILIA – - – - – - -
31 RIMA UKIRANI 3 3 3 2 3 14 20
32 SONY A RINAWATI 3 3 3 2 2 13 34
33 YUNITA FAJAR
SETIAWATI 2 3 3 2 2 12 35
34 MARIA ANNISA – - – - – - -
35 DIAN ANGGRAENI 3 2 2 2 2 11 38
36 DESY
TANGJUNGSARI 4 4 3 3 2 16 2
37 INDAH SETYOWATI 3 4 3 3 3 16 3
38 VITA KUMALASARI 4 3 3 3 3 16 6
39 TITIK ANGGRAINI 2 2 2 2 2 10 39
40 PUTRI ANGGORO 3 3 3 3 3 15 11
41 ANNA EKOWATI 2 3 3 3 3 14 21
43 TRI AGUSTIN 3 2 3 3 3 14 22
44 NONIK NINGRUM 2 2 3 3 3 13 31
45 AMBARWATI – - – - – - -
Lampiran 4
TABEL 5
HASIL PENELITIAN TES AWAL TES KESEGARAN JASMANI UNTUK ANAK
UMUR 10-12 TAHUN PADA SISWA PUTRI KELAS VI
SDN GUNUNGPATI 04 DAN SDN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
HASIL TES
NO NAMA SISWA Loncat tegak
Lari
40 m
Gantung
siku tekuk
Baring
duduk
30” 1 2 3 4
Lari
600 m
1 RAHAYU 8,92″ 2,35″ 8 100 127 128 128 3,21″
2 ST MARYAM 8,98″ 3,55″ 5 24 96 96 96 3,67″
3 DWI WULANDARI 9,58″ 4,01″ 10 80 104 102 104 2,56″
4 DIYAN ERISKA 7,41″ 13,69″ 17 100 127 160 125 3,20″
5 DARMASIH 2,05″ 12,28″ 12 94 120 122 123 3,26″
6 ETIA DWI LANGGA 8,15″ 13,38″ 11 80 100 110 108 3,11″
7 IDA MULYANI 7,68″ 7,65″ 8 80 115 114 114 2,40″
8 MAHARANI 7,98″ 14,73″ 11 87 107 107 107 3,10″
9 NOVI AGUSTINA 8,10″ 14,73″ 12 86 116 116 115 2,50″
10 RIKA AYU 8,75″ 10,66″ 11 68 75 72 71 3,23″
11 VEGA VEBRI 7,45″ 11,35″ 10 95 125 126 128 3,38″
12 NURCHOLIDA 8,15″ 16,70″ 10 77 111 110 110 3,26″
13 YEKTI YULIANTI 7,98″ 15,64″ 11 85 114 113 114 3,07″
14 AMINAH 9,00″ 6,55″ 10 78 100 101 101 3,47″
15 NUKI PANCARANI 8,47″ 34,52″ 17 106 126 120 180 3,32″
16 LINA 8,40″ 3,45″ 15 90 110 110 127 3,44″
17 YANI 8,67″ 10,00″ 17 96 125 177 124 3,54″
18 ASRI – - – - – - – -
19 DIYAH 8,00″ 3,07″ 11 105 130 131 111 3,44″
20 LINTANG 8,25″ 08,09″ 11 73 100 101 101 2,33″
21 AMINAH 7,89″ 4,38″ 10 91 116 119 121 3,11″
Lanjutan lampiran 4
22 NURUL 7,35″ 13,95″ 11 80 93 92 193 3,05″
23 FITRIYANI 7,50″ 12,51″ 12 101 130 131 132 2,25″
24 NOVITA SARI 7,90″ 11,22″ 8 95 126 124 125 2,60″
25 RIKA VEBRIYANTI 7,90″ 10,28″ 12 78 106 105 104 3,25″
26 AYUK 8,08″ 17,68″ 6 79 104 105 106 3,50″
27 ROFIKOH 8,53″ 8,06″ 11 92 124 121 123 3,24″
28 VIKI MORMALA 8,53″ 12,65″ 10 102 129 130 130 3,50″
29 FAJAR MUTAHAROH 9,30″ 5,26″ 6 97 114 115 118 4,03″
30 RIKA APPRILIA – - – - – - – -
31 RIMA UKIRANI 7,74″ 7,49″ 12 89 120 120 120 3,28″
32 SONY A RINAWATI 8,30″ 15,54″ 10 90 115 116 117 4,14″
33 YUNITA FAJAR S. 8,90″ 11,09″ 12 97 117 118 120 4,14″
34 MARIA ANNISA – - – - – - – -
35 DIAN ANGGRAENI 8,16″ 5,85″ 6 91 112 114 116 4,03″
36 DESY T. 7,08″ 20,30″ 12 87 117 116 115 3,56″
37 INDAH SETYOWATI 7,68″ 20,15″ 11 95 123 123 122 3,20″
38 VITA KUMALASARI 7,30″ 10,11″ 10 81 112 111 112 2,55″
39 TITIK ANGGRAINI 8,90″ 5,63″ 6 85 95 103 106 3,29″
40 PUTRI ANGGORO 8,86″ 7,57″ 12 86 114 113 113 3,21″
41 ANNA EKOWATI 9,06″ 19,03″ 12 96 125 124 124 3,12″
42 SUSI SUSANTI 8,16″ 12,74″ 10 80 100 100 100 3,01″
43 TRI AGUSTIN 8,30″ 5,60″ 8 77 104 109 109 3,14″
44 NONIK NINGRUM 8,50″ 6,15″ 7 90 113 117 120 3,14″
45 AMBARWATI – - – - – - – -
Lampiran 5
TABEL 6
PENILAIAN TES KESEGARAN JASMANI UNTUK ANAK
UMUR 10-12 TAHUN PADA SISWA PUTRI KELAS VI
SDN GUNUNGPATI 04 DAN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
HASIL TES
NO NAMA SISWA
Lari 40
m
Gantung
siku
tekuk
Baring
duduk
30”
Loncat
tegak
Lari
600 m
Total
1 RAHAYU 2 2 3 3 3 13
2 ST MARYAM 2 4 3 2 4 15
3 DWI WULANDARI 2 3 3 2 2 12
4 DIYAN ERISKA 2 4 3 2 2 13
5 DARMASIH 3 4 3 3 2 15
6 ETIA DWI LANGGA 3 3 3 3 3 15
7 IDA MULYANI 2 3 3 2 3 13
8 MAHARANI 2 4 3 4 3 16
9 NOVI AGUSTINA 1 5 3 3 3 15
10 RIKA AYU 3 4 3 2 3 15
11 VEGA VEBRI 3 4 4 3 3 17
12 NURCHOLIDA 3 4 3 3 2 16
13 YEKTI YULIANTI 2 5 3 2 2 14
14 AMINAH 2 4 3 2 3 13
15 NUKI PANCARANI 2 3 3 3 3 14
16 LINA 3 2 3 3 3 14
17 YANI 3 4 4 3 3 17
18 ASRI 3 4 4 4 3 18
19 DIYAH 3 2 3 3 3 14
20 LINTANG 3 4 4 3 4 18
21 AMINAH 4 3 4 2 4 17
Lanjutan lampiran 5
22 NURUL 3 3 4 2 3 15
23 FITRIYANI 2 3 4 3 3 15
24 NOVITA SARI 2 3 3 2 3 13
25 RIKA VEBRIYANTI 3 3 3 4 3 16
26 AYUK 3 4 3 3 3 16
27 ROFIKOH 2 3 3 2 3 13
28 VIKI MORMALA 3 4 3 3 4 17
29 FAJAR MUTAHAROH 3 3 2 2 2 12
30 RIKA APPRILIA 4 3 4 2 2 15
31 RIMA UKIRANI 2 3 3 3 2 13
32 SONY A RINAWATI 2 5 3 4 3 17
33 YUNITA FAJAR S. 2 5 3 4 4 18
34 MARIA ANNISA 3 4 3 3 3 16
35 DIAN ANGGRAENI 2 2 2 2 2 10
36 DESY TANGJUNGSARI 2 3 3 3 3 14
37 INDAH SETYOWATI 3 3 3 2 3 14
38 VITA KUMALASARI 2 3 3 3 4 15
39 TITIK ANGGRAINI 2 3 3 2 3 13
40 PUTRI ANGGORO 2 3 2 2 3 12
Lampiran 6
TES AKHIR
Lanjutan lampiran 6
Lampiran 7
TABEL 8
HASIL PENILAIAN KELOMPOK EKSPERIMEN I DAN
EKSPERIMEN II TES AKHIR TES KESEGARAN JASMANI UNTUK
ANAK UMUR 10-12 TAHUN PADA SISWA PUTRI KELAS VI
SDN GUNUNGPATI 04 DAN SDN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
KELOMPOK EKSPERIMEN I KELOMPOK EKSPERIMEN II
NO
NO. TES NILAI NO. TES NILAI
1 23 17 9 17
2 22 18 10 18
3 24 15 11 16
4 9 16 7 15
5 12 17 13 16
6 20 18 13 14
7 25 15 27 16
8 5 13 4 12
9 6 15 10 15
10 2 17 21 14
11 14 12 17 13
12 11 15 8 13
13 15 13 16 14
14 26 13 17 14
15 28 16 16 15
16 1 13 19 12
17 19 17 3 12
18 3 15 4 15
19 14 14 8 13
20 29 13 12 10
Lampiran 8
PERHITUNGAN POLA STATISTIK DENGAN PERHITUNGAN M-S
TERHADAP HASIL TES AKHIR
No. Pasangan
subyek Xe2 Xe1
(Xe2-Xe1)
D
(M-MD)
d d2
1 9 – 23 17 17 0 0,9 0,81
2 10 – 22 18 18 0 0,9 0,81
3 11 – 24 16 15 1 1,9 3,61
4 7 – 9 15 16 -1 -0,1 0,01
5 13 – 12 6 17 1 -0,1 0,01
6 18 – 20 14 18 4 4,1 0,01
7 27 – 25 16 15 1 1,1 9,61
8 4 – 5 12 13 -1 -0,1 3,61
9 10 – 6 15 15 0 0,1 0,01
10 21 – 2 14 17 -3 -2,3 0,18
11 17 – 14 13 17 1 1,9 4,41
12 8 – 11 13 15 -2 -1,1 3,61
13 16 – 15 14 13 1 1,9 1,21
14 17 – 26 14 13 1 1,9 3,61
15 16 – 28 15 16 -1 -0,1 3,61
16 19 – 1 12 13 -1 -0,1 0,01
17 3 – 19 12 17 -5 -4,1 0,01
18 4 – 3 15 15 0 0,9 16,81
19 8 – 14 13 14 -1 -0,1 0,01
20 12 – 29 10 13 -3 -2,0 4,41
Σ Xe2 = 284 Σ Xe1 = 302 ΣD = -18 Σ d = 0 Σ d2 = 57,80
Lampiran 9
TABEL 12
PROGRAM LATIHAN SELAMA PENELITIAN
1. Kelompok Eksperimen 1 : Program latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
empat kali dalam satu minggu
2. Kelompok Eksperimen 2 : Program latihan Senam Kesegaran Jasmani Usia Sekolah Dasar
tiga kali dalam satu minggu
NO HARI/TGL/JAM KELOMPOK JUMLAH SET KEGIATAN
1 Senin, 11-01-2005
07.00 – selesai
PRE TES
2 S06en.3i0n , 17-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 22 SSEETT
PERTEMUAN
1
3 R06a.b3u0, 19-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 12 SSEETT
PERTEMUAN
2
4 K06a.m30is , 20-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 12 SSEETT
PERTEMUAN
3
5 S06ab.3t0u , 22-01-2005 EKSPERIMEN 1 2 SET PERTEMUAN
4
6 S06en.3i0n , 24-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 22 SSEETT
PERTEMUAN
5
7 R06a.b3u0, 26-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 12 SSEETT
PERTEMUAN
6
8 J0u6m.3’0a t, 28-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 21 SSEETT
PERTEMUAN
7
9 S06ab.3t0u , 29-01-2005 EKSPERIMEN 1 2 SET PERTEMUAN
8
10 0S6en.3i0n , 31-01-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 22 SSEETT
PERTEMUAN
9
11 0R6a.b3u0, 2-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 12 SSEETT
PERTEMUAN
10
12 0Ju6m.3’0a t, 4-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 21 SSEETT
PERTEMUAN
11
13 0S6a.b3t0u , 5-02-2005 EKSPERIMEN 1 2 SET PERTEMUAN
12
14 0S6e.n3i0n , 7-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 22 SSEETT
PERTEMUAN
13
15 0S6e.l3as0a , 8-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 21 SSEETT
PERTEMUAN
14
16 0Ju6m.3’0a t, 11-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 21 SSEETT
PERTEMUAN
15
17 0S6ab.3t0u , 12-02-2005 EKSPERIMEN 1 2 SET PERTEMUAN
16
18 0S6en.3i0n , 14-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 22 SSEETT
PERTEMUAN
17
Lanjutan lampiran 9
Rabu, 16 19 06.30 -02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 12 SSEETT
PERTEMUAN
18
20 0Ju6m.3’0a t, 18-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 21 21 SSEETT
PERTEMUAN
19
21 0S6ab.3t0u , 19-02-2005 EKSPERIMEN 1 2 SET PERTEMUAN
20
22 0R6a.b3u0, 23-02-2005 EEKKSSPPEERRIIMMEENN 12 POST TES
Keterangan :
- Jumlah total set yang diberikan selama penelitian untuk kelompok eksperimen 2 dan
eksperimen 1 adalah sama yaitu 30 set
69
Lampiran
TABEL
RANGKING HASIL PENILAIAN TES AWAL TES KESEGARAN JASMANI UNTUK
ANAK UMUR 10-12 TAHUN PADA SISWA PUTRI KELAS VI
SDN GUNUNGPATI 04 DAN SDN NONGKOSAWIT
TAHUN AJARAN 2004/2005
No. Nomor Tes Nilai Pembagian Kelompok
1 23 17 A
2 9 16 B
3 10 16 B
4 22 16 A
5 24 16 A
6 11 16 B
7 7 16 B
8 9 16 A
9 12 16 A
10 13 15 B
11 13 15 B
12 20 15 A
13 25 15 A
14 27 15 B
15 4 15 B
16 5 15 A
17 6 14 A
18 10 14 B
19 21 14 B
20 2 14 A
21 14 14 A
22 17 14 B
23 8 14 B
24 11 14 A
25 15 14 A
26 16 14 B
27 17 13 B
28 26 13 A
29 28 13 A
30 16 13 B
31 9 13 B
32 1 13 A
33 19 13 A
Lanjutan lampiran
34 3 13 B
35 4 12 B
36 3 12 A
37 14 11 A
38 8 11 B
39 12 10 B
40 29 10 A
41 2 9 A
Keterangan :
- Pembagian kelompok di atas A adalah kelompok eksperimen I, B adalah kelompok
eksperimen II.
- No. 41 tidak diikutsertakan dalam penelitian selanjutnya karena tidak ada pasangannya.

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.